Bab 63: Malam di Kota Barang Antik (3)
Aku menatap Takagi Juan dengan bingung, bertanya padanya apakah memang itu maksudnya. Wanita berambut panjang itu lalu menyilangkan tangan di dada, tanpa belas kasihan memotong perkataanku.
“Bodoh, kalau kau tanya seperti itu, bagaimana mungkin gadis itu bisa menjawabmu? Aku benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin gadis sebaik dia bisa menyukaimu!”
Perkataannya membuatku agak marah! Sejak awal dia sudah memaki aku bukan manusia, lalu merebut cerminku, kini dia memanggilku bodoh dan pemuda lugu. Sekalipun aku orang yang sabar dan tak mau mempermasalahkan, bukan berarti dia bisa terus-terusan mempermalukanku!
Dengan dingin aku berkata, “Kita ini tidak saling kenal, urusanku tidak ada hubungannya denganmu, bukan?”
“Kalau begitu, mari kita saling kenal. Namaku Lusi, tak perlu kusebutkan pekerjaanku, kau pasti sudah tahu.” Wanita berambut panjang itu menunjuk ke toko ramalannya, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan padaku untuk berjabat tangan.
Sikap Lusi yang berubah seketika membuatku tertegun. Padahal aku sedang bicara tentang hal yang serius, apakah wanita ini tak mengerti? Aku menarik tangan Takagi Juan yang diam membisu, berniat pergi dan tak memedulikan Lusi. Namun baru saja aku melangkah, tiba-tiba Lusi berkata lagi,
“Aku tahu apa yang sedang kau selidiki, kau tidak ingin tahu dari mana datangnya makhluk jahat itu?”
Sekejap aku berhenti melangkah, menatapnya dengan heran, “Kau tahu?”
“Tergantung, apa kau ingin tahu atau tidak.”
Aku terdiam sejenak mendengar jawabannya, lalu tetap melangkah pergi dengan mantap.
“Lelaki keras kepala!” Lusi mengumpat pelan, melirikku tak senang. Suaranya terdengar dari belakang.
“Bodoh, kalau kau ingin tahu, datanglah padaku. Tapi kalau nanti kau datang, belum tentu aku mau memberitahumu!”
Di perjalanan pulang ke kompleks, aku terus memikirkan kata-kata Lusi, keningku mengernyit, penuh rasa ingin tahu sekaligus curiga! Bagaimana Lusi bisa tahu soal ini? Apakah hanya dengan meramal saja, benar-benar bisa mengetahui seluk-beluknya?
“Mengapa kau tidak mendengarkan penjelasannya?” tanya Takagi Juan.
Aku kebingungan, “Siapa tahu kata-katanya bisa dipercaya atau tidak? Bukankah ramalannya waktu itu juga begitu?”
Malam itu aku sulit tidur, gelisah membolak-balik tubuh, kata-kata Lusi terus terngiang di benakku.
Kau tidak ingin tahu dari mana makhluk jahat itu berasal?
Makhluk jahat yang tak tampak wajahnya dalam peristiwa itu, apa sebenarnya asal-usulnya? Aku akui, aku sangat ingin tahu!
Malam ini Si Hitam pun terus mengeong tanpa henti, membuatku makin sulit tidur. Aku mengelus kepalanya, melihat Si Hitam berbaring di depan ranjang, pupil matanya yang hijau menatap tajam ke luar jendela, penuh kewaspadaan, tubuhnya menegang tak bergerak.
Aneh, ada apa dengan Si Hitam beberapa malam ini?
“Si Hitam.”
Aku memanggil pelan, ia menjawabku dengan suara “meong”.
Pandangan mataku mengikuti Si Hitam ke luar jendela. Beberapa saat kemudian, aku turun dari ranjang dan mendekati jendela. Dari atas, yang tampak hanyalah beberapa lampu penerangan kompleks yang temaram, tak ada apa-apa.
Namun ketika aku hendak kembali ke ranjang, mataku melirik ke bawah, dan mendapati sosok berdiri di bawah cahaya lampu!
Aku terkejut!
Dalam remang-remang, orang itu mengenakan pakaian hitam, berkerudung, wajahnya sulit kulihat jelas karena lampu yang redup, tapi cukup membuatku terkejut! Seketika bulu kudukku merinding!
Siapa yang masih berkeliaran di kompleks saat tengah malam begini?
