Sebelas
Kedatangan tim inspeksi provinsi menandai dimulainya proses pergantian kepemimpinan di Kota Nanzhou. Tujuan utama kedatangan mereka kali ini ada dua: menilai kinerja jajaran pimpinan Kota Nanzhou yang sekarang, serta merekomendasikan calon anggota dan anggota tetap komite kota untuk periode berikutnya. Tim ini dipimpin oleh Wakil Kepala Dinas Organisasi Provinsi, Qiao Xiaoyang.
Rapat seluruh pejabat pimpinan kota digelar di Hotel Nanzhou, tempat tim inspeksi menginap.
Ren Huaihang memimpin jalannya rapat. Suara bahasa Mandarinnya yang fasih dan merdu bergema di aula rapat, membuat setiap peserta rapat mendengarkan dengan seksama, takut kehilangan satu patah kata pun. Sekilas, banyak rapat yang terlihat lebih penting daripada rapat inspeksi seperti ini; namun kenyataannya, tak ada rapat yang membuat para pejabat ini lebih serius. Pertama, mereka yang bisa hadir di sini saja sudah menunjukkan status yang tidak sembarangan, setidaknya harus pejabat eselon dua ke atas; pejabat lain tidak berhak hadir. Selain itu, rapat ini menyangkut urusan mutasi jabatan, terlebih lagi jabatan para pemimpinnya—urusan manusia adalah urusan yang paling utama.
Rapat diawali dengan pemaparan laporan pertanggungjawaban dari para anggota pimpinan kota yang menjabat sekarang. Semakin lama, suara bisik-bisik di bawah semakin banyak. Laporan pertanggungjawaban, seperti namanya, adalah penilaian seseorang terhadap kinerja, pemikiran, dan kehidupannya sendiri. Sama-sama bekerja di Nanzhou, siapa baik siapa buruk, semua sudah jelas. Karena itu, beberapa laporan terdengar agak lucu. Meski begitu, mereka semua adalah pejabat, tentu tidak membahas isi laporan secara langsung, melainkan membahas siapa yang laporannya disusun dengan baik, siapa yang penyampaiannya bagus. Padahal semua tahu, laporan-laporan itu dibuat oleh para sekretaris mereka. Para pejabat hanya naik ke podium untuk membacakannya. Ada juga yang menilai dari nada dan ekspresi pembaca laporan, mencoba menerka apakah orang itu akan naik jabatan atau tetap di posisi semula. Cheng Yilu menjadi yang terakhir dari jajaran tetap komite yang membacakan laporan. Laporannya ditulis oleh Chen Yang, lalu ia sendiri menambahkan beberapa perubahan. Saat membacakan, ia sengaja memperlambat nada, sesekali mengangkat kepala untuk melakukan kontak mata dengan hadirin, meski sorot matanya tampak kosong. Namun ia percaya, interaksi singkat itu akan membuat pendengar merasakan keakraban dan keseriusan.
Setelah laporan selesai, Qiao Xiaoyang memimpin sesi rekomendasi demokratis. Setiap orang menerima tiga lembar formulir: satu untuk menilai kinerja tim pimpinan yang ada, satu untuk menilai pemimpin kota yang sekarang, dan satu lagi formulir rekomendasi demokratis yang paling penting. Setelah menerima formulir, ada yang langsung mengisi, ada yang menunggu, ada juga yang mencoba mengintip isian orang lain. Cheng Yilu dengan cepat mengisi formulirnya, melipat dua lalu meletakkannya di atas meja. Meski tampak tenang, hatinya sebenarnya tidaklah ringan. Banyak orang mengira, sebagai Sekretaris Jenderal Kota, ia pasti sangat tahu tentang penataan pejabat di Nanzhou ke depan. Padahal, ia justru lebih sedikit tahu daripada orang luar. Sebagai pejabat, ia tidak mendengar kabar dari organisasi masyarakat, tidak boleh mencari tahu, apalagi bertanya langsung. Jadi, jika ada yang menanyakan, bukannya ia enggan menjawab, melainkan memang tidak tahu. Anehnya, semakin ia tidak menjawab, orang malah semakin yakin ia tahu banyak, hanya saja demi menjaga rahasia pejabat, ia tidak mau bicara sembarangan.
