Bab Dua Puluh Sembilan: Hantu Kekeringan
Pada akhirnya aku tetap mengalah dan menurunkan Han Xue. Siapa sangka, begitu aku menurunkannya, dia langsung berkata dengan nada penuh kemenangan, “Sudah kuduga, kamu memang penakut, tak punya nyali.”
Ucapannya itu mengingatkanku pada sebuah lelucon yang pasti sudah banyak orang dengar: sepasang pria dan wanita tidur di ranjang yang sama. Si wanita menaruh semangkuk air di tengah-tengah ranjang dan berkata, “Kalau kamu berani melewati mangkuk air ini, kamu itu binatang.” Si pria mengira si wanita tidak mau, jadi ia tidur nyenyak semalaman. Keesokan paginya, si wanita menamparnya dan memaki, “Tak kusangka kamu bahkan tak sebanding dengan binatang!”
Aku menggosok-gosokkan telapak tanganku dan menatap Han Xue dengan senyum nakal, “Jadi, apakah aku harus benar-benar melakukannya agar membuktikan aku bukan penakut?”
Han Xue menjulurkan lidahnya padaku, “Sudahlah, jangan bercanda lagi. Sekarang jujur, semalam tengah malam itu kamu pergi ke mana?”
“Enggak ke mana-mana, kok,” jawabku.
“Aku bilang, jawab yang jujur! Aku tahu kamu keluar. Tengah malam bukannya tidur malah keluyuran, lalu bertanya hal macam itu padaku, pasti ada sesuatu yang terjadi. Jujur saja, makin jujur makin ringan, makin bohong makin berat,” kata Han Xue.
Naluri wanita memang tajam. Orang bilang indra keenam wanita itu benar-benar luar biasa. Kebetulan, apa yang kualami semalam juga sedang membuatku bingung, jadi aku ingin membicarakannya dengan Han Xue. Aku mengajaknya duduk di sofa, “Sini, aku ceritakan. Aku benar-benar jujur, tapi kamu harus janji nggak akan marah setelah mendengarnya.”
“Tenang saja, selama kamu jujur, aku nggak akan marah,” kata Han Xue.
Lalu kuceritakan kenapa aku keluar tengah malam, dan tentang bertemu Paman Zhuzi. Setelah cerita itu selesai, aku harus membayar mahal karena kebodohanku. Terbukti lagi, kalau seorang wanita bilang tidak akan marah, jangan pernah dipercaya. Begitu aku selesai bercerita, Han Xue langsung mencubit pinggangku, “Jadi perempuan itu telanjang bulat, kamu lihat semuanya?”
“Enggak! Enggak! Aku cuma sekilas aja!” buru-buru aku angkat tangan.
“Sekilas itu seberapa? Bagus nggak?” Han Xue menyeringai.
“Yah, Nona, kita ini guru lho, bisa nggak fokus ke inti masalah? Intinya itu bukan aku melihat tubuh perempuan itu, kan aku sudah menolaknya dengan tegas?” ujarku.
“Mana ada inti masalah! Seorang bajingan tua menjerumuskan bajingan kecil untuk ikut-ikutan! Masih nanya apa lagi! Kakakmu itu benar, memang harus dihajar, kalau bisa sekalian kamu juga dihajar!” Han Xue mendengus marah.
Kulihat Han Xue memang benar-benar marah, tapi entah mengapa aku malah merasa manis di hati. Orang yang sedang jatuh cinta memang bodohnya bukan main. Aku menggenggam tangan Han Xue, “Jangan marah, itu bukan keinginanku juga. Sungguh, Paman Zhuzi sudah mengurusku dari kecil. Aku sangat paham wataknya. Dan dari percakapannya dengan Kakak kemarin, kelihatannya orang yang membunuh Ayahku itu punya pengaruh besar, dan sekarang aku sedang dalam bahaya.”
Bagiku, Han Xue adalah gadis yang manis dan dewasa, walau kadang manja. Kira-kira dia bisa paham maksudku. Tapi ternyata aku terlalu meremehkan kekuatan cemburu wanita. Dia tetap kesulitan keluar dari perasaan itu. Ia bertanya, “Kalau apa yang dikatakan Paman Zhuzi itu benar, dan kamu harus tidur dengan wanita itu supaya selamat, kamu pilih yang mana?”
Kali ini aku lebih pintar, langsung menjawab tegas, “Mana perlu dipikir lagi? Aku akan tetap setia padamu, sekalipun harus mati!”
“Bagus kalau begitu,” Han Xue mendengus lagi.
“Nah, Nona, bantu aku pikirkan, maksud Paman Zhuzi itu apa sebenarnya?” tanyaku.
“Mana aku tahu? Gimana kalau besok kamu tanyakan si Gendut? Aku rasa dia cukup pintar,” kata Han Xue.
Rasanya malam ini aku dan Han Xue tidak lagi berada di frekuensi yang sama. Lagi pula, masalah ini memang tidak ada jalan keluarnya kalau hanya dibahas berdua. Akhirnya kami tidur di tempat masing-masing.
Meski tidur larut semalam, pagi-pagi sekali aku sudah terbangun. Aku ingin sekali pergi ke sekolah untuk menemui Kakek Tiga, ingin memastikan apakah si Dungu benar-benar menemuinya semalam. Namun, baru saja selesai cuci muka dan gosok gigi, kudengar jeritan ibuku. Aku dan Han Xue langsung berlari keluar. Kulihat ibuku sudah terduduk lemas di lantai, di depannya ada sebuah tempayan tanah liat kuno, warnanya kusam seperti barang antik.
