Bab Dua Puluh Enam: Apakah Xu Ling dalam Bahaya?
Suara lantang guru olahraga menyelamatkan Wang Xiaohua yang sudah kelelahan berlari, sekaligus memanggil Xu Ling mendekat.
“Kau sepertinya ada kemajuan dibanding sebelumnya? Indeks kekuatanmu naik, ya?”
Ternyata ia tak terlalu mempermasalahkan Xu Ling yang ‘mengganggu’ ketua kelas, lagipula ini waktu istirahat, ia hanya mengira mereka sedang bercanda. Tapi ketika melihat Xu Ling sanggup mengangkat balok latihan dan tetap bisa mengejar Wang Xiaohua yang punya indeks kekuatan 1,3 berkali-kali, ia jadi terkejut.
Ini berarti fisiknya mengalami kemajuan yang sangat jelas.
Perlu diketahui, berbagai kualitas Xu Ling, termasuk indeks kekuatannya, dalam dua tahun terakhir bukan hanya lambat berkembang, malah tidak bergeming sama sekali. Tahu-tahu, tanpa disadari, sekarang ia bahkan bisa mengejar siswa terbaik di kelas, itu pun sambil membawa beban tambahan.
Xu Ling ragu sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak tahu, belum pernah mengukur.”
Ada alasannya ia menjawab begitu.
Menurut hukum, selain lembaga resmi negara, tidak boleh membuat, menjual, atau membeli alat pengukur indeks kekuatan secara pribadi.
Bukan karena alat itu butuh inti sihir atau menyimpan rahasia penting, tapi pemerintah sangat memperhatikan pengelolaan para pendekar dan ingin mengetahui setiap perkembangan mereka secara langsung.
Karena itu, masyarakat umum hanya bisa mengukur kekuatan secara legal di pusat pengujian milik Dinas Pengelolaan Pendekar setempat.
Sedangkan Xu Ling bisa mengetahui datanya secara real time melalui sistem di benaknya, jadi ia tak perlu repot-repot ke sana, apalagi membayar biaya pengujian puluhan yuan.
Sekolah bela diri memang akan mengadakan pengukuran setiap tahun ajaran, tapi sekarang belum masuk waktunya.
Guru olahraga merasa wajar mendengar jawaban Xu Ling, menganggap fisiknya memang mendadak berkembang, lalu mengangguk, “Akhir-akhir ini kau tampil bagus, pertahankan. Usahakan indeks kekuatanmu naik 0,4 atau 0,5 di semester ini. Kalau semester depan digenjot lagi, mungkin kau bisa menembus ambang kelulusan.”
Guru-guru lain yang mendengar tak tahan untuk tak melirik ke arah mereka, tapi belum ada yang bicara.
Baru setelah Xu Ling pergi, beberapa guru itu berdiskusi, “Tak mungkin, kan? Bukankah nilai Xu Ling saat ujian akhir semester lalu cuma 0,32? Sehebat apapun berusaha, tetap tak cukup untuk syarat lulus.”
Guru olahraga menghela napas pelan, “Manusia harus punya harapan.”
“Benar juga.” Semua mengangguk, tahu bahwa ia hanya ingin memberi muridnya kepercayaan diri. Lulus atau tidak, setidaknya indeks kekuatan mereka bisa ditingkatkan sedikit.
Xu Ling sendiri tak tahu apa yang mereka pikirkan, dan meski tahu, barangkali ia pun tak peduli. Baginya, setelah menyelesaikan peningkatan fisik kali ini, indeks kekuatan gabungannya pasti bisa menembus angka 1,30. Kelulusan bukan lagi soal yang sulit.
Tujuannya sekarang bukan lagi sekadar lulus, tapi meraih predikat kelulusan tingkat empat, bahkan lima.
Kalau nanti mendapat panggilan khusus dari negara, gaji dan tunjangannya pasti besar. Dengan uang itu, ia akan melunasi cicilan rumah keluarga dulu, lalu mencari nafkah untuk membelikan adiknya pil obat, supaya adiknya cepat berkembang, sekaligus bisa membantu dirinya mendapatkan tenaga dalam.
Saat ini, cita-cita Xu Ling masih sederhana. Asal mereka berdua bisa menjadi pendekar yang kuat, keluarga mereka pasti akan hidup makmur.
Memikirkan hal itu, ia menatap teman-teman sekelas yang ceria di lapangan.
“Semuanya, aku sangat bergantung pada kalian.”
“Xiaohua! Tunggu aku!”
...
Faktanya, siapa pun yang ‘dijadikan sasaran’ Xu Ling pasti mengalami satu gejala yang sama: menanti waktu pulang sekolah.
Setelah melewati empat jam pelajaran olahraga di sore hari, Wang Xiaohua akhirnya bisa bernapas lega, merasa segala penderitaan sudah berakhir. Namun saat berkemas, ia menyadari bahwa kehadiran Xu Ling memang membuatnya lebih rajin.
Biasanya saat latihan sendiri, pikirannya sering melayang entah ke mana, akhirnya selalu berhenti pada Luo Zhixing. Tapi seharian ini dikejar Xu Ling, ia benar-benar tak sempat melamun, bahkan latihan fisik dan jurus yang dikerjakan jauh lebih berat dari biasanya.
Sedang asyik berpikir, tiba-tiba ia melihat teman sebangkunya masuk kelas.
Wajah Wang Xiaohua langsung kaku, dengan nada agak memelas berkata, “Sudah... sudah waktunya pulang...”
Nada bicaranya bahkan terdengar kasihan.
