Ini adalah kisah perjuangan sebuah keluarga petani miskin. Fang Yi, seorang yatim piatu, secara tak sengaja terlempar ke masa lalu karena demam tinggi. Di tempat baru ini, ia memiliki seorang adik yan
Dalam keadaan setengah sadar, entah berapa lama ia telah tertidur, dengan susah payah, Fang Yi membuka matanya dan langsung berhadapan dengan sepasang mata besar yang bening, hitam dan putih jelas. Mata itu memancarkan kegembiraan, lalu terdengarlah suara yang agak kekanak-kanakan, "Kakak, kau sudah bangun!"
Kakak? Fang Yi bingung, bukankah ia sedang demam di rumah? Kenapa tiba-tiba ada orang lain? Ia menoleh, melihat ke arah anak kecil di samping ranjang, rambut panjangnya diikat sembarangan, banyak yang terurai, matanya besar dan cerah, tapi lingkaran hitam di sekitarnya jelas, dahi biru lebam, pipi putih dan kurus dengan bekas tamparan besar yang membuat orang ngeri. Tubuhnya mungil, mengenakan pakaian abu-abu lusuh yang tak jelas bahannya, badannya kurus seakan bisa terbawa angin.
Karena tak mendapat respons, anak kecil itu kembali memanggil, matanya berembun, suara sedikit menangis dan serak, "Kakak, kakak, kenapa kau diam saja?"
Fang Yi sadar, mengangkat tangannya dan mengelus kepala anak kecil itu, lalu menjawab pelan. Saat itu baru ia sadari, tangannya mengecil! Ini bukan apartemen kecil miliknya!
Menahan keterkejutan dalam hati, Fang Yi berusaha bangun dan duduk, dengan tenang mengamati sekitar. Ini sebuah rumah tanah kecil, dinding kuning kecoklatan yang tua dan usang, perabotan sangat sederhana; sebuah lemari kayu di sudut, di sebelahnya ada kotak kayu, di atas kotak ada barang-barang campur, di sisi lain ada meja kecil hitam, tiga bangku panjang, di sudut ada rak kayu sederhana dengan baskom kayu, selain itu tak ada