Bab 43 Kebetulan yang Luar Biasa
"Kakak Yun, apakah cermin ini yang membuat kakak sepupuku pingsan?" Melihat Yun Yingzheng terus fokus membahas cermin tersebut, Yang Qinyao turut mengamati benda itu dengan seksama, namun ia tidak berani mendekat karena takut dirinya akan tiba-tiba pingsan seperti sang sepupu.
"Cermin ini sebenarnya tidak bermasalah, hanya saja ia tidak seharusnya diletakkan di sini."
"Jalan di seberang adalah gedung opera, rumah judi, dan kawasan hiburan malam. Tempat-tempat seperti itu dipenuhi dengan hawa nafsu dan energi negatif, yang paling mudah membangkitkan dendam serta aura pembunuh. Jika cermin diletakkan di arah tenggara dan menghadap ke barat laut, posisi itu tepat untuk menetralkan 'angin suram' dari seberang jalan. Barangkali orang dusun itu salah lihat dan malah menempatkan cermin di arah barat daya, yaitu sektor bintang lima kuning. Menetralisir energi jahat pun justru berbalik menjadi memancing energi jahat."
"Nona ini tadi ketika sedang mencoba jepit rambut, kemungkinan besar bertepatan dengan pukul tujuh hingga sembilan malam, saat bulan sabit merayap ke ujung dahan pohon yang kering. Cahaya bulan menembus celah-celah ranting yang meliuk, memproyeksikan bayangan dahan ke permukaan cermin. Ketiga unsur yang saling bersilangan itu secara kebetulan membentuk 'Formasi Penjerat Jiwa Kayu Tenggara', itulah sebabnya ia jatuh pingsan. Begitu waktu tersebut berlalu, saat orang-orang melihat cermin itu lagi, formasi jiwa telah buyar, sehingga tentu saja tidak ada kejanggalan yang bisa ditemukan."
Mendengar penjelasan Yun Yingzheng, Yang Yanqing seketika paham.
"Benar, persis seperti itu! Ketika aku sedang berganti pakaian, aku mendengar bunyi lonceng menara penanda waktu, saat itu tepat pukul tujuh malam. Setelah itu, Zhuniang merias wajahku, dan aku sempat memilih-milih barang hingga membuang sedikit waktu. Ketika aku berdiri di depan cermin, seharusnya memang waktu itu sudah menunjukkan pukul delapan lewat seperempat."
Yang Yanqing menghela napas lega. Untung sekali ia bertemu dengan gadis ini, jika tidak, tabib sehebat apa pun yang datang pasti tidak akan mampu mengenali penyakitnya. Lagi pula, dikabarkan bahwa jika jiwa meninggalkan raga terlalu lama, seseorang akan lupa siapa dirinya, bahkan dikhawatirkan akan ditelan oleh roh-roh gentayangan, sehingga dirinya tidak akan pernah bisa sadar kembali.
Kakak sepupunya telah pulih dan penyebab pingsannya pun telah terungkap, Yang Qinyao akhirnya bisa bernapas lega. Namun, pemilik toko di sebelah mereka justru merasa gelisah.
Gadis marga Yun ini bilang cerminnya diletakkan di tempat yang salah sehingga mengubah keberuntungan menjadi musibah. Kalau begitu, kenapa dia tidak menjelaskan dengan jelas di mana seharusnya cermin itu diletakkan? Istilah seperti sektor tenggara atau bintang lima kuning sama sekali tidak ia mengerti. Bagaimana jika nanti ada orang lain yang pingsan lagi?
"Nona, karena Anda bilang letak cermin ini salah, mumpung Anda masih di sini, bisakah Anda membantu memindahkan cermin ini? Di toko saya ini sewaktu-waktu selalu ada tamu yang datang mencoba riasan. Kalau sampai terjadi apa-apa lagi, repot juga urusannya, bukan begitu?"
Sang pemilik toko menyipitkan matanya yang seukuran biji buah pala, terus-menerus memancarkan tatapan penuh harap kepada Yun Yingzheng.
Nyonya, sungguh disayangkan jika Anda tidak menjadi pemilik rumah bordil, bakat alami yang bisa memikat pria dan wanita sekaligus ini benar-benar terbuang sia-sia.
Hanya memindahkan posisi saja, itu mudah. Asalkan "sesuatu" yang menjadi imbalannya terpenuhi.
"Pemilik toko, Anda juga seorang pebisnis. Soal memindahkan posisi ini..." Yun Yingzheng menggesekkan ketiga jarinya bersama-sama, menatap sang pemilik toko dengan santai.
Orang yang bisa menjadi pemilik toko tentu adalah orang yang cerdik. Begitu melihat gestur jari Yun Yingzheng, ia langsung mengerti maksudnya.
Wah, gadis kecil ini kelihatannya masih muda, tetapi kulit mukanya cukup tebal juga, bahkan berani terang-terangan meminta uang.
"Nona, saya ini hanya seorang pekerja rendahan, bertugas mengurus toko untuk bos besar di atas. Selama atasan tidak mengeluarkan titah, saya tidak berani sembarangan menggunakan uang toko. Kebaikan kecil ini, anggap saja sebagai upah untuk meminta tolong pada Nona."
...
Di aula lantai satu, ketiga orang duduk dengan tegap namun masing-masing menyimpan niat terselundup di dalam hati.
Yun Yingmeng baru saja menerima penghinaan luar biasa dan memendam amarah di dalam dadanya, bertekad bulat merencanakan serangan balik.
Yao Qianrou tadi tidak ikut naik ke atas. Ia tadinya berniat memanfaatkan kesempatan saat sepi untuk meminta ke