Bab 50: Hantu Wanita Berbaju Merah

Senja Musim Semi Mu Duo 3110kata 2026-03-05 20:03:35

Xia Ruhui meneliti Xie Wantao dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya tampak lembut, namun terselip nada meremehkan. Ia sama sekali tak menyapa, langsung membalikkan badan dan berkata pada Qin Qianwu, “Suamiku bilang namamu bermarga Qin, benar? Tuan Muda Qin, gadis kecil ini keluarga Anda? Usianya masih belia, wajahnya manis, tapi bicara begitu dingin, sampai merinding mendengarnya. Dalam berdagang, yang penting adalah kemauan kedua belah pihak. Suamiku sudah berkali-kali menegaskan, karena urusan keluarga ibuku, toko ini tak bisa...”

“Tak perlu banyak bicara, toko ini pasti jadi milikku.” Xie Wantao memotongnya dengan nada sedingin es. “Aku memang terlahir tak peduli aturan, berani main, berani rugi, apa pun sanggup kulakukan. Nyonya He itu porselen halus, kalau nekat melawan genting sepertiku, meski sama-sama hancur, kau tetap yang paling dirugikan. Maka, pikirkan baik-baik langkahmu, Nyonya He.”

“Kau...” Wajah Xia Ruhui berubah. “Jadi kalian memang sengaja datang cari gara-gara? Tak mau bicara dengan logika?!”

“Logika?” Xie Wantao tertawa seperti mendengar lelucon paling lucu di dunia. Ia menepuk tangan, lalu menatap tajam seperti bilah pisau. “Siapa yang paling kuat, dialah yang menentukan logika. Keluarga ibumu kaya raya, uang sewa tak berarti bagimu. Tapi suamimu, pasti sangat butuh pemasukan toko ini. Kalau tidak, takkan susah payah cari penyewa ke mana-mana. Sewa saja toko ini padaku, semua senang. Kalau tidak, lima hari lagi, toko ini bahkan gratis pun takkan ada yang mau!”

Mata bulat Xia Ruhui melotot. “Kau mengancamku?!”

“Coba saja,” sahut Xie Wantao dengan senyum santai.

“Liu, antar tamu keluar!” Xia Ruhui hampir berteriak, mengibaskan lengan dan membentak keras. “Aku tak percaya takhyul macam itu. Aku ingin lihat, apa sebenarnya kemampuanmu!”

“Itu pilihanmu sendiri.” Xie Wantao lebih dulu menarik Qin Qianwu bangkit dari kursi sebelum pelayan tua itu sempat bergerak. “Pertunjukan baru dimulai, Nyonya He. Semoga kau puas.”

Usai berkata, ia segera berbalik dan pergi.

“Wantao, boleh kutanya, kenapa kau lakukan ini?” Sejak tadi, saat Xie Wantao dan Xia Ruhui beradu kata, Qin Qianwu hanya berdiri di samping, diam tanpa bicara. Baru setelah mereka keluar dari Gang Willow Hijau dan berhenti di pinggir jalan, ia tak tahan lagi bertanya, “Bisnis toko kain sutra ini memang punyamu. Cara apa pun terserah kau. Tapi... kau tak merasa ini agak kelewatan?”

Xie Wantao menghapus dingin di wajahnya, menoleh dan tersenyum santai, “Kakak Qin, aku memang kurang paham soal ‘kelewatan’. Tapi, maaf bicara, kau sudah beberapa kali datang ke Gang Willow Hijau ini, pakai pendekatan logika dan perasaan, lalu hasilnya?”

“Aku...” Qin Qianwu terdiam, lama baru bisa bicara lagi. “Jadi, kau mau bagaimana?”

“Kemarilah.” Xie Wantao melambaikan tangan, mendekatkan mulut ke telinganya, lalu berbisik panjang lebar.

“Kau ini, adik kecil...” Qin Qianwu mundur selangkah. “Berdagang pun ada etika. Kalau begini, bukankah terlalu kejam?”

“Kejam? Ini hanya akal-akalan bisnis, di mana letak kejamnya?” Xie Wantao menaikkan alis santai. “Aku sungguh tak paham kenapa Kakak Qin begitu terkejut. Aku yakin, dengan kemampuanmu, perkara kecil begini bukan masalah. Jujur saja, bagimu, semua ini cuma main-main belaka.”

“Apa maksudmu?” Tatapan Qin Qianwu langsung mendingin.

“Mau kujelaskan juga?” Xie Wantao terkikik.

“...Baiklah, kalau begitu, kita lakukan saja seperti katamu.” Tak enak hati pada Lu Cang, Qin Qianwu tak bisa marah di hadapannya. Lama kemudian, ia mengangguk setuju.

“Terima kasih.” Xie Wantao mengedipkan mata, lalu berlari ke arah Gunung Yuexia.

Rumah keluarga He tak jauh dari Gang Willow Hijau. Tengah malam itu, seorang bibi tua yang bekerja di dapur terbangun hendak ke belakang. Begitu membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara tangis pilu dan mengerikan.

Semakin tua usia seseorang, semakin mudah percaya hal mistis. Bibi itu sudah hidup lebih dari lima puluh tahun, sudah banyak makan asam garam, tapi tetap saja tubuhnya gemetar mendengar suara tangis itu.

Jamban keluarga He terletak di belakang rumah, dan suara tangis itu datang dari sana. Bibi itu terdiam lama di tempat, sempat ingin mengabaikan dan menunggu pagi, tapi karena sudah tak tahan menahan hajat, ia memberanikan diri berjalan pelan ke belakang, sambil terus membaca mantra dalam hati, berharap hanya pelayan yang sedang menangis diam-diam.

