Bab Dua Puluh Enam: Yang Dia Pedulikan Adalah Dirimu
Halaman (1/3)
Di dalam rumah batu.
Qiao Liel duduk dengan tenang di atas ranjang kayu.
Mendengar suara, ia menoleh dan melirik Qiao Sisi.
Namun, tak lama kemudian, ia kembali memalingkan wajah.
Qiao Sisi berjalan ke belakangnya dan berkata pelan, “Liel, ada apa? Apa kau tidak suka daging tumis buah merah?”
Sudut mata Liel menegang. Kedua kakinya telah berubah menjadi tubuh ular, menegang erat.
“Kenapa kau hanya menyuapi mereka, tapi tidak menyuapiku?”
Liel tiba-tiba berbalik. Sudut matanya bahkan memerah.
Sisi tertegun.
Ia tidak menyangka Liel marah karena hal itu.
Ia mengeluarkan buah merah yang dipegangnya dan berkata lirih, “Tentu saja karena Ibu ingin menyimpan yang paling besar untukmu.”
Ia memilih satu buah yang paling besar, lalu menyuapkannya ke mulut Liel.
“Cepat, coba. Rasanya enak sekali.”
Liel menatap buah merah yang memang berukuran lebih besar itu dan terdiam. Tubuhnya yang semula menegang pun perlahan mengendur.
“Hmph, aku bukan marah karena kau tidak menyuapiku buah merah.”
“Tentu, tentu. Liel kecilku hanya terlalu lelah, jadi ingin beristirahat sebentar sebelum makan, benar, kan?”
“Benar!”
Liel membuka mulut dan memakan buah merah itu.
Begitu menggigitnya, alisnya langsung berkerut.
Sama seperti Qiao Ang, ia tidak menyukai makanan yang terlalu asam.
Namun, ia tetap menelan buah itu.
“Kalau begitu, Liel sudah cukup beristirahat? Mau makan sekarang?”
Liel meraih buah merah dari tangan Sisi, lalu meluncur turun dari ranjang.
“Aku lapar.”
Melihat tingkahnya yang mendongakkan kepala dan membusungkan dada, Sisi tak kuasa menahan tawa.
Saat keluar, ia mendapati Liel meletakkan buah-buah merah itu di tempat yang paling mencolok di atas meja.
“Buah merah ini yang paling besar.”
Qiao Qiao berkata dengan wajah polos, “Oh, iya. Besar sekali.”
Qiao Ang tidak terlalu tertarik pada buah merah mentah itu, sehingga sama sekali tidak menyadari bahwa Liel sedang memamerkannya.
“Tidak enak.”
Setelah mereka kenyang, Jinlin mengeluarkan batu-batu yang tersisa dari perbaikan rumah pada pagi hari. Dengan cakar tajamnya, ia memahat batu-batu itu menjadi mangkuk dan piring.
Sementara itu, Sisi mengumpulkan rumput yang dijemur sejak kemarin.
“Ibu, untuk apa rumput sebanyak itu?”
“Ibu ingin membuat ransel. Besok, saat pergi mengumpulkan bahan-bahan di gunung, ransel ini bisa dipakai untuk membawa barang.”
Ketiga anak itu segera mendekat dengan rasa ingin tahu.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Sebagai penggemar bertahan hidup di alam liar, menganyam keranjang rumput bukanlah hal sulit bagi Sisi.
Melihat Sisi memilin sejumput kecil rumput kering hingga menjadi seutas tali setebal jari, Qiao Qiao ikut membantu.
Rumput-rumput itu sangat kuat dan lentur, tidak mudah putus, sehingga paling cocok digunakan untuk membuat tas.
Sisi menganyam rumput-rumput yang telah dipilin menjadi sebuah tas selempang.
Setelah selesai membuat satu, ia mencobakan tas itu pada tubuh Qiao Qiao.
“Pakai, Qiao Qiao. Coba lihat.”
Qiao Qiao dengan gembira menyandangnya.
“Ibu, tas ini praktis sekali.”
“Aku juga mau! Aku juga mau!” seru Qiao Ang dengan tergesa-gesa.
“Jangan terburu-buru, semuanya akan mendapat.”
Saat Sisi selesai membuat beberapa ransel, hari sudah hampir gelap.
Malam di suku itu sunyi. Begitu sunyi hingga Sisi dapat mendengar dari kejauhan suara-suara yang seharusnya tidak didengar anak-anak.
Setelah memandikan dan membersihkan ketiga anak itu, Sisi menyuruh mereka berbaring lebih dulu di ranjang.
“Jinlin, bagaimana kau bisa tahu hari ini bahwa Liel marah karena buah merah?”
Sebelum Sisi sempat menyadari alasan Liel marah, Jinlin sudah menyelipkan beberapa buah merah ke tangannya.
Saat itu, Sisi mengira Jinlin menyuruhnya membawa buah-buah itu untuk membujuk Liel.
Jinlin melirik buah merah di atas meja, lalu tersenyum.
“Yang dipedulikan Liel bukanlah buah merah itu, melainkan dirimu.”
Sisi tertegun.
Liel berkepribadian pendiam dan acuh tak acuh. Saat bersamanya, Sisi tidak sebebas ketika bersama Qiao Qiao dan Qiao Ang. Terkadang, ia bahkan merasa sedikit canggung.
Namun, ia lupa bahwa Liel juga seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan penghiburan.
