Bab 31: Pergi ke Pesta
Bab 31: Pergi ke Jamuan
Setelah semalam tak pulang, baru menjelang siang hari berikutnya Chu Xiangnan kembali ke vila milik Li Bihua karena mendapat telepon darinya.
“Kamu belum makan, kan?”
“Aku sudah menyiapkan beberapa camilan di atas meja, makanlah sedikit dulu, makanan utama sebentar lagi akan siap,” sambut Li Bihua dengan ramah, membuat Chu Xiangnan sedikit sungkan.
Walaupun Li Bihua telah menikah ke keluarga Meng, namun sudah sepuluh tahun ia menjanda. Suami Li Bihua, ayah dari Meng Qingqing, wafat karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Selama bertahun-tahun, Li Bihua harus mengurus beberapa perusahaan sekaligus membesarkan Meng Qingqing seorang diri.
“Ibu, sebaiknya kita tidak usah makan di sini. Urusan dengan Yang Shuai sudah aku atur. Kalau kita mengundang orang makan, seharusnya kita yang datang lebih dulu!” ujar Meng Qingqing, merasa kurang senang melihat ibunya dan Chu Xiangnan yang terlihat bertele-tele.
“Kalau begitu, Xiangnan, bawa saja beberapa camilan untuk disantap di mobil,” ujar Li Bihua sambil memasukkan camilan ke kotak makanan sekali pakai.
Hari ini, Meng Qingqing tampil menawan, begitu pula Song Yating. Sejak pagi kedua wanita itu sudah pergi berbelanja pakaian baru, semuanya dari merek-merek mewah berkualitas tinggi. Bahkan jika berdiri sendiri pun, mereka pasti menjadi pusat perhatian.
Ketiganya lalu bergegas menuju Jianghu Pavilion, sebuah restoran unik di Kota Yun. Suasana restoran ini kental dengan nuansa klasik, bahkan para pelayan pun gadis-gadis muda pilihan yang mengenakan busana tradisional. Tentu saja, orang yang bisa makan di sana bukanlah orang biasa, sebab harganya pun tidak murah.
Setibanya di depan restoran, mereka masuk ke ruang privat yang sudah dipesan sebelumnya. Chu Xiangnan duduk santai di salah satu kursi.
“Kak Xiangnan, bagaimana kalau kamu pindah tempat duduk?” tanya Song Yating.
“Kenapa?” sahut Chu Xiangnan.
“Dalam adat makan, posisi kanan lebih tinggi dari kiri. Tempat duduk yang kamu pilih itu posisi tertinggi!”
“Lalu?” tanya Chu Xiangnan.
“Kak Xiangnan, tamu-tamuku hari ini semua orang penting, lho!”
“Jadi?”
Mendengar jawaban itu, Meng Qingqing jadi bingung harus menjawab apa. Jadi? Jadi kenapa kamu duduk di posisi itu? Jadi kamu masih belum sadar siapa dirimu? Namun, karena menjaga perasaan, ia tak enak mengatakannya secara langsung.
Chu Xiangnan hanya berkata santai, “Hanya makan saja, untuk apa terlalu banyak aturan?”
Ucapan itu membuat suasana di ruang privat mendadak dingin. Namun, tak lama kemudian suara deru mobil sport memecah keheningan. Dari kejauhan, tiga mobil sport datang beriringan. Walaupun mobil sport sudah sering terlihat di Kota Yun, tapi tiga mobil sekaligus berjalan sejajar tetap menjadi pemandangan langka. Orang-orang di jalan pun menoleh untuk melihat.
Setelah mobil-mobil itu berhenti, enam orang keluar, pakaian mereka mewah, perhiasan yang dikenakan pun jelas bernilai tinggi. Salah satunya bahkan mengenakan jam tangan Patek Philippe seharga jutaan.
Yang memimpin rombongan itu adalah Yang Shuai. Tinggi badannya lebih dari 180 cm, wajahnya tegas, benar-benar sosok pria tampan dan kaya.
Meng Qingqing langsung turun menyambut mereka, sementara Song Yating dan Chu Xiangnan tetap tinggal di dalam ruang privat. Tak lama kemudian, terdengar suara tawa riang, enam orang itu masuk ke ruangan.
Awalnya Chu Xiangnan tak terlalu memperhatikan, namun begitu melihat keenam orang itu, ia sedikit terkejut. Bukankah mereka ini orang-orang yang tadi malam datang membawa hadiah, menunggu di depan pintu, dan ingin menyenangkan Guan Tian? Ternyata teman-teman Meng Qingqing adalah mereka.
