Dua puluh tiga tahun yang lalu, ayahku meninggal secara misterius. Kulit tubuhnya tergantung di pohon akasia tua di pintu masuk desa. Dua puluh tiga tahun kemudian, kakak tertua yang dulu diadopsikan
Ketika ibuku baru mengandung aku dua bulan, ayahku meninggal dunia. Kematian adalah hal biasa; mungkin orang akan berujar, “Ayahmu pergi terlalu cepat.” Namun jika aku katakan bahwa kematian ayahku adalah misteri terbesar dalam dua puluh tahun terakhir, tentu kalian ingin mendengar kisahnya.
Tepatnya, kejadian itu berlangsung dua puluh tiga tahun lalu.
Pada tahun itu, kulit manusia milik ayahku ditemukan tergantung di pohon willow yang meliuk di gerbang desa. Orang pertama yang melihat kulit itu sudah tiada sekarang, dahulu kami memanggilnya Si Dungu. Konon, saat muda, ia tampan dan sangat rajin, seorang pemuda luar biasa. Setiap hari ia adalah yang pertama ke ladang, dan karena kerajinannya, dialah yang pertama menemukan kulit ayahku.
Aku pernah membayangkan pagi itu: Si Dungu memanggul cangkul, berjalan keluar desa, lalu melihat sesuatu tergantung di pohon willow. Ia mendekat dan mengambilnya, ternyata itu adalah kulit manusia yang dikuliti hidup-hidup.
Membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk berdiri. Tak heran ia menjadi trauma.
Aku tidak pernah melihat kulit itu sendiri, namun kisah ini selalu jadi buah bibir di daerah kami selama bertahun-tahun. Aku tahu detailnya dari cerita orang: Pelaku yang menguliti ayahku sangat terampil, membuat sayatan dari puncak kepala hingga ke bawah, menguliti dengan satu tarikan, persis seperti tukang jagal yang menguliti hewan agar kulitnya tetap utuh.
Kulitnya memang utuh, tapi tubuhnya lenyap. Kepala desa kami berjalan puluhan kilometer ke kota kabupaten untuk melapor ke polisi. Tiga polisi yang