Bab Dua Puluh Tujuh: Kamu Makan Dulu
Halaman (1/3)
Di asrama putri.
Xu Qing menyadari ketika Qiao Yun mulai mengobrol dengan Zhang Ce.
Bahkan tanpa sengaja memperhatikan, hanya dengan melihat senyum malu-malu yang tiba-tiba muncul di wajahnya, Xu Qing sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Ia pun mendekat. Setelah melihat isi percakapan mereka, ia tak kuasa bertanya, “Qiao Yun, kondisi keluargamu kurang baik?”
Qiao Yun mengangguk secara refleks, tetapi kemudian menggeleng.
“Lalu, apa maksudmu dengan menghasilkan uang bersama Zhang Ce?”
Mendengar itu, wajah Qiao Yun yang semula sudah merona karena malu kini menjadi semakin merah. Ia menundukkan kepala, lalu berkata dengan kikuk, “Saat menghasilkan uang, Zhang Ce akan mengajakku…”
Xu Qing tampak berpikir. Sesaat kemudian, ia mendongak dengan cepat. “Aku mengerti.”
“Tapi cara seperti ini tidak bisa. Biar Kakak mengajarimu beberapa trik.”
Sambil berkata begitu, Xu Qing langsung merebut ponsel dari tangan Qiao Yun. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, lincah seperti sedang memainkan piano.
“Zhang Ce, aku… merindukanmu.”
Setelah mengirim pesan itu, Xu Qing tertawa cekikikan dengan aneh sambil menghindari Qiao Yun yang menerjang hendak merebut kembali ponselnya.
Setelah menunggu cukup lama tanpa mendapat balasan, Xu Qing kembali menggerutu, “Orang ini benar-benar tidak paham, atau pura-pura tidak mengerti?”
“Kalau begitu, jangan salahkan Kakak kalau menaikkan levelnya.”
Dengan dengusan dan tawa dingin, Xu Qing kembali mengetik.
“Kak, kaki kecilku sakit…”
Kali ini Zhang Ce membalas. Namun, balasannya yang sama sekali tidak romantis membuat Xu Qing kembali mengertakkan gigi karena kesal.
“Dengan sikap seperti ini, dia pantas disebut pria brengsek?”
Sambil mengomel, Xu Qing mengetik lagi, “Tidak… aku ingin Kakak membantu memijat kaki kecil adik…”
Setelah selesai mengetik, Xu Qing terkekeh dingin.
Namun, karena lengah sesaat, ponsel itu direbut kembali oleh Qiao Yun.
Gadis itu bukan hanya wajahnya yang memerah, bahkan lehernya pun ikut merah. Ia berkata, “Kak Xu Qing, bagaimana Kakak bisa berbuat seperti ini?”
Meski begitu, tangannya tak berhenti bergerak. Ia buru-buru mengetik, ingin menjelaskan bahwa kata-kata tadi bukanlah ucapannya.
Namun, setelah melihat pesan balasan dari Zhang Ce, ia ragu cukup lama. Pesan yang sudah diketiknya itu pada akhirnya tidak jadi dikirim, melainkan dihapus.
Selama menghabiskan waktu begitu lama bersama Zhang Ce di liburan musim panas, dirinya… sepertinya belum pernah melakukan kontak intim apa pun dengannya.
Kalau besok Zhang Ce benar-benar memijat kakinya…
Hanya dengan membayangkannya, napas Qiao Yun langsung memburu dan jantungnya berdebar semakin cepat.
Keesokan paginya, Qiao Yun hampir menguasai kamar mandi sepenuhnya, hingga Xue Ling dan Zhou Meimei berkali-kali melirik ke arahnya.
“Dia diare hari ini?”
Xu Qing memang cukup berpengalaman dalam membaca situasi. Tanpa perlu melihat pun ia sudah tahu, lalu terkekeh, “Diare apanya? Dia sedang mencuci kaki di dalam…”
“Pagi-pagi begini mencuci kaki untuk apa?” Keduanya saling berpandangan dengan bingung.
Hari itu mereka kembali menjalani latihan militer, tetapi Chu Ming masih belum terlihat.
Feng Hao dan yang lainnya tak urung bergumam, “Sesulit itukah operasi untuk benda itu? Sudah dua hari dia tidak terlihat.”
“Siapa tahu? Kalau begitu, kau juga pergi melakukannya. Kebetulan yang kedua dapat harga setengah.”
“Benda milikku juga tidak kepanjangan…”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Sementara itu, Zhang Ce memandang ke arah kelas dua. Begitu melihat Qiao Yun, ia tak kuasa tersenyum tipis.