Setelah semua formulir dikumpulkan, Ren Huaihang memberikan pidato singkat.
Dengan raut wajah serius, Ren Huaihang mengatakan bahwa proses pergantian pejabat baru saja dimulai, namun sudah muncul beberapa gejala yang tidak normal. Ada yang terang-terangan meminta jabatan, ada yang ke sana ke mari lobi sana sini, ada juga yang melakukan manuver terselubung. Semua itu sangat tidak wajar, dan sikap komite kota tegas: menentang keras, tidak akan mentolerir. Siapa pun yang kedapatan melakukan lobi jabatan, tidak akan dipekerjakan lagi. Tahun ini, seluruh tim kepemimpinan kota Nanzhou serempak berganti, namun sesuai instruksi pusat, peluang promosi pejabat sangat terbatas. Pejabat yang benar-benar mampu melayani rakyat akan mendapat kepercayaan, sedangkan yang hanya pandai bermanuver dan berprilaku buruk, tidak akan dipakai.
Mendengarkan pidato Ren Huaihang, pikiran Cheng Yilu justru melayang ke hal lain. Inspeksi kali ini dilakukan serentak di seluruh provinsi, tampak sebagai langkah besar. Setelah penilaian, pejabat yang akan dipindah atau ditukar akan mulai terlihat. Dulu Qi Ming bilang Xu Shuofeng akan pindah, kalau benar, kemungkinan besar akan segera jelas. Provinsi bilang menilai tim pimpinan, tapi sebenarnya hanya menilai dua pimpinan utama. Untuk rekomendasi lainnya, pendapat dua pimpinan utama sangat penting, terutama Ren Huaihang. Beberapa waktu lalu, Cheng Yilu mendengar Sekretaris Xu Zhen bilang Ren Huaihang juga akan pindah ke provinsi. Kalau begitu, siapa yang akan memimpin Nanzhou nanti? Wang Shida? Rasanya tidak mungkin. Kalau mungkin, saat Zhang Minzhao ke provinsi, ia sudah punya peluang. Lagipula, ia sudah dua kali menjabat sebagai walikota, seharusnya tidak bisa lagi. Jika bukan Wang Shida, kemungkinan besar orang luar yang akan didatangkan. Maka, susunan pimpinan berikutnya tetap akan sangat bergantung pada pendapat Ren Huaihang.
Cheng Yilu melihat ke atas panggung, Ren Huaihang dan Qiao Xiaoyang berdiri seperti dua paku sejajar. Pidato Ren Huaihang hampir selesai. Sebenarnya ia juga ingin menoleh ke belakang, melihat siapa saja di barisan belakang, tapi ia urungkan. Pada saat seperti itu, menoleh pun bisa dianggap sensitif.
Sebelum rapat berakhir, Cheng Yilu sudah ke belakang, menanyakan pada Kepala Dinas Organisasi, Xu Cheng, apakah semuanya sudah siap. Xu Cheng menjawab sudah. Xu Cheng sedikit lebih tua dari Cheng Yilu, merupakan pejabat pindahan dari luar kota. Karena belum lama bertugas, ia masih belum sepenuhnya mengenal Nanzhou, sehingga jarang bicara dan lebih merendah. Mereka mendengarkan Ren Huaihang menutup rapat, lalu bersiap menemani Ren Huaihang keluar bersama Qiao Xiaoyang. Walikota Wang Shida juga datang, dengan hati-hati menyapa, "Menteri Qiao." Namun Qiao Xiaoyang menyambut ramah, maju dan berkata, "Walikota Shida sudah teman lama, makin hari makin muda!"
"Tua apa, muda dari mana? Menteri ini memang suka menggoda saya," sahut Wang Shida, tersenyum agak kikuk.
"Saya serius, Huaihang, lihat saja, zaman sekarang bicara jujur malah tidak laku, haha," ujar Qiao Xiaoyang sambil melirik Ren Huaihang.
"Iya, iya," Ren Huaihang menanggapi seadanya. Semua beranjak keluar, tampak acak tapi sesungguhnya sangat teratur. Cheng Yilu berjalan paling belakang. Saat ia pelan-pelan keluar, seorang gadis mendekat dan memanggil, "Sekretaris Jenderal."
