Bab Dua Puluh Sembilan: Menjadi Budak Pelayan
Setelah Yang Fan kembali ke rumah, Kang Mi sudah menunggunya di kamar. Melihat kondisinya tampak baik-baik saja, Yang Fan kembali teringat masalah Zhang Qiang. Kalau sekarang ia meminta Kang Mi untuk bersaksi melawan Zhang Qiang, entah apakah Kang Mi mampu menanggungnya.
Saat itu, seorang pembantu tiba-tiba masuk dan berkata, "Tuan Muda, barusan ada yang datang untuk wawancara kerja, tapi Tuan Besar sedang tidak di rumah. Apakah Anda bisa menerima tamunya?"
Yang Fan bertanya heran, "Wawancara kerja di rumah?"
"Iya, untuk posisi petugas kebersihan."
Dalam hati, Yang Fan tersenyum. Masa untuk wawancara petugas kebersihan saja ia, Tuan Muda, harus turun tangan langsung? Ini terlalu berlebihan. Tapi tak enak juga membiarkan orang menunggu, jadi ia pun berdiri dan berniat menemui tamu itu.
"Kita kan ada kepala rumah tangga?" Saat turun tangga, ia bertanya pada pembantu itu. Pembantu itu seorang wanita paruh baya bernama Ibu Zhang, yang selama ini sangat dihormati oleh Yang Fan.
"Begini, Tuan Muda, dulu memang ada kepala rumah tangga, tapi sedang ada urusan di kampung, mungkin beberapa hari lagi baru kembali. Biasanya urusan seperti ini beliau yang urus, jadi sekarang mohon Anda saja yang menangani," jawab Ibu Zhang sambil tersenyum.
"Oh," jawab Yang Fan.
Setelah turun dari lantai atas, Yang Fan menuang secangkir kopi di bar, lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Wawancara kerja malam-malam begini, aneh juga pikirnya.
Sementara itu, Kang Mi di atas sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan Yang Fan. Ia mengajarkan Kang Mi berdasarkan kurikulum guru, langkah demi langkah. Meski Kang Mi bukan murid yang cemerlang, ia juga tidak bodoh. Pelajarannya cukup baik.
"Tuan Muda, orangnya sudah datang," kata pembantu itu.
Sebenarnya, sebutan petugas kebersihan hanyalah istilah lain untuk pembantu rumah tangga. Katanya, beberapa hari lalu ada satu pembantu yang mengundurkan diri, mungkin karena dapat pekerjaan yang lebih baik, jadi mereka merekrut orang baru.
Bagi keluarga sebesar keluarga Yang, banyak orang berebut ingin bekerja di sana. Gajinya bagus, bisa melihat dunia luar, dan jadi kebanggaan tersendiri.
"Silakan persilakan masuk," kata Yang Fan sambil tersenyum. Ia tak menanggapi serius urusan wawancara ini. Untuk pekerjaan seperti itu, asal sehat jasmani saja sudah cukup. Ia juga tak mau mempersulit rejeki orang lain, toh hidup semua orang tidak mudah.
Selesai wawancara nanti, Yang Fan berencana ke rumah sakit menemani ayahnya yang sebentar lagi akan sembuh dan keluar dari rumah sakit.
"Silakan masuk, inilah Tuan Muda kita. Cepat beri salam pada Tuan Muda Yang," kata Ibu Zhang sambil membawa seorang gadis yang menunduk dalam-dalam.
"Tuan Muda, tolong terimalah saya. Saya akan bekerja keras dan tak akan mengecewakan kepercayaan Anda," ujar gadis itu dengan suara lirih, menunduk dan tampak sangat minder, hingga wajahnya pun tak terlihat jelas. Yang Fan hanya tersenyum, "Baiklah, tak masalah. Kamu tampaknya baik, coba saja beberapa hari dulu. Kalau ada permintaan, bilang saja, akan saya usahakan penuhi."