Sebelum instruktur datang, ia berlari kecil ke supermarket.
Saat instruktur tiba, Zhang Ce pun kembali.
Dengan langkah lebar dan sikap santai, ia melewati instruktur lalu berjalan lurus menuju Qiao Yun. Di depan mata sang instruktur, ia menyerahkan pembalut yang dibawanya kepada Qiao Yun.
Setelah itu, Zhang Ce masih sempat berkata, “Kalau tidak enak badan, izin saja.”
Ucapan itu seolah ditujukan kepada Qiao Yun, membuat gadis itu langsung menundukkan kepala karena malu.
Padahal sebenarnya, Zhang Ce mengatakannya agar didengar oleh sang instruktur.
Benar saja, begitu Zhang Ce kembali ke barisan kelas tiga, instruktur yang berdiri di sana berdeham lalu berkata, “Qiao Yun, kau boleh beristirahat dari latihan militer selama seminggu ke depan.”
Begitu ucapan itu selesai, para siswa dari kelas dua langsung mulai memprotes.
“Kenapa Qiao Yun boleh beristirahat, sementara kami tidak? Apa karena dia cantik?”
“Benar! Perlakuan berbeda seperti ini tidak bisa dibenarkan.”
“Kalau Qiao Yun beristirahat, satu-satunya hiburan kami selama latihan militer juga hilang. Di cuaca sepanas ini, untuk apa kami masih bertahan hidup?”
Zhang Ce menahan tawa sambil melihat Qiao Yun berjalan berjinjit menuju tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat.
Tentu saja, Feng Hao dan yang lainnya juga melihat ketika Zhang Ce mengantarkan pembalut kepada Qiao Yun.
Saat Zhang Ce kembali, mereka berdua tak urung meliriknya.
“Sial, apa-apaan ini? Sejak kapan si bungsu berhasil mendekati bidadari dari kelas dua?”
“Siapa yang tahu?” Feng Hao merentangkan kedua tangannya, seolah sudah terbiasa dengan semua itu.
Sejak masuk sekolah hingga sekarang, mereka merasa sudah sangat memahami Zhang Ce.
Namun setiap hari selalu ada kejutan baru.
Sehari sebelumnya, dua gadis cantik bak primadona kampus menangis meraung-raung gara-gara dia, sampai-sampai suasananya lebih mengerikan daripada neraka.
Keesokan harinya, sebuah unggahan membongkar bahwa pria ini ternyata penjilat sejati, dan bahkan setelah menjilat habis-habisan pun tetap tidak mendapatkan apa-apa.
Hari ini, dia malah sudah dekat dengan bidadari dari kelas sebelah, saling melempar pandang penuh arti.
Awalnya mereka merasa iri, lalu menertawakan.
Namun hari ini, mereka sudah tidak bisa tertawa lagi. Yang tersisa hanya rasa iri.
Sebenarnya masih ada berapa banyak keberuntungan asmara yang dimiliki si bungsu ini?
Latihan militer berlangsung selama enam jam. Semua orang sudah kelelahan sampai menjulurkan lidah, tetapi Zhang Ce masih memiliki tenaga tersisa.
Begitu latihan berakhir, ia langsung berlari ke supermarket untuk membeli buah bagi Qiao Yun.
Baru saja keluar dari supermarket, ia tiba-tiba melihat Chu Ming berjalan dengan kedua kaki terbuka lebar seperti bebek.
Zhang Ce tercengang dan tanpa sadar bertanya, “Kau benar-benar menjalani operasi itu?”
Chu Ming sedang membawa setengah buah semangka. Ia mengorek sepotong besar dengan sendok lalu memasukkannya ke mulut.
“Tentu saja. Setelah dipotong, rasanya benar-benar segar dan lega. Seluruh tubuhku terasa jauh lebih bersemangat.”
“Hebat! Kau benar-benar tega pada dirimu sendiri.”
Zhang Ce mengacungkan ibu jari kepadanya, lalu kembali bergegas menuju pepohonan kecil di kejauhan.
Qiao Yun masih menunggunya di sana.
Chu Ming juga mengikutinya dari belakang. Begitu melihat Zhang Ce langsung menuju Qiao Yun, ia segera memahami maksudnya.
“Si bungsu, lupakan saja gadis seperti itu. Lihat setengah semangka di tanganku ini? Aku membelikannya untuk sang bidadari, tetapi dia sama sekali tidak mau menerimanya.”
