Bab Dua Puluh Dua: Topik Pembicaraan Bersama
Setelah menyelesaikan semua urusan itu, Zhang Ce tetap merasa khawatir terhadap Qiao Yun.
Ia sempat berniat menanyakan kabarnya lewat pesan singkat, namun baru saja masuk ke aplikasi, beberapa pesan langsung muncul. Pesan paling awal datang dari Shen Xueqi.
"Zhang Ce, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau kau mengenal Siya dan teman-temannya. Kalau saja aku tahu lebih awal, aku tidak akan mengajak Siya."
"Tidak apa-apa, bukan salahmu. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengannya, tidak perlu dibahas lagi," balas Zhang Ce santai. Tak disangka, sedetik kemudian Shen Xueqi langsung membalas, "Kalau begitu, bagaimana kalau lain kali kita buat janji untuk makan bersama dan berkenalan kembali?"
Karena sungkan menolak tawaran yang begitu ramah, Zhang Ce akhirnya membalas, "Baiklah."
Selanjutnya ada pesan dari Li Ying. "Zhang Ce, kita kan teman lama. Kau tahu sendiri bagaimana temperamen Siya, jangan terlalu dimasukkan ke hati." Zhang Ce hanya membalas singkat bahwa ia mengerti, lalu percakapan pun berakhir.
Terakhir adalah pesan dari Qiao Yun. Gadis itu tampak sedang dalam suasana hati yang sangat baik; ia mengirim banyak pesan berisi pengalamannya saat jalan-jalan dengan teman sekamarnya.
"Zhang Ce, jalan di luar kampus panjang sekali! Jauh lebih panjang dan lebih besar daripada jalanan di dekat SMA kita dulu. Banyak sekali makanan dan permainan seru di sana..."
"Zhang Ce, Kak Xu Qing membelikanku teh susu. Menurutmu, apakah aku perlu membelikannya sesuatu juga?"
"Zhang Ce, aku sudah melakukan seperti yang kau katakan... aku membayar tagihan setelah makan. Xue Ling bilang lain kali kami bertiga akan mengajak Zhou Meimei dan menghabiskan uangnya... Aku jadi merasa tidak enak."
Membaca setiap kata dari Qiao Yun, Zhang Ce merasa lega karena hubungan gadis itu dengan teman-temannya tampak cukup baik. Setiap kali Zhang Ce menanyakan adik Qiao Yun, yaitu Qiao Yu, gadis itu selalu mengalihkan pembicaraan. Setelah beberapa kali mencoba, Zhang Ce pun berhenti bertanya.
Karena kedua orang tuanya telah tiada, sifat Qiao Yun menjadi semakin tertutup; ia tidak mau dan tidak berani bergaul dengan orang asing. Namun, jika selama empat tahun kuliah ia tidak memiliki teman, masa kuliahnya akan terasa sia-sia. Untungnya, teman-teman sekamar Qiao Yun terlihat cukup baik saat ini, yang membuat Zhang Ce merasa jauh lebih tenang.
Tiba-tiba terpikir di benaknya, sepertinya ia semakin memosisikan diri sebagai wali Qiao Yun. "Rasanya seperti membesarkan seorang anak perempuan," pikirnya. Pikiran itu muncul dan sulit dihilangkan, membuat Zhang Ce merasa sedikit geli. Ia segera mengetik di papan ketik, "Bergaullah dengan baik bersama teman sekamarmu. Kalau uangmu kurang, beri tahu aku."
Qiao Yun membalas dengan cepat, "Aku mengerti. Zhang Ce, kapan kau akan mengajakku mencari uang?"
Apakah gadis ini sudah terobsesi dengan uang? Sejak liburan musim panas hingga sekarang, ia tidak pernah lupa soal mencari uang.
"Pekerjaan yang baik harus didukung peralatan yang mumpuni... Tenang saja, semuanya sudah dimulai. Beberapa hari lagi aku akan mengajakmu merekrut karyawan dan membuatmu menjadi bos... atau istri bos."
Setelah dipikir-pikir, karena Qiao Yun seorang perempuan, sebutan istri bos mungkin lebih tepat. Saat ini, Qiao Yun sedang duduk di tempat tidur, menatap layar