Bab 82: Pesta Piyama

Cinta manis di acara realitas, mereka ternyata teman masa kecil! Li Yaya 2470kata 2026-02-08 21:20:21

Pukul delapan malam, pesta piyama pun dimulai tepat waktu.

Saat kamera dinyalakan, layar menampilkan ruangan yang kosong tanpa satu pun orang. Jelas, para tamu sudah menyiapkan pertunjukan peragaan piyama untuk semua orang.

"Selamat datang di Pesta Piyama Cinta, berikutnya mari sambut para tamu spesial malam ini."

Begitu musik mengalun, lampu ruangan seketika berkilauan.

"Pertama, mari kita sambut Pasangan Matahari dan Bulan: Adrian Surya dan Luna Wening!"

Begitu kalimat itu selesai, sepasang pria dan wanita menawan memasuki ruangan, mengenakan piyama pasangan dengan model yang sama.

Sesampainya di tengah, Luna Wening bersandar pada Adrian Surya, meletakkan siku di bahunya. Sementara tangan Adrian melingkar erat di pinggang Luna.

Para penonton pun langsung menjerit girang di kolom komentar.

"Benar-benar pasangan asli, auranya terasa sekali."

"Ini baru tontonan yang kami tunggu-tunggu!"

"Yang tampil setelah ini bisa nggak sih, setara dengan mereka?"

Jelas saja jawabannya tidak.

Tamu-tamu berikutnya tampil satu per satu.

Pertama, Tania melompat keluar dengan piyama monyet lucu model terusan.

"Anak perempuan kita tetap imut."

"Haha, piyamaku sama persis, cuma punyaku motif katak."

Kemudian, Yanuar tampil dengan kaus putih polos dan celana olahraga.

"Cowok tuh rata-rata suka model begini, mantanku juga piyamanya begitu."

"Berarti secara nggak langsung, kamu pacaran sama Yanuar."

"Hahahaha, ya boleh juga."

Selanjutnya, Siti memilih gaun tidur hijau zamrud yang tampak begitu elegan.

"Benar saja, perempuan cantik bahkan ke kamar tidur pun tetap anggun begini."

"Kak Siti, tubuhmu benar-benar idaman, pingin nempel terus deh."

Lalu, Gino dan Rendi masuk berurutan. Keduanya memakai piyama merek sama dengan warna berbeda, serta gaya rambut kembar, benar-benar seperti salinan satu sama lain.

"Hahaha, ini juga pasangan serasi, kan?"

"‘Pasangan Serasi’!"

Penggemar pasangan Adrian-Luna menanti dengan sabar hingga akhirnya Manda tampil.

Ia mengenakan piyama berbulu warna putih bermotif polkadot merah muda, kerahnya dihiasi renda berbentuk bunga. Rambutnya dikepang dua, tampak segar dan menggemaskan. Saat sampai di depan, ia mengayunkan kedua kepangnya dengan tangan, terlihat ceria dan manis.

Penonton merasa gaya ini seperti pernah dilihat sebelumnya.

"Ini kan piyama yang dipakai malam tahun baru itu, lucu banget! Jujur banget, Manda."

Yang lain tampak memakai piyama baru, tapi Manda benar-benar memakai piyama favorit dari rumah.

Akhirnya, giliran yang paling ditunggu: Yuda.

Ia jarang membagikan kehidupan pribadinya, justru karena itu membuat banyak orang penasaran.

Yuda memilih piyama sutra biru tua, sangat cocok dengan citranya. Kain tipis menyatu dengan kulitnya yang putih dingin, bergerak ringan mengikuti langkahnya, membuat siapa saja yang menonton jadi salah tingkah.

"Wah, Kak Yuda ternyata gayanya begini."

"Kak Yuda memang berani, aku sampai deg-degan sendiri lihatnya."

"Ssssst, aku kayak ngintip otot dada Kak Yuda, deh."

"Maaf, fokusku beda. Celananya nggak kependekan ya? Haha."

"Mau gimana lagi, kakinya Kak Yuda memang kepanjangan."

