Bab Dua Puluh Lima: Sulit Bertahan dalam Kesulitan
Pada hari-hari biasa, Cheng Feifei duduk persis di depan Lin Meili. Mereka berdua adalah sahabat karib. Meskipun biasanya Cheng Feifei selalu bersikap angkuh, Lin Meili selalu menuruti segala keinginannya.
Namun, kalau boleh dibilang, Cheng Feifei memang memperlakukan siapa saja di sekolah seakan-akan mereka adalah bawahannya, memerintah teman-temannya seperti memerintah pelayan.
"Meili, pinjamkan pulpenmu sebentar," kata Cheng Feifei saat jeda pelajaran, tampak sedang menulis sesuatu. Ia langsung mengambil pulpen Lin Meili tanpa banyak basa-basi.
"Letakkan!" seru Lin Meili tiba-tiba.
"Apa?" Cheng Feifei terkejut.
"Aku bilang letakkan!"
Cheng Feifei benar-benar terhenyak, "Kau... apa maksudmu?"
"Sialan, bodoh. Berikan!" Lin Meili merebut pulpen itu dari tangan Cheng Feifei, lalu meletakkannya ke dalam kotak pensil dengan suara keras. Ia mendongakkan kepala, "Kalau punya uang, beli sendiri. Kalau tidak mampu, ya tahan saja, kenapa harus pinjam segala?"
"Kau—"
"Memang, masa pulpen saja tak bisa beli? Cheng Feifei, buat apa kau sekolah kalau begitu? Kau selalu pinjam barang orang, itu tak baik. Aku rasa Meili benar. Kalau kau terus seperti ini, aku juga takut berteman denganmu. Teman-teman, betul tidak?" uangkap Qian Long dengan nada mengejek dari belakang.
"Kalian berdua, cukup—" Cheng Feifei merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang lima yuan, menyodorkannya pada Chen Juan yang duduk di sebelahnya, "Tolong belikan aku satu pulpen."
"Kau sakit ya, bodoh. Kaki sendiri kan ada, pergilah sendiri," jawab Chen Juan dengan ketus.
"Kalian... kalian semua—" Di saat itu, Yang Fan melihat wajah Cheng Feifei pucat pasi. Ia memang tidak menangis, tapi ekspresinya jauh lebih menyedihkan dari orang yang menangis. Matanya membelalak, seolah-olah bola matanya hendak melompat keluar.
"Cheng Feifei, aku pinjamkan saja, kalian ini benar-benar menyebalkan," tiba-tiba Zhang Qiang menyeringai dan menyodorkan pulpen. Begitu Cheng Feifei merasa ada jalan keluar, ia baru saja menghela napas lega, namun pulpen di tangan Zhang Qiang tiba-tiba terjatuh ke lantai.
"Aku sudah baik hati mau meminjamkan pulpen, tapi kau malah melemparkannya ke lantai. Kau tahu tidak, pulpen ini mahal sekali. Sekarang, kau harus ganti rugi!" ujar Zhang Qiang dengan nada mengejek, berdiri dan menunjuk ke arah pulpen di lantai, "Ambilkan, dengar tidak?"
Semua orang di sekitar langsung berubah muka. Dalam tekanan suasana yang mencekam itu, kepala Cheng Feifei seolah hendak meledak. Ia sungguh tidak mengerti, kenapa teman-teman yang beberapa hari lalu masih patuh dan tunduk padanya, kini tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan serigala.
"Baik, aku ambilkan, tapi aku tidak merusaknya," akhirnya Cheng Feifei mengalah. Ia membungkuk dan memungut pulpen itu. Dikelilingi oleh kawanan serigala, apa lagi yang bisa ia lakukan?
"Apa tidak rusak? Lihat, ini ada retakannya. Pulpen ini ayahku bawa khusus dari Prancis, harganya seribu dolar Amerika. Tidak bisa, kau harus ganti rugi," lanjut Zhang Qiang.
