Bab 12 Kebahagiaan Tersembunyi
Dengan nada penuh kekesalan, ia berkata, “Aku tak berani mengeluh di depanmu, toh semua yang kau lakukan pasti demi kebaikanku.”
“Jangan bertingkah seperti anak kecil.”
“Aku tidak...”
“Nanti biar Tan Jie yang mengurus lukamu.”
Lu Wei sedikit penasaran, “Siapa itu Tan Jie?”
“Yang waktu itu kamu lihat di bar.”
Ia tampak terkejut, “Ternyata dia dokter?”
Qin Muyang mengangkat alis, “Kalau bukan, apa menurutmu?”
Ia berkata, “Kupikir dia itu preman.”
Sudut bibir Qin Muyang berkedut. Kalau Tan Jie tahu dirinya dipandang seperti itu, mungkin dia bakal marah besar, meskipun memang kelakuannya agak menyebalkan.
Qin Muyang berkata, “Aku minta dia memeriksa lukamu, apapun yang dia katakan, jangan dengarkan.”
“Hah?”
“Ingat saja.”
Lu Wei mengangguk, “Oh. Jadi dia dokter khusus cedera jatuh dan luka dalam?”
Qin Muyang menunduk menatapnya, ekspresinya agak aneh. Melihat dia tampak ragu, Lu Wei pun tak bertanya lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian, suara Qin Muyang terdengar di telinga.
“Dia dokter kandungan.”
Ekspresi Lu Wei seketika membatu, mulutnya terbuka, mendadak ia kehilangan kata-kata.
Seorang dokter kandungan akan mengobati lukanya setelah terjatuh—benar-benar aneh.
Aroma lembut deterjen dari pakaian pria itu tercium oleh hidung Lu Wei. Ia bersandar di dada pria itu, menarik napas dalam-dalam. “Qin Muyang, merek deterjen apa yang kau pakai? Wanginya enak juga.”
Qin Muyang hanya terdiam.
Ia memutuskan untuk tak menggubrisnya, menganggap Lu Wei memang sedang linglung akibat terjatuh.
Karena diabaikan, Lu Wei pun merasa sungkan untuk kembali membuka percakapan.
“Pagi-pagi begini, ada apa sih? Mengganggu orang tidur saja.”
Lu Wei duduk di sofa, memperhatikan Qin Muyang menelepon Tan Jie. Dari kejauhan, ia sudah bisa mendengar suara keluhan Tan Jie di seberang. Lu Wei jadi agak canggung, suara telepon itu sepertinya terlalu besar.
“Vivi terjatuh waktu jogging pagi ini, kakinya terluka.”
“Vivi? Keponakan kecilmu itu?”
Begitu mendengar keponakan kecil, semangat Tan Jie langsung bangkit, rasa kesal karena dibangunkan pun lenyap.
Qin Muyang menjawab singkat, “Iya, tolong bantu obati lukanya.”
Tan Jie segera bangkit, terdengar gembira, “Sebentar lagi aku sampai, tunggu aku.”
Sejak melihat keponakan itu di bar terakhir kali, jiwanya hampir melayang. Sampai sekarang pun ia masih belum melupakannya.
Meskipun secara silsilah keluarga Lu Wei adalah keponakan Qin Muyang, dan berarti keponakannya juga, tapi sekadar melihat sepertinya bukan pelanggaran, kan?
Qin Muyang menatap telepon yang baru saja ditutup dengan cepat, lalu berbalik melirik Lu Wei yang duduk di sofa. Ia berjalan mendekat, berlutut di samping Lu Wei, dan memperhatikan lututnya.
“Untung tak mengenai tulang.”
Namun lukanya cukup parah, tampak mengerikan, membuat bulu kuduk berdiri. Lu Wei menggigit bibir, memandang daging yang terbuka, tapi entah kenapa di dalam hati justru merasa sedikit senang.
Setidaknya seminggu ke depan, ia tak perlu keluar untuk jogging, juga tak perlu ikut latihan taekwondo selama seminggu.
Bagus sekali.
Ia tersenyum, “Tak apa, hanya luka kecil. Dikasih obat sebentar juga sembuh.”
“Kamu tidak takut sakit rupanya.”
“Biarpun sakit, mau bagaimana lagi.” Ia mengangkat bahu, menunjukkan ketidakberdayaannya.
Qin Muyang langsung bisa menebak isi hatinya. Ia mendongak, menatapnya, kilau bintang tampak di matanya.
Lu Wei menatapnya balik, sesaat terpana, karena di matanya, ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri.
Sudut bibir pria itu melengkung membentuk senyum samar, “Senang ya, tak perlu jogging?”
Tebakan itu tepat mengenai sasaran, Lu Wei jadi canggung dan memalingkan wajah. “Bukan itu yang kupikirkan.”
Pria itu selalu tersenyum seperti itu, membuatnya merasa dingin hingga ke sumsum tulang, seolah-olah dalam hati pria itu sudah merancang sesuatu untuk menjeratnya.
...
Bel rumah berbunyi. Qin Muyang berdiri dan pergi membuka pintu. Begitu melihat Tan Jie berdiri di ambang pintu, ia berkata, “Cepat juga.”
Tan Jie tersenyum lebar, “Tentu saja, demi keponakan kecil, aku rela berkorban sampai mati.”
Ia mendorong tubuh Qin Muyang, melangkah cepat masuk ke rumah. Begitu melihat luka di kaki Lu Wei, wajahnya langsung berubah menunjukkan rasa prihatin.
Dengan nada berlebihan, ia berkata, “Aduh, lukanya parah sekali. Kenapa bisa begitu? Kamu menyiksa anak orang, ya?”