Bab 95: Menghadiri Jamuan Makan Bersama
Setelah puas bermain, saat Meng Qi dan Yu Ye melirik sekeliling, mereka mendapati kru produksi sudah berkemas-kemas hendak pulang.
“Ada apa, Sutradara? Kenapa sudah berhenti syuting?” tanya Meng Qi.
Sutradara Chen tersenyum ceria, “Materinya sudah cukup, jadi tak perlu syuting lagi. Ayo, semuanya beres-beres, hari ini pulang lebih awal!”
Yu Ye dan Meng Qi sama-sama terkejut: Tiba-tiba saja syuting sudah cukup?
Dan ternyata, potongan video inilah yang kemudian membuat MV itu viral dan menjadi bagian paling terkenal. Dalam beberapa hari itu, siapa saja yang membuka media sosial pasti akan melihat cuplikan Yu Ye menggendong Meng Qi berputar-putar di tengah salju.
Butiran salju sebesar bulu angsa berjatuhan, menutupi kepala dan bahu mereka, menambah kesan romantis dan keindahan dalam setiap bingkai.
Keduanya tertawa di tengah guyuran salju, bercanda dan bermain, entah siapa yang melontarkan sesuatu, tawa mereka pun semakin lepas.
Mata Meng Qi menyipit karena terlalu gembira, sementara Yu Ye menunjukkan senyum lebar yang tak pernah ia perlihatkan di depan kamera sebelumnya.
Para penggemar nyaris tak percaya.
[Kau bilang ini Yu Ye? Mulut Yu Ye bisa selebar itu?]
[Memang benar dia, sudah tiga hari tiga malam video itu berputar-putar di ponselku.]
[Saran: tolong selidiki kedua orang ini, jelas-jelas bukan akting.]
[Aduh, manisnya sampai berlebihan!]
[Ini juga bisa disebut sehidup semati, kan?]
[Siapa yang mengerti, padahal tak tampak terlalu mesra, tapi inilah potongan paling manis yang pernah kulihat tahun ini.]
...
Karena kekompakan dua pemeran utama, seluruh tim bisa pulang dua jam lebih awal dari yang diperkirakan.
Yu Ye menelepon Xiong Le, “Kau di mana? Kenapa belum pulang? Aku sudah selesai, bro.”
Terdengar suara klakson dan riuh dari seberang, “Aku juga ingin pulang, bro, tapi macetnya parah! Kalau aku ke sana, pasti sudah gelap. Lebih baik kau pulang bareng Guru Meng saja.”
“Baiklah, kau tak usah ke sini, sekalian belikan aku sesuatu.”
Yu Ye lantas meminta Xiong Le membelikannya hadiah pernikahan dan langsung mengirimkannya ke restoran.
Meng Qi baru saja duduk di mobil ketika ia melihat Yu Ye berdiri di depan pintu dengan wajah memelas.
“Anak Yu Ye, kakakmu sudah selesai kerja, dadah ya,” ucap Meng Qi, bahkan sebelum Yu Ye sempat bicara.
“Eh~ jangan begitu dong.” Yu Ye menempelkan tangannya ke pintu mobil, “Kita kan teman, nebeng mobil boleh, kan?”
“Teman, ya?” Meng Qi mendengus, “Baru tadi bilang aku galak.”
Benar saja, tadi mereka hampir bertengkar saat bermain. Meng Qi menyebut Yu Ye tukang usil, sementara Yu Ye menyebutnya galak.
Namun, tak sampai dua menit, mereka sudah akur kembali. Siapa sangka kini Meng Qi malah mengungkit hal itu lagi.
“Tidak mungkin!” Yu Ye menggeleng tegas, “Mana mungkin aku berkata seperti itu? Guru Meng kita ini berhati lembut, cerdas, dan menawan...”
“Kata-kata itu sudah pernah kau pakai sebelumnya,” sahut Meng Qi sinis sambil bersandar di kursi.
“Selain itu, juga humoris, anggun, berbakat dan berakhlak mulia...”
“Sudah, sudah,” akhirnya Meng Qi luluh, “Silakan naik, Guru Yu.”
Tanpa menunggu lama, Yu Ye langsung melompat masuk, gerakannya sungguh cekatan.
“Ingin pergi bersama Guru Meng memang tak mudah.”
“Hmm?”
“Sungguh kehormatan besar!” Yu Ye menghela napas dalam hati, hari ini pasti harus menghafal peribahasa lagi.
“Guru Yu, ini, Qiqi sudah siapkan teh hangat untukmu.”
Dari kursi depan, Tang Cancan yang sudah paham semuanya hanya tersenyum. Mana ada aturan harus memuji macam-macam baru boleh naik mobil? Itu kan cuma permainan kecil pasangan muda.
Setelah naik, Yu Ye jelas tak berniat turun lagi. Akhirnya Meng Qi mengajaknya ke acara makan malam hari itu.
Terlebih lagi, Lin Xuyang malah sangat senang saat mendengar Yu Ye juga akan datang. Ia bahkan menyuruh Zhong Yu menelepon dan memastikan Yu Ye harus ikut malam ini.
Perjalanan dari pinggiran kota ke restoran memang memakan waktu. Saat mereka sampai, jam sudah menunjukkan lewat pukul tujuh.
Begitu pintu ruang makan dibuka, semua orang serempak menoleh.
