Bab Tiga Puluh Lima: Pertunjukan Dimulai
Halaman (1/3)
Bagaimanapun, pesta perkenalan itu baru dibentuk beberapa hari sebelumnya. Acara tersebut juga diadakan tepat setelah pelatihan militer, sehingga hampir tidak ada waktu luang untuk berlatih.
Sebagian besar peserta naik ke panggung hanya untuk memeriahkan suasana. Mereka sama sekali tidak takut dipermalukan atau terlihat konyol.
Ada yang bernyanyi, menari, membawakan sketsa komedi, dan melakukan lawak berbalas.
Yang paling mengejutkan Jaka adalah melihat Suci juga mendaftarkan sebuah pertunjukan—solo kecapi Tiongkok.
Suci memang cantik. Ia memiliki keanggunan seperti putri bangsawan zaman dahulu. Ditambah lagi dengan busana tradisional yang dikenakannya, bahkan jika tidak melakukan apa pun dan hanya berdiri di atas panggung, ia sudah cukup membuat para penonton di bawah berteriak-teriak kagum.
Saat suara kecapi Tiongkok mulai terdengar, seluruh ruangan langsung bergemuruh.
Gadis cantik ada banyak. Gadis berbakat juga tidak sedikit. Namun, gadis yang cantik sekaligus berbakat dalam berbagai bidang benar-benar langka.
Jaka bahkan dapat mendengar percakapan teman-teman di sekitarnya.
“Gadis cantik itu dari jurusan mana? Setelah pertunjukan selesai, aku harus meminta kontaknya.”
“Gila, sudah lama masuk kampus, aku bahkan tidak tahu ada gadis secantik itu di antara mahasiswa baru. Rupanya aku terlalu ketinggalan informasi.”
“Gadis secantik itu hanya bisa dipandangi, bukan disentuh sembarangan... Yang punya hak mengejarnya mungkin cuma pria kaya, tampan, dan berkuasa.”
Bahkan Bima pun tampak iri. Ia menyenggol siku Jaka.
“Kau benar-benar tidak tahu diri, sudah berada di tengah kebahagiaan tetapi tidak menyadarinya. Kalau aku jadi kau, aku pasti langsung melancarkan serangan untuk merebut hati gadis cantik dan mengejar Suci habis-habisan.”
Jaka mencibir, sama sekali tidak terpengaruh.
“Memangnya Suci secantik itu?”
Tak dapat disangkal, Suci memang wanita cantik yang jarang ditemukan.
Namun, bagi Jaka yang telah terlahir kembali—terlebih lagi dalam kehidupan sebelumnya ia adalah bujangan kaya raya—baik di dunia maya maupun dunia nyata, ia sudah melihat terlalu banyak wanita cantik.
Ada yang kecantikannya alami, ada yang menjalani operasi plastik, ada pula yang mengandalkan teknik tata rias Asia yang sulit ditebak. Segala macam kecantikan telah ia lihat.
Karena terlalu sering melihatnya, ia pun tidak lagi menganggap hal itu istimewa.
Farhan yang berada di sampingnya bahkan langsung mengungkapkan inti persoalannya.
“Dengan adanya bidadari seperti Kirana, mana mungkin si bungsu tertarik pada gadis lain?”
Bima tanpa sadar mengangguk, lalu seketika merasa kesal.
Sial, si bungsu lagi-lagi berhasil pamer tanpa terlihat sedang pamer.
Saat acara berlangsung separuh, pembimbing mereka datang dan menepuk bahu Jaka.
“Jaka, sebentar lagi giliranmu. Cepat bersiap.”
Mendengar itu, Jaka berdiri dan pergi ke belakang panggung melalui jalan memutar.
“Sejak kapan si bungsu mendaftarkan pertunjukan?”
“Siapa tahu? Beberapa hari ini dia memang bersikap misterius.”
“Kenapa kalian begitu peduli pada si bungsu? Yang penting, lihat gadis-gadis cantik.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Seperti yang sebelumnya ia katakan kepada Kirana, pertunjukan yang didaftarkan Jaka adalah permainan piano membawakan Danau Angsa, sedangkan Kirana akan menampilkan tarian Angsa.
Di belakang panggung, Jaka melihat Kirana.
Jelas sekali gadis itu merasa gugup. Jemari tangannya yang ramping terus bergerak-gerak di depan dada, membuatnya tampak menggemaskan sekaligus menyedihkan.
“Jangan takut. Ada aku di sini.”
Jaka menepuk bahunya dan menghiburnya dengan suara lembut.
Setelah dua mahasiswa membawa piano elektronik ke atas panggung, pembawa acara memperkenalkan penampilan mereka. Jaka kemudian menggandeng Kirana perlahan naik ke panggung.
Sejak awal hingga akhir, gadis itu terus menundukkan kepala.
Begitu berada di atas panggung, tangan Kirana bahkan gemetar karena terlalu gugup.
Terkadang Jaka benar-benar tidak mengerti. Gadis ini jelas sangat takut bergaul, tetapi mengapa masih mau mengikuti pesta perkenalan yang penuh jebakan memalukan seperti ini?
Satu kesalahan saja mungkin cukup untuk membuatnya ditertawakan oleh orang-orang di sekitarnya selama empat tahun penuh masa kuliah.
