Bab Empat Puluh: Mendahului Langkah
"Hah, anak anjing yang dipelihara malah menggigit tuannya?"
Melihat Ning Chang'an menyerang lebih dulu, remaja itu mencibir. Tepat pada saat itu, sebuah rantai muncul di tangannya!
Kemunculan rantai ini membuat Ning Chang'an yang sedang melesat maju terpaksa menghentikan langkah serangannya. Ia mengenali benda itu sebagai senjata penakluk musuh yang ditempa dengan sangat baik; pada rantai sepanjang satu meter itu, jalinan rune berpendar gemerlap.
Namun, setelah melihat bentuk rantai itu dengan jelas, Ning Chang'an langsung naik pitam!
Sialan!
Ini adalah senjata penakluk yang bisa berubah bentuk sesuai kehendak pemiliknya. Jika remaja itu hanya memunculkan rantai, mungkin ia tidak akan semarah ini, tetapi ini adalah rantai anjing, lengkap dengan kalungnya! Apakah dia menganggap dirinya binatang, hendak mengalungkan rantai itu di lehernya, dan memaksanya untuk tunduk?
"Mati!"
Ning Chang'an tidak memegang senjata apa pun, namun sepasang tinjunya mampu membuka jalan menuju kemenangan yang tak terkalahkan. Ia menyerang dengan berani, bertekad membantai bocah sombong ini.
Akan tetapi, remaja itu tetap tenang dan berkata dengan enteng, "Di mataku kau hanyalah semut. Aku bahkan enggan bertarung denganmu, cukup dengan rantai anjing ini saja sudah bisa menundukkanmu!"
Setelah berbicara, ia melemparkan rantai itu, mengarahkannya untuk menjerat leher Ning Chang'an.
"Ah..."
Ning Chang'an meraung dengan amarah yang meluap-luap! Belum pernah ada orang yang memperlakukannya seperti ini. Ia menarik kedua tangannya dengan keras, dan dua rantai, satu hitam dan satu putih, muncul di genggamannya.
Itu adalah rantai yang ia wujudkan melalui dua jalur bela diri miliknya! Bukankah keparat di depannya ini suka menghina orang? Kalau begitu, ayo kita lihat. Ia ingin tahu, manakah yang lebih kuat: jalur bela diri misterius miliknya atau senjata ampuh di tangan remaja itu.
"Eh? Harta karun yang luar biasa." Remaja itu mengernyitkan dahi, namun segera tersenyum lebar, "Bagus, aku semakin tertarik padamu. Setelah aku menangkapmu, semua harta ini akan menjadi milikku."
Ning Chang'an tidak ingin bicara. Dibandingkan kesombongan remaja itu, ia lebih muak dengan sikapnya. Sepanjang pertarungan, ia tetap dingin seperti es, seolah-olah sejak awal, di mata remaja itu, ia benar-benar hanyalah pion atau binatang yang bisa dipermainkan sesuka hati.
*Dung!*
Kedua 'rantai' itu beradu, mengeluarkan suara dentuman tumpul. Banyak tulang belulang yang sudah lapuk seketika berubah menjadi debu. Mulut ngarai itu seolah mengalami gempa bumi dahsyat, batu-batu seberat puluhan ribu kati berjatuhan dari dinding tebing, menimbulkan suara gemuruh yang menggelegar.
Remaja itu terkejut. Ia mengerang tertahan sambil mundur beberapa langkah, sudut bibirnya mengeluarkan darah! Jelas sekali bahwa rantai di tangannya itu terhubung dengan jiwanya, sebuah pusaka yang menampung rohnya, sehingga ketika rantai itu menerima hantaman keras, ia pun turut terluka.
Untuk pertama kalinya ekspresi remaja itu berubah. Dengan dingin dan tajam, ia berucap, "Kau... benar-benar telah membuatku marah."
"Aku kira saat ibumu melahirkanmu, dia lupa memberimu emosi," cibir Ning Chang'an! Ia tidak suka membuang kata-kata saat bertarung, tetapi hari ini ia benar-benar sangat murka.
"Kurang ajar! Dalam serangan ini, aku akan menindasmu," bentak remaja itu marah. Tangan kanannya yang menggenggam rantai sedikit bergetar.
Rantai yang baru saja beradu dengan jalur bela diri tadi seketika berubah menjadi tombak perak yang berkilauan! Tombak itu sepanjang dua meter, terang dan bersinar! Hanya dengan satu lirikan, Ning Chang'an langsung merasa sangat tertarik!
Di kehidupan sebelumnya, saat ia merajai langit dan bumi, ia juga menggunakan tombak. Sejak terlahir kembali, alasan mengapa ia belum memilih senjata tempur adalah karena faktor ini. Pedang terlalu biasa, golok terlalu berat, hanya tombak yang menjadi rajanya segala senjata.
"Tombak ini, aku menginginkannya."
Ning Chang'an langsung berkata demikian. Membunuh orang dan merampas harta di tempat seperti ini seharusnya tidak akan menimbulkan masalah besar. Namun, remaja yang mendengar ucapan itu menjadi sangat murka dan berteriak, "Semua orang yang berani bicara seperti itu kepadaku sudah mati!"