Chu Ming cukup berpikiran terbuka. Untuk bidadari tingkat dewi seperti itu, mengaguminya dari jauh sudah cukup. Sama sekali tidak boleh berbuat kurang ajar kepadanya.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Sebenarnya Chu Ming sudah kembali sejak pertengahan latihan militer. Ia sengaja menunggu di antara pepohonan hanya untuk memamerkan kepada Zhang Ce dan yang lainnya bahwa dirinya tidak perlu mengikuti latihan.
Namun, Chu Ming sama sekali tidak menyangka bahwa sang bidadari dari kelas dua ternyata juga duduk dengan tenang di sana.
Di lapangan yang luas itu, semua orang sedang menjalani latihan militer. Hanya mereka berdua yang tidak memiliki kegiatan. Chu Ming awalnya ingin berkenalan.
Namun kenyataan segera menampar wajahnya berkali-kali.
Tak peduli bagaimana ia mengajaknya bicara, gadis itu tetap tidak menjawab sepatah kata pun. Tatapannya terus tertuju pada barisan kelas tiga.
Ketika cuaca semakin panas, Chu Ming beralasan hendak membelikannya semangka, berharap hal itu membuat sang gadis memandangnya dengan lebih baik.
Namun gadis itu tetap tidak tertarik, bahkan tidak mau menerima semangkanya.
Sampai pada tahap ini, Chu Ming benar-benar menyerah. Ia sadar bahwa menghadapi bidadari seperti itu, sebanyak apa pun ia menjilat, semuanya tidak akan berguna.
Maka ia pergi ke supermarket dan membeli sendok.
Kalau sang bidadari tidak mau makan semangka, biar dia sendiri yang menghabiskannya.
Kini, ketika melihat Zhang Ce mengulangi kesalahannya, Chu Ming tidak sabar menantikan tontonan menarik.
Kebetulan Feng Hao dan Du Ziqiang juga baru membeli air mineral. Begitu keluar dari supermarket, Chu Ming langsung menarik mereka berdua.
“Lihat si bungsu. Setelah gagal mendekati Chen Siya, dia malah mencoba mendekati bidadari dari kelas dua.”
Feng Hao dan Du Ziqiang saling berpandangan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
“Aku berani bertaruh, dia pasti akan dipermalukan.”
Chu Ming terkekeh, tampak seperti orang yang sedang menunggu pertunjukan bagus.
Namun, ekspresi di wajah kedua orang lainnya justru berubah aneh.
Sesaat kemudian, Du Ziqiang berkata, “Kakak keempat, bagaimana kalau kita bertaruh?”
“Bertaruh apa?”
“Kalau si bungsu berhasil membuat sang bidadari berbicara dan menerima semangka yang dibelinya, kau harus mentraktir kami makan. Tempatnya di Restoran Hui Ke Ju, seperti waktu itu.”
“Kalau dia tidak berbicara dan tidak menerimanya?”
Chu Ming tampak seolah sudah yakin akan menang.
“Kalau begitu, kami yang mentraktirmu. Masing-masing dari kami akan mentraktirmu satu kali. Tempatnya terserah pilihanmu.”
“Sepakat!”
Chu Ming menampilkan senyum kemenangan, lalu mengalihkan pandangan kepada Zhang Ce.
Detik berikutnya, ia melihat Zhang Ce berdiri di depan Qiao Yun dan menyodorkan semangka yang dibawanya. Setelah itu, Zhang Ce mengeluarkan sebuah sendok lalu menancapkannya pada semangka tersebut.
“Cepat makan. Ini baru saja dikeluarkan dari kulkas, masih agak dingin.”
Qiao Yun segera menerima semangka itu. Ia menyendok sepotong dan hendak memakannya, tetapi begitu bertatapan dengan Zhang Ce, wajahnya langsung memerah.
Ia menyodorkan sendok itu kepada Zhang Ce, tetapi memalingkan wajah ke samping. Dengan suara lirih dan malu-malu, ia berkata, “Kau… kau juga haus, kan? Kau… kau makan dulu. Bagian tengah ini… yang paling manis.”
Chu Ming menatap dengan tercengang, merasa seolah-olah jantungnya berhenti berdetak.
Potongan besar semangka yang baru saja disendoknya langsung jatuh ke tanah, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya.
Feng Hao menepuk bahunya dan menghela napas. “Kakak keempat, jangan lupa mentraktir kami.”
“Sialan, semangka di tanganku tiba-tiba terasa tidak manis lagi!”
Sangat berbeda dengan Chu Ming, Xu Qing duduk tidak jauh dari sana sambil menyaksikan Zhang Ce dan Qiao Yun.
“Manis sekali. Sampai-sampai diabetesku hampir kambuh!”