Bab 8, Rumah Sang Supermodel
Halaman (1/3)
“Aku rasa kita tidak seharusnya membangun citra kelas atas. Pertama-tama, kita perlu memahami apa yang ingin diperoleh para pengguna platform dari konten yang dibagikan Wanyu.”
“Kalian tadi juga sudah mengatakan bahwa sebagian besar pengguna adalah perempuan muda yang memperhatikan mode, kecantikan, dan gaya hidup. Jadi, citra yang dibangun harus sesuai dengan selera mereka.”
“Karena itu, kita sebaiknya memberinya gaya yang lebih membumi. Atau, biarkan saja dia menjadi dirinya sendiri dan mengambil jalur yang dekat dengan masyarakat, membagikan berbagai barang berkualitas dengan harga terjangkau...”
Kening Xu Zhengqing berkerut rapat. Ia tak sabar memotong ucapan pria itu.
“Kau ingin Wanyu mengambil jalur yang dekat dengan masyarakat? Gaya seperti itu tidak sesuai dengan identitasnya sebagai model! Jalur seperti itu sungguh—”
Tatapan Xu Zhengqing berubah dingin, suaranya mengandung teguran. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Jiang Wanyu menyela.
“Menurutku itu bagus!”
Xu Zhengqing tertegun, seolah baru saja dihantam keras hingga nyaris tak mampu duduk tegak.
Ia perlahan memutar lehernya dan menatap Jiang Wanyu dengan pandangan kosong, seakan baru pertama kali mengenal perempuan itu.
Jiang Wanyu bahkan tidak meliriknya. Tatapannya justru tertuju tajam pada Wang Li, sementara bibir merah mudanya melengkung membentuk senyum tipis.
“Kita lakukan saja seperti yang kau katakan! Susun rencananya dengan baik. Kalau tidak ada masalah, kita ikuti rencanamu.”
“Wanyu!” Xu Zhengqing bangkit sambil bertumpu pada meja. Kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram sudut meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia menekan amarah di dalam hati, lalu memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk daripada menangis.
“Selama ini perusahaan selalu membangun citra kelas atas untukmu. Bagaimana bisa kau...”
Jiang Wanyu melambaikan tangan acuh tak acuh.
“Aku sudah lelah berpura-pura sejak lama. Aku juga tidak ingin terus mempertahankan citra kelas atas. Sudahlah, aku pergi dulu!”
Setelah berkata demikian, ia melambaikan tangan kepada semua orang yang duduk di ruangan itu. Kemudian ia bangkit dengan anggun dan berjalan keluar dengan pinggang ramping yang bergoyang lembut, setiap langkahnya memancarkan pesona.
Xu Zhengqing terpaku di tempat, sementara sepasang demi sepasang mata tertuju pada wajahnya.
Ia merasa seperti badut di bawah sorotan lampu, dan berharap bisa menemukan celah di tanah untuk bersembunyi.
“Kalau begitu, aku juga pergi mengurus pekerjaan,” ujar Wang Li sambil berpamitan. Seolah tidak mendengar apa pun, ia langsung berjalan keluar.
Kening Xu Zhengqing kembali berkerut. Ia menatap punggung Wang Li dengan dingin. Sepasang mata yang tersembunyi di balik lensa kacamatanya memancarkan kilatan kejam.
Ia tertawa dingin dalam hati.
“Bocah, sebentar lagi kau akan membayar keberanianmu! Kalau aku mau, ada seratus cara untuk menghancurkanmu!”
Wang Li tentu tahu bahwa dirinya telah menyinggung Xu Zhengqing, tetapi ia tidak peduli. Lagipula, Xu Zhengqing memang tidak menyukainya, jadi tidak ada alasan baginya untuk berusaha menyenangkan pria itu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Hidup mati tak perlu dipikirkan; kalau tidak terima, lawan saja.
Wang Li sudah menduga Xu Zhengqing akan mencari masalah dengannya, tetapi ia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.
Tak lama kemudian, Wang Li mengirimkan proposal yang telah disusunnya ke alamat surel Xu Zhengqing, sekaligus mengajukan permintaan peralatan siaran langsung dan tenaga kerja.
Namun, hingga hampir waktu pulang kerja, ia tidak menerima persetujuan dari Xu Zhengqing.
Awalnya, ia mengira Xu Zhengqing belum melihat surelnya. Akan tetapi, sepanjang sore Wang Li menerima tiga atau empat surel yang berisi persetujuan Xu Zhengqing untuk orang lain. Hanya surelnya yang sengaja tidak dibalas.
Tanpa balasan dari Xu Zhengqing, departemen-departemen lain tentu tidak akan bekerja sama dengannya.
Selain itu, Xu Zhengqing juga menggunakan sikap dinginnya untuk menunjukkan kepada semua orang bagaimana pendiriannya terhadap Wang Li. Siapa yang berani membantu orang yang tidak disukai direktur?
Setelah melihat Xu Zhengqing membalas surel orang lain, Wang Li langsung memahami maksudnya. Ia begitu kesal sampai mengumpat dalam hati.
Proyek bloger busana itu merupakan proyek pertama Wang Li sejak bergabung dengan perusahaan. Bahkan, proyek tersebut tidak berlebihan jika disebut sebagai bukti kesetiaannya. Keberhasilan atau kegagalannya akan secara langsung memengaruhi kedudukannya di hati Jiang Wanyu.
Atasan punya kebijakan, bawahan punya cara untuk menyiasatinya. Meskipun Xu Zhengqing tidak memberinya dukungan, sebuah rencana pengambilan gambar telah diam-diam terbentuk dalam benak Wang Li.
Jiang Wanyu tinggal di sebuah kompleks hunian mewah di jantung ibu kota. Di sekelilingnya tumbuh tanaman hijau yang rimbun, sementara gerbang utamanya begitu megah, nyaris seperti gerbang kediaman bangsawan.
