Bab 91: Perhatikan Baik-baik Apa yang Sebenarnya Terjadi
Meng Qi berkata, “Kok Kakek tahu juga?”
“Tentu saja, aku kan sudah bilang, selama itu drama kalian aku pasti nonton,” jawab Kakek Yu dengan bangga sambil mengangkat alisnya.
“Kakek mau tanya, sudah pikir-pikir mau pilih siapa belum?”
Belum sempat Meng Qi menjawab, Kakek Yu sudah melanjutkan, “Jangan-jangan kamu ikut acara itu memang benar-benar mau cari jodoh?”
Dengan nada tegas Meng Qi menukas, “Mana mungkin, aku jelas pergi untuk bekerja.”
“Nah, begitu dong,” Kakek Yu menyesap kopi lalu berkata lagi, “Kalau menurutku, pilih saja Yu Ye. Anak itu polos, banyak duit, gampang diatur, kalian juga sudah saling kenal, kerja bareng pasti lebih santai.”
“Hmm...”
Dulu Meng Qi selalu merasa kalau harus kerja bareng Yu Ye pasti bakal kesal, marah, atau bahkan berantem dengannya. Tapi sekarang, mengingat kembali masa-masa syuting belakangan ini, ternyata selain itu ada banyak kesenangan juga, rasanya waktu pun berlalu lebih cepat.
“Aku pikir apa yang Kakek bilang masuk akal.”
“Tentu saja,” senyum Kakek Yu merekah, “Kakek mana mungkin menjerumuskanmu. Kalau dia bikin kamu marah, bilang saja sama kakek, biar kakek yang urus dia.”
Kalau dipikir-pikir, Yu Ye memang bukan pilihan yang buruk.
Malamnya, sepulang ke rumah dan selesai mandi, Meng Qi berbaring di ranjang sambil bermain ponsel. Tak disangka-sangka, ia menemukan cuplikan tentang dirinya sendiri.
Itu adalah potongan video kencan dirinya dengan Jiang Yunjing di episode acara terbaru, dibagikan oleh warganet.
Judulnya: “Suka itu artinya sering memikirkan dia.”
Biasanya, setiap Meng Qi melihat video tentang dirinya, ia tak pernah menonton. Tapi entah mengapa, kali ini ia malah terpancing membuka.
Videonya adalah rekaman saat mereka di atas bianglala. Ia baru saja berkata pada Jiang Yunjing, “Ternyata banyak juga yang takut ketinggian.”
Isian komentar di layar sungguh meriah:
[Hahaha, Kak Qi lagi kepikiran siapa, nih?]
[Aku juga tahu siapa lagi yang takut ketinggian, tapi nggak mau bilang.]
[Satunya lagi malah nyari kamu ke kafe kucing, haha.]
“Aku pernah ngomong gitu ya?” Meng Qi sama sekali tak ingat.
Lanjut menonton, ketika bianglala mencapai puncak tertinggi, ia berkata, “Kok kamu lebih payah dari Yu Ye sih,” dan komentar pun langsung membanjir.
[Kak, jujur deh, sekarang isi kepalamu pasti penuh sama seseorang itu.]
[Dia nggak ada di adegan, tapi tetap sering disebut.]
[Hahaha, kalau cewek sering menyebut nama cowok, itu artinya apa, pasti paham lah ya.]
[Ekspresi Meng Qi waktu lihat Jiang Yunjing sudah menjelaskan semuanya.]
[Sudah terbiasa dengan kehadiranmu, ketika suatu hari kamu tiba-tiba tidak ada, baru sadar duniaku ternyata sudah penuh olehmu.]
[Meng Qi, ngaku aja deh, kamu tuh udah jatuh hati tapi nggak sadar.]
“Apa-apaan sih ini,” gumam Meng Qi, takjub pada imajinasi para warganet.
Tapi harus diakui, acara ini memang menarik.
Setelah keluar dari video tadi, ia malah mencari versi lengkapnya untuk ditonton.
Ia ingin tahu sendiri bagaimana sebenarnya kejadian itu.
Saat adegan ia turun dari mobil, ia sengaja memperhatikan ekspresinya ketika berjumpa Jiang Yunjing.
Sebenarnya, dari awal ia mengira akan naik bianglala bersama Yu Ye, jadi ketika melihat Jiang Yunjing ia memang agak bingung.
Waktu itu, apa ia merasa kecewa?
Kemudian adegan berganti ke kencan Yu Ye dan Ning Yu.
Yu Ye duduk santai dengan kaki disilangkan, sendirian di kafe sambil minum kopi, sesekali main-main dengan anak kucing.
Lalu Ning Yu masuk. Berdasarkan pengetahuan Meng Qi selama bertahun-tahun tentang Yu Ye, saat itu pasti hatinya panik setengah mati.
Mungkin, sama seperti dirinya, Yu Ye juga mengira yang akan datang adalah dia.
