Bab 23: Minuman adalah Dunia Para Lelaki
Setelah membaca laporan yang dibawa oleh Hua Rong, Bupati Murong memandang Hua Rong dengan diam, baru setelah beberapa saat ia berbicara dengan marah, “Betapa menjengkelkan para perampok Liangshan, membunuh pejabatku, membakar rumahku, sungguh keterlaluan!”
Kemudian ia melanjutkan, “Kau sudah berjasa besar dalam menstabilkan keadaan di Benteng Angin Sejuk. Sepulangnya nanti, uruslah pemakaman Liu Gao dengan layak.”
Hua Rong memberi salam hormat dan berkata, “Hamba akan melaksanakan perintah Tuan!”
Setelah itu, ia mengeluarkan sepasang gelang giok pemberian Song Jiang dan berkata, “Karena berangkat dengan tergesa-gesa, hamba hanya sempat menyiapkan sedikit hadiah untuk Nyonya, mohon Tuan berkenan menerimanya sebagai tanda hormat.”
Bupati Murong pun menerimanya tanpa menolak, menimangnya dan berkata, “Batu gioknya bagus juga. Jika ada keperluan, katakan saja!”
Hua Rong segera berkata, “Tuan, kini Liu Kepala Benteng telah tiada, hamba ingin menggantikan posisinya menjaga Benteng Angin Sejuk, bersumpah akan mempertahankan benteng ini demi keamanan Qingzhou!”
Murong melirikkan matanya dan berkata, “Di negeri kita sudah lama berlaku kebijakan mengutamakan pejabat sipil, kau ini perwira, agak sulit untuk urusan seperti ini.”
Ia menepuk dahinya, berpikir lama sebelum melanjutkan, “Namun Benteng Angin Sejuk memang tempat yang istimewa, menjadi perisai Qingzhou, apalagi masih ada perampok Gunung Angin Sejuk yang selalu mengganggu. Baiklah, aku akan mengangkatmu jadi Kepala Benteng. Jalankan tugasmu dengan baik, jadikan perlindungan Qingzhou sebagai tanggung jawab utama.”
Sebagai paman kaisar, bagi Murong, mengangkat Kepala Benteng hanyalah soal sepatah kata. Melihat tingkahnya yang begitu wajar, Hua Rong semakin merasakan betapa liciknya dunia birokrasi, hatinya pun muak. Namun teringat kata-kata Song Jiang, ia meneguhkan hati untuk melangkah ke dalam lumpur ini.
Meski begitu, Hua Rong tetap pura-pura gembira dan membungkuk, “Terima kasih atas kepercayaan Tuan, Hua Rong pasti akan membalas budi ini!”
“Tak perlu membalas apa-apa, kita semua adalah abdi negara. Asal di hatimu ada negeri ini, dan di matamu ada aku, Murong, sudah cukup bagiku,” ujar Murong dengan nada pura-pura tulus.
Hua Rong menangkap maksud tersirat Murong, segera menyatakan sikap, “Hua Rong rela berkorban demi Tuan, pantang mundur!”
Murong mengangguk puas, tersenyum memandang Hua Rong.
Hua Rong berkata lagi, “Tuan, letak Benteng Angin Sejuk sangat strategis. Demi mencegah para perampok, hamba mohon agar Tuan berkenan menambah pasukan di sini. Benteng Angin Sejuk adalah mata Qingzhou, harus diperkuat pertahanannya agar perampok tidak punya kesempatan mengacau Qingzhou.”
Setelah berpikir sejenak, Murong berkata tegas, “Qingzhou sekarang tak punya pasukan cadangan lagi. Begini saja, kau rekrut sendiri prajurit dan latih mereka. Aku hanya bisa memberi jatah gaji untuk seratus orang, selebihnya cari cara sendiri. Latihlah mereka dengan baik, jangan sampai begitu ada serangan langsung bubar, aku tak mau pelihara prajurit pemalas!”
