Bab 65: Perlakuan Berbeda
"Siapa? Siapa yang memukulku?"
"..."
"Mukul pun jangan di wajah, dong."
Yu Ye memegang pipi kanannya yang baru saja didorong hingga penyok oleh Meng Qi, mengeluh pelan.
Bodoh sekali!
Meng Qi tiba-tiba merasa geli sendiri dengan pikirannya barusan yang aneh tak masuk akal.
Iya kan, apalagi penyebabnya? Tak mungkin ia mulai jatuh hati pada si bodoh satu itu.
Pasti ini semua pengaruh alkohol!
"Itu cuma halusinasi, tak ada yang memukulmu," ujar Meng Qi sambil duduk di tepi ranjang, lalu mengangkat kepala Yu Ye agar kembali tegak.
"Ayo, cepat tidur, ya. Anak baik!"
Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Yu Ye, kemudian keluar dan menutup pintu.
Akhirnya ketiga orang itu sudah beres diurus, dan Meng Qi akhirnya bisa rebahan.
Di sebelahnya, napas Zhong Yu teratur, entah sedang bermimpi indah atau tidak, sesekali terdengar ia terkekeh pelan.
Namun Meng Qi justru tak bisa memejamkan mata. Ia sendiri tak tahu mengapa.
Padahal tidak memikirkan apa pun, namun seperti ada sesuatu yang mengganggu hatinya hingga ia tak bisa tenang.
...
Cahaya matahari pertama di tahun yang baru masuk ke dalam kamar, Meng Qi mengucek matanya, lalu membalik badan berniat melanjutkan tidur.
Namun suara ‘gedebuk’ dari ruang tamu kembali membangunkannya.
Dengan langkah gontai, ia keluar kamar dan mendapati Zhou Zhan terjerembab dengan muka menempel di lantai.
Meng Qi menghirup napas panjang.
Untung saja wajahnya tak terlalu berharga.
"Aduh, sakit!" Zhou Zhan mengangkat kepalanya, dan melihat Yu Ye keluar dari kamar dengan leher miring ke satu sisi.
"Pagi-pagi sudah datang mengucapkan Selamat Tahun Baru padaku, nanti aku kirim angpau, ya."
Lalu ia menatap Meng Qi, "Bantal di rumahmu ini juga aneh ya, kenapa bangun tidur leherku malah kayak keseleo begini."
"Mungkin saja," jawab Meng Qi sambil menggigit bibir, teringat kejadian semalam dengan Yu Ye, ia jadi sedikit merasa bersalah.
"Sebaiknya lehermu diputar-putar sedikit, kalau benar-benar keseleo, kita langsung ke rumah sakit, ya."
Orang satu ini bukan hanya wajahnya, seluruh tubuhnya juga ‘mahal’.
"Nggak apa-apa," Yu Ye memutar leher perlahan, "Sepertinya cuma posisinya saja waktu tidur yang salah, jadi pegal."
Meng Qi akhirnya lega, "Syukurlah kalau begitu."
Zhou Zhan mengangkat tangan dengan gemetar,
"Tak ada satupun yang peduli padaku, ya?"
"Kamu kenapa? Kok bisa tidur di lantai?" tanya Zhong Yu sambil menguap keluar kamar.
"Jelas-jelas aku jatuh dari sofa," keluh Zhou Zhan.
"Udah segede ini, tidur aja masih nggak bisa diam."
Untung punya istri sendiri, akhirnya ada juga yang membantu menariknya berdiri.
"Aku yang nggak bisa diam?" keluh Zhou Zhan, kali ini ia tak tahan dan menuntut penjelasan pada Meng Qi, "Kenapa yang lain dapat tidur di ranjang, cuma aku yang di sofa?"
Zhong Yu tidur bersama Meng Qi, Yu Ye walau lehernya keseleo tetap dapat kamar tamu, kenapa cuma Zhou Zhan yang di sofa?
"Meng Qi, kamu pilih kasih!"
Meng Qi mengangkat bahu, "Kamu terlalu berat, aku nggak kuat mengangkatmu."
"Ha!"
Zhou Zhan sampai tertawa kesal, menunjuk Yu Ye sambil melompat-lompat, "Padahal aku sama saja tingginya dengan dia, malah aku lebih pendek!"
"Memang lebih pendek," Yu Ye mengiyakan dengan kepala.
Meng Qi tak bisa menahan tawa.
"Sudah-sudah, kenapa juga kamu iri sama Yu Ye," Zhong Yu menata rambut Zhou Zhan yang awut-awutan, "Aku sayang kamu, aku sayang kamu, ya sudah?"