Tentu saja, keenam orang itu tidak mengenal Chu Xiangnan, sebab kaca di ruangan semalam adalah kaca satu arah.
Saat Chu Xiangnan duduk santai, Song Yating-lah yang pertama berdiri dan cepat-cepat berjalan ke pintu.
“Qingqing, inikah teman-teman yang sering kamu ceritakan dan puji itu? Kenalkan juga dong siapa saja mereka, para pria dan wanita tampan ini?” Ucap Song Yating dengan ramah dan penuh pujian.
“Ini Yang Shuai, keluarganya dulu bergerak di bidang properti, ada juga kerabat yang berkarir di pemerintahan, tentu saja tak bisa disebutkan detailnya. Pokoknya, asal bukan urusan pembunuhan, cari saja Yang Shuai, pasti bisa diurus! Di Kota Yun, nama Yang Shuai sangat terkenal!”
“Di sebelahnya itu Zhang Chao, pemilik muda Grup Wisata Haitian!” Lanjut Song Yating.
Grup Haitian hampir memonopoli seluruh industri pariwisata Kota Yun, bahkan sebagian wilayah provinsinya pun dikuasai oleh grup ini. Dunia pariwisata pasti ada dukungan kuat dari belakang, kalau tidak, tak akan bisa bertahan. Zhang Chao sendiri lebih dikenal punya latar belakang dunia bawah.
“Silakan duduk, nanti aku kenalkan semuanya satu-satu!” Song Yating mempersilakan dengan hangat.
“Yang Shuai, kamu belum punya pacar, kan?” Song Yating tiba-tiba bertanya.
“Belum, memang kenapa?”
“Kalau begitu, duduklah di sampingku, biar aku bisa ikut-ikutan keberuntungan pria tampan,” goda Song Yating.
Ucapannya yang genit itu membuat Yang Shuai, yang sudah terbiasa mendengar pujian, tersenyum geli. Apalagi Song Yating memang cantik dan berkarisma, sebanding dengan Meng Qingqing. Melihat ini, Meng Qingqing diam-diam mengacungkan jempol untuk kecerdasan Song Yating. Ia mengira Song Yating sedang membantu Chu Xiangnan keluar dari kesulitan, sebab Chu Xiangnan sudah keburu duduk di kursi kehormatan.
Padahal, niat Song Yating sebenarnya adalah ingin mendekat pada Yang Shuai dan teman-temannya.
Setelah duduk, sebelum Meng Qingqing sempat memperkenalkan, Yang Shuai sudah lebih dulu menoleh ke arah Chu Xiangnan, yang penampilannya memang berbeda dari orang kebanyakan.
“Saudara, siapa namamu?” tanya Yang Shuai.
“Salah satu dari Empat Pemuda Terkemuka Jingzhou, Chu Xiangnan!” jawab Song Yating tiba-tiba.
Ucapan itu penuh makna tersembunyi, bahkan cukup dengan satu kalimat, semua orang langsung mendapat kesan buruk pada Chu Xiangnan. Biasanya orang akan memperkenalkan diri dengan rendah hati, tapi Song Yating justru sengaja memanas-manasi.
Ditambah lagi, Chu Xiangnan duduk di kursi kehormatan dan tadi waktu mereka masuk, ia pun tidak berdiri menyambut tamu.
“Pantas saja!” Yang Shuai tersenyum, namun dalam hati cukup kesal. Ia memang pernah mendengar dari Meng Qingqing bahwa tunangannya berasal dari Jingzhou. Dengan begitu, Yang Shuai langsung paham siapa Chu Xiangnan.
“Qingqing, bukankah kamu bilang ingin kami mencarikan jalan untuknya?” tanya Yang Shuai sengaja.
Mendengar ini, Meng Qingqing diam-diam merasa kecewa dan cemas. Sudah sampai di sini, kenapa Chu Xiangnan tidak berdiri menyapa? Masih duduk santai begitu saja? Siapa pun yang hadir di sini, semua lebih kaya, lebih berkuasa, dan lebih berpengaruh dari dia. Apalagi sekarang ada perlu pada orang lain, tapi sikapnya malah seperti raja, seolah-olah Yang Shuai dan kawan-kawan yang datang untuk memohon pertolongan padanya.
Meng Qingqing diam-diam memberi isyarat pada Chu Xiangnan, mengedipkan mata.
“Kena debu ya matamu?” balas Chu Xiangnan dengan santai.