“Mohon Tuan tenang, Hua Rong pasti tidak akan mengecewakan!”
Ketika Hua Rong hendak pamit, Murong menahan dan berkata, “Akan ku kirimkan seorang pembantu untukmu, Huang Xin, yang dijuluki ‘Penakluk Tiga Gunung’. Anak itu sedikit arogan, tak terlalu disukai di barak, jadi kuberikan padamu sebagai Wakil Kepala Benteng untuk digembleng. Nanti surat penugasan akan segera diberikan. Kalian berdua harus bersatu, bersama-sama menjaga stabilitas dan kemakmuran negeri.”
Hua Rong keluar sambil membatin, “Pembantu? Pasti disuruh mengawasiku! Orang ini memang licik!”
Di barak Qingzhou, Huang Xin mengamuk, marah bukan kepalang.
Jabatan Komandan Kavaleri yang bergengsi kini digeser ke daerah, itu pun hanya sebagai wakil, di mana mukanya hendak diletakkan? Tapi karena perintah sudah turun, ia tak bisa berbuat apa-apa, juga tak berani bertanya langsung pada Murong, hanya bisa mondar-mandir menahan amarah.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berteriak, “Siapkan kudaku!”
Huang Xin pun melesat menuju Markas Komando Kavaleri Qingzhou.
Komandan Qing Ming di markas, dijuluki ‘Petir Menyambar’, adalah guru bela diri Huang Xin. Pria ini terkenal setia kawan, namun temperamennya meledak-ledak, suaranya menggelegar, mudah tersinggung, sehingga banyak kolega memilih menghindar darinya, itulah formula ampuh menghadapi Qing Ming.
Huang Xin tidak hanya mewarisi kemampuan Qing Ming, tapi juga temperamennya, hingga dijuluki ‘Petir Kecil’. Maka keduanya memang selalu ‘bersepatu sempit’, namun tetap selamat.
Untung saja Bupati Murong tahu menempatkan orang, selalu memperhatikan mereka. Tapi dengan dua ‘aset hidup’ ini, suasana barak memang sering tidak kondusif. Memindahkan Huang Xin ke daerah adalah solusi terbaik, dua nyala api yang semula berkobar kini tinggal satu, lebih mudah dipadamkan.
Dengan wajah muram, Huang Xin mengadu ke Qing Ming, “Guru, ini jelas penghinaan untukmu!”
Qing Ming segera memotong, marah, “Baru saja aku dari kediaman Bupati, para pejabat sipil itu memang licik, selalu ingin menginjak kita, tak suka jika kita bersatu.”
Lalu ia memarahi Huang Xin, “Ini juga salahmu, sudah sering kubilang jangan cari gara-gara, tetap saja keras kepala. Sekarang rasakan sendiri akibatnya.”
Suara Qing Ming begitu keras, sampai telinga Huang Xin berdenging.
Dalam hati Huang Xin membatin, “Memangnya Guru jarang bikin masalah? Temperamen Guru juga keras kepala, apa Guru pernah berubah? Ah, jelas-jelas senior punya keistimewaan, aku apa? Mulai sekarang, meniru orang lain jangan asal-asalan!”
Setelah memarahi, amarah Qing Ming berkurang, melihat muridnya seperti terong layu, ia merasa iba juga, lalu menghibur, “Bupati Murong berkata, kau dikirim ke daerah untuk digembleng. Meski cuma sebagai wakil, tetap terima gaji komandan. Setelah selesai, kembali ke Qingzhou, promosi jabatan minimal tetap di komandan.”
Selesai berkata, Qing Ming menarik napas panjang, menepuk bahu Huang Xin, “Jadilah lelaki sejati, jangan menyerah. Di Benteng Angin Sejuk, bekerja sungguh-sungguh, kumpulkan prestasi, nanti bisa naik pangkat!”
