Bab 3: Perundingan
Qin Muyang merapatkan bibirnya. "Sudah bertahun-tahun berlalu, tidak ada lagi urusan dendam atau tidak dendam."
"Kau juga sudah dewasa. Kakakmu sudah menikah bertahun-tahun tapi belum juga punya anak, jadi keluarga Qin mengandalkanmu."
"Aku tahu harus bagaimana."
Orang tua itu melambaikan tangan. "Sudahlah, kau boleh keluar. Saat pergi nanti ingat beri tahu aku."
Ia meraih bingkai foto di atas meja, menatapnya lekat-lekat, matanya penuh kesepian. Bertahun-tahun ia berjaya di dunia bisnis, segalanya sudah ia dapatkan, kecuali satu: cucu kandungnya sendiri. Dua putranya, satu lebih mengecewakan daripada yang lain.
Qin Muyang melihat itu, lalu keluar dan kembali ke kamarnya. Ia teringat pada Lu Wei yang ditemuinya hari ini, ujung bibirnya terangkat pelan. Hari-hari ke depan sepertinya tak akan membosankan.
"Besok kau pergi bersama pamanmu, harus dengarkan nasihatnya, jangan buat dia marah."
Chen Ke masih merasa khawatir pada Lu Wei. Ia sendiri tidak sering bertemu Qin Muyang, hanya tahu bahwa orang itu tampaknya bukan tipe yang ramah, jarang tersenyum, dan kalaupun tersenyum, hanya sekadar basa-basi.
Mendengar soal paman itu, Lu Wei tak tahan untuk mengeluh, "Mama, permintaannya terlalu berlebihan. Aku ini mahasiswa, kenapa pola hidupku harus seperti anak SMA?"
Chen Ke mengelus kepala putrinya. Memang, permintaan Qin Muyang agak keterlaluan, tapi Lu Wei harus mengandalkan bantuannya kelak. Kalau butuh sesuatu dari orang lain, harus menunjukkan sikap yang baik.
"Karena kau akan tinggal bersamanya, jadi harus menurut padanya."
"Kenapa aku harus tinggal serumah dengannya?"
"Ayahmu sudah memintanya untuk menjaga kau. Kami tak tenang kalau kau sendiri di kota orang. Lagi pula, rumahnya dekat dengan Universitas Ibu Kota."
Lu Wei memalingkan wajah dengan kesal. "Kalian selalu menganggap aku anak kecil."
"Bagi ayah dan ibu, kau selalu anak kecil. Kalau bertemu pamanmu, ingat untuk hormati dia, jangan bersikap seenaknya."
"Tapi dia kelihatannya tidak jauh lebih tua dariku, kenapa harus kupanggil paman..."
Chen Ke mendorongnya pelan. "Jangan bicara sembarangan. Dia sudah tiga puluh tahun."
"Ah? Kupikir paling tua dua puluh tujuh atau delapan."
"Dia memang tampak awet muda."
"Orangnya seperti apa sih?"
Lu Wei jadi penasaran. Sudah tiga puluh tahun tapi belum menikah, jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan?
"Menurut istilah kalian anak muda, dia itu tipe yang dingin. Jadi kau harus patuh selama tinggal di sana, jangan sampai diusir. Malu aku dan ayahmu. Dia jarang pulang ke rumah, makanya hubungannya dengan ayahmu juga tidak dekat. Kalau bukan karena kau, dia pun tak akan pulang."
"Dia ada masalah dengan keluarga, ya?"
Chen Ke menepuk kepala putrinya. "Pokoknya kau cukup dengarkan saja, jangan kepo urusan dia."
"Oh, baiklah."
Sebenarnya ia sangat penasaran pada pamannya itu, tapi Chen Ke tidak mau bicara lebih lanjut. Setelah membereskan barang, Chen Ke pun keluar dari kamarnya.
Membayangkan akan tinggal serumah dengan keluarga, Lu Wei merasa tidak nyaman, hatinya kacau. Ia baru saja pindah dari satu atap ke atap lain, harus hidup lebih hati-hati dan rasanya sungguh melelahkan.