Keduanya segera bertarung sengit! Harus diakui, remaja itu sangat kuat. Ia memanfaatkan keunggulan tingkat kultivasinya sepenuhnya dan hampir mendesak Ning Chang'an. Namun, ia juga sama sekali tidak diuntungkan. Ning Chang'an memiliki pengalaman tempur dari kehidupan sebelumnya dan dibantu oleh dua jalur bela diri, sehingga ia semakin berani saat bertarung. Sebaliknya, remaja itu perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
*Buk!*
Setelah keduanya beradu telapak tangan, mereka terpental mundur seratus langkah. Remaja itu meraung, "Siapa kau sebenarnya! Berada di tingkat apa kultivasimu?"
"Tingkat kultivasi? Apakah itu penting?" Ning Chang'an mencibir, lalu menunjukkan tingkat kultivasi aslinya.
"Kau hanya berada di puncak Tingkat Pembukaan Jalur, dan tanpa senjata tempur, tapi bisa bertarung denganku sekian lama tanpa kalah?" Remaja itu terperangah ketakutan! Ia memiliki senjata ampuh dan tingkat kultivasi yang jauh melampaui lawannya, namun ia tidak kunjung bisa menang. Hal ini membuat remaja itu sangat terpukul.
"Jika kita berada di tingkat yang sama, dan aku tidak bisa membunuhmu dengan satu pukulan, aku akan bunuh diri," ucap Ning Chang'an.
Wajah remaja itu memucat! Sombong seperti apa pun dia, ia tidak berani menyangkal kebenaran ucapan itu.
"Jika begitu, aku tidak akan memberimu kesempatan untuk tumbuh."
Niat jahat remaja itu semakin kuat, dan aura pembunuhannya semakin pekat. Tombak di tangannya berubah wujud sekali lagi. Kali ini, tombak itu berubah menjadi sebuah golok besar bermotif kepala hantu.
Keduanya kembali bertarung sengit. Ning Chang'an pun merasa remaja itu sangat mengerikan, benar-benar menguasai segala jenis bela diri. Sejak pertarungan dimulai, remaja itu telah menggunakan setidaknya sepuluh jenis senjata yang berbeda untuk melawannya. Sering kali, perubahan senjata yang mendadak itu hampir membuatnya terluka.
"Dalam tiga jurus, jika aku tidak bisa menundukkanmu, aku akan bunuh diri di sini!" remaja itu berteriak tidak terima. Sejak ia mulai berlatih, ia belum pernah merasa sefrustrasi ini. Ia akan mengeluarkan jurus pamungkasnya dan bertekad membunuh Ning Chang'an dalam tiga jurus!
"Baik, aku tunggu."
Ning Chang'an mencibir. Setelah pertarungan panjang, ia sudah memahami taktik remaja itu. Meskipun ia tidak bisa membunuh lawan dalam waktu singkat karena perbedaan tingkat kultivasi, tetapi jika lawan ingin menjatuhkannya dalam tiga jurus, itu hanyalah khayalan belaka.
Tak lama kemudian, tiga jurus telah berlalu. Ning Chang'an menangkis jarum panjang yang ditusukkan oleh remaja itu dengan satu tangan, lalu mengejek, "Sudah selesai, silakan bunuh diri. Aku yang akan mengurus jenazahmu."
"Ah... raaa..."
Remaja itu merasa sangat malu hingga giginya bergemeretak! Betapa sombong ucapannya tadi, dan betapa keras tamparan kenyataan yang diterimanya.
"Apapun bayarannya, hari ini aku harus membunuhmu."
Remaja itu berucap, dan ruang di sekitarnya mulai bergejolak tidak stabil. Hal ini membuat tatapan Ning Chang'an sedikit berubah! Ia merasakan ada aura mengerikan di dalam tubuh remaja itu, seperti sesuatu yang sedang mendobrak segel, persis seperti naga sejati yang tertidur di dasar jurang yang akan bangkit. Tekanan yang ditimbulkannya terlalu besar!
Tepat pada saat itu.
"Raa..."
"Raa..."
Suara auman naga terdengar bersahut-sahutan! Di dalam ngarai itu, seolah ada sepuluh ribu naga yang mengaum secara bersamaan. Bayangan naga sejati yang tak terhitung jumlahnya terbang dari ngarai, melesat ke langit kesembilan dan menghilang.
Di sana juga terlihat sebuah tanaman berwarna hijau setinggi dua meter dengan bentuk yang aneh. Tanaman itu memiliki sembilan cabang yang menyerupai tubuh naga, dan di bawah setiap cabang tergantung satu buah berwarna merah.
"Rumput Sembilan Naga Api Matahari? Rumput Sembilan Naga Api Matahari yang sudah berbuah?" seru Ning Chang'an dengan terkejut!
Ia tidak lagi mempedulikan remaja itu dan segera melesat menuju ngarai. Setelah melihat gerakannya, remaja itu berteriak cemas, "Berhenti! Jika kau berani masuk ke dalam ngarai, aku bersumpah akan memusnahkan sepuluh turunanmu!"
Namun, mana mungkin Ning Chang'an mempedulikannya? Tujuan utama perjalanannya sudah terlihat, hanya beberapa ribu meter di depan. Sekalipun ada dewa atau iblis yang menghalangi, ia tetap akan menerobosnya!
"Gawat!" hati Ning Chang'an mencelos!
Ia melihat sebuah perisai berwarna merah api sedang meluas dengan cepat, hendak menutupi seluruh ngarai untuk mencegah siapa pun masuk. Jelas sekali bahwa ada orang lain yang telah mendahuluinya!