Bab 92: Pengunduran Diri
Bab 92: Pengunduran Diri
Sementara itu, Chu Xiangnan telah tiba di salah satu perusahaan milik keluarga Yu. Sebenarnya, keluarga Yu memiliki lebih dari satu perusahaan, bahkan ada belasan, namun tidak mungkin semua perusahaan itu langsung dipercayakan kepada Chu Xiangnan untuk dikelola. Perusahaan yang satu ini hanyalah untuk menguji kemampuannya; jika Chu Xiangnan mampu mengelolanya dengan baik, barulah perusahaan itu akan sepenuhnya diserahkan kepadanya. Namun, jika hasilnya tidak memuaskan, kemungkinan besar pengelolaannya akan diberikan kepada putra Yu Ruxue, kakak kedua keluarga Yu.
Karena itulah, sejak awal tantangan sudah muncul. Lagipula, bagaimana mungkin pihak Yu Ruxue membiarkan Chu Xiangnan dengan mudah memegang kendali perusahaan? Chu Xiangnan sendiri sebenarnya tidak berniat mengelola perusahaan keluarga Yu; ia hanya sedang menyelidiki beberapa hal.
Di sisi lain, Yu Meiren sudah mengatur segalanya dengan baik. Seluruh perusahaan, baik karyawan, manajemen, maupun para petinggi, semuanya menantikan kedatangan Chu Xiangnan.
"Kudengar menantu keluarga akan segera datang!" salah seorang karyawan inti berkata santai sambil bersandar di kursinya.
"Sungguh keberuntungan yang luar biasa, ayam kampung berubah jadi burung phoenix dalam sekejap!" sahut yang lain.
"Bukan hanya berhasil meminang wanita cantik, tapi juga langsung mendapatkan warisan perusahaan sebesar ini. Hidupnya benar-benar sudah tidak perlu lagi berjuang!" Pemuda itu pun menghela napas.
Usianya pun tidak jauh berbeda dengan Chu Xiangnan. Ia telah bekerja di perusahaan ini sejak muda dan setelah bertahun-tahun berjuang, kini baru menjadi seorang pemimpin kecil. Di ibu kota yang harga barang dan rumah melangit seperti ini, ia merasa gajinya takkan pernah cukup untuk benar-benar menetap di sana.
Kadang-kadang, ia pun membiarkan dirinya berkhayal: bagaimana jika seorang putri konglomerat jatuh hati padanya, lalu ia menjadi CEO dan menikahi wanita kaya, mencapai puncak kehidupan. Tentu saja, ia sadar hal itu hanya terjadi dalam cerita-cerita metropolitan.
Namun, setelah mendengar kabar tentang perebutan menantu oleh tiga keluarga besar kemarin, dan hari ini Yu Meiren sendiri datang mengurus segala hal, sebuah kejadian tak terbayangkan itu benar-benar terjadi.
Chu Xiangnan pun menjadi sosok yang paling mereka kagumi dan iri. Zhang He tentu saja sangat iri.
"Sudah, Zhang He, jangan banyak bicara. Atasan sudah memperingatkan, dan masalah ini jauh lebih rumit dari yang kamu kira!" Saat itu, seorang pria paruh baya masuk ke ruangan.
Beberapa anak muda yang sedang bercanda itu langsung duduk tegak, seperti siswa nakal yang baru saja melihat guru masuk kelas.
Pria paruh baya itu adalah salah satu manajer menengah, atasan langsung mereka.
"Bos, bagaimana menurutmu?" tanya Zhang He yang tampak masih penasaran.
"Seluruh kota sekarang sedang memperhatikan perusahaan kita. Sekarang perusahaan kita sudah jadi pusat perhatian!" Ucap Wang Gui, sang manajer.
"Maksudnya apa?"
"Kalian mungkin tidak paham. Kejadian kemarin, tiga keluarga besar berebut menantu, sudah menjadi buah bibir. Pertama karena pengaruh tiga keluarga itu, kedua, semua orang ingin tahu, sehebat apa menantu keluarga kita?"
"Sekarang, bagian HR didatangi seribu lebih pelamar, sampai penuh sesak. Katanya mau wawancara kerja, tapi sebenarnya mereka dikirim keluarga lain untuk melihat seperti apa kemampuan menantu keluarga kita!"
Wang Gui melanjutkan penjelasannya.
"Lalu, kita sendiri tidak ada urusan besar, kan? Menantu keluarga masuk, makan, minum, bersenang-senang saja cukup. Bukankah selama ini selalu Pak Zhang yang urus semua?" tanya Zhang He lagi.
"Sst, diam. Tak ada masalah pun, pasti akan dibuat jadi masalah! Kalian jangan ikut-ikutan bicara atau memihak. Kalau sampai terjadi sesuatu, aku tak bisa jamin pekerjaan kalian tetap aman!" Wang Gui mengingatkan mereka sekali lagi.
