Bab Empat Puluh Satu: Sisanya Serahkan Padaku
Itu adalah serangan yang setara dengan pukulan seorang pendekar dengan indeks kekuatan di atas 2.0. Dalam keadaan lengah, Xiao Yi terkena serangan itu dan tubuhnya langsung terlempar masuk ke rimbunnya hutan di samping.
"Xiao Yi!" seru Meng Fei, namun tak mendapat balasan apa pun.
Kini, situasinya berubah menjadi empat lawan empat, namun kekuatan musuh benar-benar jauh di atas. Selain Xu Ling, tak ada satu pun anggota lain yang mampu menang dalam pertarungan satu lawan satu. Tim Elang Kilat pun terjebak dalam krisis terbesar sejak mereka menyeberangi perbatasan.
Semua orang merasa terkejut, marah, dan cemas, namun kera bayangan tak memberi mereka waktu untuk bereaksi. Dengan auman menggelegar, para kera itu langsung menyerbu.
Indeks kekuatan Meng Fei adalah 2,13, ditambah pengalaman bertarung yang kaya membuatnya tak langsung terdesak. Namun dua orang lainnya tak seberuntung itu. Xiao Jia yang kehilangan rekan, langsung dipukul mundur dan kewalahan. Zhu Huan memang sedikit lebih kuat, namun tetap saja kesulitannya tak jauh berbeda.
Sementara itu, Xu Ling malah harus menghadapi kera bayangan yang sebelumnya menyerang Xiao Yi. Binatang buas ini, dengan kecerdasannya yang luar biasa, telah menilai dari sikap para manusia bahwa Xu Ling yang paling muda pastilah yang terlemah. Wajah tanpa bulu kera itu bahkan memperlihatkan kilasan… ejekan.
Namun Xu Ling tetap tenang. Ia tak akan gegabah hanya karena punya kartu as. Ia bertahan dengan teknik dasar yang dipelajari di sekolah, menghadapi setiap serangan lawan dengan hati-hati dan mantap.
Tapi seiring waktu, ia segera menyadari bahwa kera semacam ini rupanya tergolong jenis yang sangat cerdas di tingkat dua, namun kekuatan fisiknya tak terlalu menonjol. Dilihat dari pola serangannya, kecepatannya tak istimewa, kekuatannya pun moderat. Jika dibandingkan dengan pendekar manusia, indeksnya sekitar 2,2 hingga 2,3.
Indeks Xu Ling sendiri adalah 2,08. Andai ia berkembang secara normal, pasti ia akan tertekan. Namun sistem telah memberinya metode peningkatan yang paling ilmiah; tubuh dan indranya jauh melampaui orang selevelnya, sehingga ia bisa menghindar atau menangkis serangan lawan tanpa kesulitan berarti.
Kera itu telah mengeluarkan semua jurusnya, namun terkejut menemukan bahwa ia tak mampu mengalahkan manusia yang dianggap lemah ini. Binatang itu pun mulai lebih berhati-hati, hendak mundur, namun tiba-tiba firasat bahaya menyergap, membuat bulu-bulunya berdiri.
Xu Ling mendengus dingin.
Barusan begitu garang, kini ingin mundur setelah sadar ada yang tak beres? Sudah terlambat.
Ia sudah memahami seluk-beluk kera bayangan itu. Tanpa ragu lagi, ia langsung berbalik menyerang. Sepatunya menghentak tanah dengan keras hingga kerikil-kerikil terbenam ke dalam tanah. Tubuh Xu Ling melesat bagai anak panah.
Kera itu awalnya menggeram, namun tiba-tiba matanya melebar saat melihat manusia itu sudah berada tepat di depannya dengan kecepatan yang tak bisa ia pahami.
Secara refleks, ia mendorong kedua kakinya ke belakang, berusaha melompat mundur dan setengah berhasil, tubuhnya terangkat ke udara.
Namun sedetik kemudian, kera itu merasakan cengkeraman kuat di kakinya.
Ia ditangkap oleh pemuda itu.
Lalu dunia berputar—sebuah hentakan hebat menghantam dari bawah, dan dingin tajam menembus dadanya.
Tak pernah disangka oleh kera bayangan itu, hanya dalam sekejap, ia kehilangan nyawanya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Menjelang roh meninggalkan dunia, pikirannya hanya menyisakan satu pertanyaan: Mengapa dia… secepat itu?
Sementara itu, Xu Ling juga terkejut dengan kekuatan tempurnya sendiri. Semua gerakannya terasa sangat alami, seolah semata-mata berdasarkan naluri, atau barangkali, persepsi yang luar biasa tajam.
Menghadapi kera itu, ia tahu persis bagaimana menghindar secara optimal, bagaimana menyerang hingga lawan tak sempat bereaksi. Walau tekniknya belum matang, dan gerakannya kurang indah, namun semuanya sangat efektif.
Naluri bertarung yang tajam dan tubuh yang kuat memungkinkan ia menancapkan belati aloi tepat ke jantung lawan dalam sekejap.
