Bab Empat Puluh Sembilan: Rahasia Gua
“Hei, hei, hei, apa yang kau lakukan?” Keisha merasakan Meng Fan bergerak sembarangan, lalu tiba-tiba menyelinap keluar dari pelukannya.
“Ayo!!” Meng Fan berteriak pada Keisha saat berhasil keluar, sambil mengangkat busur dan membidik ke arah Wakil Kedua.
Wakil Kedua, melihat Meng Fan mengarahkan busur ke arahnya, terpaksa memperlambat langkah. Ia melirik lengan kanannya—kalau saja lengannya tidak dilukai anak itu, ia tak perlu mengurangi kecepatan. Sebenarnya, ia bisa saja menangkis serangan hanya dengan satu tangan, tapi sekarang ia hanya punya satu lengan. Jika Meng Fan menembakkan anak panah, ia hanya bisa menangkis dengan lengan kiri. Kalau Keisha ikut menyerang di saat bersamaan, ia akan kesulitan menghadapinya.
Meng Fan terjatuh ke tanah, merasakan darah kembali menggenang di tenggorokannya, namun ia menahan diri, tetap membidik busur ke arah Wakil Kedua.
Keisha yang melihat Meng Fan jatuh, juga berhenti dan berdiri di sampingnya, menatap tajam ke arah Wakil Kedua.
Meng Fan ingin menyuruh Keisha segera pergi, namun darah di tenggorokannya membuat ia tak mampu membuka mulut.
Kedua belah pihak saling berhadapan dalam ketegangan. Semakin Wakil Kedua mendekat, situasi Meng Fan pun kian genting.
Melihat Wakil Kedua semakin dekat, Meng Fan akhirnya menembakkan panahnya. Di saat yang sama, Keisha juga menghunus pedangnya dan menyerbu ke depan.
Panah yang ditembakkan Meng Fan dengan mudah dielakkan oleh Wakil Kedua yang hanya sedikit memiringkan tubuhnya. Sementara itu, Keisha sudah berada di hadapannya, menebaskan pedang ke arahnya.
Wakil Kedua menatap Keisha dengan senyum di wajahnya, menangkis tebasan pedang itu dengan lengan kirinya. Dengan kekuatan yang besar, pedang Keisha pun terlepas dan terlempar jauh.
Keisha jelas tak menduga reaksi Wakil Kedua begitu cepat. Ia tertegun sejenak, lalu dihantam tinju Wakil Kedua di perutnya hingga terlempar dan jatuh di samping Meng Fan.
Meng Fan sebenarnya ingin membidikkan busur lagi, tapi tubuhnya tak mau menurut, bahkan untuk menarik busur pun ia sudah tak punya tenaga. Ia hanya bisa menyaksikan Keisha terlempar tanpa bisa berbuat apa-apa.
Keisha yang terjatuh di samping Meng Fan perlahan bangkit, ingin melawan lagi, namun baru melangkah satu langkah, pergelangan kakinya sudah dipegang Meng Fan.
Meng Fan memuntahkan darah, lalu menggeleng dan berkata pada Keisha dengan suara lemah, “Jangan lanjutkan, cepat pergi dari sini. Kau bukan lawannya.”
Keisha melepaskan diri dari pegangan Meng Fan, lalu berkata, “Aku, Keisha, bukanlah tipe orang yang meninggalkan temannya demi menyelamatkan diri. Apalagi, aku tak pernah mengenal kata mundur.” Sambil berkata demikian, Keisha kembali menghunus pedang, menggenggamnya erat dengan dua tangan, dan kembali menyerbu ke depan.
Keisha menebaskan pedang dengan sekuat tenaga ke arah Wakil Kedua. Ia tidak percaya Wakil Kedua masih bisa menangkis serangan sehebat ini. Namun Wakil Kedua tak menangkis, melainkan menghindar, lalu dengan satu tangan mencengkeram leher Keisha dan mengangkat tubuhnya ke atas.
Keisha terangkat makin tinggi di udara oleh satu tangan Wakil Kedua.
Wakil Kedua berkata pada Keisha, “Katamu tak ada kata mundur, kan? Bukankah kau hebat? Coba tunjukkan kehebatannmu!”
Meng Fan berteriak ke arah Wakil Kedua, “Hei, di sana ada beruang tempur!”
Begitu selesai berteriak, Meng Fan merasa mungkin ada tulang rusuknya yang patah lagi, wajahnya pun meringis menahan sakit.
“Hahaha, kau kira aku tiga tahun? Atau memang hanya cara seperti ini yang bisa kau pikirkan sekarang?” Wakil Kedua mengejek Meng Fan.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar raungan hebat, “Braaak!”
