31. Kepemilikan Buku Catatan (Mohon Rekomendasi dan Koleksi!)
Rock selalu suka menyiapkan dua rencana dalam melakukan sesuatu… kadang bahkan sampai tiga. Lebih baik bersiap sebelum hujan turun, daripada mengasah tombak di medan perang. Inilah Rencana B!
Tepatnya, ini adalah sesuatu yang Rock rancang dalam waktu kurang dari empat jam, setelah mendapat informasi dari Gwen bahwa George juga berniat menyerang pabrik tekstil. Gelandangan yang mengendarai Audi R8 di Kota New York itu, ia sewa dengan seratus dolar. Sementara mobil Audi R8 yang masih baru itu? Tentu saja baru keluar dari dealer.
Kalau si pembunuh itu bahkan tidak bisa bergerak diam-diam, maka pembunuh itu jelas tidak layak. Adapun telepon barusan, itu adalah rekaman yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Sebenarnya… Entah Rock benar-benar dikepung atau tidak, telepon ini—dan buku catatan itu—akan tetap “jatuh” dari pelukannya ketika George menemukannya setelah diculik. Anggap saja semacam hadiah untuk George.
Terlebih lagi, jika pabrik tekstil sudah hancur dan George tak mendapat apa-apa, sudah pasti ia akan dijadikan kambing hitam dan disingkirkan dari kepolisian. Rock selalu memandang rendah Si Laba-laba Kecil yang suka menghancurkan keluarga orang lain, jadi ia tak mungkin membiarkan George dipecat dari Kepolisian New York hanya karena urusannya, membuat kualitas hidup George menurun drastis hingga akhirnya harus mengajak Gwen dan keluarganya hidup di bawah jembatan.
Bagaimanapun, selain menjadi polisi dan memecahkan kasus, George tak punya keahlian lain. Apa boleh buat, hati Rock memang mudah luluh.
Selain itu, Rock pun tak butuh buku catatan itu; bagi dirinya, buku itu hanya membawa masalah. Lebih baik diserahkan pada George, supaya George tidak sampai dipecat begitu saja.
Kate menggeleng pelan pada George. Waktunya terlalu singkat, bahkan belum tiga puluh detik, jangankan melacak, pusat pun belum sempat menyalakan alatnya.
George meletakkan telepon, teringat ucapan di seberang tadi, lalu menatap buku catatan itu. Ia mengambilnya, membukanya, dan… Astaga!
Baru membuka satu halaman saja, wajah George langsung berubah. Kate Beckett yang berdiri di sampingnya ikut melongok, ekspresinya pun tak bisa menyembunyikan keterkejutan.
Sepuluh menit kemudian.
Rock duduk di kursi belakang mobil polisi, menghela napas pelan, lalu berkata pada George yang sedang menyetir, “Tuan Stacy, boleh pinjam telepon? Ponselku tadi dilempar ke lubang lift oleh orang itu.”
“Tentu saja.” George menyerahkan ponselnya pada Rock. “Tapi aku sudah mengabari Gwen.”
Rock menatap George, nadanya datar, “Aku mau telepon asuransi.”
George terdiam. Oh, iya. Ia baru ingat, Audi R8 yang masih terbakar di depan pabrik tekstil itu.
Saat Rock menelepon pihak asuransi, ia bisa mendengar suara sesuatu yang pecah dari seberang. Sepertinya itu suara gelas kopi pegawai asuransi yang jatuh dan pecah berkeping-keping.
Tak lama kemudian, Rock mengembalikan ponsel pada George. “Terima kasih.”
George penasaran. “Bagaimana katanya?”
“Katanya, ia perlu menanyakan dulu, lalu mungkin akan mengonfirmasi pada polisi.”
“Benar juga,” jawab George setelah terdiam sesaat, mengangguk untuk menenangkan, “Tenang saja, kantor polisi akan urus komunikasi dengan pihak asuransi.”
Rock mengucap terima kasih. Kalau dipikir-pikir, dengan premi empat digit, Rock sudah membuat asuransi membayar lebih dari dua ratus ribu dolar untuknya. Semoga pegawai asuransi yang malang itu tidak dipecat.
Tak lama kemudian.
Menara Bintang.
“Rock!”