Meski tak tahu seberapa saling mengenal mereka sebelumnya, menurut penilaiannya, mereka bukan benar-benar asing.
Karena saat Ning Yu bercanda, Yu Ye tidak menunjukkan wajah kesal.
Tunggu.
Kenapa Ning Yu bilang, “Aku tahu kamu lagi nunggu siapa”?
Tapi segera Meng Qi paham, kalau sudah nonton acara ini pasti tahu, waktu itu Yu Ye memang mengira yang datang adalah dirinya.
Jadi ucapan Ning Yu itu masuk akal.
Tapi kalimat berikutnya dari Yu Ye, “Aku nggak nunggu siapa-siapa,” terdengar seperti kebohongan.
Jadi, Yu Ye benar-benar sedang menunggu aku?
Meng Qi mengangkat alis, ragu.
Lalu ia melihat adegan Yu Ye membelikan cokelat panas untuk Ning Yu.
Saat itu, satu kata yang terlintas di benak Meng Qi: asing.
Kalau bukan karena menonton acara ini, kapan lagi ia melihat Yu Ye diam-diam tanpa ngomel sedikit pun, langsung membelikan minuman untuk orang lain?
Biasanya kalau bersama mereka, dia pasti cari alasan supaya orang lain yang pergi beli, atau kalau pun harus dia sendiri, pasti sambil menggerutu ribuan keluhan.
Meng Qi tak tahan untuk mengejek dalam hati.
Jadi ternyata dia tahu juga apa arti kata “gentleman”?
Jadi ternyata dia bisa juga berbicara baik-baik pada orang lain!
Ternyata dia juga bisa menahan diri untuk tidak usil!
Meng Qi langsung menutup video itu. Seharusnya tadi ia tidak perlu menontonnya!
Saat itu Yu Ye sedang memberi penjelasan naskah pada para peserta audisi. Tiba-tiba ia bersin dua kali berturut-turut.
Suara keras itu menggema di ruang latihan yang kosong, membuat peserta yang tadinya mengantuk langsung terjaga.
“Guru Yu,” tiba-tiba salah satu peserta laki-laki berkulit agak gelap bersuara, “Ini mirip adegan di naskah, waktu tokoh utama pria tiba-tiba hidungnya gatal saat sendirian di rumah pada malam hari.”
Semua peserta tertawa, sementara Yu Ye mengernyit.
“Kamu paling cepat merespons, ya? Bagus, malam ini hafalkan semua naskah. Besok pagi aku cek khusus kamu.”
*
Meng Qi memang tipe pekerja keras. Kalau lebih dari dua hari tidak bekerja di rumah, ia mulai merasa gelisah.
Ia ingin mengajak Zhong Yu keluar, tapi Zhong Yu sedang dinas luar kota.
Zhong Yu mengirim pesan: [Nanti dua hari lagi kalau aku pulang, kita makan bareng ya.]
Meng Qi berputar-putar di rumah tanpa tujuan, akhirnya entah kenapa ia kembali membuka acara “Cinta Sempurna”.
Ia menonton dari episode pertama, tanpa sadar menonton seharian penuh.
Awalnya ia menganggap komentar para penonton itu berlebihan, tapi lama-lama ia bisa menebak sendiri apa yang akan mereka tulis, bahkan akhirnya merasa apa yang mereka dukung ada benarnya juga.
Apa ini yang namanya pesona reality show?
Tak heran ada pasangan di acara begini yang benar-benar membuat orang jadi terbawa perasaan, kalau saja ia bukan salah satu pelakunya, mungkin ia juga sudah tak bisa membedakan mana nyata mana sandiwara.
Meng Qi menonton sampai pukul tiga dini hari, baru sadar sebentar lagi ia harus pergi syuting video klip. Ia pun buru-buru memakai masker wajah lalu tidur.
Seolah belum lama tertidur, ia sudah terbangun oleh suara petir yang menggelegar.
Sudah jam delapan, tapi langit di luar masih kelabu.
Dahan-dahan pohon di kompleks bergoyang diterpa angin kencang, hujan deras menampar kaca jendela menimbulkan suara berisik.
Sempurna, memang kalau kerja bareng Yu Ye, pasti ada saja halangannya.
Untung saja bagian yang harus diambil pagi ini semuanya di dalam studio, tinggal berdoa semoga hujan reda siang nanti.
Baru selesai mandi, Tang Cancan sudah menghubungi dan menyuruhnya turun.
“Wah, hari ini dingin banget,”
Di mobil, Tang Cancan sudah menyalakan AC hangat dari tadi. Begitu masuk, Meng Qi langsung merasa nyaman.
“Kak, barusan kru acara ngabarin, pesawat Guru Yu tertunda, sekarang dia lagi buru-buru naik kereta cepat pulang.”
Meng Qi sempat tidur sejenak di mobil, dan ketika bangun, Tang Cancan memberitahunya kabar buruk itu.