“Mulai sekarang, aku pasti akan lebih memperhatikannya.”
Terkadang Sisi merasa bahwa hati Jinlin bahkan lebih peka daripada hatinya sendiri. Ia selalu mampu memperhatikan hal-hal kecil yang luput dari perhatian Sisi.
“Oh, ya. Aku sudah berjanji kepada Milan untuk pergi mengumpulkan bahan-bahan di gunung bersama mereka besok. Aku ingin membawa anak-anak ikut serta.”
“Baik. Besok aku akan menemani kalian. Sekalian aku akan berburu di dalam hutan.”
Saat memasuki suku itu, Jinlin pernah berkata bahwa ia akan memberikan hasil buruan sebagai kompensasi kepada suku tersebut.
“Ya. Tidurlah lebih awal.”
Karena terus memikirkan kegiatan mengumpulkan bahan-bahan keesokan harinya, Sisi bangun sangat pagi.
Begitu keluar dari rumah, ia melihat Jinlin baru saja kembali sambil membawa dua ember air.
Melihat Sisi, Jinlin tersenyum dan berkata lembut, “Kau sudah bangun? Aku baru saja mengambil air. Bersihkan diri dulu. Dagingnya sudah kupanggang.”
“Terima kasih.”
Sisi baru saja bangun tidak lama, ketika ketiga anak itu pun ikut bangun.
Setelah mereka duduk melingkar di luar rumah dan menyantap sarapan, Milan dan Linmu datang bersama yang lain.
“Sisi, kami sudah siap untuk naik gunung.”
Ketika Milan dan rombongannya sampai di luar rumah Sisi, mereka melihat tungku batu yang dibuat di samping rumah. Mata mereka langsung membelalak karena terkejut.
“Sisi, ka-kalian punya sumber api?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Suku Batu Hitam adalah suku kecil. Walaupun memiliki sumber api, tidak banyak kaum beastfolk di suku itu yang mampu menggunakannya.
“Benar.”
Milan sangat terkejut dan merasa Sisi luar biasa. Bagaimanapun, seluruh keluarganya tidak tahu cara menggunakan api.
“Sisi, mumpung masih pagi, sebaiknya kita segera naik gunung bersama semua orang. Lebih aman jika jumlah kita banyak.”
“Baik.”
Sisi sudah lama bersiap.
“Liel, kalian cepat keluar. Kita akan naik gunung.”
Ketiga anak itu keluar sambil mengenakan ransel yang dibuat Sisi kemarin.
Milan memandangnya dengan penasaran.
“Apa ini?”
“Ini tas yang kubuat sendiri dari rumput. Aku juga membuat satu untukmu.”
Sisi mengambil sebuah ransel dan menyerahkannya kepada Milan. Ia merasa Milan memiliki sifat yang lembut dan bersedia menjalin hubungan lebih dekat dengannya.
Milan sangat gembira. Ia menerima tas itu dan mengamatinya dari atas hingga bawah.
“Aku belum pernah melihat benda seperti ini. Sisi, kau berbeda dari yang mereka ceritakan.”
Sisi hanya tersenyum kecil. Menurutnya, yang dimaksud Milan dengan “berbeda” mungkin berkaitan dengan pandangan orang-orang terhadap para beastfolk pengembara.
“Ayo berangkat.”
“Baik.”
Saat mereka tiba di gerbang suku, sudah cukup banyak kaum beastfolk yang menunggu di sana.
Begitu mereka mendekat, terdengar suara nyaring.
“Milan, cepat kemari! Jangan terlalu dekat dengan para beastfolk pengembara itu. Hati-hati, mereka bisa mencelakaimu!”
Sisi mendongak dan melihat beberapa perempuan dari suku kucing putih yang wajahnya agak mirip dengan Milan. Mereka sedang menatap Sisi dengan penuh kebencian.
Milan buru-buru menjelaskan, “Mili, Sisi orang baik. Dia berbeda dari beastfolk pengembara lainnya.”
Perempuan kucing putih yang dipanggil Mili itu memiliki paras paling cantik, tetapi sepasang matanya yang hijau zamrud dipenuhi keganasan.
“Tidak ada satu pun beastfolk pengembara yang baik. Kalau kau tidak mau mendengarkan dan akhirnya disakiti, jangan datang mencari kami. Ayo pergi.”
Setelah para beastfolk itu pergi, Milan tampak agak canggung.
“Sisi, mereka hanya salah paham terhadapmu…”
“Tidak apa-apa. Apa yang mereka pikirkan tidak penting. Sebaiknya kita pergi mengumpulkan bahan-bahan terlebih dahulu.”
“Baik.”
Suku Batu Hitam tidak terlalu jauh dari pegunungan dan hutan. Tak lama kemudian, mereka tiba di tepi hutan.
Setelah memasuki hutan, Sisi kembali menggunakan kekuatan pikirannya untuk memastikan bahan-bahan yang hendak mereka kumpulkan.
Ada tiga jenis. Yang pertama adalah jamur hitam berbentuk seperti payung, yang disebut Payung Hitam. Yang kedua disebut Buah Emas. Yang terakhir tampak seperti paprika hijau dan disebut Buah Rumput.
Sisi menjelaskan dengan saksama kepada Milan mengenai bentuk Payung Hitam.
Setelah mendengarnya, wajah Milan langsung berubah.
Halaman (3/3)