Bab 63: Lelaki Sejati Tak Takut Racun
Sang putri sudah selamat, selanjutnya adalah mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Zhu Youjian telah kehilangan putranya, tapi ia khawatir orang-orang seperti kalian tidak berani menyelidiki lebih dalam. Tapi aku tidak takut! Aku akan menuntut keadilan untuk Putri Zhaoren!
Aku akan membuat kalian hancur berkeping-keping!
Li Hui membawa Wang Zhixin beserta beberapa pelayan istana yang menjadi anak buahnya. Wang Zhixin berlutut di tanah, namun ia tetap tenang tanpa rasa takut dan berkata, “Paduka, hamba tidak tahu ada urusan apa sehingga Paduka memanggil hamba kemari?”
Chongzhen melihat Wang Zhixin masih begitu tak tahu malu meski ajal sudah di depan mata, ia pun naik pitam, “Li Hui, patahkan dulu dua kaki budak hina ini!”
“Paduka, ampunilah hamba! Ampunilah hamba! Apa salah hamba, Paduka? Pasti ada orang yang menebar fitnah, jangan dengarkan hasutan mereka, Paduka. Hamba sangat setia pada Paduka, langit dan bumi bisa menjadi saksi! Hari ini hamba dibawa kemari oleh Pengawal Istana tanpa kejelasan, Paduka!”
Budak hina model begini, saat orang lain menuduhnya ia minta bukti rinci, tapi saat menuduh orang lain, cukup dengan mulut besarnya saja. Terhadap budak seperti ini, baru akan sadar kalau dihajar habis-habisan. Kalau sekali belum sadar, hajar beberapa kali lagi pasti paham!
“Hajar saja! Habis dihajar baru tanya!”
Meskipun urusan Putri Zhaoren tidak ada kaitannya denganmu, tapi apa dosamu selama ini masih kurang? Jangan kira aku akan berterima kasih hanya karena kau pernah menyumbangkan sedikit uang, sekalipun masalah putri tidak ada sangkut pautnya denganmu.
“Siap, Paduka!”
Li Hui memerintahkan Pengawal Istana untuk mendudukkan Wang Zhixin di bangku hukuman! Dua orang pengawal sudah siap dengan tongkat hukuman di tangan.
“Paduka, hamba akan mengaku! Hamba akan mengaku semuanya!” Melihat situasi sudah genting, Wang Zhixin sadar kali ini Paduka benar-benar akan bertindak, ia sampai terkencing karena ketakutan.
“Budak keji, aku khawatir kau tidak ingat cukup jelas! Maka itu, aku mau dua kakimu. Nanti, kau pasti akan ingat semuanya dengan jelas!”
Li Hui langsung mengerti maksud Paduka, yakni hendak memberi tahu Wang Zhixin bahwa dosa-dosanya sudah sangat jelas, segala pembelaan diri pun tak berguna lagi! Sekaligus, ini juga peringatan bagi para pelayan dan kasim di istana, inilah nasib pengkhianat! Maka ia pun memerintahkan Pengawal Istana memukul sendi kaki Wang Zhixin.
“Ah! Ah! Paduka, hamba akan mengaku semuanya, ah, hamba akan mengaku…”
Terdengar suara retakan tulang, kaki Wang Zhixin benar-benar dipatahkan, sekarang hanya tersisa kulit dan daging yang menggantung di paha.
“Paduka, Wang Zhixin pingsan!”
“Sadarkan dia!”
“Baik!”
Li Hui menyiramkan seember air dingin ke wajah Wang Zhixin, perlahan ia membuka mata, Li Hui menggoyang-goyangkan kakinya yang patah.
“Ah!” Wang Zhixin kembali menjerit kesakitan, tapi kali ini ia tidak pingsan.
Para kasim dan dayang yang melihat penyiksaan itu gemetar ketakutan.
“Budak hina, tanpa aku, kau bukan siapa-siapa! Sejak kapan istana ini jadi milikmu?” Chongzhen melemparkan racun dari Zi’e ke depan Wang Zhixin, “Dengar baik-baik, kini ada dua pilihan untukmu: mati dengan cepat atau hidup lebih sengsara dari mati. Pilih yang mana?”
Wang Zhixin melihat racun di tanah, ia tahu semuanya sudah terbongkar. Hari ini bahkan belum sempat ditanya, kakinya sudah dipatahkan, jelas tak ada gunanya membantah. Jika masih tidak mengaku, benar-benar hanya tinggal hidup menderita.
“Paduka, masalah ini sangat rumit, melibatkan banyak pihak…” Wang Zhixin menjawab dengan suara sekarat.
“Lanjutkan! Ceritakan rinci semuanya, aku tak takut kalau yang terlibat banyak, aku hanya takut kalau yang terlibat kurang banyak! Hari ini aku sudah membunuh dua ratus lebih pejabat, tidak takut menambah korban lagi!”
“Paduka, ampunilah satu nyawa hina hamba ini, hamba akan mengaku semuanya, sedetail-detailnya akan hamba ceritakan pada Paduka.”
Huh, Wang Zhixin, sudah menjelang ajal masih ingin tawar-menawar demi nyawa! Dua kakimu dipatahkan masih terasa ringan, ya?
