Bab Lima Puluh: Gelombang (Bagian 1)
“Zhang tua, kedai pangsit di Jalan Sanyuan itu sudah termasuk usaha lama. Jika benar isian dagingnya terbuat dari serat tubuh manusia, bukankah itu berarti ada yang dibunuh?”
Aku benar-benar tak bisa percaya!
Wajah Gao Mujian langsung memucat, “Apa mungkin saluran pemasok dagingnya yang bermasalah?”
Meski belum terbukti, namun membayangkan kalau pangsit yang dimakan ternyata berisi jaringan tubuh manusia, membuat Gao Mujian merasa mual.
“Ah, siapa yang tahu.”
Zhang tua mengangkat gelas bersamaku, berkata dengan santai, “Kalau memang benar terjadi sesuatu, biar polisi saja yang urus. Kita pusing-pusing pun tak ada gunanya.”
Usai berpisah dari Zhang tua, aku dan Gao Mujian berjalan pulang ke perumahan Ruiming. Tiba-tiba, seseorang berjalan dari arah berlawanan dan menabrakku hingga aku terjatuh.
“Da Shan, kau tak apa-apa?”
Gao Mujian buru-buru membantuku berdiri. Aku menggeleng, dan saat menoleh ke belakang, kulihat orang yang menabrakku sudah berjalan semakin jauh.
Aku mendongak, hendak membalas pertanyaan Gao Mujian, namun baru kusadari tanganku menekan dadanya. Seketika, kami berdua terdiam, wajah memerah menahan malu.
Sesampainya di perumahan Ruiming, aku memejamkan mata sejenak untuk beristirahat, lalu mandi air dingin.
Si Hitam, kucing kecilku, kini makin lincah berkat perawatan Zhang tua. Begitu melihatku, ia langsung melompat ke pelukanku, mengeong tiada henti. Kepalanya mendesak-desak dadaku, seolah-olah sedang mengeluhkan kepergianku selama ini.
Setelah bercanda sebentar dengan Si Hitam, aku berbaring di ranjang, menggenggam giok putih itu, berpikir-pikir hingga akhirnya tertidur.
Hari-hari berlalu dengan tenang. Selain bekerja, hubunganku dengan Gao Mujian pun berkembang dari teman menjadi sepasang kekasih, meski sekadar menonton film bersama atau bergandengan tangan.
Selain itu, kami tak pernah melangkah lebih jauh lagi.
Pagi itu, aku bangun lebih awal dan pergi ke Jalan Sanyuan, melewati kedai pangsit yang sempat diberitakan.
Mungkin karena rumor mengerikan yang tersebar, meski kedai itu sudah buka sejak pagi, tak seramai biasanya. Hanya ada beberapa orang di dalam, kemungkinan pelanggan tetap atau pegawai kantoran yang terburu-buru.
Entah karena tak ada asap tanpa api, atau mereka menganggap rumor itu hanya gosip, intinya, orang-orang tetap percaya pada apa yang mereka lihat sendiri, karena itulah yang nyata bagi mereka.
Aku berdiri sejenak. Pemilik kedai yang sedang membuat kulit pangsit memperhatikanku. Aku tersenyum padanya, dan ia melambaikan tangan ramah. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan ke kantor.
Sejujurnya, selama bertahun-tahun aku sudah cukup akrab dengan kedai itu. Pemiliknya, Li Jiao, dan istrinya, Zhang Chenchen, memiliki seorang putra yang sudah menikah. Kabar yang kudengar, putra dan menantunya berbisnis di luar kota, dan pasangan suami istri itu membuka kedai kecil ini untuk mengisi waktu.
Dalam keluarga sederhana seperti ini, menuduh mereka sengaja menjual pangsit berisi daging manusia, sungguh sulit bagiku untuk percaya, terlebih keduanya terlihat sangat ramah dan baik hati.
Mungkin memang benar seperti kata Gao Mujian, masalah ada pada pemasok daging, atau mungkin mahasiswa itu salah mengira.
“Ah, kenapa aku jadi terlalu khawatir begini?”
Aku tertawa kecil atas kekhawatiran yang tiba-tiba muncul.
Tak lama kemudian, aku tiba di kantor dan langsung menuju ruang jenazah.
Shen Huihao tampak senang melihatku, lalu mengobrol tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-harinya.
Menurut Shen Huihao, awalnya ia hanya pekerja kontrak. Kali ini, karena menggantikan Li Liang, Zhang tua melihat kinerjanya bagus, dan kebetulan aku mendadak cuti, maka ia diangkat jadi pegawai tetap dan gajinya pun naik.
Dari ekspresinya, jelas ia sangat gembira.
“Semua ini juga berkat bantuanmu, Kak Fang. Sekarang aku lebih percaya diri dalam bekerja. Malam ini kau ada waktu? Setelah pulang kerja, aku mau ajak beberapa teman minum bersama.”
