Bab 9: Hidup Bukan untuk Dipertaruhkan
Seluruh Gunung Angin Sepoi-sepoi larut dalam kegembiraan yang membuncah. Para pendekar yang ikut dalam aksi kali ini merasakan hal yang sama: mereka pernah mengalami keberhasilan merampok, tetapi belum pernah ada yang sesukses ini—benar-benar luar biasa! Dulu, jika pergi merampok, bentrokan berdarah hampir tak terelakkan, kehilangan beberapa saudara sudah dianggap biasa, dan hasil rampasan pun harus segera dibawa kabur. Tapi hari ini, tak seorang pun saudara yang gugur, seluruh prosesnya serasa tamasya, hasil yang didapat berkali lipat lebih banyak dari gabungan puluhan aksi sebelumnya, bahkan nama baik sebagai penyelamat rakyat pun diraih.
Astaga! Siapa pernah melihat rakyat memperlakukan perampok seperti ini? Rasanya seperti seorang dewa yang turun dari langit, menumpas kejahatan dan menyelamatkan rakyat tertindas.
Yen Shun dan saudara-saudaranya benar-benar takjub pada Song Jiang. Tak heran para pendekar di dunia persilatan menganggapnya bagai dewa; ia memang punya kemampuan luar biasa. Kecerdasan dan kematangan yang ia tunjukkan dalam aksi kali ini, serta kesempurnaan dan keterpaduan setiap langkah, benar-benar membuat mereka terkesan. Mereka bertiga sadar, seumur hidup pun tak akan mencapai tingkat seperti itu. Mengikuti Song Jiang, masa depan sungguh cerah.
Setelah berdiskusi, mereka bertiga memutuskan untuk menyerahkan posisi pemimpin Gunung Angin Sepoi-sepoi kepada Song Jiang. Mulai sekarang, segalanya akan diputuskan oleh Song Jiang.
Namun, kenyataan tak seindah harapan. Penolakan tegas Song Jiang, yang berkata tak mungkin menerima jabatan itu, membuat mereka serasa disambar petir. Bagaimana bisa? Sudah dipohon agar menjadi pemimpin, tapi ia malah menolak.
Jangan-jangan... Wang Yinglah yang pertama kali menebak, penolakan Song Jiang karena ia menganggap Gunung Angin Sepoi-sepoi terlalu kecil untuk dirinya, sedikit merasa malu tapi sekaligus tak terima. Gunung ini sudah seperti anak sendiri, seburuk apa pun tak pantas diremehkan. Tanpa sadar ia berkata, “Kakak, apa kau merasa Gunung Angin Sepoi-sepoi terlalu dangkal untuk seekor naga sepertimu?”
“Benar, apakah kakak memandang rendah kami?” Yen Shun menimpali.
“Kalian salah paham. Sejak aku membunuh Yan Po Xi dan melarikan diri ke Gunung Angin Sepoi-sepoi, aku sudah menganggap tempat ini rumah sendiri. Aku berniat berakar di sini dan bersama kalian melakukan hal besar yang mengguncang dunia. Hanya saja, soal pemimpin bukan karena aku tak tahu diri, tapi ada alasan berat. Ayahku dan adikku Song Qing masih berada di Kota Yun. Jika aku terang-terangan menjadi pemimpin di sini, mereka pasti akan terkena imbasnya.”
Song Jiang berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Nanti jika sudah ada cara agar mereka tak terlibat, aku pasti akan maju bersama kalian. Untuk saat ini, biarlah aku di luar lingkaran, memberikan saran dan membantu membangun perkampungan ini. Soal pemimpin bisa dibicarakan nanti! Lagi pula, kita semua saudara sehidup semati, siapa pun pemimpinnya sama saja, itu hanya sebutan belaka.”
“Ternyata kami salah paham dengan kakak,” ketiganya merasa malu, ada yang menggaruk kepala, ada yang menggosok tangan, ekspresi canggung pun terlihat jelas.