Cheng Yilu mengangkat kepala, segera mengenali Jian Yun. Ia pun berkata, "Mau liputan berita? Bukannya sudah dibilang tak perlu masuk berita?"
"Benar, saya bukan untuk liputan. Saya cuma mau lihat orang," jawab Jian Yun, tersenyum genit.
"Lihat orang? Siapa?"
"Rahasia, tadi sudah saya lihat. Eh, sudah lihat wawancara khusus yang lalu, kan? Gimana menurutmu? Saya dari kemarin menunggu pendapat Sekretaris Jenderal."
"Bagus, bagus! Soal pendapat, nanti saja, lain waktu."
"Baiklah, saya tunggu, sampai jumpa!" ujar Jian Yun, lalu berlari menghilang di antara kerumunan. Cheng Yilu menatap punggungnya yang gesit, tak kuasa menahan senyum. Pikirnya, memang masa muda penuh kegembiraan, melompat-lompat adalah sifat alami.
Tim inspeksi provinsi kemudian melakukan wawancara pribadi mengenai pembangunan tim pimpinan Kota Nanzhou. Para anggota tetap komite wajib diwawancara. Sesuai aturan, semua anggota tetap komite dan para pimpinan utama dinas kota serta kabupaten harus tetap berada di Nanzhou selama beberapa hari ini, tidak boleh keluar kota, dan siap sedia untuk diwawancara kapan saja. Wawancara berlangsung di ruang rapat kecil komite kota. Para anggota komite jarang berkumpul di rumah seperti ini, namun suasana hati mereka berbeda-beda. Sudah sampai tingkat kota, meski jabatan tinggi, namun ketidakpastian justru semakin besar. Ada yang bilang, makin tinggi jabatan, makin mudah jadi pejabat, sekaligus makin sulit juga. Mudah karena segalanya bisa didelegasikan, cukup memberi arahan saja; sulit karena semakin ke atas, makin tidak tahu apa yang dipikirkan atasan. Kalimat pimpinan, bahkan sepotong kalimat pun, harus dipikirkan berulang-ulang, makin singkat justru makin dalam maknanya. Kalau berhasil menebak, maka pikiran jadi bebas; kalau tidak, itu tanda kepekaan politik kurang, dan untuk berkiprah lebih luas, rasanya sulit.
Cheng Yilu duduk di kantornya, sesekali melihat dokumen, namun pikirannya tidak bisa tenang. Tadi, Sekretaris Jenderal Lin Xiaoshan menelepon, menanyakan kondisi inspeksi di Nanzhou. Cheng Yilu tahu yang dimaksud adalah, apakah ada masalah, terutama apakah ada perbedaan pendapat dengan provinsi. Ia menjawab tidak ada, semua berjalan baik. Lin Xiaoshan senang, bilang di beberapa tempat justru ada masalah, ini menandakan tim di Nanzhou solid. Ia juga bertanya pendapat Cheng Yilu, yang menjawab tunduk pada pengaturan organisasi. Lin Xiaoshan tertawa di telepon, "Percayalah, organisasi akan mengatur dengan baik."
Ucapan Lin Xiaoshan, meskipun samar, mengandung arti tersirat. Sebagai orang dekat pimpinan provinsi, ia pasti tahu kabar mutasi pejabat. Selain itu, Nanzhou merupakan daerah tempat ia pernah bertugas, wajar jika ia perhatian pada mutasi pejabat di sana. Ia menelepon untuk mencari informasi, mungkin juga terkait kepindahan Zhang Minzhao ke provinsi. Dari berbagai informasi, Cheng Yilu yakin peluang dirinya meninggalkan Nanzhou sangat kecil. Namun, apakah tetap di posisi sekarang atau pindah ke posisi lain, itu urusan yang lebih rumit. Meski tampak tak ada pesaing, urusan pejabat tak pernah pasti. Kadang yang tak terduga justru terjadi.
Sekretaris Chang Zhenxing masuk, melihat Cheng Yilu tampak melamun, lalu berkata, "Haha, sepertinya saya datang di waktu yang salah, mengganggu Anda sedang berpikir!"
Cheng Yilu segera berdiri, tersenyum, "Mana ada, saya malah sedang bengong."
"Bengong itu puncaknya berpikir. Kalau sudah tak ada yang bisa dipikirkan, ya melamun," jawab Chang Zhenxing, yang memang suka berfilosofi.