"Yang Fan!"
Sebuah suara terkejut membuat Yang Fan gemetar. Suara itu terlalu familiar. Pernah ada masa, suara itu membangkitkan kebencian mendalam di hatinya.
"Cheng Feifei!"
Gadis yang berdiri di depannya itu tiba-tiba mendongak, tatapan terkejut mereka saling bertemu, lalu keduanya refleks mundur selangkah. Hampir bersamaan mereka berkata, "Tidak, ini tidak mungkin!"
"Wah, Tuan Muda ternyata kenal dia? Bagus sekali! Tolonglah, Tuan, bantu anak ini. Kehidupannya sangat menyedihkan, ibunya sakit dan butuh banyak biaya berobat. Tak ada jalan lain, dia harus bekerja padahal masih SMA. Anggap saja amal, tolong terima dia," Ibu Zhang memohon dengan membungkuk.
"Tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin sama sekali. Yang Fan, kenapa kamu bisa di sini? Bukankah ini rumah keluarga kaya Yang Kaishan?" Dalam sekejap, wajah Cheng Feifei berubah-ubah warnanya, dari pucat ke merah, lalu biru, lalu kembali pucat, bibirnya pun bergetar.
"Benar, ini rumah anak Direktur Yang. Ada apa denganmu?" tanya Ibu Zhang terheran-heran, seolah menegur Cheng Feifei karena dianggap kurang sopan pada Tuan Muda.
"Kamu... kamu benar-benar sampai pada keadaan seperti ini?" Hati Yang Fan pun terasa aneh, bahkan jadi gugup tak tentu arah.
"Aku lebih baik mati daripada jadi budakmu," ujar Cheng Feifei setelah sedikit menenangkan diri. Ia menatap Yang Fan dengan kosong, lalu berbalik dan lari keluar.
"Sangat tidak sopan! Biar saya kejar dia," kata Ibu Zhang.
"Tidak!" Yang Fan segera mencegah, "Sudahlah, Ibu Zhang. Biarkan saja, beri dia sedikit harga diri. Saya mau keluar sebentar."
Perasaan Yang Fan sangat kacau, tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa bersalah. Meski dulu Cheng Feifei memang pernah berbuat buruk, tapi melihatnya jatuh serendah itu rasanya terlalu kejam. Namun semuanya telah terjadi, menyesal pun sudah tak ada gunanya.
Setelah membeli beberapa makanan dan perlengkapan, Yang Fan langsung menuju rumah sakit. Wang Mengyao masih berjaga di sana, ia tak pernah meninggalkan tugasnya.
"Ayah, apakah sudah merasa lebih baik?"
"Tuan Muda, kenapa setiap malam Anda terus datang? Kalau begini terus, kesehatan Anda bisa terganggu. Anda orang terpandang, harus jaga diri," kata Wang Mengyao dengan perhatian.
"Benar, Xiao Fan, kamu masih pelajar. Semua harus utamakan sekolah. Tak perlu tiap malam datang, ayah sudah hampir sembuh."
"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir." Yang Fan terdiam sejenak, lalu tersenyum, "Ayah, aku mau tanya sesuatu. Apakah ayah menyewakan rumah lama kita?"
Ayah Yang tertawa, "Xiao Fan, begini, selama ayah di rumah sakit, rumah itu jadi kosong. Disewakan lumayan dapat uang tambahan, jadi ayah minta tolong Wang Mengyao membantu."
"Kita sekarang tak kekurangan uang," pikir Yang Fan. Ternyata benar, Cheng Feifei memang menyewa rumah mereka. Benar-benar nasib mempermainkan.
"Tak masalah, kalau ayah ingin menyewakan, silakan saja. Nanti setelah ayah keluar dari rumah sakit, ayo pindah ke vila besar dan tinggal bersama denganku. Kita tak akan berpisah lagi, aku akan membuat ayah hidup sebaik mungkin."