Begitu mendengar kabar, Gwen yang sama sekali tidak masuk sekolah hari itu langsung berlari dan memeluk Rock erat setelah melihatnya turun dari mobil polisi. Wajahnya yang penuh kecemasan langsung berubah lega. “Syukurlah…”
Tapi ini bukan urusan Tuhan. Akulah takdir itu sendiri!
Demikian pikir Rock dalam hati, menghirup harum wewangian di hidungnya, lalu, begitu merasakan tatapan tajam dari belakang, ia segera melepaskan pelukan Gwen sambil tersenyum, “Terima kasih, Gwen.”
Seandainya Gwen tidak menjawab telepon jam enam pagi itu, lalu mengabari George, rencana Rock takkan berjalan sebaik ini.
Namun… Rock tidak merasa bersalah, atau setidaknya, tidak terlalu. Sebab ia bukan hanya melakukannya demi dirinya sendiri, tetapi juga demi menyelamatkan George.
Lihat saja kekuatan senjata yang dihadapi Rock di pabrik tekstil. Jika George yang datang, apa ia bisa selamat?
Jangan bicara soal lain. Apa ia masih bisa berdiri di sini tanpa luka sedikit pun?
George pun turun dari mobil, sengaja mengabaikan pelukan yang baru dilihatnya, lalu berkata, “Aku sudah bilang ke SMA Midtown, Rock, hari ini kau boleh istirahat di rumah.”
Rock mengangguk. “Terima kasih.”
George melanjutkan, “Tapi nanti mungkin ada yang akan datang untuk meminta keterangan. Kau kan sudah bertemu Pemburu Dosa itu, mungkin saja perlu gambaran darimu.”
Rock menjawab, “Tentu saja.”
George mengangguk, lalu beralih pada Gwen. “Adapun kau, nona kecil, waktunya sekolah. Aku tidak mengajukan izin untukmu.”
Gwen menjulurkan lidah, berkata pada Rock, “Nanti setelah pulang sekolah, aku ke sini lagi,” lalu, di bawah tatapan George, masuk ke mobil polisi.
George pun naik ke mobil. Urusan pabrik tekstil, bagi Rock dan pabrik itu, memang sudah selesai. Namun bagi George, semuanya baru dimulai.
Tak usah bicara soal mayat-mayat dan darah yang membanjiri pabrik, cukup dengan satu buku catatan yang ditemukan di sana saja sudah membuat George harus bekerja keras. Di dalamnya tertulis waktu pemesanan, nama pelanggan, bahkan target pembunuhan. Semua ini harus segera diusut tuntas.
Apalagi, salah satu nama pelanggan itu adalah orang dari Kepolisian New York sendiri, bahkan jabatannya cukup tinggi!
Bahkan… nama Wali Kota New York yang sekarang juga tercantum di sana.
Jelas saja, siapapun yang memegang daftar itu, akan merasa panas dingin. Namun, jika bisa dimanfaatkan, masalah sebesar itu pun bisa jadi angin segar.
Angin baik yang akan membawaku terbang ke awan!
Setelah memastikan putrinya masuk ke SMA Midtown, George langsung memutar kemudi dan meninggalkan sekolah.
“Kate.”
“Sudah kuhubungi,”
“Nyonya Casey akan menunggu kita di Central Park.”
“Baik.”
George menutup telepon, melirik buku catatan yang terbungkus di kursi penumpang, lalu menginjak gas menuju Central Park.
Nyonya Casey adalah salah satu kandidat dalam pemilihan Wali Kota New York saat ini, dan suara yang ia dapat hanya kalah dari wali kota petahana.
Hal yang paling penting, visi misi Nyonya Casey sangat cocok dengan Kepolisian New York. Ia berkomitmen meningkatkan investasi di kepolisian, demi melindungi Kota New York dan warganya dengan lebih baik.
Selain itu, dalam dua tahun terakhir, Nyonya Casey selalu hadir dalam acara penggalangan dana Kepolisian New York. Tidak seperti wali kota sekarang, yang bukan hanya enggan menambah anggaran, bahkan merasa anggaran kepolisian sudah cukup.
George juga tahu kenapa ia dipilih jadi kepala tim khusus itu.
Jika begitu, kau tak punya belas kasihan, aku pun tak perlu berbelas kasihan!
…