Bab 9: Awal yang Menghancurkan Langit
Bus Romantis melaju lagi selama setengah jam sebelum akhirnya berhenti di dermaga. Sinar matahari, garis pantai, dan kapal pesiar mewah—semua unsur romantis terasa begitu kental.
“Wah, indah sekali!” seru Shen Yirou begitu turun dari bus.
Komentar penonton: [Sayang, kamu lebih cantik!]
Para peserta turun satu per satu. Tujuh orang berdiri berjajar, membentuk pemandangan yang enak dipandang.
Ketika semua orang mengira mereka akan menaiki kapal pesiar untuk berlibur ke sebuah pulau, suara sutradara tiba-tiba terdengar dari balik kamera:
“Para tamu, kita akan segera memulai perjalanan romantis pertama. Agar kalian lebih cepat saling mengenal, kami sudah menyiapkan tema khusus untuk perjalanan kali ini: bertahan hidup di pulau terpencil selama tiga hari!”
[Apa??]
[Aku tidak salah dengar, kan?]
[Acara cinta mana yang peserta harus bertahan hidup di pulau?]
[Aduh, kocak banget, ini permulaan yang kacau!]
Baru saja mereka tertawa-tawa, kini semua peserta langsung muram.
Xie Linsu berkata, “Sutradara, kamu pasti bercanda, kan?”
Jiang Yunjing menimpali, “Hahaha, terus gaya rambut yang aku buat sejak jam tujuh pagi ini buat apa dong?”
Shen Yirou panik, “Bertahan hidup di pulau? Bukannya itu banyak serangga?”
Bahkan Ji Huai, yang biasanya dewasa dan tenang, tampak kehilangan ketenangannya, “Benar-benar pulau terpencil? Terus kita dikasih makan enggak?”
Sutradara menjawab, “Jangan buru-buru.”
Dengan isyarat tangan, beberapa kru berbadan kekar datang membawa sebuah meja berisi berbagai perlengkapan. Dua orang lainnya membagikan ransel seukuran tas sekolah pada setiap peserta.
Sutradara menjelaskan, “Karena ini bertahan hidup di pulau, tentu tidak semua barang bisa dibawa. Sekarang kalian punya waktu sepuluh menit untuk mengemas barang yang akan dibawa ke pulau ke dalam ransel ini. Tapi ingat, makanan dan alat elektronik tidak boleh dibawa.”
“Apa?!!”
“Tiga hari, hanya satu tas?”
Semua peserta makin putus asa, wajah mereka muram seperti kehilangan harapan.
Hanya Meng Qi yang, setelah terkejut di awal, tidak mengeluh sama sekali. Bahkan, di wajahnya tampak sedikit antusias dan bersemangat.
Sutradara mulai menghitung mundur, “Tiga, dua, satu!”
Saat yang lain masih mengeluh, Meng Qi sudah sigap jongkok dan membuka koper miliknya.
Penonton bahkan lebih antusias dari dirinya: [Seru banget segmen ini!]
[Paling suka lihat isi koper artis!]
Segmen dadakan membongkar koper selalu memuaskan rasa ingin tahu penonton, seolah dengan melihat isi koper, mereka bisa lebih mengenal idola mereka.
Orang-orang membayangkan koper seorang bintang secantik Meng Qi pasti penuh barang mewah, tapi ternyata isinya sederhana sekali: Beberapa set pakaian yang sudah dipadupadankan, sepasang sepatu hak tinggi, satu hair dryer, dan sebungkus kecil perlengkapan mandi.
Mengingat hanya diperbolehkan membawa satu ransel kecil, ia langsung meninggalkan dua set gaun, sepatu hak tinggi, dan hair dryer. Dari perlengkapan mandi, ia hanya mengambil sikat gigi, gelas kecil, sabun muka, dan pelembap yang dimasukkan ke celah-celah ransel.
Kurang dari lima menit, ia sudah selesai mengemas ulang dan siap berangkat dengan ransel di punggung.
Komentar penonton:
[Manis banget, kok jadi lucu ya?]
[Ini artis paling membumi yang pernah kulihat.]
[Bahkan terlihat agak bersemangat?]
Kamera berpindah ke sisi lain. Jiang Yunjing dan Xie Linsu hampir selesai berkemas, sementara Shen Yirou di sebelah mereka terlihat panik dan kacau balau.
Dengan susah payah ia membaringkan koper besarnya, dan saat resleting ditarik, isi koper langsung tumpah berantakan.
[Waduh, gimana cara masukinnya tuh.]
[Kebanyakan bawa baju, kan cuma tiga hari.]
[Dia kan artis, bawa banyak baju bagus itu wajar, buat difoto!]
Shen Yirou membongkar isi koper yang menggunung, makin dibongkar malah makin kesal. Memang bukan dia sendiri yang mengemas, ia hanya memilih baju kemudian asistennya yang memasukkan. Sekarang ia harus membuka setiap bungkus untuk tahu isinya.
