Bab Tujuh Puluh Tiga: Akhir Ujian Bertahan Hidup
Hari-hari berlalu dengan cepat, waktu seolah melesat. Dalam sekejap, tibalah masa-masa terakhir mereka di tempat itu.
“Hm?” Meng Fan melirik gelang di pergelangan tangannya yang tiba-tiba berbunyi. Ia mengangkat kepala, menyadari sesuatu, lalu melangkah menuju Hua Ye dan yang lainnya.
Belum juga sampai di sisi Hua Ye, suara serupa sudah terdengar. Hua Ye menoleh ke arah Meng Fan, dan Meng Fan pun menatap balik. Saat itu, anggota kelompok yang lain juga telah kembali.
“Nampaknya waktu kita di sini akan segera habis. Bereskan barang-barang kalian, akhirnya kita akan pulang juga.” kata Meng Fan kepada mereka.
Tak ada yang banyak bicara, mereka hanya mengangguk lalu mulai mengemasi barang-barang yang ada di dalam gua. Selama beberapa hari terakhir, mereka sudah sering berburu, sehingga gelang Meng Fan sudah penuh sesak. Kini, ia bisa membuang barang-barang yang tak penting.
Dengan sigap, Meng Fan selesai berkemas. Ia menatap barang-barang yang harus ia tinggalkan, merasa sedikit berat melepasnya.
“Melamun apa? Setelah sekian lama, akhirnya kita bisa pergi dari sini. Meng Fan, kamu nggak senang?” Hua Ye mendekat dan menepuk pundak Meng Fan.
“Yah, lumayan. Tak kusangka kita akan pergi juga. Rasanya hari-hari di akademi seperti baru kemarin, ternyata kini semua telah berlalu,” kata Meng Fan sambil berjalan keluar, menatap gua.
“Kamu kenapa? Lama banget, seperti perempuan saja,” cibir Hua Ye sambil mengorek hidung.
“Pergi sana!” Meng Fan langsung menendang Hua Ye.
“Hei, main kasar! Jangan kira aku gampang dibully!” Hua Ye mengepalkan kedua tangannya, melangkah mendekat.
“Mau coba lawan aku? Sudah lama kita tak bertarung, biar kucek kemampuanmu sekarang,” sahut Meng Fan, ikut mengepalkan tangan.
Pertarungan mereka berlangsung sengit. Meng Fan tak mengandalkan kekuatan atau kecepatannya, hanya mengandalkan teknik, dan Hua Ye pun tahu itu.
Setelah beberapa saat, Meng Fan berseru, “Ada celah!”
Ia langsung merunduk dan menendang kaki Hua Ye. Hua Ye kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Meng Fan segera duduk di punggung Hua Ye yang baru ingin bangkit, lalu meraih kedua tangannya.
“Sialan, berani-beraninya kau! Lepaskan aku!” Hua Ye berusaha melepaskan diri, tapi Meng Fan tetap diam di tempat, mencengkeram kedua tangannya erat-erat.
“Kamu cuma bisa teriak-teriak, kenapa nggak bangun sendiri?” ejek Meng Fan di punggung Hua Ye.
“Tunggu saja!” seru Hua Ye, berusaha lebih keras.
Tapi Meng Fan makin kuat menahan. Tak lama, Hua Ye terengah-engah dan akhirnya pasrah.
Meng Fan pun melepas satu tangan dan menepuk pantat Hua Ye. “Hyaa!”
“Aduh, sialan kau!” teriak Hua Ye.
“Ada apa? Langsung nyerah?” Meng Fan terus mengejek.
“Arrgh!” Hua Ye mengerahkan seluruh tenaganya. Karena Meng Fan hanya menahan satu tangan, Hua Ye akhirnya bisa lepas.
Melihat itu, Meng Fan melompat turun. Hua Ye berdiri menatap Meng Fan.
Meng Fan berkata, “Sudahlah, ternyata kau nggak selemah itu.”
“Kau sudah mempermalukan aku, masa langsung berhenti? Tak segampang itu!” sahut Hua Ye, lalu menyerang Meng Fan.
“Mau coba lagi? Biar kuingatkan sedikit,” kata Meng Fan, mengelak dari serangan Hua Ye.
Ketika Hua Ye hendak menyerang lagi, Meng Fan menangkap lengannya. Sebelum Hua Ye sempat bereaksi, ia sudah diangkat dan dilemparkan ke tanah oleh Meng Fan.
Hua Ye jatuh terguling. “Aduh, kenapa nggak dikasih kesempatan?” keluhnya.
“Makanya, kubantu ingatkan,” jawab Meng Fan.
Beberapa orang yang sedari tadi menonton, tertawa terbahak-bahak.
“Kalian ketawa apa? Nggak ada yang mau bantu? Kalau kalian maju, mungkin kalian lebih parah dariku,” seru Hua Ye dari tanah.