Namun, karena ia sudah terlanjur ikut, Jaka hanya bisa menemaninya menyelesaikan pertunjukan.
“Jangan takut. Menarilah dengan percaya diri. Tidak perlu takut kehilangan muka. Kalau nanti ada yang mempermalukan diri... maksudku, aku akan turun tangan.”
Mendengar penghiburan Jaka yang disampaikan dengan nada menggoda, Kirana hanya mampu memperlihatkan seulas senyum.
Ketika memulai gerakan pembuka yang terkenal dari tarian Angsa, rasa percaya diri Kirana kembali sepenuhnya.
Ia tampak seperti seekor angsa yang anggun, berdiri dengan bangga di tengah panggung.
Di sisinya, Jaka yang mengenakan jas berekor duduk dengan anggun di depan piano elektronik. Kedua tangannya terangkat ke udara, lalu perlahan turun dan menekan tuts-tuts piano.
Alunan piano terasa anggun.
Sang angsa tampak bagaikan bangsawan.
Perpaduan keduanya membuat para penonton di bawah panggung terhanyut.
Banyak orang menatap dengan terpaku. Mereka bahkan lupa bertepuk tangan, apalagi berteriak-teriak sembarangan, seolah-olah takut suara mereka akan mengusir angsa anggun nan mulia itu.
Sari yang duduk jauh dari panggung sempat sedikit terkejut ketika melihat Jaka naik ke atas panggung.
Namun, saat melihat Kirana, tubuhnya kembali bergetar tanpa sadar.
Ketika masih duduk di bangku SMA, ia telah berada di kelas yang sama dengan Kirana selama tiga tahun.
Berkali-kali, para siswa dan guru di sekolah suka membandingkan dirinya dengan Kirana. Namun, hanya Sari sendiri yang tahu bahwa dirinya sama sekali tidak pantas disandingkan dengan Kirana.
Dalam keadaan apa pun, Kirana selalu memancarkan aura seorang bidadari yang tetap suci meski terlahir dari lumpur.
Sementara itu, dirinya hanyalah orang biasa dari dunia fana.
Terlebih lagi ketika Kirana menari. Pada saat itu, seluruh pesona sang bidadari seakan menyatu—tetap murni meski tumbuh dari lumpur, bersih tanpa menjadi genit, penuh percaya diri, anggun, dan berkelas.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Dalam segala hal, Kirana benar-benar tampil tanpa cela.
Meski sangat enggan mengakuinya, Sari tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa Kirana memang jauh lebih unggul darinya.
Sebenarnya, Sari sudah mengenal Kirana sejak bertahun-tahun lalu, bahkan jauh sebelum mereka duduk di bangku SMA.
Bertahun-tahun silam, ketika masih bersekolah di tingkat SMP, orang tua Sari mendaftarkannya ke sebuah sanggar tari.
Setiap hari Sabtu, ia harus pergi ke sanggar itu untuk berlatih menari seharian penuh.
Pada masa itu, salah satu murid lain yang mendaftar ke sanggar yang sama dan berlatih bersamanya adalah Kirana.
Setiap kali latihan selesai, Kirana selalu menjadi murid yang paling sering dipuji oleh gurunya.
Saat itu, Sari merasa sangat tidak terima. Bahkan ketika bertemu lagi dengan Kirana di SMA, benih kekesalan itu masih tertanam di dalam hatinya.
Sampai suatu ketika, diadakan sebuah lomba tari tingkat provinsi. Sari bahkan tidak berhasil masuk sepuluh besar.
Sementara itu, Kirana justru meraih juara pertama tingkat provinsi.
Sejak saat itu, Sari tahu bahwa dirinya memang bukan tandingan Kirana.
Teman sekelas yang duduk di sampingnya tiba-tiba menyenggol bahunya dan berbisik,
“Sari, cepat lihat... Gadis di atas panggung itu cantik sekali. Laki-lakinya juga tampan. Mereka benar-benar pasangan yang serasi.”
“Hehe...”
Jaka memang selalu tampan. Ia atletis dan bertubuh tinggi.
“Dia juga berbakat, bisa bermain piano. Tubuhnya setinggi itu, pasti jago bermain basket juga, ya?”
“Aku hanya tidak tahu apakah dia sudah punya pacar. Kalau belum, entah aku punya kesempatan atau tidak.”
Yang tak bisa didapatkan selalu membuat hati gelisah, sedangkan mereka yang telah mendapatkan kasih sayang sering kali merasa tak terkalahkan.
Saat itu, Sari benar-benar memahami makna kalimat tersebut.
Dulu, ketika Jaka mengejarnya, ia selalu bersikap acuh tak acuh, bahkan terkadang merasa terganggu.
Baru setelah benar-benar kehilangan, seseorang akan menyesal karena dulu tidak menghargai apa yang dimilikinya.
Kini, Sari hanya bisa menyembunyikan kecanggungan di dalam hatinya dengan seulas senyum.
“Hehe... Sepertinya dia... sudah punya pacar, ya.”
“Sayang sekali... Padahal aku ingin mengalami kisah cinta yang menggebu-gebu selama empat tahun kuliah.”