Shen Huihao tersenyum lebar padaku.
“Malam ini? Bukankah kau harus kerja malam?”
“Haha, Zhang tua memberiku cuti besok.” jawabnya sambil tertawa.
“Oh.”
Aku ragu sebentar. Karena malam ini tak ada agenda, aku pun setuju.
Sepagian aku menganggur. Saat makan siang, Gao Mujian datang mengantarkan bekal. Katanya, ia memang sengaja membuat lebih agar bisa membawakanku.
“Da Shan, kalau kau tidak keberatan, mulai besok aku bawakan setiap hari, ya?”
“Eh…”
Di bawah tatapan hangatnya, aku mengangguk malu-malu.
Setelah makan bersama, Gao Mujian menemaniku duduk di luar ruang jenazah, lalu kembali ke studionya.
Sore harinya, ada jenazah baru dikirim, katanya korban kecelakaan. Keluarga sudah menandatangani surat, tinggal menunggu perias jenazah selesai sebelum dikremasi.
Setelah memasukkan jenazah ke lemari pendingin, aku mengantarkan berkas data mendiang ke lantai dua untuk Gao Mujian. Namun, dia tidak ada di studio.
Baru saja aku meletakkan berkas di mejanya, tiba-tiba terdengar suara dari belakang!
“Hai, bukankah ini Fang Da Shan yang tampan? Baru saja makan siang mesra dengan wanita itu, sekarang sudah tak sabar lagi?”
“Kak Lan.”
Aku memandang wanita yang muncul itu dengan canggung, tak tahu harus berkata apa.
“Haha, Kak Lan hanya bercanda.”
Kak Lan melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya, tubuhnya yang montok sengaja mendekatiku. Dengan santai ia berkata, “Ngomong-ngomong, kau cari wanita itu buat apa? Kalau ada apa-apa, Kak Lan juga bisa bantu.”
“Oh, Kak Lan. Barusan ruang jenazah baru menerima satu jenazah. Aku hanya mengantarkan data almarhum pada Juanzi. Setelah Juanzi selesai mengurus, baru kami lanjutkan proses selanjutnya.”
“Oh.”
Kak Lan melirik berkas di meja, lalu mendekatkan wajah ke telingaku dan berbisik, “Fang Da Shan, menurutmu, siapa yang lebih cantik, aku atau dia?”
“Ah…”
Ucapannya membuatku terkejut dan wajahku langsung memerah.
Kak Lan memang terkenal di kantor, suka menggoda siapa saja. Kata Zhang tua, ia sendiri sudah beberapa kali jadi korban godaan wanita itu.
Tapi menurut Zhang tua, semua itu hanya bumbu di tengah rutinitas kerja yang membosankan.
Namun, di balik itu, rekan-rekan sering membicarakan Kak Lan. Sejak suaminya meninggal, ia jadi sering gelisah, bahkan ada yang curiga ia punya simpanan.
Tapi itu urusan pribadinya. Dalam hal pekerjaan, kemampuan Kak Lan tak perlu diragukan. Karena posisinya di keuangan, semua orang pun segan dan memilih tidak mempermasalahkan.
Karena tatapan Kak Lan semakin tajam mengarah padaku, aku buru-buru meletakkan berkas dan melarikan diri turun ke bawah.
“Huh, anak ini polos sekali!”
Sore harinya, saat jam pulang tiba, aku baru saja berganti pakaian ketika Zhang tua datang untuk menggantikan shift.
Melihatku membawa kotak makan, ia menepuk bahuku dan tertawa, “Xiao Fang, kau benar-benar berubah sejak punya pacar. Janji sama kakak, sebelum usia tiga puluh, tamatkan masa lajangmu!”
Aku hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hati, aku curiga jangan-jangan gaya Kak Lan itu memang karena terpengaruh Zhang tua.
Keluar dari kantor, aku menuju tempat yang dijanjikan bersama Shen Huihao dan yang lain, sebuah kedai makanan kaki lima. Mereka sudah mulai minum duluan.
Melihatku datang, mereka langsung mempersilakan duduk dan menuangkan campuran bir dan arak ke gelasku.
Setelah beberapa putaran minum, aku membantu Shen Huihao yang sudah mabuk ke kamar mandi. Saat itu, dua polisi masuk, membawa foto dan bertanya pada pemilik warung,
“Pernah lihat orang ini?”
“Tidak… belum pernah.”
Pemilik warung mengernyitkan mata, memandangi foto seorang wanita yang tersenyum ramah, lalu menggeleng.
“Baik, terima kasih atas kerjasamanya.”
Setelah hendak pergi, aku tiba-tiba memanggil mereka,
“Pak Polisi Zhou!”