Wakil Kedua buru-buru menoleh. Benar saja, di kejauhan seekor beruang tempur sedang mengaum ke arah mereka.
“Sial, ternyata benar! Celaka, kalian benar-benar sial. Jadilah santapan beruang tempur itu. Berikan sisa manfaat kalian, setidaknya untuk mengulur waktu bagiku.” Sambil berkata demikian, Wakil Kedua melempar Keisha ke tanah dengan kasar, lalu berlari ke depan tanpa menoleh lagi.
Ia tahu, beruang tempur bisa membunuh manusia. Ia sendiri tak bisa membunuh kedua orang itu, kalau tidak akan menimbulkan masalah besar—dendam atau apapun itu bukan soal, yang penting adalah nyawanya sendiri.
Tak tahu sudah berlari berapa lama, Wakil Kedua yang berlari sekuat tenaga merasa tubuhnya semakin lemah, langkahnya melambat, dan seiring efek obat memudar, pandangannya menghitam. Akhirnya ia terjatuh di salju.
“Keisha, cepat lari! Cepat pergi dari sini!” Meng Fan melihat siluet beruang tempur di kejauhan, berteriak pada Keisha.
Namun Keisha seolah tak mendengar, perlahan berjalan ke sisi Meng Fan dan duduk diam di sampingnya.
“Keisha, ayo cepat pergi,” ujar Meng Fan cemas.
Keisha menggeleng tanpa bergerak, tersenyum pada Meng Fan.
“Keisha, kau... cepat... pergi...”
Namun Keisha tetap seperti tak mendengar, perlahan berbaring di samping Meng Fan, menggenggam tangannya erat, wajahnya tenang, bahkan terselip seulas senyuman di sudut bibirnya.
Setelah berkata demikian, Meng Fan merasa duniannya menjadi gelap, tubuhnya seolah tak bisa dikendalikan, terus jatuh, jatuh tanpa henti, seperti tenggelam ke dalam jurang tanpa dasar.
Namun tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menarik tangannya, menghentikan kejatuhannya. Meng Fan merasa sangat nyaman.
Keisha menatap Meng Fan yang telah menutup mata, tetap menggenggam tangannya dengan tenang, merasa damai. Ia berpikir, apapun yang datang, ia tak akan merasa takut lagi. Kematian pun tak lagi menakutkan.
Keisha menggenggam tangan Meng Fan, perlahan memejamkan mata, membatin bahwa kalau memang seperti ini, mungkin itu juga pilihan yang indah.
Tak tahu sudah berapa lama, hal yang dibayangkan Keisha tak juga terjadi. Suasana di sekitarnya begitu tenang. Andai bukan karena masih menggenggam tangan dalam genggaman, Keisha pasti mengira dirinya sedang bermimpi.
Keisha membuka matanya, duduk perlahan, memandang sekeliling, ternyata beruang tempur itu sudah lama tak ada, yang tersisa hanya salju putih yang terasa sangat damai.
Keisha menunduk, memandang Meng Fan, lalu melihat tangan mereka yang masih saling menggenggam erat, wajahnya pun memerah. Namun ia tak melepaskan tangan Meng Fan, tetap menggenggamnya erat.
Dengan sedikit enggan, Keisha akhirnya melepaskan tangan Meng Fan, mengangkat tubuhnya dengan susah payah, menatap ke arah gua di mana mereka sebelumnya berada, lalu melangkah perlahan menuju gua itu.
Akhirnya, Keisha masuk ke dalam gua sambil menggendong Meng Fan. Di dalam gua, tiga orang yang lain masih terikat seperti semula.
Keisha membaringkan Meng Fan di atas batu. Ia mengambil botol obat penyembuh terakhir dari gelangnya, membuka tutupnya perlahan, lalu menuangkan ke mulut Meng Fan. Namun tak setetes pun obat itu tertelan, semuanya mengalir keluar dari bibir Meng Fan.
Keisha memandang obat yang tersisa di botol dengan sedikit kecewa, lalu menatap bibir Meng Fan, seolah mengambil keputusan besar.
Ia menutup kembali botol obat, lalu berdiri dan menyeret satu per satu dari tiga orang yang terikat ke luar gua, membaringkan mereka di salju.
Setelah itu, Keisha kembali ke sisi Meng Fan, mengambil botol obat, membuka tutupnya, dan menahan cairan itu dalam mulutnya.
Keisha perlahan mendekat ke Meng Fan, menatap jelas wajah Meng Fan yang tampan, meski terlihat lemah dan berlumuran darah, namun justru menambah wibawa pada raut wajahnya.
Keisha secara perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Meng Fan, menyalurkan obat yang ada di mulutnya pada Meng Fan.