"Itu mah Anda, Pak Sekretaris. Saya kan rakyat biasa," sahut Cheng Yilu merendah.
Chang Zhenxing segera menangkap maksudnya. "Jangan menyindir saya. Sebenarnya hanya pejabat tingkat provinsi ke atas yang bisa 'berpikir', di tingkat kota, apalagi kabupaten, hanya melaksanakan saja."
"Itu benar sekali!" sambung Cheng Yilu. "Tapi ya, kadang ada juga pikiran, hanya saja belum jadi teori."
Chang Zhenxing tampak ceria, mengambil sebatang rokok dan menyalakan. Ia memang perokok berat, terbesar di jajaran komite kota. Cheng Yilu pun ikut meminta sebatang rokok. Biasanya, kalau ada tamu yang memberinya rokok, selalu diserahkan ke Ye Kai untuk dibawa, kadang juga diberikan ke Ma Hongtao, yang juga perokok berat. Chang Zhenxing menimpali, "Kok tumben, ikut-ikutan merokok?"
"Cuma satu batang saja, menemani Sekretaris, tak apa kan?" ujar Cheng Yilu, sambil menebak Chang Zhenxing pasti ada maksud lain. Di gedung komite kota, kecuali para sekretaris di kantor, hampir tak ada yang saling berkunjung. Antar pejabat lebih-lebih lagi. Kalau tidak penting, lebih baik di kantor saja. Hanya Cheng Yilu yang pengecualian, karena sebagai Sekretaris Jenderal, ia memang harus sering keliling, memastikan kebutuhan para pimpinan terpenuhi.
"Yilu, sudah dua tahun di komite kota, ya?" akhirnya Chang Zhenxing masuk ke topik, "Apa rencana ke depan? Ternyata perombakan tim di Nanzhou lebih besar dari dugaan, terutama untuk pimpinan utama. Nyatanya, pejabat utama harus yang paham situasi daerah, supaya mudah menyesuaikan diri, dan baik untuk stabilitas serta pembangunan ekonomi. Huaihang dan Shida, dua-duanya pejabat berpikiran maju, makanya Nanzhou berkembang pesat. Kalau mereka pindah, siapa yang akan memimpin, itu menyangkut masa depan Nanzhou."
Cheng Yilu mendengarkan, menghisap rokok dalam-dalam, lalu meletakkannya di asbak. Chang Zhenxing sudah menyampaikan maksudnya, tinggal menunggu tanggapan Cheng Yilu. Ia tahu, dalam situasi seperti ini, berpura-pura bodoh tidak mungkin, maka ia menanggapi, "Semua tergantung provinsi. Pasti akan mempertimbangkan kondisi Nanzhou. Kita khawatir pun tak ada gunanya."
"Benar juga," sahut Chang Zhenxing, mematikan rokok, lalu perlahan keluar. Tidak lama kemudian, Cheng Yilu mendengar suaranya di kantor Sekretaris Xu Zhen, pelan sekali, lalu sunyi. Cheng Yilu mengerti, Chang Zhenxing tadi bicara soal posisi pimpinan utama. Ia sendiri adalah pejabat nomor tiga di komite kota. Biasanya, setiap kali perombakan, ia pasti ikut dipertimbangkan, entah tetap di tempat atau dipindah dan dipromosikan. Tapi hingga kini belum terdengar kabar ia akan dimutasi, ia sendiri pasti sudah gelisah. Kegelisahannya berbeda dengan Cheng Yilu, yang setidaknya sudah punya sedikit gambaran, sementara Chang Zhenxing benar-benar buta arah.
Sore baru saja dimulai, Fang Haoran datang ke komite kota. Sebagai Ketua Dewan Permusyawaratan, ia juga termasuk yang harus diwawancara. Sebelum tim inspeksi datang, Cheng Yilu mengajaknya ke kantor. Sejak pindah ke Dewan, Fang Haoran jarang ke komite kota, kecuali saat rapat. Sepengetahuannya, hanya satu-dua kali ia duduk di kantor Cheng Yilu, itu pun sebentar sebelum rapat. Chen Yang datang membawakan teh, menutup pintu, lalu keluar.
Cheng Yilu bertanya, "Ketua Fang masih rutin jalan pagi ya? Lihat wajahnya saja sudah tahu."
