Bab 48: Aku akan membantumu menempelkannya...
Kaki giok Jiang Wanyu yang putih bersih tampak begitu cemerlang di bawah cahaya yang redup, setiap jengkal kulitnya memancarkan kilau yang memikat.
Pandangan Wang Li tanpa sadar langsung tertarik.
Kaki telanjang yang putih mulus itu memiliki tumit yang lecet akibat gesekan sepatu hak tinggi, menampakkan secuil kulit yang sedikit kemerahan, kontras dengan kelembutan di sekitarnya dan tampak begitu memilukan.
Meskipun AD adalah merek pakaian olahraga, lini produk yang diluncurkan musim ini bertema setelan jas bergaya sporty. Selama pemotretan, dia juga harus mengenakan dua pasang sepatu hak tinggi, yang akhirnya harus dipakai terus-menerus selama lebih dari tiga jam.
Kebetulan besok dia masih harus menjalani pemotretan iklan sepatu hak tinggi. Dengan kondisi tumit yang sudah lecet seperti sekarang, besok dia pasti akan sangat menderita.
Jiang Wanyu gemar mengenakan sepatu hak tinggi, tetapi saat ini, benda itu telah berubah menjadi alat penyiksaan yang indah baginya.
Wang Li menatap luka di tumitnya dan berkata, "Tunggu sebentar, aku akan pergi ke apotek 24 jam di sebelah untuk membelikanmu plester luka."
"Eh... tidak usah..."
Sebelum Jiang Wanyu sempat mengatakan tidak perlu, Wang Li sudah melangkah pergi dan berlari menuju apotek.
Melihat punggungnya yang tegap, Jiang Wanyu tertegun sejenak. Bulu matanya bergetar ringan, dan sudut bibirnya tak dapat ditahan untuk melengkung ke atas.
Hanya dalam waktu sebatang rokok, Wang Li sudah berlari kembali dengan napas tersengal-sengal. Dia merobek kemasan povidone iodine, mengambil sebatang kapas lidi iodin, mematahkannya secara perlahan, lalu menyerahkannya kepada Jiang Wanyu.
"Gunakan ini untuk membersihkan lukanya dulu."
"Oh..."
Jiang Wanyu merasa sedikit kecewa; dia mengira Wang Li akan membantunya mengoleskan obat secara langsung.
Seketika itu juga, dia dikejutkan oleh pemikirannya sendiri!
Merasa wajahnya mulai memanas, dia dengan cepat menundukkan kepala dan dengan serius mengoleskan cairan iodin tersebut. Setelah iodinnya agak mengering, dia merobek sebuah plester luka dan menempelkannya secara miring pada lukanya.
Plesternya tertempel dengan berantakan, dan dia sendiri merasa hasilnya jelek. Saat dia hendak merobeknya kembali untuk memasangnya ulang, Wang Li yang melihatnya mau tak mau mengerutkan kening dan berkata:
"Kalau kau merobeknya seperti itu... lukanya pasti terasa sangat sakit!"
"Lalu bagaimana caranya?"
"Sudahlah, biar aku bantu!"
Usai berkata demikian, Wang Li bangkit, berjalan ke hadapannya, lalu membungkuk. Dia dengan hati-hati mengupas plester luka tersebut karena takut menarik lukanya.
Wang Li merobek plester yang baru, mengarahkannya ke bagian yang lecet, dan menempelkannya dengan lembut. Dia meratakan plester itu dengan penuh kehati-hatian.
Meskipun terhalang plester, sentuhan kulitnya yang halus tetap terasa. Ujung jarinya menyusuri pergelangan kaki Jiang Wanyu di sepanjang tepi plester, membangkitkan perasaan yang tak terkatakan di dalam hati Wang Li.
Setelah memastikan plester itu terpasang dengan rapi, Wang Li menegakkan tubuhnya, sementara wajahnya sendiri sudah memerah padam.
Jiang Wanyu menunjuk ke arah wajahnya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat tanpa berkata apa-apa, namun matanya memancarkan sedikit kilatan usil.
Wang Li menyentuh wajahnya, tersenyum canggung, lalu berjasal, "Aku... aku tadi terlalu lama membungkuk, jadi darahnya mengalir ke wajah."
Jiang Wanyu memutar bola matanya dan tidak membongkar kebohongannya.
Di dalam hatinya, masih ada satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Wang Li sejak tadi, hanya saja dia bingung bagaimana harus mengawalinya.
Saat semangkuk es jelly-nya hampir habis, setelah berpikir keras, dia akhirnya menemukan celah untuk bertanya.
"Besok aku ada pemotretan iklan cetak, tapi Xiao Mei juga punya jadwal pemotretan. Besok kau akan mendampingi siapa?"
"Aku akan mendampingimu. Urusan Xiao Mei sudah kuatur dengan Han Ye, dia yang akan mendampinginya."
Jiang Wanyu menekan rasa mendesak di dalam hatinya dan pura-pura bertanya dengan santai:
"Hubungan kalian berdua sepertinya sangat baik, ya? Dia sudah mengikutimu sejak di Aurora."
Wang Li mengangguk dan menjawab tanpa berpikir panjang:
"Memang baik! Dia kan sudah seperti adik kecilku sendiri! Kondisinya bagus, tapi usianya masih muda dan kurang memiliki ambisi, jadi harus lebih sering didorong."
"Kurasa dia sangat menempel padamu. Jangan-jangan dia menyukaimu?"