Tapi kalau ia tidak menunjukkan sikap baik, mungkin pamannya itu tidak mau mengurusnya lagi. Kalau sudah begitu, ia bisa pindah ke asrama dan jadi benar-benar bebas.
Ia membayangkan enaknya, tapi sadar kalau benar-benar melakukannya, pasti ia harus menanggung resikonya.
Keesokan harinya, setelah makan siang, Qin Muyang datang menjemput. Saat mengangkat koper, Lu Wei merasa berat hati. Bagaimanapun juga, ia sudah tinggal di rumah itu sepuluh tahun lebih.
Chen Ke memeluk putrinya, "Jaga dirimu baik-baik, dengarkan nasihat pamanmu."
Lu Wei sebenarnya tidak suka pada Qin Muyang, tapi tetap mengangguk pada Chen Ke, "Aku akan lakukan itu. Mama dan papa juga harus jaga diri."
"Jangan lupa sering telepon ke rumah, ya?"
Ia mengangguk lagi. "Iya, aku tahu."
Sopir memasukkan koper Lu Wei ke bagasi. Qin Muyang membukakan pintu mobil, melindungi kepala Lu Wei dengan tangannya.
Saat hendak berangkat, Qin Muyu menarik Qin Muyang untuk bicara.
"Mohon kau jaga Weiwei. Kalau saja kami di sini bisa mengurusnya, kakakmu tidak akan merepotkanmu."
"Tenang saja, kak. Aku akan menjaga dia dengan baik."
Chen Ke berdiri di luar mobil, mengusap air matanya. "Weiwei, jaga dirimu baik-baik."
Tadinya ia sangat ingin cepat-cepat meninggalkan keluarga Qin, tapi melihat Chen Ke menangis, hati Lu Wei jadi pilu.
Ia berkata, "Aku bukan pergi selamanya, kok. Kalau libur, aku pulang melihat kalian."
"Iya, waktunya juga sudah pas. Kalau sekarang berangkat, malam baru sampai di ibu kota," ucap Qin Muyang.
Chen Ke mengangguk. "Baiklah, kalian berangkatlah."
Lu Wei melambaikan tangan, "Aku akan rajin belajar dan menjaga diri."
Mobil melaju pelan. Lu Wei menoleh ke belakang, melihat sosok keluarga yang makin jauh, hidungnya terasa asam.
Qin Muyang meliriknya, suaranya datar, "Beginilah hidup, harus bisa menerima."
Lu Wei menatapnya, lalu menunduk tanpa bicara. Ia tak tahu harus berkata apa, selalu merasa Qin Muyang menertawakannya dalam hati.
Ia memalingkan wajah ke jendela. Qin Muyang duduk di sampingnya, sibuk dengan tabletnya, tanpa berusaha mengajaknya bicara.
Suasana jadi canggung. Sepanjang perjalanan yang panjang, tak ada seorang pun yang mengajaknya berbicara. Lu Wei merasa sesak.
"Aku akan mengatur sopir untukmu, supaya kau bisa diantar jemput ke kampus."
Lu Wei buru-buru menggeleng, menoleh padanya. "Tidak usah, aku hanya ingin jadi mahasiswa biasa."
"Baiklah, dengarkan saja."
Sekali ucapannya, semua protes Lu Wei langsung tertahan. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kau masih ingat janji yang kau ucapkan di meja makan kemarin malam?"
Dengan malas, Lu Wei menjawab, "Ingat."
"Besok pagi aku akan membangunkanmu, mengajakmu mengenal lingkungan sekitar."
Lu Wei menghela napas, "Kau mau aku bangun jam setengah enam besok pagi?"
Qin Muyang melihat keraguannya, meletakkan tablet dan menoleh, "Ada masalah?"
"Sebenarnya aku sudah dewasa, aku bisa mengatur hidupku sendiri."
"Oh? Jadi kau tidak suka dengan peraturanku?"