Bab 28: Bergelimang dalam Kenakalan
Lu Wei tak bisa menahan diri untuk memutar bola matanya. Sepertinya mengusiknya adalah hobi pria itu, sudah terbukti. Ia jadi bertanya-tanya, selama tiga puluh tahun ini, apa yang membuatnya bahagia?
“Aku tidak, aku hanya mengingatkanmu saja.”
“Jadi kau tidak merasa kasihan padaku?”
Nada suara Qin Muyang mengalun panjang, membuat hati Lu Wei hampir meleleh. Oh, lelaki sialan ini.
Ia berdeham dua kali. “Kau pamanku, kau hanya punya aku sebagai keluarga di ibu kota ini, kalau aku tidak peduli padamu, harus peduli pada siapa lagi?”
“Hmm.”
Ia hanya menjawab singkat, lalu hening. Lu Wei menempelkan ponsel ke telinga, menunggu kalimat berikutnya.
Namun, tak ada suara lagi dari seberang. Ia berkata, “Kau masih mendengarkan?”
“Hmm,” sahut Qin Muyang, sekadar menanggapi.
“Kalau memang tidak ada apa-apa lagi, aku tutup ya.”
“Cepat pulang, jangan keluyuran di luar.”
Kata-kata Qin Muyang bergaung dalam hati Lu Wei, membangkitkan gelombang emosi. Apa maksudnya keluyuran?
Baru saja ingin membalas, dari seberang mendadak sunyi. Ia menurunkan ponsel dan melihat, ternyata ia sudah diputuskan. Ia menggerutu, “Telepon ini seenaknya diputus.”
Ia berbalik dan melihat Tan Jie sudah duduk di samping Lu Sihang, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Ayo makan, habis itu kita pulang,” ucap Tan Jie sambil tersenyum. “Barusan masih ceria, sekarang sudah cemberut lagi?”
Masih sempat-sempatnya bertanya, Lu Wei menatapnya tajam, lalu menunduk tanpa berkata apa-apa.
“Weiwei.”
Lu Wei menoleh pada Lu Sihang, memastikan bahwa panggilan itu keluar dari mulutnya. “Ada apa?”
“Nanti kita jalan-jalan sebentar, ya?”
Aduh, Lu Sihang ini, kenapa tidak peka sama sekali?
Apa dia tidak dengar tadi Qin Muyang menyuruhnya cepat pulang?
“Aku tidak ikut, ingin cepat pulang dan istirahat, hari ini agak lelah.”
Lu Sihang melirik Ye Ling, dan Ye Ling memberinya isyarat dengan matanya. Ia pun menangkap maksudnya, lalu tak membujuk lagi.
Setelah mengantar Ye Ling pulang, Tan Jie mengantar Lu Wei pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Lu Wei diam saja, wajahnya masam.
Tan Jie dalam hati merasa geli. Apa gadis kecil ini sedang ngambek padanya?
Ia bertanya, “Kenapa? Setelah telepon, kau jadi dingin padaku, abang jadi sedih, tahu.”
Lu Wei melotot padanya, “Kau memang suka mengadu.”
“Aku tidak, kok.”
“Lalu kenapa begitu kau keluar, Qin Muyang langsung meneleponku?”
“Mana aku tahu?”
Wajah Tan Jie polos, seolah-olah memang tak ada hubungannya dengan dia.
Lu Wei setengah percaya setengah ragu, pintar juga dia berpura-pura.
“Lebih baik dia langsung pasang kamera di badanku sekalian.”
Tan Jie dalam hati membatin, mungkin Qin Muyang memang agak aneh, ya?
Ia membayangkan Qin Muyang menatap layar kamera, diam-diam ia ingin tertawa. Duh, betapa kocaknya pemandangan itu.
Ia berkata, “Kau salah menuduh, Qin Muyang tidak punya kebiasaan seperti itu.”
“Kenapa dia selalu mengawasi aku begitu ketat?”
Tan Jie mengangkat bahu. “Demi keselamatanmu.”
“Memangnya aku punya bahaya apa?”
“Sekarang zaman sudah tidak aman.”
Tan Jie berusaha menasihati, tapi terkadang menasihati perempuan itu sia-sia saja.
Qin Muyang selalu bilang keponakannya berbeda dari perempuan lain di luar sana, tapi soal keras kepala, mereka tampaknya sama saja.
“Tidak penting bagiku. Kalau punya waktu seharian mengawasi aku, lebih baik kau bujuk dia supaya izinkan aku tinggal di asrama. Waktu di rumah, orang tuaku saja tidak seketat ini.”
Tan Jie terdiam. Gadis kecil ini memang keras kepala, tidak bisa dibujuk.
“Benar juga, pamanmu itu memang terlalu ikut campur. Bagaimana kalau kau tinggal di rumah abang saja, abang yang jaga?”
Lu Wei langsung mendorongnya, “Aku tidak punya abang setua ini.”
Tan Jie pura-pura sedih. “Jadi aku sudah setua itu tanpa sadar?”
“Kau dan Qin Muyang sama saja, sama-sama pria tua.”
Sudut bibir Tan Jie berkedut. “Aku tidak sama dengan dia, aku ini paham soal romantisme.”
“Itu karena kau dokter kandungan?”