Bab 67: Mayat Hidup (4)
“Lalu, siapa sebenarnya Li Jiao di toko pangsit itu?”
Atas hal ini, Pak Zhang juga mengajukan pertanyaan yang sama!
Ia jelas masih ingat bahwa identitas almarhum saat itu dikonfirmasi sendiri oleh Li Jiao, bahkan beberapa hari terakhir ini ia masih sering mendesak rumah duka, jadi mungkinkah ia telah melihat sesuatu yang gaib?
Aku terdiam sejenak mendengar ini, tahu bahwa kalau tidak menjelaskan dengan jelas kepada Pak Zhang, ia pasti tidak akan percaya perkataanku. Maka aku tak lagi menyembunyikan apapun, kuceritakan kepadanya bahwa kematian almarhum bukanlah kecelakaan, melainkan ada kekuatan jahat yang terlibat!
Mendengar penjelasanku, Pak Zhang tak kuasa menahan diri dan langsung bergidik, wajahnya pun berubah panik!
Bagi Pak Zhang, bertemu hantu atau gangguan makhluk halus mungkin masih bisa dihadapi, tapi jika ternyata jenazah yang hendak dikremasi itu bukan Li Chengwei, itu sudah melanggar moral publik!
Paling ringan, ia akan dicopot dari jabatannya, paling berat bisa mendekam di penjara. Sebagai penanggung jawab rumah duka, tentu saja semua kesalahan akan jatuh padanya!
Memikirkan hal itu, Pak Zhang buru-buru masuk ke ruang kremasi, menghentikan dua petugas yang tengah memindahkan jenazah untuk dibakar!
“Aduh, harus bagaimana ini!” Pak Zhang mondar-mandir seperti semut di atas wajan panas.
Gao Mujian berkata, “Pak Zhang, bagaimana kalau kita laporkan saja ke polisi?”
“Tidak bisa, kalau benar jenazah ini bukan Li Chengwei, dampaknya pasti besar. Nanti kalau sampai masuk berita dan dilebih-lebihkan, aku pasti jadi sorotan!”
Gao Mujian menyarankan lagi, “Bagaimana kalau kita minta tim forensik memastikan lagi identitas jenazahnya?”
“Itu juga tidak baik, begitu hasil forensik keluar, aku malah dianggap menipu! Aduh... ini semua salahku yang lengah, harus bagaimana lagi ini!”
Satu solusi tak bisa, yang lain juga tak tepat, Pak Zhang jadi makin panik, keringat bercucuran di dahinya!
Ataukah, pura-pura tak tahu lalu langsung kremasi saja jenazahnya?
Baru saja pikiran itu terlintas, Pak Zhang sendiri langsung kaget dengan dirinya sendiri. Sejak kapan ia jadi begitu tak berperasaan demi kepentingan diri sendiri!
“Pak Zhang, ini bukan sepenuhnya salahmu. Siapa yang akan menyangka kalau almarhum ternyata orang lain? Lagi pula, keluarga juga sudah memastikan dan menandatangani identitasnya, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri!”
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Pak Zhang, tapi aku menghiburnya, “Aku kenal seorang komandan di wilayah ini, mungkin dia bisa membantu kita.”
“Yang waktu itu datang mencarimu itu?” Mata Pak Zhang langsung berbinar!
Aku mengangguk, dan atas desakan Pak Zhang, aku menghubungi Huang Zhongtian. Aku menceritakan kepadanya kejanggalan pada jenazah itu dan kemungkinan bahwa mayat itu bukan Li Chengwei, lalu Huang Zhongtian bilang ia baru saja sampai di Jalan Sanyuan, dan akan segera ke rumah duka.
Tak lama kemudian, Huang Zhongtian datang dengan mobilnya dan berhenti di depan gedung kantor. Aku dan Pak Zhang segera keluar menemuinya.
Setelah membawa Huang Zhongtian melihat jenazah, aku bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?”
“Yang paling penting sekarang adalah memastikan identitas asli almarhum!”
Sambil berkata demikian, Huang Zhongtian langsung menelepon seseorang, sepertinya meminta agar dikirim orang untuk membantunya di sini, sekaligus membawa tim forensik.
Mendengar tim forensik akan datang untuk memeriksa jenazah, Pak Zhang hampir saja ambruk di depanku!
Andai tahu sejak awal akan seperti ini, untuk apa ia menerima saran Fang Dashan sebelumnya!
Sekejap, Pak Zhang bersandar di belakangku, berbisik dengan cemas, “Xiao Fang, apa temanmu itu benar-benar bisa diandalkan? Kenapa harus bawa forensik segala, jangan-jangan nanti hasilnya keluar, aku malah langsung diborgol?”