Niat awal ingin mengadu, malah kena omel, hati Huang Xin makin tidak enak, sepertinya kali ini Qing Ming benar-benar tak bisa melindungi dirinya. Namun ia juga sadar, selama ini Gurunya sudah banyak membantunya, jika bukan karena Qing Ming, mungkin sudah lama ia dipecat. Dengan penuh haru, ia berlutut dan menangis, “Setelah murid pergi, tak bisa lagi merawat Guru. Mohon Guru selalu menjaga diri.”
Qing Ming pun terharu, namun dengan tegar berkata, “Laki-laki boleh berdarah, tapi jangan menangis! Berdirilah, hari ini kita minum sepuasnya, anggap saja aku mengantar kepergianmu!”
Maka di meja minum, tumpahlah air mata dan kata-kata perpisahan yang mengharukan.
Banyak orang gembira atas diangkatnya Hua Rong, tapi kehadiran Huang Xin membuat mereka mengeluh. Ternyata, jadi pejabat memang harus pandai bergaul. Setelah Hua Rong ‘bermanuver’, tak sampai dua hari langsung naik jabatan; Huang Xin yang mengandalkan Qing Ming dan tak peduli atasan, malah tersingkir. Melihat nasib Huang Xin, mereka justru merasa senang, setidaknya mereka tidak diturunkan pangkatnya, semangat ‘Ah Q’ pun tampak jelas.
Hua Rong mengadakan jamuan makan untuk Huang Xin dan seluruh pejabat Benteng Angin Sejuk. Sebagai pejabat baru, penting untuk menjalin hubungan di semua lapisan, apalagi jika menggunakan dana dinas dan mempererat persahabatan, mengapa tidak?
Namun, menghadapi Huang Xin, Hua Rong agak pusing, karena ‘Petir Kecil’ terkenal sulit diajak kerja sama, kalau gagal bisa mengecewakan kepercayaan sang kakak.
Tetapi ia sendiri adalah ‘ular lokal’, sekalipun ‘naga’ dari luar datang tanpa perlindungan Qing Ming, tetap saja harus bertekuk lutut. Mau adu kekuatan, silakan, tak percaya kalau tak bisa mengalahkan Huang Xin.
Namun, ternyata Huang Xin jauh lebih sopan daripada yang diceritakan. Entah karena baru di tempat baru, atau karena penurunan jabatan memberi pelajaran, yang jelas ia tak tampak seperti yang digosipkan.
Di jamuan resmi para pejabat, semua bicara penuh basa-basi, memuji kedua Kepala Benteng muda berbakat, jagoan bela diri, masa depan cerah, karier mulus… ucapan hampa yang mabuk pun bisa membuat orang muntah.
Karena para prajurit biasanya berterus terang dan merasa belum puas minum, usai jamuan, Hua Rong mengundang Huang Xin ke rumahnya untuk minum lagi.
Banyak hal di dunia sulit dijelaskan, terkadang hanya bisa disebut ‘klik sejak pertemuan pertama’, itulah yang terjadi pada Hua Rong dan Huang Xin. Mungkin karena sama-sama perwira, sama-sama berjiwa terbuka; atau mungkin Huang Xin menemukan teman curhat. Di meja minum, mereka sangat akrab.
Huang Xin tanpa henti menceritakan pengalaman berjuang melawan pejabat sipil, saat bersemangat ia mengumpat, saat terharu ia menangis, saat sedih ia memukul-mukul dada.
Hua Rong yang juga lama tertekan oleh pejabat sipil, sangat memahami perasaan itu. Dua orang dengan pengalaman serupa, sama-sama membenci pejabat sipil, mereka pun merasa menyesal baru bertemu, saling mengagumi, bahkan di meja minum itu mereka bersumpah menjadi saudara angkat, dengan Hua Rong sebagai kakak.
Hua Rong pun membatin: Mabuk kali ini sungguh berharga, masalah besar pun larut dalam arak. Song Jiang benar, di dunia persilatan, manusia sering tak berdaya; arak adalah dunia lelaki, segala gundah di hati lelaki, bisa luruh di meja minum.