Kupikir mungkin aku salah lihat. Saat aku memperhatikan lagi, aku bisa merasakan sosok itu pun menatapku, tatapannya dingin seolah penuh kebencian. Tiba-tiba saja Si Hitam melompat ke jendela sambil mengeong, dan ketika aku berkedip, sosok itu sudah lenyap!
Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah selama ini Si Hitam selalu waspada karena orang itu?
...
Keesokan harinya saat ke kantor, aku melewati toko pangsit dan mendapati toko itu tutup.
Ada selembar kertas merah besar tertempel di pintunya, bertuliskan: Suami istri pensiun, tidak berjualan lagi!
“Eh?” Aku tertegun. Suami istri pemilik toko pangsit memutuskan pensiun, apakah karena tekanan dari Li Chengwei?
Dengan rasa penasaran, aku tiba di kamar jenazah untuk mulai bekerja. Saat itu Shen Huihao entah kenapa berdandan rapi, wajahnya tampak berseri-seri.
Aku bertanya untuk apa ia berdandan seperti itu, Shen Huihao tersenyum lebar, katanya keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang wanita yang bekerja di kota kami.
Menurut keluarganya, wanita itu adalah perempuan yang lemah lembut, berwajah segar dan cantik.
Hari ini adalah hari pertemuan mereka, wanita itu telah setuju bertemu dengannya, itulah sebabnya Shen Huihao berdandan rapi, ingin memberi kesan baik di pertemuan pertama.
“Kak Fang, menurutmu, apakah dia akan menolak pekerjaanku?” Shen Huihao tampak gugup.
Aku heran, “Kenapa harus begitu? Kita tidak mencuri, tidak merampok, mengandalkan kemampuan sendiri untuk hidup. Kenapa dia harus menolak pekerjaanmu? Lihat saja, Juan mau-mau saja bersamaku.”
“Iya juga sih.” Shen Huihao tampak lega, mengepalkan tinju dan menunjuk padaku sambil tertawa, “Hahaha, musim semi milikku sudah tiba!”
Aku pun membalas dengan isyarat semangat, memberinya dukungan!
Sepagian aku melamun, teringat sosok di bawah lampu semalam, pikiran berkecamuk. Mendadak aku teringat ucapan Kak Lan.
Aku pun pergi ke ruang keuangan, Kak Lan sedang mengetik di depan komputer. Melihatku, ia bertanya ada keperluan apa.
Aku langsung bertanya, bukankah dulu ia pernah bilang ada seorang pria mencekik lehernya saat ia tidur? Apakah ia sempat melihat wajah pria itu?
Kak Lan terheran-heran dengan pertanyaanku, namun melihat wajahku yang serius, ia mengingat kembali kejadian menakutkan itu, lalu dengan wajah pucat ia berkata malam itu ia hanya sempat melihat sosok pria samar, dan ketika ia menjerit, pria itu tiba-tiba menghilang.
Namun Kak Lan masih mengingat, katanya, “Pria itu sepertinya mengenakan pakaian serba hitam, memakai topi, dan matanya sangat tajam, kejam!”
Aku terkejut mendengarnya. Bukankah pria yang kulihat tadi malam sama seperti yang digambarkan Kak Lan? Apakah pria itu mengikuti Kak Lan sampai ke kompleks?
Kak Lan yang melihat reaksiku bertanya dengan cemas, aku menenangkan diri, tak ingin membuatnya khawatir lagi, jadi aku bilang hanya ingin memastikan saja, lalu buru-buru turun ke bawah!
Setelah berpikir lama, aku merasa ada yang tidak beres!
Aku mencoba menghubungi Huang Zhongtian untuk menceritakan semua ini, namun ponselnya tak aktif.
Akhirnya aku hanya bisa mengirim pesan, menunggu hingga sore, namun Huang Zhongtian tak juga membalas. Aku gelisah, lalu keluar kantor.
Aku naik taksi menuju Kota Barang Antik.
Sejujurnya, ucapan Lusi semalam benar-benar membuatku penasaran, dan setelah semalaman berpikir, aku makin penuh rasa ingin tahu dan kebingungan!
Apakah wanita itu benar-benar tahu asal-usul makhluk jahat itu?
Apakah makhluk jahat itu adalah pria yang kulihat semalam?
Memikirkannya, aku jadi pusing mengingat sikapku pada Lusi semalam dan kata-kata terakhirnya!
Saat itu hampir pukul enam sore, aku tiba di kios Lusi, ternyata tokonya belum buka. Aku pun hanya bisa duduk bengong di depan pintu, menunggunya dengan sabar.