“Ini…”
Pertanyaan Pak Zhang membuatku terdiam!
Aku sendiri tidak yakin apakah Huang Zhongtian bisa diandalkan, mungkin ia memang akan menangani kasus ini sebagai kasus makhluk jahat, tapi kalau nanti hasil forensik menunjukan itu benar-benar Li Jiao, dan kasus ini terungkap, bukankah Pak Zhang akan ikut terseret?
Gao Mujian yang mendengar, tampak juga cemas di wajahnya yang cerdas itu.
Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku sampaikan kekhawatiran ini kepada Huang Zhongtian, sekaligus menjelaskan bahwa Pak Zhang tidak bersalah dan hanya lalai, lalu kutanyakan apakah Pak Zhang akan ikut dituntut?
Huang Zhongtian menatapku dengan senyum penuh teka-teki, lalu berkata santai,
“Menurutmu bagaimana?”
Aku hanya bisa membalas tatapan itu dengan wajah cemberut, merasa tak lucu sama sekali.
Tapi dari sikapnya, aku paham maksudnya. Kalau memang ia mau menuntut Pak Zhang, pasti ia tidak akan setenang itu.
Dengan begitu, aku pun merasa lega dan memberi isyarat kepada Pak Zhang agar tenang. Pak Zhang pun langsung merasa lega, tubuhnya yang tegang menjadi lemas dan hampir saja jatuh lagi ke pelukanku.
Begitu para petugas khusus datang, Pak Zhang memimpin mereka untuk melakukan pemeriksaan jenazah, sementara Huang Zhongtian memberi pengarahan kepada mereka, lalu berkata kepadaku,
“Ayo, kita harus menemui makhluk jahat itu.”
Aku mengangguk, tahu bahwa yang dimaksud Huang Zhongtian adalah pergi ke toko pangsit itu. Saat aku hendak berjalan bersamanya, Lucy yang sedari tadi bermain kartu di sudut ruangan pun mendekat, berkata dengan tenang,
“Aku ikut.”
“Ini…” Aku memandang ke arah Huang Zhongtian.
Mungkin baru saat itu Huang Zhongtian memperhatikan wanita berambut panjang itu, ia menatap Lucy dengan heran dan sedikit terkejut, tapi anehnya ia tidak berkata apa-apa, seolah-olah diam-diam mengizinkan Lucy ikut, membuatku merasa semakin bingung.
Belum sempat aku bertanya, Gao Mujian juga mendekat dan berkata dengan khawatir, “Dashan, hati-hati ya.”
Aku membalasnya dengan senyum lebar.
Kami bertiga pun menuju ke toko pangsit. Dalam perjalanan singkat selama beberapa menit itu, Huang Zhongtian mengendarai mobilnya sendiri, dan sepanjang jalan tampak penuh misteri.
Ia memberitahuku bahwa di bagasi mobilnya ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menghadapi makhluk jahat. Aku baru saja hendak melihatnya, langsung dicegah oleh Huang Zhongtian!
“Kau tidak membawa senjata berbahaya, kan?” aku menebak.
Huang Zhongtian hanya tersenyum tanpa menjawab, sementara Lucy tampak sama sekali tidak tertarik.
Pintu utama toko pangsit itu sudah digembok rapat, di papan pintunya tertempel kertas pengumuman kepergian pemiliknya. Saat ini, kalau kami ingin masuk, harus membuka kunci itu lebih dulu!
Namun, Huang Zhongtian tidak berniat masuk lewat pintu depan. Ia membawa kami ke belakang, di mana terdapat sebuah jendela kaca yang juga terkunci rapat.
Tanpa banyak bicara, ia langsung menggunakan sikunya dan dengan sekali pukulan, kaca jendela itu pun pecah berderak. Dengan sigap, Huang Zhongtian langsung melompati jendela dan masuk ke dalam!
Aku terbelalak, lalu berbisik, “Kau yakin kita masuk seperti ini tidak akan menimbulkan kegaduhan?”
Lucy di sampingku hanya menanggapinya dengan sinis,
“Di dalam tak ada satu pun orang, mau siapa yang dikagetkan? Paling-paling cuma hantu!”
“Hantu?”
Jujur saja, di malam gelap dengan angin kencang seperti ini, kami menerobos masuk ke rumah orang di tengah malam, mendengar ucapannya itu membuat bulu kudukku merinding!
Tapi, bagaimana Lucy bisa tahu bahwa di dalam tidak ada seorang pun?
Apa Huang Zhongtian juga sudah tahu sebelumnya?