Pada kehidupan sebelumnya, karena "dua perempuan menikahi satu pria", kedua saudari itu meninggal bersama; di kehidupan ini, begitu membuka mata, Xie Wan Tao kembali dipanggil sebagai "reinkarnasi rub
Sepanjang malam angin utara berhembus kencang, salju lebat berjatuhan dari langit pekat, hanya dalam satu dua jam telah menutupi tanah dengan lapisan putih tipis. Gunung Cahaya Rembulan yang semula curam kini semakin sulit dilalui karena tertutup salju. Usai waktu ayam berkokok kedua, hampir tak seorang pun lagi berlalu-lalang di pegunungan, kecuali seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang menggandeng seorang perempuan tua renta, bergegas melintasi lembah menuju sebuah rumah petani.
“Hari ini sungguh merepotkan Anda, mohon maaf harus berjalan lebih jauh, kita sudah hampir sampai,” ujar Si Tua Xie sambil memijat telinganya yang terasa ngilu diterpa angin, lalu menoleh dan tersenyum kepada perempuan tua yang tubuhnya sudah mengerut kering.
Perempuan tua itu sudah lama berjalan di tengah salju yang turun tiada henti, napasnya tersengal-sengal, kelopak matanya terkulai, dan ia berkata dengan suara dingin, “Tak perlu basa-basi, aku hanya bekerja karena dibayar.”
“Benar, benar, Anda memang benar, soal upah pasti tidak akan kami kurang-kan,” jawab Si Tua Xie sedikit membungkuk penuh hormat. Sambil berbicara, mereka sudah tiba di depan rumah petani itu, langsung melangkah masuk ke halaman, naik ke tangga, lalu mengetuk pintu rumah utama dengan keras.
Terdengar suara pintu berderit, sebuah kepala mengintip keluar, diikuti dengan seruan lega, “Sudah pulang, Paman sudah pulang!”
Si Tua Xie segera memberi jalan dan mempersilakan perempuan tua itu masuk. Keadaan di dalam rumah hangat dan nyaman. Di atas dipan dan di sekitar meja sudah penuh orang, sel