Tentu saja, saat bibir mereka bersentuhan, wajah Keisha memerah seperti apel matang.
Begitu seluruh obat dalam mulutnya habis, Keisha buru-buru berdiri, menutupi wajahnya yang panas dengan kedua tangan.
“Aku melakukan semua ini bukan karena aku menyukai Meng Fan. Mana mungkin aku suka orang bodoh seperti dia? Aku cuma ingin menyelamatkannya, itu saja. Ya, itu benar,” gumam Keisha, hendak keluar menghirup udara segar, namun baru melangkah satu langkah, ia merasa kepalanya berkunang-kunang.
Meskipun obat sudah diberikan seluruhnya pada Meng Fan, karena diberikan dari mulut ke mulut, tetap masih ada sedikit yang tersisa di mulut Keisha, dan akhirnya tertelan olehnya.
Keisha segera menyadari apa yang terjadi, tubuhnya limbung.
“Tak menyangka, obatnya bereaksi secepat ini,” katanya. Ia semakin mengantuk, seolah sudah lama tak tidur.
Keisha berusaha perlahan berbaring, tapi tubuhnya tak kuat lagi. Kakinya lemas dan ia pun terjatuh. Namun ia tidak membentur apapun, melainkan rebah di sesuatu yang kokoh namun tidak keras, lalu tertidur pulas.
Di luar gua, langit dipenuhi bintang yang menerangi bumi. Tidak ada bulan seperti di Bumi, namun ribuan bintang tetap bersinar, memantulkan cahaya di atas hamparan salju putih, membuat malam tampak indah dan damai.
Perlahan, mentari terbit dari timur, naik ke langit, menyinari padang salju, membawa sedikit kehangatan di tengah dingin yang membeku.
Tak tahu berapa lama telah berlalu, Meng Fan perlahan membuka matanya. Ia merasa ada sesuatu yang menekan perutnya.
Meng Fan menoleh, melihat Keisha tengah tertidur di atas perutnya, wajahnya berseri-seri dalam tidur, pipinya kemerahan, mulutnya bergumam tak jelas, terlihat sangat menggemaskan.
Meng Fan ingin sekali mengelus rambut emas Keisha, namun tiba-tiba merasa itu tak pantas, lalu menurunkan tangannya.
Menatap wajah Keisha yang tertidur, Meng Fan merasa tak tega membangunkannya. Ia menarik napas dalam, membusungkan perutnya, lalu memasukkan tangannya di bawah Keisha, kemudian menghembuskan napas, sehingga kepala Keisha terletak rata di atas tangannya.
Dengan hati-hati, Meng Fan menurunkan Keisha, lalu menarik tangannya perlahan.
Setelah itu, Keisha tetap tidur di atas batu, namun tiba-tiba wajahnya tampak tidak nyaman, keningnya berkerut, mulutnya bergumam, tampak tidak senang, seolah sedang bermimpi buruk.
Meng Fan berdiri perlahan, meluruskan tubuhnya, lalu meneguk air dari kantong airnya. Karena terlalu cepat, ia tersedak dan batuk beberapa kali.
Rasa nyeri di dada membuat Meng Fan segera memijat dadanya. Ia menoleh ke arah Keisha, melihat Keisha masih terlelap, lalu menghela napas lega.
Meng Fan berjalan ke luar gua, menikmati hangatnya sinar matahari, dan mendapati tiga orang tergeletak di salju. Ia seketika sadar sepenuhnya.
Meng Fan melihat mereka, mengingat kembali kejadian yang sempat terlupakan. Ia memeriksa dadanya, lalu berjongkok memeriksa ketiganya. Syukurlah, mereka masih hidup, tidak membeku. Ia segera menyeret mereka satu per satu masuk ke dalam gua dan menyalakan api unggun.
Meng Fan berdiri di pintu gua, menikmati sinar matahari, namun pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Bagaimana ia dan Keisha bisa selamat? Kenapa beruang tempur itu tidak membunuh mereka? Ke mana perginya Wakil Kedua? Dan yang paling misterius, dari mana kekuatan aneh itu tiba-tiba muncul pada dirinya?
Meskipun banyak pertanyaan, Meng Fan tahu yang terpenting sekarang adalah memulihkan diri.
Ia kembali memijat dadanya, lalu duduk di atas batu, memperhatikan Keisha yang masih tertidur.
Namun Keisha tampak tidak tenang, tangannya bergerak gelisah, lalu meraih tangan Meng Fan, menggenggamnya erat seolah menemukan penyelamat.
Kening Keisha perlahan mengendur, bulu matanya bergetar, senyum tipis terukir di wajahnya, dan ia kembali tidur dengan damai.