“Li Hui, budak hina ini masih menawar dengan aku, apakah Pengawal Istana kalian punya metode penyiksaan yang lebih kejam, supaya budak hina ini benar-benar merasakan hidup lebih sengsara dari mati?”
“Tentu ada, hamba sarankan, coba hukum ‘Petik Gambus’ dulu!”
“Apa itu ‘Petik Gambus’?”
“Budak hina ini direbahkan di lantai, tangan dan kakinya diikat erat agar tak bisa bergerak, bajunya dilepas, lalu daging di sekitar tulang rusuk dikerok hingga tulangnya terlihat, hanya tersisa kulit yang menutupi tulang. Kemudian dengan pisau tajam, tulang rusuknya dipetik seperti memainkan alat musik gambus.”
“Tidak mati, kan?”
“Tidak, hanya akan merasakan sakit luar biasa, metode ini sudah dipakai puluhan ribu kali, hanya satu orang yang tidak mengaku.”
“Paduka, hamba akan mengaku, hamba akan mengaku semuanya!” Wang Zhixin dulunya juga kepala Pengawas Timur, sudah sering menyiksa orang dengan cara ini, ia tentu sangat paham betapa mengerikannya!
“Kalau begitu, katakanlah.”
“Semua ini harus dimulai dari tujuh tahun lalu. Tahun kesepuluh masa Chongzhen, Selir Tian mendapat perhatian besar dari Paduka, anak keenam kaisar baru lahir langsung diangkat menjadi pangeran. Permaisuri cemburu pada Selir Tian, takut posisinya terancam, maka ia memerintahkan ayahnya mencari tabib dan orang pintar, akhirnya menemukan racun bernama Air Biru. Racun ini sangat mematikan, tidak bisa dideteksi, juga tak ada penawarnya, korban racun akan perlahan-lahan tersiksa, muntah darah, lalu meninggal. Permaisuri yang cemburu pada Selir Tian, kebetulan saat itu ada kasus Li Guorui, jadi ia dan hamba bersekongkol, dengan dalih arwah Ratu Li datang menuntut balas, mereka meracuni anak keenam kaisar. Setelah itu, karena Selir Tian masih saja mendapat kasih sayang Paduka, permaisuri memerintahkan hamba untuk memberi racun yang sama pada Selir Tian.”
“Lanjutkan!”
“Setelah Selir Tian meninggal, permaisuri menjadi penguasa tunggal di istana, mulai meremehkan Chengguogong dan hamba. Maka Chengguogong memerintahkan hamba bekerjasama dengan Selir Yuan, mencari waktu yang tepat untuk menurunkan permaisuri dari tahtanya. Setelah Selir Yuan yakin mendapat dukungan Chengguogong dan hamba, ia mulai membujuk dan menarik pengikut dari kalangan dayang dan kasim di sekitar permaisuri. Beberapa hari lalu, setelah terjadi insiden di Kediaman Adipati Dingguo, ayah permaisuri khawatir akan dipaksa menyumbang seperti nasib Adipati Dingguo, lalu menemui Chengguogong untuk berdiskusi. Chengguogong menganggap ini kesempatan emas untuk memberi pelajaran pada permaisuri. Ia sengaja menyarankan mertua kaisar meniru kasus anak keenam kaisar, yakni meracuni Putri Zhaoren. Chengguogong percaya, setelah berturut-turut terjadi kematian pangeran, selir, dan putri, dengan sebab kematian yang sama, Paduka pasti akan curiga dan melakukan penyelidikan. Saat itu, Selir Yuan bisa berpura-pura sangat berduka, lalu menambah-nambahi cerita di hadapan Paduka, membongkar bahwa kematian anak keenam kaisar dan Selir Tian juga ulah permaisuri! Jika pangeran, selir, dan putri saja bisa dengan mudah dibunuh dengan racun, Paduka tentu akan khawatir jika racun yang sama digunakan pada diri Paduka. Begitu penyelidikan selesai, dan terbukti permaisuri pelakunya, maka ia akan dicopot, dan ayahnya pun takkan bisa lolos!”
Zhu Chuncheng, si rubah tua itu, memang licik. Setelah semua terbongkar, permaisuri dan ayahnya pasti takkan selamat. Tapi Chengguogong adalah orang luar, ia juga guru putra mahkota. Permaisuri tahu, jika sang guru juga tumbang, maka sang putra mahkota benar-benar sendirian. Jadi permaisuri tidak akan membongkar peran Chengguogong! Namun, jika Chongzhen wafat, putra mahkota naik takhta tanpa dukungan permaisuri dan kakeknya, maka ia hanya bisa bersandar pada gurunya itu. Jika Selir Yuan naik derajat dan melahirkan seorang pangeran, lalu pangeran itu kelak naik takhta, Zhu Chuncheng bisa mengendalikan segalanya berbekal hubungan baik dengan Selir Yuan!
Zhu Chuncheng, benar-benar piawai mengatur siasat, bermain di dua kubu sekaligus! Benar kata pepatah, lelaki sejati haruslah punya keberanian!