Tempayan itu terasa sangat familiar di mataku, tapi aku tak langsung ingat di mana pernah melihatnya. Aku membantu ibuku berdiri, sementara beliau menatap tempayan itu dengan tubuh gemetar, menunjuk-nunjuk tanpa bisa berkata apa-apa karena takut. Han Xue, yang tidak tahu apa-apa, mendekat hendak melihat tempayan itu.
Perasaan familiar terhadap tempayan itu, dibarengi ekspresi takut ibuku, membuat kilasan gambaran muncul di kepalaku. Aku pun teringat di mana aku pernah melihatnya.
“Jangan sentuh!” teriakku pada Han Xue.
Tangannya sudah hampir menyentuh tempayan itu. Mendengar teriakanku, ia langsung berhenti dan menoleh ke arahku, bingung.
Aku teringat malam waktu kecil, ketika Chen Shi menculikku, ia di depan mataku membedah perut si Dungu, mengambil bayi dari perutnya, lalu memasukkannya ke tempayan seperti ini. Ya, aku yakin, inilah bayi itu.
Aku membantu ibuku duduk di tangga, lalu berjalan mendekat dan menendang tempayan itu hingga terguling. Warga desa, yang biasa bangun pagi, mendengar kegaduhan di depan rumah langsung berdatangan. Mereka melihat aku menendang tempayan itu. Tempayan itu berputar beberapa kali di tanah, lalu dari mulutnya keluar dua kaki kecil berwarna hijau.
Semua langsung terkejut, Han Xue bahkan mundur beberapa langkah dan menatapku. Saat itu, ada warga yang cukup berani mengambil ranting dan mencungkil isi tempayan itu.
Beberapa orang mulai muntah.
Yang dikeluarkan dari tempayan itu adalah bayi berwarna hijau, belum sempurna bentuknya. Bayi itu meringkuk, anehnya, kedua matanya membelalak, dan di dahinya menempel selembar kertas kuning.
“Dari mana datangnya bayi mati ini?!” banyak orang mulai bergunjing, sebagian langsung pergi ketakutan.
Wajahku berubah-ubah. Dari semua orang yang hadir, hanya aku dan Han Xue yang tahu siapa bayi mati itu sebenarnya. Melihat warga semakin banyak berdatangan, aku berusaha tetap tenang dan berkata, “Semua jangan terlalu dekat. Di dahi bayi ini menempel kertas kuning, kemungkinan ini semacam mayat hidup kecil yang sedang ditahan oleh pendeta. Kalau bukan, bisa jadi bayi mati ini membawa penyakit menular.”
Begitu mendengar itu, semua langsung mundur beberapa langkah. Kepada Han Xue yang wajahnya pucat, aku berkata, “Han Xue, pergi ke balai desa, panggil si Gendut ke sini.”
Han Xue mengangguk dan berlari ke balai desa. Tak lama kemudian, si Gendut dan Chen Qingshan datang bersama. Begitu melihat bayi itu, si Gendut langsung paham, “Wah, dari mana ada bayi kering seperti ini!”
Warga yang melihat kedatangan si Gendut langsung merasa tenang, karena sudah banyak yang tahu kemampuannya. Mendengar ucapan si Gendut, Chen Qingshan bertanya, “Gendut, apa itu bayi kering?”
“Itu sejenis mayat hidup. Kalau bayi kering muncul, pasti akan terjadi kekeringan panjang. Untung saja sudah ada yang menahan dengan kertas kuning, kalau tidak, bisa-bisa seluruh daerah ini kena kekeringan parah,” jawab si Gendut.
“Lalu, bagaimana cara mengurusnya?” tanya Chen Qingshan.
“Mudah. Cara orang dulu biasanya ditancap kayu pancang, atau dibuang ke jamban. Tapi karena sudah ditahan, dibakar saja,” kata si Gendut.
Mendengar itu, aku langsung melirikkan mata pada si Gendut, memberi isyarat agar jangan dibakar. Kalau benar-benar bayi kering itu dibakar, mungkin tidak apa-apa, tapi masalahnya ini adalah anak si Dungu. Ia sudah berkali-kali datang hanya untuk mencari bayi ini, mana mungkin dibakar? Si Gendut juga bukan orang bodoh. Melihat isyaratku, ia langsung paham dan berkata kepada warga, “Sebenarnya mudah, tapi masalahnya, kalau membunuhnya akan keluar racun mayat. Menghirup racunnya bisa mati, bahkan Dewa pun tak bisa menolong. Lebih baik semua pulang ke rumah, jangan berkerumun.”
Benar saja, mendengar itu, warga langsung bubar. Aku membawa ibuku masuk rumah dan meminta Han Xue menjaganya. Si Gendut, dengan berani, mengangkat bayi itu, memasukkannya kembali ke tempayan, lalu membawanya ke balai desa. Aku dan Chen Qingshan ikut.
Sesampainya di sana, aku bertanya, “Gendut, bukannya bayi itu dulu dikubur di bawah asrama Han Xue? Kenapa bisa muncul di depan rumahku?”
“Kamu tanya aku, aku juga mau tanya kamu. Tapi kalau dugaanku benar, pasti ada yang tahu kita mau menggali bayi itu dan tahu tak bisa dihentikan, jadi mereka mengantarnya langsung ke sini. Delapan puluh persen itu ulah kakek tua itu,” jawab si Gendut.
Sebenarnya, sebelum si Gendut bicara, orang yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah Paman Zhuzi. Dia yang paling ingin masalah ini cepat selesai, terbukti dari sikapnya semalam.
Tapi kalau kata si Gendut, bisa juga Kakek Tiga yang melakukannya, karena semalam memang dia yang berjaga di mata angin desa itu.