Bab Empat Puluh Tiga Kekhawatiran
Anak dewa sungai? Setelah masuk ke air, benda di dalam peti mati membuat si bodoh itu hamil? Sejujurnya, meski selama ini aku selalu berusaha percaya pada si Gendut, tapi kali ini ucapannya membuatku benar-benar bingung. Ini terlalu di luar nalar.
“Apa anehnya? Kau kira persembahan Dewi Sungai Kuning kepada dewa sungai itu supaya dewa sungai makan dagingnya? Kalau cuma mau makan, kenapa harus perawan cantik jelita? Makna sebenarnya, persembahan itu untuk dijadikan selir dewa sungai,” kata si Gendut.
“Omong kosong,” bisikku pelan.
Si Gendut tertawa keras, “Sebenarnya ini cuma dugaan gue, tapi coba pikir, Raja Pencuri, bukankah cuma dugaan ini yang bisa menjelaskan semuanya dengan masuk akal? Hanya karena alasan inilah Nenek Wang dimarahi dewa sungai, dan hanya dengan cara ini pula, anak yang dikubur di titik feng shui itu tak membawa keberuntungan bagi keluarga Chen Batu, sebab anak itu milik dewa sungai.”
“Soal ini aku benar-benar tak paham. Kau sudah banyak makan asam garam, apa pernah benar-benar lihat mayat hamil? Atau memang dewa sungai yang membuat perempuan itu mengandung?” tanyaku pada si Gendut.
“Cerita tentang kehamilan gaib sudah ada sejak zaman dahulu,” jawab si Gendut pelan.
“Menurutmu, berapa besar kemungkinan dugaanmu ini benar?” kutatap si Gendut.
“Delapan puluh persen, paling sedikit tujuh puluh,” jawab si Gendut.
Aku menyalakan sebatang rokok, memikirkan kata-kata si Gendut. Meski tampak mustahil, justru seperti yang dia katakan, hanya dugaan ini yang bisa menjadikan semua keanehan itu masuk akal. Sebenarnya, tanpa harus membuktikan kata-katanya, aku sudah mulai khawatir pada hal lain.
Hal itu berkaitan dengan teman dunia mayaku, gadis yang dijual ke keluarga Chen Batu. Dua puluh tahun lalu, Chen Batu membawa pulang Xu Ailing dari Nanyang Xinye untuk dipersembahkan sebagai Dewi Sungai Kuning kepada dewa sungai. Maka, setelah dua puluh tahun, gadis yang dibawa pulang oleh Chen Batu ini, aku khawatir dia juga akan dijadikan persembahan bagi dewa sungai. Ini sangat masuk akal. Terlebih si Gendut juga bilang, gadis persembahan harus perawan, dan jika mengingat Chen San Kui juga bilang Chen Batu tak mengizinkan mereka menyentuh gadis itu, kecurigaanku jadi semakin kuat.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku bertanya pada si Gendut, “Gendut, kau ingat malam itu, waktu kau menguntitku, Paman Zhuzi memintaku tidur dengan gadis itu? Katanya, kalau aku tidur dengannya, semua masalah selesai. Kita berdua bingung maksudnya apa. Tadinya kupikir itu tentangku, tapi sekarang, menurutmu itu maksudnya?”
Begitu aku selesai bicara, si Gendut menepuk pahanya, “Benar juga! Gadis itu persembahan, harus perawan. Kalau kau tidur dengannya, dia sudah bukan persembahan lagi. Ternyata begitu maksudnya. Kalau memang begitu, gadis itu juga perempuan takdir suram?”
“Tapi kalau bukan perawan, bagaimana dengan si bodoh itu? Dia melahirkan dua anak untuk saudara Chen Batu,” kataku.
“Itu bukti dewa sungainya tak begitu hebat, atau kali ini dewa sungai memang menuntut perawan?” ujar si Gendut, masih terlihat bingung.
Tentang temanku yang tinggal di rumah Chen Batu, aku dan dia sebenarnya cuma sekilas bertemu, tapi menurutku dia gadis cerdas. Masuknya dia ke dalam pusaran ini menandakan mungkin dia juga penggemar detektif. Aku kira dia bisa selamat di rumah Chen Batu karena kecerdasannya, tapi sekarang baru kusadari, Chen Batu memang dari awal membawa dia pulang bukan untuk meneruskan keturunan, melainkan sebagai persembahan. Ini tak pernah terpikirkan olehku, apalagi olehnya. Tapi justru karena itu, aku makin cemas akan keselamatannya. Tadinya aku menyembunyikan hal ini dari si Gendut agar dia tak tahu, tapi sekarang sepertinya sudah tak bisa lagi.
“Gendut, sampai tahap ini kurasa aku harus jujur padamu,” kataku pada si Gendut.
“Aku tahu kau masih menyembunyikan banyak hal dariku, ayo bicara,” si Gendut menatapku.
Aku pun menceritakan bagaimana aku menulis di forum, lalu bagaimana aku berkenalan dengan gadis yang dibeli Chen Batu itu. Setelah mendengarnya, si Gendut berkata, “Tadinya aku cuma yakin tujuh atau delapan puluh persen, tapi setelah kau cerita, minimal sembilan puluh persen. Chen Batu jelas mau mempersembahkan gadis itu. Kalau tidak, mana mungkin tiga anak laki-lakinya bisa menahan diri terhadap gadis secantik itu?”