“Kalian jangan sungkan. Hal kecil seperti ini lebih baik diungkapkan, kalau dipendam terlalu lama bisa merusak persaudaraan. Nah, sekarang ada beberapa hal penting yang harus segera kita lakukan demi kemajuan Gunung Angin Sepoi-sepoi ke depan. Kalian harus sungguh-sungguh!”
Mendengar Song Jiang bicara dengan penuh nasihat, ketiganya hanya diam menatap, menunggu apa saja hal penting yang harus mereka kerjakan. Song Jiang tahu mereka menunggu penjelasannya, maka ia mengangkat empat jari, “Ada empat hal terpenting saat ini. Pertama, kita harus waspada terhadap pengepungan prajurit dari Benteng Angin Sepoi-sepoi.”
“Tak perlu takut, kalau mereka datang kita lawan. Kita buat mereka tak bisa pulang!” ujar salah satu dengan penuh keyakinan.
“Benar! Walau Hua Rong mahir dan panahnya tak tertandingi, kami juga tak kalah hebat. Kalau pun harus mati, kami siap bertarung sampai akhir!” tambah yang lain.
Song Jiang tahu, para pendekar kasar ini hanya mengandalkan keberanian, tanpa pengetahuan taktik sama sekali. Ia harus melatih mereka ke depan.
“Kenapa harus bertarung mati-matian? Hidup hanya sekali. Jika habis di sini, siapa yang akan menegakkan keadilan di dunia? Simpan nyawa, baru bisa melakukan hal besar. Jadi, jangan pernah bertarung membabi buta. Itu tanda kelemahan dan tidak bijak. Mulai sekarang, jangan ada yang nekat seperti itu. Kita harus hidup baik-baik.”
Melihat ketiganya mengangguk patuh, Song Jiang melanjutkan, “Kalau satu jalan buntu, cari jalan lain. Tak perlu keras kepala melawan prajurit. Saat ini mereka kuat, kita lemah, jadi kita hanya bisa mengandalkan kecerdikan, bukan kekuatan. Lagipula, kita sudah menculik istri Liu Gao, membunuh keluarganya, keuntungan besar sudah kita raih. Mana mungkin dia terima? Pasti akan membawa pasukan besar. Kita harus bijak, bertahan saja, jangan menyerang. Biarkan mereka kebingungan seperti anjing menggigit landak.”
Melihat mereka semua mengangguk, Song Jiang berkata lagi, “Tapi ini bisa diatasi. Hua Rong adalah saudara angkatku. Aku akan ke Benteng Angin Sepoi-sepoi dan bicara dengannya. Asal dia tidak ikut menyerang, yang lain pasti tak berdaya.”
“Kedua, harta di gunung ini harus dibagi secara adil dan harus ada petugas administrasi yang mengelola serta mencatat pemasukan dan pengeluaran. Selama ini hasil rampokan langsung dibagi, sedikit yang tersisa untuk perkampungan. Ini tidak baik untuk jangka panjang. Mulai sekarang, tiga bagian untuk penghargaan menurut jasa, sisanya menjadi milik bersama perkampungan, untuk membeli kebutuhan, termasuk perlengkapan militer. Mungkin ada yang keberatan, jadi kalian bertiga harus memberi pengertian. Semua orang adalah bagian dari perkampungan ini, punya kewajiban membangun bersama. Jika perkampungan maju, semua anggota akan sejahtera.”
Yen Shun berkata, “Kakak tak usah khawatir, ada yang protes, cukup sekali ditampar pasti mereka diam!”
Song Jiang tertawa, “Jangan main kasar terus. Pendidikan dan bujukan juga penting. Jika mereka yakin masa depan cerah, pasti rela mengorbankan keuntungan sesaat.”
Meski tak tahu cara membujuk, mereka mengakui Song Jiang benar, lalu mengangguk mantap.
Song Jiang mengeluarkan sebilah belati, “Ini ditemukan di rumah Liu Neng, sangat tajam dan indah. Aku simpan sebagai perlindungan diri, tidak akan masuk kas bersama.” Ketiganya langsung berseru, kakak terlalu sopan, kalau suka silakan diambil.