Sementara itu, di sisi lain, Zhu Huan sedang berjuang mati-matian.
Bagi Xu Ling, kekuatan kera bayangan itu tak berarti apa-apa. Namun bagi Zhu Huan yang berkembang secara normal dan indeks kekuatannya lebih rendah, perkaranya jauh berbeda.
Satu-satunya keunggulan Zhu Huan adalah senjata tajam di tangannya. Setiap tebasan memaksa lawannya hanya bisa menghindar.
Kera bayangan itu mengaum, melompat dan menendang. Mata Zhu Huan langsung berbinar.
"Ini kesempatanku."
Saat melompat di udara, lawan tak bisa lagi mengubah arah, celah sudah terbuka.
Dengan tangan kanan menggenggam belati perang erat-erat, ia menusukkan senjatanya ke arah lawan. Meski sehebat apa pun, lawan itu hanya bertubuh daging dan darah. Pisau itu pasti akan menembus telapak kakinya. Saat itu, karena kesakitan, gerakan kera itu akan kacau, dan serangan berikutnya bisa menjadi penentu kematian.
Dalam duel, jangan hanya melihat langkah pertama; harus memperhitungkan langkah selanjutnya.
Namun saat itu, mata kera bayangan itu justru berkilat licik. Dengan tiba-tiba, ekornya melingkar kuat pada dahan pohon di atas kepala, mengubah arah lompatan. Akibatnya, tebasan Zhu Huan meleset, dan kini tubuhnya berada tepat di bawah kera yang melayang di udara.
Jelas, perhitungannya telah diantisipasi lebih dulu.
"Uh..."
Bahunya diterjang oleh tendangan kera bayangan yang mendarat, membuatnya mengerang pelan. Belati lepas dari genggaman, lalu dadanya dihujani serangan beruntun. Ia berusaha menjaga keseimbangan, namun setelah beberapa langkah sempoyongan, akhirnya ia jatuh tersungkur ke tanah, dan darah merembes di sudut bibirnya.
Kera itu mendarat dan melangkah perlahan mendekat.
Terbaring di tanah, ia memandang sekitar dengan pandangan kabur. Pertarungan di sisi Meng Fei masih sengit, Xiao Jia sudah di ujung tanduk, Xu Ling di belakang tak terlihat dan entah bagaimana keadaannya.
"Selesai sudah..."
Zhu Huan menutup mata dengan perasaan pilu. Ia tahu, ajalnya sudah di depan mata. Binatang buas tak akan pernah menunjukkan belas kasihan pada manusia. Mereka hanya akan membunuh dengan kejam, menguliti, dan memangsa hidup-hidup.
Di detik-detik terakhir, yang terlintas di benaknya adalah adik lelakinya, rumah sakit di kota perbatasan itu, tempat tidur putih bersih, dan wajah adiknya yang pucat dengan rambut yang rontok.
Mungkin adiknya masih menunggunya pulang, tetap tersenyum seperti biasa meski menahan sakit.
"Maaf, jangan tunggu lagi—kakak tak bisa kembali." Air mata menetes di sudut matanya, menyesali dirinya yang tak cukup kuat.
"Andai saja aku bisa sedikit lebih kuat, andai tadi aku lebih hati-hati…"
Namun penyesalan tak berguna lagi. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk satu tindakan terakhir.
"Xu Ling, jangan pedulikan kami!"
"Lari! Cepat lari!!"
Ia tak tahu bagaimana keadaan Xu Ling, tapi ia berharap pemuda itu bisa lolos, bisa kembali dengan selamat.
Nasib para pencari kristal biasanya memang tragis, jarang ada yang berakhir baik. Namun menurutnya, pemuda itu layak mendapat takdir yang berbeda.
Ia masih sangat muda, masih punya jalan panjang yang bisa ia tempuh.
Zhu Huan membayangkan, jika Xiao Ling bisa pulang dengan selamat, barangkali ia bisa meningkatkan indeks kekuatannya, barangkali nasibnya lebih baik, bisa bekerja di perusahaan besar, menabung untuk membeli rumah, menikahi gadis cantik, dan punya anak lucu.
Bahkan jika nasibnya kurang baik, setidaknya bisa hidup tenang. Tak harus seperti nasib mereka.
Namun ia juga tahu, pemuda itu sama keras kepala seperti dirinya. Mana mungkin ia akan meninggalkan semua orang dan lari sendirian?
"Lari… kumohon, larilah…" bisik Zhu Huan lirih, entah kepada dirinya sendiri atau kepada langit.
Tiba-tiba, suara yang sangat ia kenal menggelegar di telinganya, bagai petir.
"Apa yang sedang kau katakan?"
Zhu Huan langsung membuka matanya dan terperangah menatap pemuda jangkung yang berdiri di depannya. Ia tak tahu kapan pemuda itu datang, namun saat ini, punggungnya bagai benteng kokoh yang memisahkan dirinya dari mara bahaya.
"Terima kasih atas segala perhatian kalian sepanjang jalan ini. Sisanya, serahkan padaku."