“Lalu bagaimana? Kita harus selamatkan dia, jangan sampai benar-benar dibuang ke Sungai Kuning,” kataku.
“Begini saja, kau cari tahu tanggal lahir lengkap gadis itu. Apakah dia perempuan takdir suram, aku bisa lihat. Kalau memang benar, kita pikirkan cara. Kalau bukan, punya penyusup di rumah Chen Batu juga bagus. Sekarang kita hanya bisa pastikan Chen Batu niatnya jahat, tapi kita belum menemukan hubungan dia dengan kematian ayahmu,” kata si Gendut.
Aku mengangguk. Soal tanggal lahir gadis itu, dibilang sulit ya memang sulit, tapi kalau mudah juga bisa diusahakan. Hal ini membuatku merasa sangat terdesak. Aku segera keluar dari rumah si Gendut dan mencari Chen Qingshan. Bukan untuk memintanya mengambil tanggal lahir gadis itu, tapi untuk membantuku mengatur pertemuan dengan San Kui secara diam-diam.
Chen Qingshan memang tak paham maksudku, tapi akhirnya dia berhasil menemukan San Kui. Kami bertemu di hutan kecil pinggir desa. Setelah bertemu, San Kui bertanya, “Apa urusanmu mencariku?”
“Kau dengan gadis itu, sudah jadi pasangan belum?” tanyaku pelan.
San Kui menghela napas, “Jangan disebut, memegang tangannya saja belum pernah.”
“Lalu, ayahmu sudah bilang gadis itu untuk jadi istri siapa di antara kalian? Kalian bertiga juga sudah saatnya menikah, masa dikurung terus, jangan-jangan ayahmu sendiri yang mau?” aku tertawa.
“Aku juga curiga, tapi kupikir, ayahku sudah tua begitu, masa iya?” San Kui rupanya polos juga, bisa berkata begitu.
“Belum tentu. Ada pepatah, pedang tua masih tajam,” kataku.
“Sudahlah, jangan bahas itu, bikin kesal saja. Katakan saja, kenapa harus diam-diam mencariku?” tanya San Kui.
“Tak bolehkah cuma ingin ngobrol? Begini, San Kui, desa kita kedatangan seorang ahli feng shui. Hebat sekali orangnya. Malam itu kau lihat waktu dia melawan dewa sungai, kan? Begini, kau berikan tanggal lahirmu padaku, lalu nanti kau juga minta tanggal lahir gadis itu. Nanti aku minta ahli itu cocokkan, siapa tahu kalian berjodoh. Kalau enggak, siapa tahu dia punya cara supaya gadis itu tergila-gila padamu, melihatmu saja langsung tak bisa menahan diri, cuma ingin menyerahkan diri,” kataku.
“Benar ada cara begitu?” San Kui menelan ludah.
“Ada. Pernahkah aku bohong padamu?” kataku.
“Baiklah, nanti aku tanya gadis itu. Kau bantu cocokkan ya,” kata San Kui.
“Oke, tapi ingat, jangan sampai ada orang lain tahu, terutama keluargamu. Kalau mereka tahu dan juga datang padaku, bakal repot,” pesanku.
“Aku bukan bodoh!” San Kui melirikku, lalu buru-buru pulang.
Setelah San Kui pergi, aku berjalan santai pulang. Setelah berbicara dengan Tang Renjie, entah siapa memanfaatkan siapa, yang jelas aku mendapat banyak informasi. Tapi justru karena semakin banyak tahu, bebanku makin berat. Bukan karena situasi makin rumit, tapi karena Tang Renjie bilang, kakekku ternyata mencegahnya menyelidiki kematian ayahku.
Aku memang sejak awal sudah curiga pada kakek gara-gara masalah kakakku yang diadopsikan, dan perkataan Tang Renjie semakin memperkuat kecurigaanku. Sepanjang jalan aku merokok sambil memikirkan masalah ini, merasa sangat lelah. Awalnya Paman Zhuzi, lalu Chen Batu, semuanya tidak sesederhana yang tampak, sangat pandai menutupi rahasia. Sekarang kakekku sendiri juga masuk dalam daftar kecurigaanku. Mereka berdua memang orang luar, tapi kakekku membesarkanku sejak kecil, kakek kandungku sendiri! Sekarang bahkan terhadapnya aku merasa sangat asing, perasaan ini sungguh menyakitkan.
Aku berjalan tanpa memperhatikan jalan, toh ini jalan desa, bahkan dengan mata tertutup pun aku bisa sampai rumah. Tapi tiba-tiba aku menabrak seseorang. Hidungku kena, sakit sekali sampai aku meringis. Aku mendongak, ternyata yang menghalangi jalanku adalah Paman Zhuzi. Dia sengaja berdiri di tengah jalan menungguku menabraknya.
“Paman? Ada urusan apa?” tanyaku padanya.
“Kau mencari San Kui, pasti karena gadis itu, kan?” Siapa sangka Paman Zhuzi langsung menanyakan hal itu tanpa basa-basi.