“Maaf, aku terlambat. Jalanan macet sekali,” ujar Meng Qi menyapa semua orang, lalu mengucapkan selamat menikah pada Lin Xuyang.
“Tak apa, salahku juga mendadak mengabari. Kau datang saja aku sudah senang,” jawab Lin Xuyang dengan hangat. Ia dan tunangannya, Qin Leyi, segera berdiri dan mempersilakan Meng Qi duduk. Lin Xuyang bahkan menyalami Yu Ye.
“Yu Ye, bintang besar, salam kenal, aku sudah lama mendengar namamu.”
Lin Xuyang baru mengenal Meng Qi sejak SMA. Saat itu ia sudah mendengar Meng Qi punya sahabat masa kecil.
Begitu mengetahui Lin Xuyang menyukai Meng Qi, teman-temannya langsung mengingatkan: mengejar Meng Qi tidak mudah, bahkan sahabat masa kecilnya saja tak ia lirik.
Waktu itu ia tak terlalu peduli. Baru setelah menonton acara TV, ia tahu sahabat itu ternyata Yu Ye.
Ia pun diam-diam lega. Untung dulu ia hanya sekadar mengagumi, tidak sampai memaksa. Dengan tingkat persaingan seperti itu, siapa yang bisa menandingi sahabat masa kecil?
Zhong Yu dan Pei Zhuoli yang duduk di sebelahnya, bergeser memberi tempat untuk kursi tambahan yang dibawa pelayan.
Pei Zhuoli baru saja ingin menyapa Meng Qi, namun pandangannya terhalang seseorang.
Tanpa menunggu pelayan kembali mengambil kursi lain, Yu Ye sendiri sudah membawanya.
“Maaf, mohon agak rapat, ya.”
Ia meletakkan kursi di antara Meng Qi dan pria di sebelahnya, bahkan duduk lebih cepat dari Meng Qi.
Begitu duduk, Yu Ye menoleh dan merasa wajah pria itu agak familiar.
“Lama tak jumpa, Yu Ye,” sapa Pei Zhuoli lebih dulu.
Yu Ye berpikir sejenak, lalu menebak, “Pei Zhuoli?”
Ekspresi Yu Ye mengingatkan Pei Zhuoli pada reaksi Meng Qi beberapa hari lalu saat melihatnya—sama persis.
“Sudah bertahun-tahun tak bertemu, tak sangka kau jadi selebritas.”
“Ya, mengalir saja. Kalau kau, sekarang kerja di mana?”
“Tak sehebat itu, hanya dokter kecil saja.” Pei Zhuoli sambil menyerahkan kartu namanya.
Di kartu itu tertulis ia bekerja di sebuah rumah sakit luar negeri. Yu Ye mengangguk.
“Lalu hari ini...?”
“Aku pulang ikut seminar. Kebetulan tunangan Xuyang, Leyi, adalah anak tanteku.”
Yu Ye mengangguk, “Oh, kebetulan sekali.”
Ia tahu Pei Zhuoli saat sekolah memang cukup populer, punya banyak adik kelas dan senior yang akrab dengannya. Namun ia tak tahu kalau Pei Zhuoli ternyata masih ada hubungan keluarga dengan tunangan Lin Xuyang.
Sementara mereka bercakap, Zhou Zhan dan Zhong Yu di seberang meja saling bertukar pandang, asyik mengamati.
Dulu, entah kenapa, Yu Ye memang agak memusuhi Pei Zhuoli.
Semua bermula saat kelas satu SD, Yu Ye membuat Meng Qi marah hingga gadis itu kabur. Saat ia mengejar, ia mendapati Pei Zhuoli sedang menghibur Meng Qi dengan lelucon.
Orang dewasa pun sering memuji Pei Zhuoli: dewasa, sopan, benar-benar seperti kakak yang baik. Anak-anak di lingkungan juga senang mengikutinya. Siapa pun yang kesulitan pasti meminta bantuannya.
Pendapat orang lain soal Pei Zhuoli tak pernah dipedulikan Yu Ye. Tapi pernah sekali, Meng Qi berkata santai, “Kakak Pei Zhuoli tidak akan begitu,” dan Yu Ye langsung merajuk seminggu penuh.
Namun, itu semua sudah lama berlalu. Yu Ye pun sudah lupa, hanya saja ia memang tidak pernah suka dengan Pei Zhuoli.
Awalnya tak ada yang menyangka kedua orang yang seolah asing akan duduk satu meja hari ini, ternyata bisa berbincang akur. Memang, waktu membuat semua berubah.
Setelah duduk, Meng Qi berkeliling menyapa teman-temannya, lalu baru menyadari kehadiran Pei Zhuoli.
“Benar-benar dunia sempit, bisa kebetulan begini.”
Beberapa orang memang tahu Yu Ye akan datang, tapi sebagian lain tidak. Saat melihatnya, saking terkejutnya sampai sumpit terjatuh, apalagi mengetahui Yu Ye hadir bersama Meng Qi.
“Eh, Meng Qi...” Jiang Jinglin, yang dulu paling suka bergosip di kelas, akhirnya mendapat kesempatan mendekat.
“Kamu dan Yu Ye, kalian berdua itu...?”
Ia mengangkat alis, penuh arti. Siapa pun bisa menangkap maksudnya.
Seketika semua mata kembali tertuju pada mereka berdua, menunggu dengan penuh harap ingin mendengar gosip panas yang hanya diketahui teman dekat.