Jiang Wanyu mengepalkan jemarinya erat-erat. Di balik sorot matanya yang biasanya tenang, terpancar secercah cahaya yang tidak biasa.
Wang Li menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit, "Tentu saja tidak, dia sudah punya pacar."
"Ah? Dia sudah punya pacar? Kenapa aku belum pernah dengar!" Jiang Wanyu terkejut.
"Kalian kan baru saling kenal, jadi belum terlalu akrab. Aku pernah bertemu pacarnya sekali, rasanya kurang begitu meyakinkan."
Jiang Wanyu sama sekali tidak peduli dengan hal itu; asalkan Wang Li tidak memiliki perasaan lain terhadap Xiao Mei, dia sudah merasa tenang.
Jiang Wanyu menghela napas lega secara diam-diam. Di balik kelegaan itu, ada secercah rasa yang sulit diungkapkan di dalam hatinya.
Mengingat dirinya yang sempat salah paham terhadap Wang Li sebelumnya, dia tak kuasa menyalahkan dirinya sendiri secara diam-diam, dan hatinya kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa bersalah.
"Baiklah, aku sudah kenyang. Ayo kita pulang! Besok masih harus bekerja," kata Jiang Wanyu.
"Bagaimana caramu pulang?" Wang Li menatap sepatu hak tinggi Jiang Wanyu dan bertanya.
"Jarak dari sini ke rumahku hanya sepuluh menit jalan kaki, ya jalan kaki saja!"
"Mau naik kendaraanku?" Wang Li tersenyum.
Jiang Wanyu membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dan berseru, "Kau punya kendaraan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Ada di sana!"
Wang Li berbalik dan menunjuk ke arah sebuah mobil Mercedes-Benz A6 hitam di seberang jalan...
...lalu menunjuk ke arah sepeda listrik kecil yang terparkir di sampingnya.
Di atas wajah Jiang Wanyu yang putih bersih bagai salju, bibir merahnya sedikit terangkat, memunculkan senyuman tipis, persis seperti daun putri malu yang melengkung malu-malu.
Hanya ada satu helm di sepeda listrik Wang Li. Tanpa ragu-ragu, dia memasukkan benda itu ke pelukan Jiang Wanyu:
"Pakailah ini, malam-malam begini jalanan masih agak berbahaya."
Jiang Wanyu dengan patuh mengenakan helm tersebut, lalu duduk menyamping di boncengan sepeda listrik dengan tertib.
Sepeda listrik itu perlahan melaju. Jiang Wanyu memegang erat tepi jok sepeda, posisi duduk yang membuat bagian tubuhnya terasa sangat tidak nyaman.
Dia menatap punggung Wang Li yang bidang, dan tiba-tiba terbersit dorongan kuat di dalam hatinya untuk memeluk pria itu.
Tepat ketika dia sedang ragu-ragu, ponselnya tiba-tiba berdering. Seseorang mengiriminya pesan melalui aplikasi WeChat.
Dengan satu tangan memegang jok dan tangan lainnya merogoh ponsel, ia melihat pesan dari Xu Zhengqing, yang seketika merusak suasana hatinya.
"Wanyu, aku dengar dari Zhang She kalau kau tiba-tiba berlari keluar dari klub malam?"
"Ada apa denganmu? Kalau tidak suka tempat seperti itu, lain kali aku tidak akan membiarkannya mengajakmu lagi. Jangan memaksakan diri!"
"Kau di rumah? Aku sedang berada di depan gerbang kompleks perumahanmu. Mengganggumu sedarut ini memang tidak enak rasanya, tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu."
"..."
Melihat rentetan pesan tersebut, suasana hati Jiang Wanyu yang tadinya cerah seketika tergantikan oleh rasa jengkel.
Tengah malam begini, apa lagi yang dia cari dariku?
Sungguh menyebalkan...
Dia baru saja hendak membicarakan hal ini kepada Wang Li ketika sepeda listrik itu perlahan berhenti di depan gerbang kompleks.
"Direktur Xu... selamat malam!" Wang Li melihat Xu Zhengqing, dan kebetulan pria itu sudah mengenalinya, sehingga ia terpaksa menghentikan kendaraannya untuk menyapa.
Suasana hati Xu Zhengqing sebenarnya sedang buruk. Setelah Zhang She memberitahunya bahwa Jiang Wanyu pergi meninggalkan klub malam, Xu Zhengqing tidak tahu apa yang telah terjadi dan panggilan teleponnya tidak dijawab oleh Jiang Wanyu, sehingga ia langsung mengemudikan mobilnya ke sini. Tak disangka, ia malah berpapasan dengan Wang Li dalam situasi seperti ini.
Di boncengan sepeda listrik Wang Li tampak seorang gadis yang mengenakan helm, namun karena warna helmnya terlalu gelap, wajahnya tidak terlihat jelas.
Jiang Wanyu hendak melepas helmnya, ketika tiba-tiba terdengar tawa meremehkan dari Xu Zhengqing:
"Wah, bukankah ini Wang Li! Bukankah kau baru saja putus cinta? Kenapa malah membawa anak gadis jalan-jalan keliling kota di tengah malam begini?
Orang-orang biasanya naik sepeda motor saat berkendara malam hari, kenapa kau malah mengendarai sepeda listrik?"
Tangan Jiang Wanyu yang tadinya terangkat untuk melepas helm, seketika turun kembali.
Pria ini ternyata tidak menyadari bahwa itu adalah aku. Kalau begitu, sudahlah, mari kita dengar dulu apa lagi yang ingin dia katakan setelah ini...