Namun, saat ia membuka pintu menuju halaman belakang, pemandangan di depan matanya nyaris membuat jiwanya terbang.

Di tengah halaman belakang ada sebuah sumur tua yang sudah lama kering dan tak terpakai. Dalam cahaya bulan yang redup dan dingin, ia melihat seorang perempuan berbaju merah merangkak di pinggir sumur, melolong memilukan, kukunya menggores batu sumur hingga menimbulkan suara mencicit yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mungkin merasakan kehadirannya, perempuan itu tiba-tiba mengangkat kepala. Bibi itu langsung menjerit ketakutan.

Wajah perempuan itu dipenuhi empat atau lima bekas luka sayatan. Yang terpanjang, melintang dari pipi kiri ke kanan, tepat di batang hidung. Luka itu sudah menghitam, membentuk parut legam, membuat wajah yang seharusnya cantik itu jadi menyeramkan.

“Tahu tidak?” Perempuan itu menyeringai, memperlihatkan gigi putih dan lidah merah, lalu tersenyum dingin. “Aku mati dengan sangat tragis. Aku tidak berbuat apa-apa, kenapa harus berakhir seperti ini? Tulang belulangku ada di sumur ini. Tolong, kuburkan aku dengan layak, boleh?”

“Ah—” Bibi itu kembali menjerit, matanya terbalik, lalu pingsan di tempat.

Keesokan harinya, sebuah desas-desus menyebar cepat di seluruh Kota Pingyuan.

Putri pemilik Toko Jahit Xiangfu, menantu kedua keluarga He, Xia Ruhui, konon tiga tahun lalu menenggelamkan seorang pelayan bernama Xiaoyue ke dalam sumur, bahkan sebelumnya mengiris wajahnya dengan kejam. Alasannya, karena suaminya jatuh hati pada Xiaoyue dan ingin menjadikannya selir.

Nyonya He begitu kejam dan pencemburu, tega melakukan perbuatan sekeji itu. Kini rumah keluarga He dihantui arwah, konon itu adalah Xiaoyue yang jadi hantu gentayangan untuk menuntut balas.

Xia Ruhui, yang semula sudah ketakutan mendengar rumahnya dihantui tadi malam, makin tak tahan saat mendengar desas-desus itu, hingga jatuh sakit dan tak bangun-bangun.

Tapi perkara ini tak lantas reda karena ia sakit, justru makin runyam. Setiap malam, arwah perempuan berbaju merah itu berkeliaran di rumah keluarga He. Hampir semua orang, termasuk Tuan He sendiri, menyaksikan penampakannya. Mereka sudah memanggil biksu dan pendeta, tapi tak ada yang berhasil mengusirnya.

Pada hari keempat, seorang nenek tua bungkuk datang ke depan rumah keluarga He. Penjaga melarangnya masuk, ia pun rebah di depan pintu, menangis meraung-raung, hanya menuntut Xia Ruhui membayar nyawa anaknya.

Orang-orang penasaran mendekat dan bertanya, barulah tahu bahwa nenek itu adalah ibu kandung Xiaoyue.

Xiaoyue dijual ke keluarga Xia sejak umur delapan tahun, siapa tahu rupa orang tuanya? Tapi bagaimanapun, kehadiran nenek itu seperti mengukuhkan kebenaran gosip yang beredar.

Rumor di kota makin menjadi-jadi. Mereka yang tadinya ingin menyewa toko di Gang Willow Hijau pun mengurungkan niat, takut ketularan sial.

Xie Wantao, melalui Qin Qianwu, tahu persis semua kejadian itu, dan tersenyum dingin penuh kemenangan.

“Kalau perkiraanku tepat, Tuan He pasti sudah tak tahan. Besok aku ikut kau ke Desa Furong.” Ia berkata ringan.

Benar saja, di hari kelima, Tuan He akhirnya tak tahan lagi. Ia sendiri pergi ke Desa Furong, mencari rumah Qin Qianwu. Xie Wantao sudah menebak kedatangannya, dan menunggu di sana sejak pagi.

“Istriku itu perempuan, tak banyak tahu. Jangan dengarkan omongannya, Tuan Qin. Aku tahu kau sungguh-sungguh berminat pada toko kami. Setelah kupikir-pikir, memang paling baik kuswakan padamu. Jadi, mari kita sepakati saja. Semoga kalian berdua...”

Baru setengah bicara, ia berhenti, mengeluarkan saputangan, menyeka keringat yang terus mengucur di kening.

Ia bukan orang bodoh. Jelas-jelas semua ini perbuatan orang, sengaja untuk menyusahkan keluarganya, dan besar kemungkinan dua orang di depannya terlibat. Ia sudah sangat kesal dalam hati. Tapi, apa yang bisa ia lakukan? Memohon agar mereka “berhenti pakai ilmu gaib”?

Semua orang tahu, ia orangnya lemah, tak sanggup melawan Qin Qianwu. Lebih baik mengalah, sewakan saja tokonya pada mereka. Toko segera dapat penyewa, urusan cepat selesai, rumor pun bisa diredam. Kalau tidak, siapa tahu mereka akan melakukan apa lagi?

Mendengar ini, Qin Qianwu belum sempat bereaksi, Xie Wantao malah berbalik perlahan, tersenyum polos nan manis, lalu mengacungkan tiga jari di depan mata Tuan He.

“Tiga tahil.”