Kompleks itu menggunakan sistem gerbang pintar. Karena tidak memiliki kartu akses, Wang Li hanya bisa menunggu Jiang Wanyu datang menjemputnya di bawah tatapan dua petugas keamanan.
Wang Li memandangi gerbang dengan ukiran dan balok-balok dekoratif yang indah itu sambil menghela napas kagum. Bahkan jika ia bekerja mati-matian sampai tubuhnya remuk, mungkin ia tetap tidak akan mampu membeli satu kamar kecil di tempat ini.
Saat itu, sesosok bayangan anggun tiba-tiba melayang mendekat.
Jiang Wanyu berlari keluar dari dalam kompleks. Ia mengenakan kaus putih biasa dan celana pendek berbahan denim yang menonjolkan lekuk tubuh mudanya yang memesona. Terutama sepasang kakinya yang jenjang, sungguh menarik perhatian.
Wang Li ternganga, nyaris tidak percaya pada penglihatannya. Apakah ini benar-benar model ternama yang dikenal karena selera modenya?
Pakaian sesederhana itu tetap tampak memukau ketika dikenakan olehnya. Terlebih lagi, sandal bergambar bebek kuning yang dipakainya—jika orang-orang di perusahaan melihatnya, mereka pasti akan terperangah.
Karena Jiang Wanyu datang sendiri untuk menjemputnya, Wang Li pun berjalan masuk ke kompleks dengan langkah lebar di bawah tatapan iri kedua petugas keamanan.
“Kenapa hanya kau sendiri? Di mana yang lain?” tanya Jiang Wanyu dengan heran.
Wang Li tertawa hambar dan mengangkat bahu tanpa daya. Ia pun menceritakan kepada Jiang Wanyu bahwa Xu Zhengqing tidak membalas surelnya.
Alis indah Jiang Wanyu sedikit berkerut. Ia sangat tidak puas kepada Xu Zhengqing.
Ia tahu Xu Zhengqing sengaja memperbesar masalah dan ingin menyaksikan Wang Li gagal dalam proyek itu. Namun, pria itu tidak memikirkan bahwa jika proyek tersebut gagal, orang yang akan dirugikan justru Jiang Wanyu.
Jiang Wanyu mengamati Wang Li dari atas ke bawah beberapa kali. Tiba-tiba, ia memikirkan sebuah kemungkinan dan bertanya dengan ragu,
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Jangan bilang kau akan mengambil gambar seorang diri?”
Wang Li mengangguk dan tersenyum penuh percaya diri.
“Benar! Aku adalah pria yang mampu menjadi satu tim seorang diri!”
“Serius?”
“Tentu saja! Atasan punya kebijakan, bawahan punya cara untuk menyiasatinya. Untuk membuat vlog, kita hanya perlu satu ponsel dan beberapa set pakaian. Pakaian kasualmu sudah lebih dari cukup.”
Jiang Wanyu masih meragukan perkataannya. Ia telah mengikuti begitu banyak sesi pemotretan, dan setiap kali selalu melibatkan rombongan besar. Sekarang, mereka hanya memiliki satu ponsel...
Rumah Jiang Wanyu didominasi nuansa kayu. Mulai dari lantai, langit-langit, hingga perabotannya, semuanya menggunakan kayu asli dengan tekstur halus. Sofa berwarna krem muda dan beberapa karya fotografi hitam-putih di dinding berpadu serasi dengan gaya kayu tersebut.
Wang Li mengira rumah seorang model ternama seperti Jiang Wanyu pasti dihias dengan sangat mewah. Namun, rumah itu tidak memiliki terlalu banyak dekorasi. Di ruang tamu, selain sofa dan meja kopi bundar, hanya terdapat meja makan panjang dari kayu asli serta dua kursi makan.
“Boleh aku melihat lemari pakaianmu? Kita pilih beberapa set dan memotretnya,” ujar Wang Li langsung pada tujuan utama.
“Ikuti aku.”
Jiang Wanyu mengisyaratkannya dengan jari, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju kamar tidur.
Kamar itu juga bergaya kayu. Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang untuk dua orang dan lemari pakaian besar dari kayu asli. Tidak ada desain berlebihan di seluruh kamar, tetapi setiap sudutnya memancarkan selera sang pemilik.
Suara gesekan terdengar ketika Jiang Wanyu membuka lemari pakaian. Ia bergeser ke samping dan berkata kepada Wang Li,
“Pilih sendiri!”
Wang Li menatap pakaian yang begitu banyak hingga matanya berkunang-kunang. Pakaian perempuan ini terlalu banyak!
Setelah memilih ke sana kemari, akhirnya ia mengambil celana denim biru tua berpotongan lurus. Kemudian ia memilih kemeja biru dan jas kecil berwarna linen.
Setelah menyelesaikan padu padan pertama, ia kembali mengambil sebuah kaus bertudung abu-abu bergaya kasual dan rok lipit biru.
Jiang Wanyu berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat, mengamati dalam diam. Tanpa sadar, ia berkali-kali menganggukkan kepala.
Selera Wang Li benar-benar sesuai dengan keinginannya. Sebenarnya, Jiang Wanyu sama sekali tidak menyukai citra yang dibentuk perusahaan untuknya. Walaupun semuanya merupakan merek ternama, ia merasa pakaian-pakaian itu seperti belenggu yang mengikat tubuhnya setiap kali dikenakan.
Tak lama kemudian, dua set pakaian bergaya kerja pun selesai dipadukan.
Ketika Jiang Wanyu muncul di hadapan Wang Li dengan mengenakan celana denim dan kemeja biru tua itu, Wang Li langsung terpana...
Halaman (3/3)