Song Jiang melanjutkan, “Untuk urusan administrasi, aku sudah memilih orang yang tepat. Guru Pan punya metode pengelolaan keuangan yang baik, biar dia yang mengisi posisi ini.” Kini mereka paham, pantas saja Pan diajak naik gunung, rupanya Song Jiang sudah merencanakan semuanya sejak awal. Mereka benar-benar kagum.
Yen Shun tak tahan bertanya, “Lalu kenapa kakak juga mengajak Wang si Pandai Besi naik gunung?”
“Itu urusan ketiga,” jawab Song Jiang, “Aku ingin Gunung Angin Sepoi-sepoi punya pabrik senjata sendiri.”
“Pabrik senjata? Apa itu?”
“Mudahnya, tempat kita membuat senjata sendiri. Jangan remehkan para tukang, mereka punya kekuatan luar biasa. Kelak mereka bisa membuat senjata baru yang sangat hebat. Kita sebut mereka tenaga ahli, dan mereka harus kita rekrut sebanyak-banyaknya. Termasuk tukang lain, petugas administrasi, tabib, dan siapa saja yang punya keahlian.”
Meski belum paham seberapa besar manfaatnya, mereka yakin, mengikuti saran kakak tak akan salah, dan berjanji akan mendukung sepenuhnya.
“Urusan keempat memang mudah tapi butuh waktu lama, yaitu latihan pasukan seperti yang pernah kubicarakan. Pasukan kita saat ini masih acak-acakan, tidak disiplin dan kemampuan bertempur masih lemah, belum layak disebut pasukan.”
Dengan nada serius Song Jiang berkata, “Latihan pasukan akan dimulai sepulangku dari Benteng Angin Sepoi-sepoi. Sekarang kalian harus mulai mengatur ulang pasukan: tiap sepuluh orang jadi satu regu, ada ketua dan wakil, jadi dua belas orang; tiga regu jadi satu peleton, ada komandan dan wakil, total tiga puluh delapan orang; tiga peleton satu kompi, ada komandan dan wakil, total seratus enam belas orang; tiga kompi satu batalyon, ada komandan dan wakil, total tiga ratus lima puluh orang; tiga batalyon satu resimen, ada komandan dan wakil, total seribu lima puluh dua orang. Buat satu regu pengintai, dipimpin Zhao Desheng dan Peng Hu. Berdasarkan jumlah kuda, bentuk satu atau dua kompi kavaleri, khusus dilatih oleh Saudara Zheng. Pola latihan kavaleri dan infanteri sedang kusiapkan. Nanti aku tulis buku panduan latihan khusus untuk Gunung Angin Sepoi-sepoi, dan latihan harus sesuai buku itu, supaya tercipta pasukan yang benar-benar tangguh! Ingat, jika pemimpin tak mampu, seluruh pasukan akan sengsara. Maka, pemimpin harus dipilih berdasarkan kemampuan dan jasa, bukan karena kedekatan pribadi. Kalau tidak, akan jadi bencana di kemudian hari.”
Ketiganya ternganga, antara ragu, gembira, dan percaya penuh. Jika semua rencana Song Jiang terwujud, Gunung Angin Sepoi-sepoi pasti jadi kekuatan luar biasa di dunia persilatan.
Melihat ketiga saudara yang seperti anak burung menunggu makan, Song Jiang merasa sangat akrab. Inilah saudara-saudara yang kelak akan berjuang bersama antara hidup dan mati. Mereka sangat setia, persaudaraan tertanam dalam jiwa, tak akan terpisah seumur hidup. Song Jiang bertekad, di dunia baru ini, ia akan mengubah nasib mereka, menjadi penguasa dunia.
Dengan tekad itu, ia sadar betapa besar tanggung jawab yang dipikulnya. Ada satu hal penting yang harus segera ia lakukan. Maka ia berkata pada Yen Shun dan Zheng Tianshou, “Saudara Yen dan Saudara Zheng, uruslah pembentukan pasukan. Aku dan Wang akan menemui Guru Pan dan Wang si Pandai Besi!”
Keduanya pun melangkah menuju rumah Guru Pan. Namun Song Jiang merasakan tatapan kedua saudara itu di punggungnya, tatapan yang murni penuh kekaguman.