Dengan tubuh tinggi dan kaki jenjang, Yuda berjalan di karpet hotel dengan piyama, serasa model di atas runway. Para tamu lain pun bersorak ramai.

Hanya Manda yang tampak biasa saja melihat Yuda, sekadar ikut bertepuk tangan bersama lainnya.

Yuda berkeliling sejenak lalu duduk di sofa di sebelah bean bag Manda. Hanya dengan satu gerakan itu, para pengamat hubungan langsung menganalisis secara khusus.

"Tuh kan, Yuda pasti duduk di dekat Manda."

"Aku juga sering perhatikan, kalau ramai-ramai Yuda pasti cari Manda."

"Mau gimana lagi, pasangan muda memang susah dipisahkan."

"Ngomong-ngomong, mereka kayaknya beda musim ya bajunya."

"Haha, iya, kayak pangeran dan Cinderella."

"Tapi tetap saja, rasanya manis banget."

Suara narator Pak Chan terdengar, "Selamat, sekarang kalian sudah saling bertemu dengan pakaian tidur."

Para tamu: ?? Rasanya agak aneh, tapi ya sudahlah.

"Besok adalah kesempatan terakhir kalian berkencan sebelum membentuk pasangan pura-pura," lanjut Pak Chan.

"Kalian akan dibagi menjadi empat kelompok untuk berkencan. Berdasarkan hasil voting warganet, lokasi kencan yang tersedia adalah akuarium, bioskop, bianglala, dan kafe kucing."

"Urutan pemilihan lokasi kencan akan ditentukan oleh hasil permainan malam ini."

Saat Pak Chan berbicara, staf membawa alat permainan: monitor detak jantung.

"Selanjutnya, kalian akan dibagi menjadi empat kelompok untuk memainkan sandiwara singkat, masing-masing kelompok beranggotakan dua orang yang harus memakai alat monitor detak jantung."

"Kelompok dengan perubahan detak jantung terbesar dari awal akan mendapatkan hak memilih lokasi kencan terlebih dahulu."

Untuk pembagian kelompok, Pak Chan punya cara unik.

"Sekarang, silakan tulis di kolom komentar, pasangan yang ingin kalian lihat, seperti ‘Manda vs Yuda’."

Manda yang tadinya mengantuk langsung terjaga mendengar penjelasan Pak Chan.

Aduh Pak Chan, jangan asal-asalan menggiring opini warganet, dong.

"Staf kami akan mengambil tangkapan layar secara acak. Pasangan pertama yang tertangkap layar akan jadi satu kelompok, lalu proses berlanjut sampai semua kelompok terpilih."

Wah, seru juga!

Interaksi warganet pun langsung memuncak, kolom komentar mengalir deras.

"Manda vs Yuda!"

"Tania vs Yanuar!"

"Manda vs Yanuar!"

"Gino vs Siti!"

"Rendi vs Siti!"

...

Semua kemungkinan kombinasi dari tujuh orang pun disebutkan.

"Baiklah, komentarnya sudah banyak, saya akan mulai screenshot, ya."

Pak Chan memperlihatkan layar ponselnya ke kamera.

"Tiga, dua, satu!"

"Manda vs Yuda, pasangan sempurna!"

Pak Chan tak hanya membacakan kombinasi pilihan warganet, tapi juga seluruh komentar lengkapnya.

"Wah, benar saja, mereka memang pasangan idaman."

"Aku sudah nggak sabar lihat grup ini."

Setelah itu, kelompok kedua dan ketiga pun terbentuk.

"Tania vs Rendi!"

"Yanuar vs Siti!"

Meski kombinasi ini agak aneh, tapi sudah pilihan warganet, dua kelompok terbentuk.

Gino belum mendapat pasangan karena jumlah wanita kurang satu, jadi satu wanita akan bergabung dua kali.

Pak Chan kembali mengambil ponsel, "Tiga, dua, satu, screenshot!"

"Gino vs Rendi!"

Pak Chan mengernyit, "Ini siapa yang iseng, kita ulangi ya."

"Tiga, dua, satu!"

"Manda vs Gino!"