Setelah itu ia bangkit menuju dapur,
"Aku mau masak bubur, kalian bereskan dulu sampah di meja, ya."
"Siap, sayang."
Zhou Zhan mendekati Yu Ye dan mendengus, "Jomblo!"
"Bukan maksudku, tapi dengan kemampuan minum kalian, lain kali jangan sembarangan ikut minum-minum di luar, nanti kalau ketipu orang nggak sadar-sadar," kata Meng Qi sambil memunguti botol-botol kosong di lantai.
Coba semalam aku sodorkan kontrak dan suruh mereka cap jempol, setengah hidup mereka habis sia-sia.
Uang urusan kecil, yang penting jangan sampai kehilangan diri sendiri.
"Perlu kamu bilang? Selain di rumahmu, aku hanya minum sedikit dengan Zhong Yu, di luar paling cuma formalitas saja," kata Zhou Zhan sambil menumpuk piring kotor di depan Yu Ye, menanti ia mencuci.
"Yu Ye lebih parah lagi, sejak debut sudah punya prinsip, mau itu sutradara, produser, atau investor, makan boleh, minum setetes pun tidak."
Nada suaranya terdengar seperti orang tua yang membanggakan anaknya yang patuh.
Yu Ye sedang mencuci piring, "Kamu cerewet banget."
Busa sabun mengalir, memperlihatkan otot di lengannya; tiba-tiba satu pikiran muncul di benak Meng Qi:
Memang pria paling tampan kalau sedang bekerja.
Setelah sarapan bubur, Zhou Zhan dan Zhong Yu bersiap pulang, ingin mampir ke rumah dulu lalu pergi ke reuni teman lama.
"Mau sekalian aku antar pulang?" tanya Zhou Zhan pada Yu Ye yang sedang menonton TV di sofa.
Yu Ye mengecek ponsel, "Hari ini aku nggak ada urusan, nanti sekalian ikut Meng Qi jemput orangtuanya saja."
"Jemput orangtuaku?" tanya Meng Qi, sedikit bingung.
Yu Ye menjawab, "Sudah lama juga aku nggak ketemu Paman dan Bibi Jiang, sekalian aku juga mau pulang ke rumah, barengan saja, kan searah."
Keluarga Meng dan keluarga Yu memang tinggal di kompleks yang sama, memang sekalian saja.
"Benar juga, kalau gitu aku nggak usah urusin kamu lagi," Zhou Zhan merangkul bahu Zhong Yu, "Ayo, kita pulang ke rumah masing-masing."
Zhong Yu melambaikan tangan, "Qi Qi, kami duluan, ya. Lain waktu kita jenguk Paman dan Bibi."
"Oke," Meng Qi mengantar sampai pintu, "Salam buat teman-teman juga, ya."
Masih ada dua jam sebelum menjemput orangtuanya, Meng Qi berniat melanjutkan membaca materi yang belum sempat dilihat semalam.
Begitu berbalik, ia melihat Yu Ye sudah selonjoran di sofa rumahnya, sama sekali tidak terlihat seperti tamu.
"Aku mau lanjut belajar, kamu santai saja di sini," katanya.
Yu Ye menoleh, "Hari libur begini masih semangat belajar, kamu belajar apa sih?"
"Kamu nggak bakal paham," jawab Meng Qi singkat sebelum masuk ke kamar dan menutup pintu.
Yu Ye mendengus.
Huh, nggak paham, dari kecil aku lebih pintar dari kamu juga.
Waktu kecil, keluarga Yu Ye sibuk, pulang larut malam, jadi ia sering menumpang di rumah Meng Qi.
Meng Qi sejak kecil memang rajin, habis makan langsung mengerjakan PR tanpa bisa digoda bermain oleh siapa pun.
Yu Ye hampir selalu menyelesaikan PR di sekolah, jadi saat Meng Qi belajar, ia bermain sendiri, menunggu hingga selesai lalu mereka pergi bersama mencari Zhou Zhan dan yang lain.
Seperti sekarang.
Yu Ye menonton TV sebentar, lalu ganti saluran, tapi semua acara terasa membosankan.
Akhirnya, ia tak tahan juga, bangkit dan berjalan ke depan kamar Meng Qi, penasaran ingin tahu apa yang sedang dilakukan.
Ia menempelkan telinga di pintu selama dua menit, sunyi senyap di dalam.
Benar-benar bisa konsentrasi belajar.
Setelah mondar-mandir di depan pintu, akhirnya ia kembali duduk di sofa dengan patuh.
Ia meminta naskah pertunjukan berikutnya dari Da Xiong, lalu duduk membaca di sofa.