Saat itu, setiap departemen memang menerima telepon dari tim pengawas.
"Sebentar lagi mereka akan datang!" kata Wang Gui.
"Sekarang, fokus saja bekerja," lanjutnya.
Dan benar saja, tak lama kemudian Chu Xiangnan pun tiba. Seorang pria yang usianya agak tua mengantarnya berkeliling perusahaan, sambil memperkenalkan satu per satu bagian.
"Namaku Yuan Feng. Mulai hari ini, aku akan menjadi sekretaris pribadi Anda," kata Yuan Feng.
"Biasanya sekretaris itu perempuan, kan?" Chu Xiangnan melirik Yuan Feng.
"Nona tidak tenang kalau orang lain yang jadi sekretaris Anda, jadi saya yang ditugaskan."
"Menantu keluarga, di sini bagian teknis kami, bertanggung jawab atas..."
"Di sini juga..."
Setelah berkeliling, Chu Xiangnan pun melihat ribuan karyawan di perusahaan itu. Sebenarnya, hal itu terasa membosankan baginya karena ia memang tidak terlalu paham.
Usai makan siang, seperti biasa, mereka pun mengadakan rapat harian.
Begitu masuk ruang rapat, belasan petinggi perusahaan sudah duduk rapi menunggu.
"Direktur Chu, benar-benar tampan dan berwibawa," semua orang berdiri dan melontarkan basa-basi.
Yuan Feng pun memperkenalkan satu per satu hingga akhirnya sampai pada Direktur Zhang, yakni Zhang Kaiming.
"Direktur Chu, saya orang yang to the point saja. Meski Anda baru saja mengambil alih perusahaan, banyak hal yang harus segera diselesaikan. Jadi, saya bicara langsung saja."
"Sekarang perusahaan kita harus menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan lain. Namun, kami tak bisa menanganinya, jadi perlu Anda sendiri yang turun tangan!" ujar Zhang Kaiming dengan lugas.
Yuan Feng diam-diam melemparkan isyarat mata pada Chu Xiangnan.
Setelah Zhang Kaiming menjelaskan urusannya, Chu Xiangnan mendengarkan panjang lebar, lalu meminta waktu istirahat sejenak.
"Saya ingin mengingatkan, Direktur Chu. Kalau kontrak ini tidak diteken, arus kas bulan ini tidak akan masuk, dan gaji karyawan pun bisa tertunda!" tambah Zhang Kaiming.
Chu Xiangnan masuk ke ruang kerjanya, Yuan Feng pun menyusul.
"Direktur Chu, ini jelas jebakan untuk Anda. Nona sudah pesan agar saya membantu Anda menangani masalah ini," kata Yuan Feng.
"Maksudmu?"
"Kontrak ini harus ditandatangani dengan Perusahaan Qingchuan, yang merupakan bagian dari lingkaran bisnis Ibu Kota Baru."
Mendengar itu, Chu Xiangnan langsung mengerti. Keluarga Yu termasuk lingkaran bisnis lama Ibu Kota, sedangkan Qingchuan bagian dari lingkaran baru. Apakah mungkin mereka mau menandatangani kontrak ini?
Masalahnya, kalau tidak diteken, arus kas perusahaan akan terganggu dan gaji karyawan bisa telat. Bayangkan, kalau bos baru datang-datang langsung telat bayar gaji, apa kata karyawan? Apalagi banyak dari mereka yang punya cicilan rumah, mobil, dan kebutuhan lain. Gaji tak mungkin ditunda.
"Aku belum paham, kenapa kontrak dan pembayaran gaji bisa saling terkait?"
"Begini, semua keuangan perusahaan kita diatur pusat, setiap bulan ada target yang harus tercapai, baru dana akan masuk. Sebenarnya, kalau tak tercapai pun masih tetap dibayar, tapi Anda tahu sendiri, dengan kedatangan Anda, banyak orang pasti tidak senang dan akan mencari-cari masalah."
Yuan Feng menjelaskan dengan gamblang.
"Menurutmu, Yuan Feng?" tanya Chu Xiangnan dengan senyum tipis.
"Masalah tetap di kontrak. Kalau Qingchuan tak mau, saya bisa cari perusahaan lain untuk kerja sama."
"Tidak usah repot-repot. Pecat saja Zhang Kaiming," sahut Chu Xiangnan santai.
"Apa?" Yuan Feng terkejut.
"Jangan, tidak bisa! Selama ini perusahaan ini diurus olehnya, dia juga pegawai lama. Kalau Anda memecatnya, bahkan Tuan Ketiga keluarga Yu pun takkan menyetujui!"