Andai tahu begini, tadi malam dia tidak akan pilih baju sampai larut. Banyak baju bagus jadi sia-sia, tak sempat dipakai.
“Oke, satu menit lagi waktu mengemas!” seru sutradara.
Terkaget, tangan Shen Yirou gemetar, sekantong bikini warna-warni jatuh berhamburan.
[Waduh, bawa bikini sebanyak itu.]
[Aduh, tubuhnya memang aduhai.]
[Jangan-jangan bikin para cowok gagal fokus.]
Komentar ini bikin fans peserta cowok agak risih.
[Fans seseorang kok terlalu percaya diri, ya.]
Hampir saja pertengkaran pecah di kolom komentar, untung sutradara cepat menghentikan hitungan mundur.
“Oke, semua berhenti berkemas sekarang.”
Beberapa orang masih berkeringat karena terburu-buru, akhirnya mereka dengan berat hati menyerahkan ponsel.
Tong Yang menyerahkan camilannya dengan hati hancur, Xie Linsu juga berpisah dengan gitar kesayangannya.
“Sutradara, saya ada pertanyaan.” Meng Qi mengangkat tangan dengan manis.
Soal makanan dia tak terlalu berharap. “Di pulau nanti, apa kami dapat air minum?”
Jangan-jangan disuruh cari air dan menyaring sendiri.
Sutradara menjentikkan jari, “Pertanyaan bagus. Setiap orang akan diberi sebotol air mineral per hari.”
“Selain itu, setiap orang juga boleh memilih tiga barang dari meja di belakang saya untuk dibawa ke pulau.”
“Tapi, kalian tidak boleh berdiskusi satu sama lain. Apakah barang yang dipilih berguna atau tidak, semua tergantung kekompakan kalian.”
Kamera menyorot meja di belakang, di atasnya tersusun barang-barang seperti batu api, pisau kecil, pisau dapur, kapak, sarung tangan, tali, perlengkapan selam, pancing, benang pancing, senter, lampu gantung, kacamata renang, pakaian renang, selimut darurat, sleeping bag, plastik lembaran, obat anti nyamuk, sunblock, topi, jas hujan, kaleng makanan, biskuit kompresi, kopi, panci, sumpit, botol air, bahkan alat komunikasi.
[Kru produksinya baik juga, masih nyediain perlengkapan. Kalau enggak, takutnya mereka enggak balik-balik.]
[Hahaha, ini kocak banget.]
Semua peserta dipisahkan agar tidak bisa saling mencontek.
Pertama memilih adalah Tong Yang. Ia langsung memilih kaleng makanan, lalu pisau kecil dan lampu gantung.
“Yang penting enggak kelaparan, terus harus ada penerangan,” katanya.
Komentar penonton: [Benar-benar doyan makan.]
[Mau gimana lagi, anak masih dalam masa pertumbuhan.]
[Masih takut gelap, ya?]
Selanjutnya He Shiyu memilih kapak, sleeping bag, dan botol air.
Xie Linsu memilih alat komunikasi, sarung tangan, dan botol air.
Komentar penonton: [Botol air lagi, kalian kompak juga.]
Kemudian Jiang Yunjing memilih kapak, biskuit kompresi, dan sumpit.
Shen Yirou lama bimbang, akhirnya memilih obat anti nyamuk, sleeping bag, dan semprot tabir surya. “Gimana lagi, aku bawa baju tebal sedikit, takut serangga, sunblock juga kurang.”
Komentar penonton:
[Hm, kayaknya agak egois ya, enggak ada yang dipilih buat kelompok.]
[Emangnya obat anti nyamuk dan sunblock enggak bisa dipakai bareng?]
[Kok malah ribut, nikmati acara aja bisa enggak?]
[Yang penting belum ada yang pilih panci, itu yang paling urgent.]
Lalu giliran Ji Huai, dia memilih pancing, panci masak, dan kacamata selam. “Kalau enggak nemu makanan, bisa cari ikan di laut.”
Komentar penonton: [Pantas jadi abang, enggak ada dia, mau masak pakai apa?]
Terakhir adalah Meng Qi. Ia mengelilingi meja, pertama memilih kapak, kemudian batu api, lalu lama bimbang di depan jas hujan, akhirnya memilih plastik lembaran.
Komentar penonton:
[Baru sadar belum ada yang pilih batu api, kalau enggak, mereka bikin api sampai tengah malam.]
[Inilah yang mikirin kelompok, jas hujan cuma cukup buat satu orang, plastik bisa jadi atap, semua bisa pakai.]
[Wah, geng kapak bertiga!]
Sementara tujuh orang memilih, tamu misterius yang masih di perjalanan juga membuat pilihannya sendiri.
“Aku pilih jas hujan, tali, dan biskuit kompresi, deh.”