Fang Haoran memang sudah sepuluh tahun lebih berjalan kaki tiap pagi, sepuluh li setiap hari, cepat pula, hujan atau cerah tak pernah absen, benar-benar luar biasa. Biasanya ia pendiam, tapi soal jalan kaki, semangatnya lain. Ia bilang sekarang menambah jarak jadi lima belas li per hari, dan tidak sendiri lagi, melainkan bersama rombongan puluhan orang. Sangat meriah.
"Beberapa tahun lagi, saya ikut Ketua Fang saja, jalan-jalan, siapa tahu awet muda," canda Cheng Yilu.
"Kamu masih muda! Matahari pagi belum cocok gabung dengan kami yang sudah tua," jawab Fang Haoran. "Nanti kalau sudah masuk ke **, saya pensiun, harus minta Pak Wali Kota jadi ketua kehormatan perkumpulan olahraga lansia, yang penting dana, ya!"
"Ketua Fang sungguh-sungguh? Ah, minum teh saja, minum teh!" ujar Cheng Yilu mengalihkan pembicaraan.
Fang Haoran pun tak melanjutkan, hanya menyeruput teh, lalu berkata, "Wang Shida sepertinya akan pindah. Saya memang tak suka gaya dia. Aneh, plin-plan, tidak jujur, tidak lurus, itu tidak baik."
"Itu urusan organisasi," jawab Cheng Yilu dalam hati, tahu Fang Haoran memang tidak suka Wang Shida, merasa Wang Shida menghalanginya. Jika bukan Wang Shida, ia sendiri mungkin sudah pernah jadi wali kota. Dulu saat jadi Wakil Sekretaris, ia masih menahan diri. Setelah ke Dewan, ia lebih sering bicara, tanpa beban. Karena hal itu, Wang Shida pernah mengeluhkan di rapat, tapi Ren Huaihang tak menanggapi, akhirnya dibiarkan saja. Sekarang Fang Haoran malah makin sering bicara terbuka.
"Saya akan bilang ke tim inspeksi, orang seperti itu jangan diangkat," ujar Fang Haoran, saat Kepala Bagian Organisasi, Li, memanggilnya, memberitahu tim inspeksi sudah datang. Fang Haoran lalu tersenyum ke Cheng Yilu, "Ini kesempatan terakhir, tak bilang pun rugi!"
Cheng Yilu menggeleng, dalam hati memang tidak suka cara Fang Haoran. Walaupun Wang Shida menghalangi jalannya, itu urusan organisasi, bukan Wang Shida yang ngotot. Mengenai kemampuan dan gaya seseorang, tiap orang punya cara sendiri, tidak bisa diukur dengan satu standar. Terlalu sering bicara, malah membuat orang meremehkan.
Dari jendela, daun kamper tampak semakin hijau.
Ponsel di atas meja bergetar tak henti. Cheng Yilu tahu, pesan-pesan itu hanya dua jenis: satu dari Liu Zhuozhao dan Feng Jun, mengabari bahwa mereka sudah merekomendasikan dirinya, sekaligus minta bantuan; satu lagi hanya mengabari bahwa nama Cheng Yilu sudah mereka tulis di rekomendasi. Zaman sekarang, karena kemajuan teknologi, banyak hal yang dulu mustahil kini mudah sekali. Privasi komunikasi makin tinggi, ponsel kecil, hanya pengirim dan penerima yang tahu. Lewat gelombang udara, yang tak bisa diucapkan langsung bisa disampaikan, yang tak bisa diminta langsung bisa diajukan. Kekuatan teknologi benar-benar meresap ke kehidupan sehari-hari manusia.
Fang Haoran berbicara sepanjang sore. Mungkin karena semua tahu itu kesempatan terakhir baginya, tak ada yang menghentikan, dibiarkan saja ia berbicara sepuasnya. Setelah Fang Haoran selesai, sesi wawancara pun berakhir. Tim inspeksi, sesuai aturan, tidak boleh menerima jamuan dari daerah, jadi tak perlu ada yang menemani. Cheng Yilu yang sudah ada janji sebelumnya, pergi ke Dinas Pendidikan untuk menemani seorang wakil kepala dinas provinsi yang datang berkunjung.