Bab 19: Cincin
Setelah mengucapkan kalimat itu, Shen Sangsang merasakan sesuatu yang dingin di ujung jarinya. Ia menunduk dan mendapati sebuah cincin telah melingkar di jari manisnya.
Tak lama kemudian, ia mengangkat wajah.
Shen Yuehuai tidak banyak bicara. Setelah menyematkan cincin itu di jari Sangsang, ia menarik tangannya dan berbalik menuju ruang pakaian.
Sangsang pun tertinggal berdiri di sana, menatap benda dingin di jarinya tanpa reaksi apa pun.
Shen Yuehuai masih memiliki urusan lain. Setelah berganti pakaian, ia langsung melangkah menuju pintu. Namun, teringat sesuatu, ia pun berhenti dan menoleh, "Jika merasa bosan, hari ini kau bisa pergi bermain dengan teman-temanmu. Aku belum pernah bertemu teman-teman yang kau kenal selama dua tahun terakhir ini. Nanti saat ada waktu, aku akan menemanimu mentraktir mereka. Tentukan saja harinya."
Sangsang menjawab, "Mereka semua sibuk, sepertinya tidak ada waktu."
Shen Yuehuai tentu tidak memaksanya. Alasan ia menawarkan diri untuk menjamu teman-temannya hanyalah untuk menepis berbagai gosip miring di luar sana.
Bagaimanapun, banyak sekali cercaan yang ditujukan kepadanya di luar sana.
Mendengar jawaban itu, Shen Yuehuai berkata dengan nada datar, "Hm, terserah kau saja. Tapi, cobalah untuk mempertimbangkannya lagi."
"Baik."
Shen Yuehuai melirik jam tangan di pergelangan tangannya, lalu melangkah pergi.
Shen Sangsang berdiri mematung, menatap punggungnya yang menjauh.
...
Setelah itu, ia terus berdiam diri di dalam kamar.
Ia menghabiskan waktu hampir dua jam di kamar sebelum akhirnya keluar. Saat sampai di ujung tangga lantai dua, langkahnya terhenti. Pandangannya tertuju ke arah pintu ruang kerja.
Namun, setelah ragu sejenak, ia akhirnya tidak mendekati ruangan itu dan langsung turun ke lantai bawah.
Pukul tiga sore, ia menelepon seorang teman, dan setelah pembicaraan selesai, ia pun pergi keluar.
Menjelang pukul tujuh malam, ia mulai minum-minum bersama seorang temannya di sebuah ruang karaoke bar hingga mabuk berat.
Setelah ia jatuh tak sadarkan diri, empat atau lima temannya yang lain berdatangan ke bar tersebut.
Salah seorang dari mereka bertanya, "Ada apa ini? Mengapa dia sampai minum seperti ini?"
Namun, tak seorang pun di sana yang berani menjawab.
Semua orang bingung harus berbuat apa, mereka hanya bisa memapah tubuhnya untuk berdiri.
Saat Shen Sangsang baru saja berhasil berdiri tegak, tiba-tiba pintu ruang karaoke didobrak dengan keras.
Seorang wanita menerobos masuk. Begitu melihat Shen Sangsang, wanita itu langsung melesat maju dan melayangkan tamparan keras ke wajah Sangsang.
Orang-orang di dalam ruangan berteriak dan bertanya, "Apa yang kau lakukan?!"
"Berani-beraninya kau main tangan?!"
Shen Sangsang yang semula dalam keadaan mabuk berat, seketika tersadar saat rasa perih yang luar biasa menghujam pipinya.
Ia membuka matanya yang masih sayu, menatap ke arah depan.
Ia hanya melihat bayangan samar seseorang yang sedang berteriak lantang ke arahnya, "Apa kau tidak merasa bersalah padanya?! Shen Sangsang!"
Shen Sangsang terengah-engah, ia ingin tertawa.
Bayangan itu tampak ingin menerjangnya kembali.
Teman-teman di sampingnya segera maju dan menahan wanita itu sekuat tenaga.
Wanita itu meronta penuh amarah, "Ya! Aku memang bukan siapa-siapa! Kau sekarang sudah terbang tinggi ke puncak! Aku tidak layak lagi berdiri di depanmu! Tapi asal kau tahu, Shen Sangsang, Tuhan selalu melihat! Cepat atau lambat, kau pasti akan menerima pembalasan!"
Setelah meluapkan kebenciannya, wanita itu menendang kotak minuman di dekatnya hingga tumpah, lalu melenggang pergi dari ruangan dengan penuh amarah.
Di dalam ruangan, suasana menjadi kacau balau dengan suara riuh orang-orang yang saling bersahutan.
"Siapa wanita itu! Berani sekali dia memukul orang! Lapor polisi!"
"Wen Qiang, telepon polisi sekarang, jangan biarkan dia begitu saja!"
Shen Sangsang meraih tangan orang di sampingnya dan mengucapkan dua kata, "Jangan lapor."
Semua orang pun menatap ke arahnya.