Bab 34: Bersama dalam Satu Kereta
Akhirnya semua orang berfoto bersama, menandakan episode pertama acara ini benar-benar selesai.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, para guru. Sampai jumpa di rekaman berikutnya."
"Terima kasih semuanya."
"Sampai bertemu lagi, dadah~"
Para tamu pun berpamitan satu per satu dengan kru dan tamu lain.
Meng Qi mengambil ponselnya dan naik ke atas untuk membereskan barang-barangnya. Begitu menyalakan ponsel, ia langsung menerima telepon dari Zhong Yu.
"Halo, sayang, aku ada di dekat penginapan tempat kalian tinggal. Aku jemput kamu untuk makan enak, ya?"
Terdengar jelas Zhong Yu sedang dalam suasana hati yang sangat baik.
Meng Qi menyalakan speaker ponsel agar tangannya bebas untuk berkemas.
"Bagus sekali, hari ini aku harus makan sepuasnya."
"Oke, tunggu aku ya, sepuluh menit lagi aku sampai."
"Kak, kak, aku kangen sekali sama kamu."
Begitu masuk, Tang Cancan langsung memeluk Meng Qi.
Meng Qi berkata, "Udah deh, selama tiga hari ini kamu istirahat, lihat tuh pipimu sudah tambah bulat saja."
Sebenarnya, setelah kembali dari pulau, Meng Qi sudah boleh membawa asisten lagi. Tapi ia pikir Tang Cancan jarang-jarang bisa istirahat, jadi biarkan saja dia bersenang-senang sehari lagi, dan minta dia baru menjemputnya hari ini.
Tang Cancan terkekeh, "Aku nggak cuma istirahat kok, acaranya juga aku tonton. Kakak Su He juga nonton, lho. Kamu nggak tahu betapa hebohnya setelah acaranya tayang..."
"Kakak Su He juga nonton?"
"Iya!" Tang Cancan mengangguk penuh semangat, wajahnya penuh kebanggaan,
"Apalagi pas kamu membalas Shen Yirou, kakak, kamu keren banget!"
Meng Qi buru-buru memberi isyarat agar ia bicara pelan, "Jangan keras-keras."
"Oke, oke," Tang Cancan menutup mulutnya sendiri.
"Aku ada urusan lain, jadi nggak pulang dulu. Tolong bawakan barang-barangku ke rumah ya,"
Meng Qi hanya membawa barang pribadi yang perlu, sisanya diserahkan pada Tang Cancan.
Tepat saat itu, ia menerima pesan dari Zhong Yu yang sudah tiba di bawah. Ia lalu mengenakan topi dan masker sebelum keluar.
Dari kejauhan, ia sudah melihat mobil Zhong Yu terparkir di seberang jalan. Meng Qi berlari kecil dengan gembira.
Begitu sampai di depan mobil, pintu terbuka dari dalam. Yu Ye duduk di tepi dengan wajah tanpa ekspresi.
Meng Qi: Sial, kenapa akhir-akhir ini di mana-mana selalu ketemu sama orang menyebalkan ini.
"Masuklah, Qi!" teriak Zhong Yu dari kursi pengemudi.
"Apa-apaan, kamu nggak bilang ada orang lain juga. Kukira cuma kita berdua."
"Kalau orang lihat aku naik mobil bareng dia, bisa gawat nih."
Yu Ye memutar bola matanya, "Kalau kamu kelamaan di situ, nanti semua orang malah benar-benar lihat."
Meng Qi: "..."
"Ya udah, kasih aku tempat duduk dong,"
Barulah Yu Ye dengan enggan mengangkat pantatnya yang mulia.
"Aduh, kalian berdua memang suka ribut di mana pun dan kapan pun, ya. Aku sampai merasa masih menonton acara saja,"
Zhou Zhan ikut bicara dari kaca spion.
"Siapa juga yang suka ribut sama dia," sahut Meng Qi, sambil curi-curi pandang ke luar jendela, khawatir ada yang memotret mereka.
"Udah nggak usah dilihat, semua orang sudah tahu kalian berdua itu teman masa kecil," kata Zhong Yu.
"Maksudnya apa?" Yu Ye juga bingung.
"Mungkin karena gaya kalian berdua yang suka berdebat itu terlalu kelihatan. Malam pertama saja sudah ketahuan."
Zhong Yu masih saja heran,
"Kamu nggak tahu, netizen itu hebat banget. Semalaman, akun media sosial kami berdua langsung diulik habis-habisan. Sampai sekarang, semua orang se-Indonesia tahu kita berempat tumbuh bersama sejak kecil."
"Iya, benar," Zhou Zhan menoleh, wajahnya penuh rasa bangga, "Berkat kalian berdua, sekarang aku punya puluhan ribu penggemar."
Ujung bibir Yu Ye sedikit berkedut. Sungguh sulit untuk dikomentari.
"Lalu, rekaman VCR itu gimana ceritanya?"
"Itu aku yang daftar sendiri, nggak nyangka kan?"
Zhou Zhan buru-buru menambahkan saat melihat tatapan tajam Yu Ye,
"Tapi aku cuma ngomongin hal-hal baik tentang kamu, kok."
"Alah!"
Apa maksudnya ‘sifat nyonya besar’ itu pujian, atau ‘nggak cocok sama siapa pun’ itu pujian?
Baru kali ini Yu Ye tahu Tuan Zhou ternyata suka tampil di depan umum.
"Kamu mau debut jadi artis atau apa?"
Tak disangka, Zhou Zhan malah menilai dirinya sendiri,
"Kamu juga merasa aku cocok, kan? Kalau aku debut, kita jadi saingan dong?"
"Saingan apaan!"
"Kamu?"
Yu Ye dan Zhong Yu serempak mencemooh.
Sementara itu, Meng Qi sedari tadi diam saja.
Ia sedang melihat trending topic di internet, kepalanya penuh tanda tanya.
#TemanMasaKecilSejatiDuniaHiburan
#MengQiYuYeSusahBerpisahKalauTakMenikah
#TuhanBelumMemberikuSahabatKecil
#PasanganSerasiSempurna
Selain berbagai potongan adegan dan video mereka di acara, bahkan ada yang mengedit karya-karya mereka sebelumnya menjadi video pasangan.
"Mereka serius, ya? Dari mana bisa kelihatan aku dan dia itu pasangan serasi?"
Paling banter mereka itu ‘musuh bebuyutan yang tak bisa dipisahkan’. Menyebut mereka teman masa kecil saja, itu sudah merendahkan makna teman masa kecil.
"Kamu serius?" Yu Ye tiba-tiba mendekatkan wajahnya,
"Bisa jadi pasangan serasi seperti aku, kamu untung, aku yang rugi."
Meng Qi menatap matanya lekat-lekat, "Aku malah pusing."
Zhong Yu ikut menengahi seperti menenangkan anak kecil, "Terlepas dari itu, kelihatan memang cocok sih. Beberapa video pasangan kalian saja aku koleksi, nanti aku tunjukkin."
Meng Qi: "Nggak usah, bikin sakit mata."
Komentar-komentar itu makin lama makin tak masuk akal, "Eh, siapa bilang teman masa kecil harus berjodoh? Geli banget! Kamu dan Zhou Zhan juga teman masa kecil, masa kalian berdua juga harus bersama?"
Begitu kalimat itu keluar, suasana di dalam mobil langsung hening.
Yu Ye dan Meng Qi mendapati dua orang di kursi depan tampak gugup.
"??!!"
"Kalian berdua, jangan-jangan diam-diam punya hubungan di belakang kami?!"