Saat itu, Hua Tao dan Su Mary melangkah maju bersamaan. “Kalau begitu, aku juga ingin tahu, seberapa besar bedanya dengan Meng Fan,” ujar mereka hampir bersamaan.
Keduanya saling pandang dengan heran.
Meng Fan tersenyum, “Langsung saja kalian berdua sekaligus.”
Hua Tao dan Su Mary menoleh, “Gila ini orang, sombong betul.”
Hua Tao memang tahu reputasi Meng Fan, dan sudah memberitahu Su Mary juga.
Meng Fan tertawa, “Memang sombong,” katanya sambil melempar jaketnya ke Hua Ye.
Hua Ye yang tadinya masih duduk langsung menerima jaket Meng Fan dan duduk tegak.
Hua Tao dan Su Mary pun bersiap, menatap Meng Fan. Begitu pula Meng Fan.
Mereka saling pandang, lalu menyerang Meng Fan bersamaan.
Meng Fan mundur sambil melancarkan serangan balasan. Setelah beberapa saat, tiba-tiba Su Mary menendang Meng Fan. Meng Fan menangkis dengan kedua tangan di dada dan mundur beberapa langkah.
Belum sempat ia menyiapkan diri, Hua Tao juga menendang. Meng Fan kembali terdorong beberapa langkah.
Kerja sama mereka sangat kompak, membuat Meng Fan kesulitan membalas, hanya bisa bertahan.
Di saat seperti itu, Meng Fan justru semakin tenang. Akhirnya, ketika Su Mary menendang, Meng Fan menghindar, lalu menangkap kaki Su Mary dan mengangkatnya. Hua Tao hendak menolong, namun Meng Fan memutar Su Mary.
Hua Tao mundur. Saat itu, Meng Fan melempar Su Mary ke arah Hua Tao.
Su Mary melayang ke arah Hua Tao. Hua Tao berniat menghindar, tapi akhirnya ia menangkap Su Mary, membuat mereka berdua terjatuh.
Meng Fan berjalan mendekat, mengulurkan tangan kepada mereka. Keduanya meraih tangan Meng Fan dan berdiri.
Terdengar tawa keras. Ternyata Hua Ye duduk di sana, entah dari mana ia mendapat daging kering dan secangkir minuman.
“Sudah selesai? Aku belum puas menonton. Kalian harusnya bisa menjatuhkan Meng Fan, dua lawan satu pun kalah. Meng Fan, kamu juga payah, masa dua orang saja sudah kewalahan. Mana semangat waktu mukulin aku tadi?” kata Hua Ye sambil makan dan menggeleng.
Meng Fan, Su Mary, dan Hua Tao saling bertatapan, lalu perlahan mendekati Hua Ye.
Hua Ye masih asyik makan, tak sadar apa yang akan terjadi.
Ketika ketiganya sudah dekat, barulah Hua Ye menyadari ada yang tak beres.
“Eh, eh, kalian mau apa? Jangan dekat-dekat!” Ketiganya mendekat, Su Mary dan Hua Tao masing-masing memegang satu kaki, sementara Meng Fan memegang tubuh bagian atas Hua Ye, lalu menyeretnya ke pohon terdekat dan mengarahkan paha Hua Ye ke batang pohon.
Hua Ye panik dan memohon, “Ampun, ampun, aku yang terlemah, aku yang paling lemah!”
Meng Fan melirik kedua temannya, lalu menghitung, “Satu, dua, tiga!” Mereka mulai menyeret Hua Ye mendekati pohon.
Hua Ye terus berteriak minta ampun. Saat hitungan ketiga, mereka melepaskan Hua Ye. Tubuh Hua Ye jatuh ke tanah dengan keras. Ia menjerit, mengira bagian vitalnya bakal celaka.
“Sudah, berhenti teriak. Aman, nggak kena pohon,” ujar Meng Fan yang mulai pusing mendengar teriakan Hua Ye.
Hua Ye membuka mata perlahan, melihat jarak antara dirinya dan pohon hanya satu sentimeter. Ia langsung berkata, “Terima kasih, kakak, sudah menyelamatkan adikku.”
“Pergi sana, dasar banyak omong!”
“Hampir saja, kupikir tamat riwayatku,” Hua Ye menghela napas lega.
Tiba-tiba, sebuah kapal luar angkasa muncul di langit, menarik perhatian semua orang. Kapal itu melayang di atas mereka, sementara gelang di pergelangan tangan mereka berbunyi makin keras.
Pintu kapal terbuka, seorang lelaki bersayap turun dan berkata, “Kalian sudah siap? Kalau sudah, mari naik.”
Mereka saling memandang, memastikan tak ada lagi yang perlu dibereskan. Meng Fan pun berteriak kepada malaikat di atas, “Sudah, kami siap!”
Sekejap, Meng Fan merasakan gelang di tangannya tertarik sesuatu. Tubuhnya pun melayang ke arah kapal, mendarat dengan mantap di dalam kabin, yang ternyata sudah dipenuhi banyak orang.