Xu Ling mencibir, “Tenang saja, kita tidak lembur. Aku bukan bos kejam.”
Wang Xiaohua pun langsung lega, sekarang ia hanya ingin cepat pulang dan rebahan.
Xu Ling menyampirkan tas di pundaknya, lalu seolah teringat sesuatu bertanya, “Bukankah kau bilang ada urusan? Perlu aku temani?”
Wajah Wang Xiaohua langsung memerah, “Tak perlu, tak perlu.”
“Baiklah, sampai jumpa besok.”
Xu Ling pun keluar sekolah dengan membawa tas. Namun kali ini, ia tidak langsung pulang, melainkan naik bus menuju SMA 2.
Karena ibunya sudah mengabari lebih dulu bahwa malam ini ada urusan, jadi ia dan adiknya harus makan malam sendiri. Uang ratusan yuan hasil rampasan dari perampok tempo hari masih tersisa setelah melunasi utang beli pil kesehatan, jadi ia sudah janjian akan mengajak adiknya makan enak.
Tiba di gerbang SMA 2, Xu Ling baru hendak menelpon Xu Xiaoyu, namun dari celah pagar ia sudah melihat sosok mungil adiknya dari kejauhan.
Rasa jahil Xu Ling muncul, ia memutuskan untuk diam-diam mendekat dan memberi kejutan. Dengan penuh percaya diri ia melenggang melewati pos penjagaan, dan karena tak ada satpam yang menahan, ia jadi tambah berani.
Di lapangan, Xu Ling memperhatikan sekitar dengan rasa ingin tahu. Ternyata SMA 2 tak jauh beda dengan SMA 1, baik dari segi luas maupun fasilitas.
Hanya satu hal yang membuatnya heran: di sudut lapangan berdiri sebuah pelat baja raksasa yang sangat tebal dan tampak baru, seolah baru dipasang.
Xu Ling tak tahan untuk mendekat dan memeriksa.
“Berapa beratnya, ya?”
Ia tak punya gambaran, juga tak bisa menebak. Yang membuatnya penasaran, untuk apa benda itu diletakkan di situ? Ia pun mengitari pelat baja itu, melihat di belakangnya ada rangka baja yang sudah dilas, membuatnya berdiri kokoh.
Setelah berpikir sejenak namun tak menemukan jawabannya, ia pun keluar dari sisi belakang pelat baja, berniat menanyakan pada adiknya nanti.
Tiba-tiba, ia merasa dadanya berdebar tak wajar. Indra keenamnya yang tajam menyadarkannya akan bahaya yang sedang meluncur dari udara, langsung mengarah padanya.
...
Dua menit sebelumnya, Xu Xiaoyu dan beberapa teman sedang berdiri di tepi lapangan.
“Xiaoyu, kenapa hari ini belum pulang juga?”
Mendengar suara itu, ia menoleh. Yang bertanya adalah seorang murid laki-laki sekelasnya, bernama Gao Buping. Anak itu dikenal nakal, tapi tetap disukai semua guru. Alasannya sederhana: nilainya sangat bagus, bukan hanya punya indeks kekuatan setara Xu Xiaoyu, nilai akademiknya pun sempurna.
Xu Xiaoyu tersenyum sopan, “Aku sedang menunggu kakakku, nanti dia yang menjemput.”
Nada bicaranya seperti membicarakan sesuatu yang membanggakan.
Gao Buping sebenarnya tak benar-benar ingin tahu, ia berlari mendekat sambil bercanda, “Teknik Tangan Besiku sudah makin hebat, mau lihat?”
Xu Xiaoyu melirik sekilas, “Tidak mau, aku sedang menunggu kakakku.”
“Ah, tidak apa-apa kok, kamu tinggal berdiri di sini saja. Hari ini aku pasti bisa menembus pelat baja itu!”
Xu Xiaoyu sebenarnya sudah tidak sabar ingin bertemu Xu Ling, malas meladeni bocah itu. Tapi teman-teman perempuan di sekitarnya malah menatap Gao Buping dengan penuh kekaguman, “Xiaoyu, biarkan dia coba saja.”
Gao Buping sangat bersemangat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengeluarkan bola kayu solid dari dalam tas.
“Lihat baik-baik!”
Ia mengambil kuda-kuda, menggenggam bola dengan kedua tangan di depan dada, lalu menarik napas dalam-dalam.
Pada saat yang sama, seseorang menjerit, “Tunggu! Ada orang!”
Semua orang menoleh. Dari belakang pelat baja itu, tiba-tiba muncul sosok pria bertubuh jangkung, membelakangi mereka, seolah sama sekali tak sadar akan bahaya yang mengancam.
Tapi sudah terlambat untuk menghentikan, karena Gao Buping sudah bergerak.
Dengan raungan rendah, ia tak melempar bola seperti biasa, melainkan membuka sepuluh jari lebar-lebar seperti cakar macan, dan bola kayu itu langsung melesat deras, kecepatannya luar biasa. Saat bola meluncur, debu di sekelilingnya bahkan tersibak akibat getaran kuat.
Semua orang menahan napas. Teknik Tangan Besi adalah warisan keluarga Gao Buping. Jika serangan ini mengenai sasaran, orang yang tiba-tiba muncul itu pasti celaka.
Xu Xiaoyu justru merasa ada yang aneh. Semakin lama ia menatap, makin ia merasa sosok itu tak asing. Akhirnya ia mengenali siapa orang itu.
“Kakak!”
Ia pun berlari sekuat tenaga ke arah sana.