Bab 18 Menunggu
Halaman 1 dari 3
Tepat pada saat itu, suara tamparan yang nyaring menggema di seluruh aula. Wajah Shen Sangsang terhempas ke samping tanpa dapat dikendalikan, dan seketika seluruh aula menjadi sunyi senyap.
Shen Yuehuai yang berdiri di lantai atas pun menunjukkan wajah yang agak dingin.
Tak seorang pun berbicara. Seluruh aula bungkam.
Semua orang menatap kejadian itu.
Saat itulah suara Shen Yuehuai terdengar dari lantai atas. Namun, ia berbicara kepada Xu Jie yang berdiri di sisinya, “Antar Nyonya Besar pulang.”
Xu Jie tahu betul maksud perintah itu—ia diminta mengantar Nyonya Besar pergi.
Ia segera menjawab, “Baik, Tuan Shen.”
Xu Jie buru-buru turun dan menghampiri Nyonya Shen. Dengan suara rendah, ia berkata, “Nyonya Besar, izinkan saya mengantar Anda pulang.”
Nyonya Shen mula-mula melirik Xu Jie, lalu kembali menatap ke lantai atas. Ia beradu pandang dengan putranya dari kejauhan dan melihat wajah sang putra yang tanpa ekspresi.
Dengan wajah dingin, ia melontarkan kalimat, “Kau tak perlu menyuruh Xu Jie mengantarku. Aku bisa pergi sendiri.”
Setelah mengucapkan itu, Nyonya Shen menarik napas dalam-dalam, lalu meninggalkan aula.
Namun, setelah berjalan beberapa langkah, seolah teringat sesuatu, ia kembali berhenti. Berbalik, ia berkata kepada putranya yang berada di lantai atas, “Lusa adalah hari kelahiran almarhum Zhou. Temani Ibu pergi ke Gunung Qibao.”
Tangan Shen Sangsang yang terkulai tiba-tiba bergetar seperti tersengat listrik.
Akan tetapi, semua orang yang berada di sana tetap tenang setelah mendengar ucapan Nyonya Shen, termasuk Shen Yuehuai yang berdiri di lantai atas.
Menanggapi perintah ibunya, ia menjawab dengan suara datar, “Hm. Lusa aku akan datang tepat waktu.”
Halaman 1 dari 3
Nyonya Shen tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan meninggalkan aula vila itu.
Ekspresi semua orang pun seketika kembali rileks.
Hanya Shen Sangsang yang berdiri di tengah aula, tetap terpaku tanpa bergerak sedikit pun.
Tatapan Shen Yuehuai tertuju kepadanya selama beberapa saat. Kemudian ia turun dari lantai atas dan berjalan menghampirinya. “Bukankah sudah kukatakan agar kau tidak turun?”
Shen Sangsang tetap berdiri di sana, sama sekali tidak bereaksi terhadap perkataannya.
Tatapan Shen Yuehuai semakin dalam. “Apa yang sedang kau pikirkan?”
Ia tersadar. Dalam keadaan linglung akibat tamparan tadi, ia segera menundukkan kepala. “Wajahku... agak sakit.”
Shen Yuehuai tidak banyak memikirkan alasannya terdiam sesaat. Ia hanya berkata, “Kembali ke kamar dulu.”
Ia berbalik lebih dahulu dan berjalan menuju tangga.
Shen Sangsang masih berdiri tanpa bergerak sampai Xu Jie mengingatkannya, “Nona Sangsang.”
Barulah Shen Sangsang menggerakkan kedua kakinya.
...
Ketika Shen Sangsang tiba di kamar lantai atas, Shen Yuehuai sedang memegang sekotak obat. “Kemari.”
Shen Sangsang berjalan menghampirinya dengan langkah lambat.
Shen Yuehuai masih mengenakan piyama, begitu pula Shen Sangsang.
Halaman 2 dari 3
Piyama Shen Sangsang berupa gaun tidur yang menggemaskan, sedangkan Shen Yuehuai mengenakan piyama sutra berwarna biru tua.
Piyama sutra biru tua itu semakin menonjolkan sosoknya yang tegap, dengan pinggang ramping dan kaki jenjang.
Jari-jari Shen Yuehuai yang panjang langsung menyentuh pipinya. Dengan suara rendah, ia bertanya, “Mengapa reaksimu begitu besar saat mendengar nama Zhou?”
Nada bicaranya terdengar santai.
Namun, pada saat itu Shen Sangsang mengangkat wajah dan menatapnya lurus-lurus. “Aku hanya sudah lama tidak mendengar nama itu.”
Setelah wajahnya terangkat sepenuhnya, yang terlihat oleh Shen Yuehuai hanyalah bibirnya.
Bibir di wajahnya merah merona seperti pewarna pemerah, dengan bagian tengah yang sedikit membengkak.
Tatapan Shen Yuehuai beralih dari wajahnya. Ia sengaja tidak memandang kedua bibir merah menyala itu. Saat mengoleskan obat ke pipinya, ujung jarinya hanya mengusap perlahan kulit pipi tersebut.
“Nyonya Besar sedang tidak sehat. Saat ini, ia tidak mungkin menerimamu. Kau juga tidak akan mendapatkan perlakuan baik bila datang menemuinya, bahkan bisa memicu kambuhnya penyakit lamanya. Jadi, jangan lagi mencari masalah sendiri. Hari ini hanya sebuah tamparan; tak ada yang tahu apa yang akan terjadi lain kali.”
Ia mengatakannya dengan suara rendah.
Ujung jarinya yang mengusap pipi Shen Sangsang kemudian meluncur hingga ke daun telinganya.
Tubuh Shen Sangsang bergetar.
Shen Yuehuai pun merasakan kelembutan kulit di antara jemarinya. Tangannya sedikit menegang, lalu dengan tatapan tetap acuh, ia mengucapkan kalimat yang sangat lembut, “Aku akan memperlakukanmu dengan baik.”
Halaman 3 dari 3