Bagi Cheng Feifei yang dulu, seribu dolar hanyalah angka sepele. Tapi kini jangankan seribu dolar, seribu yuan saja keluarganya tidak mampu.
"Kau... kau ini, sedang memerasku."
"Tidak mau ya? Baiklah, peluk saja aku sekali, anggap saja amal, tidak perlu ganti rugi. Putri kaya, satu pelukan seribu dolar, haha!" Zhang Qiang langsung merentangkan tangan hendak memeluk Cheng Feifei.
Jika itu terjadi pada orang lain, Zhang Qiang pasti tidak akan berani bertindak sejauh itu. Tapi Cheng Feifei memang sangat dibenci di kelas, dan ia sendiri tidak menyadarinya. Tak ada satupun yang membelanya. Walaupun ketakutan, Cheng Feifei tetap tidak bisa menghindar dan akhirnya terjebak dalam pelukan Zhang Qiang.
"Lepaskan aku! Kau... berani-beraninya... lepaskan aku! Uuh..."
"Heh, Zhang Qiang, lepaskan tanganmu!" tiba-tiba terdengar suara.
"Siapa—" Zhang Qiang baru saja berbalik, tiba-tiba sebuah tinju mendarat di wajahnya hingga ia terpelanting.
"Sialan, Yang Fan, kau sudah gila!" Zhang Qiang bangkit dan melotot, tak menyangka bahwa yang memukulnya adalah Yang Fan.
Namun yang paling mengejutkan teman-teman sekelas bukanlah Zhang Qiang, melainkan Cheng Feifei sendiri. Ia langsung mengambil sebuah buku dan melemparkannya ke wajah Yang Fan.
"Kau pikir kau siapa? Aku butuh bantuanmu? Kau pantas? Aku tidak butuh kau! Pergi sana, miskin!" Setelah berkata begitu, ia menutupi wajahnya dan berlari keluar kelas.
"Dengar itu, miskin! Dia tidak mau berterima kasih, dasar bajingan! Berani-beraninya kau memukulku, gila kau, tunggu saja!" Karena bel masuk berbunyi, Zhang Qiang tidak bisa berbuat lebih jauh. Ia meludah ke lantai lalu kembali ke tempat duduk.
Sedangkan Yang Fan merasa sangat berat hati. Awalnya ia kira setelah membuat Cheng Feifei menderita, ia akan merasa puas. Tapi setelah melihat apa yang menimpa Cheng Feifei hari ini, ia justru merasa bersalah. Baru ia sadari, balas dendamnya kelewatan. Itulah sebabnya ia tadi menolong.
Soal Cheng Feifei melempar buku padanya, Yang Fan pun maklum. Itu cuma karena gengsi putri kaya yang masih belum bisa ia lepaskan.
Sedangkan memukul Zhang Qiang, ia sama sekali tidak peduli. Sejak lama ia ingin melakukannya. Bagi Yang Fan, Zhang Qiang kini hanyalah seekor semut. Dipukul pun tidak masalah. Beberapa hari lagi, ia bahkan berniat menyeretnya ke penjara. Namun ia tahu Zhang Qiang pasti akan membalas dendam, maka ia sudah lebih dulu mengirim pesan pada Wang Mengyao.
Setengah pelajaran berlalu, Cheng Feifei kembali. Ia duduk seperti anak ayam yang kedinginan, sesekali matanya memancarkan api kebencian yang dalam. Kadang-kadang, Yang Fan bahkan bisa mendengar suara giginya beradu karena geram. Tampaknya, dunia benar-benar telah mengacaukan hidupnya.
Menjadi kaya dari miskin itu mudah, tapi jatuh miskin dari kaya adalah hal yang sulit. Beberapa orang, bahkan banyak, tidak sanggup menahan tekanan seperti itu. Kalau hanya jatuh dan tidak bangkit lagi, itu masih mendingan; tidak sedikit yang berakhir gila. Sebab seluruh pandangan hidup dan dunia mereka seketika terbalik dalam waktu singkat, terlalu cepat dan terlalu mendadak, hingga mereka benar-benar kehilangan arah.