Bab Seratus Tiga Puluh Lima: Misi Dimulai
Beberapa bulan kemudian.
Pada hari itu, tim yang dipimpin oleh Meng Fan sedang mengumpulkan data di sebuah planet. Sang wakil kapten tengah memperhatikan mereka bekerja sembari menahan rasa bosan yang luar biasa.
"Kapan kita bisa pergi dari sini?" Begitu ia selesai mengucapkannya, wakil kapten menerima sebuah panggilan. Ia segera mengangkatnya.
"Baik, dengarkan. Akan ada target yang muncul sebentar lagi. Tugas kalian adalah mencegatnya. Kalian harus berhasil menghentikannya. Jika tidak bisa, setidaknya dekati target tersebut, mengerti?" suara dari seberang memberikan instruksi.
"Baik, dimengerti. Saya akan segera menyampaikannya," jawab wakil kapten.
Ia kemudian berlari ke arah Meng Fan dan rekan-rekannya sambil berteriak, "Hei, Kapten, cepat ke sini!"
Meng Fan terbang menghampirinya. Ia sedikit terkejut karena wakil kapten memanggilnya "Kapten".
"Cepat, segera panggil semua orang ke kapal ruang angkasa. Akan ada target yang muncul, kita harus mencegatnya," desak wakil kapten.
"Apa? Untuk apa?" tanya Meng Fan.
Wakil kapten tidak menjawab, ia justru mendorong Meng Fan dan berteriak memanggil anggota tim lainnya agar segera naik ke kapal. Meng Fan tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan wakil kapten untuk sementara waktu, membiarkan tindakannya begitu saja.
Anggota tim lainnya perlahan menghentikan pekerjaan mereka dan masuk ke dalam kapal. Hua Tao menghampiri Meng Fan dan bertanya, "Ada apa? Pekerjaanku hampir selesai."
Meng Fan menunjuk wakil kapten dengan dagunya dan berkata, "Entahlah, tanya saja pada wakil kaptenmu. Aku juga tidak tahu ada apa, dia terlihat sangat gugup."
Begitu semua orang berkumpul, alarm kapal tiba-tiba berbunyi, menandakan adanya misi darurat.
"Seseorang telah melarikan diri dengan mencuri sebuah kapal. Bagi yang berada di dekat lokasi, harap segera mengejar dan menangkapnya. Senjata diizinkan, hidup atau mati tidak masalah."
Begitu misi masuk, wakil kapten langsung menerimanya tanpa keraguan. Meng Fan melangkah maju dan bertanya, "Kenapa kau menerima misi ini secara sepihak tanpa bertanya padaku? Apa sebenarnya yang kau rencanakan?"
"Maafkan aku, hanya kali ini saja. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Orang ini sangat penting bagiku, tolong, kita harus menangkapnya," mohon wakil kapten. Ia takut Meng Fan akan membatalkan misi tersebut. *'Pasti hanya kali ini saja, karena setelah ini aku tidak akan di sini lagi, jadi mana mungkin ada lain kali,'* pikirnya.
Meng Fan memang memiliki wewenang untuk membatalkan misi. Ia mengerutkan kening, menatap wakil kapten, dan secara naluriah merasa ada sesuatu yang janggal. Ia merasa wakil kapten sedang membohonginya. Namun, mengingat misi sudah diterima di sistem, Meng Fan pun memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Toh, mereka tidak punya pekerjaan lain selain tugas-tugas rutin yang membosankan.
"Baiklah kalau begitu, segera tangkap dia agar kita bisa cepat kembali," ujar Meng Fan.
Wakil kapten segera menyalakan mesin kapal, membuka navigasi, dan langsung menemukan posisi target yang sedang melarikan diri ke arah pinggiran. Kapal mereka mulai mengejar. Kecepatan kapal target jelas tidak sebanding, sehingga jarak di antara mereka perlahan menyusut.
Meng Fan melihat target sudah berada dalam jangkauan tembak, ia segera mengaktifkan sistem pembidik. Tepat saat ia hendak menekan tombol tembak, wakil kapten segera mencegahnya. Orang yang tadi menghubungi wakil kapten memberi instruksi agar tidak menangkap target terlalu cepat; mereka harus menunggu target berhenti dengan sendirinya. Artinya, misi mereka hanyalah mengikuti kapal tersebut dari belakang.
Meskipun merasa aneh, wakil kapten tetap patuh dan menahan Meng Fan. "Jangan menembak, dia cukup penting bagiku. Jika memungkinkan, jangan lakukan itu," pinta wakil kapten.
Meng Fan mengerutkan kening, namun ia tidak membantah. Kedua kapal itu pun melaju dengan kecepatan yang konstan, tidak ada usaha untuk saling mendekat. Saat itu, kapal telah mencapai zona publik, area penyangga antara wilayah Malaikat dan Keron. Meng Fan mulai merasa cemas; jika target sampai melarikan diri ke wilayah Keron, situasinya akan menjadi sulit.
"Menyingkir," perintah Meng Fan kepada wakil kapten.
Wakil kapten menatap Meng Fan. Melihat tatapan tajam pria itu, ia sadar tidak ada gunanya lagi melawan, ia pun terpaksa menepi. Meng Fan mengambil alih kemudi dan langsung memacu mesin hingga kecepatan maksimal. Kapal mereka melesat cepat mendekati target.
Tak lama kemudian, kapal Meng Fan sudah berada sangat dekat dengan target. Meng Fan mengaktifkan jaring penarik elektromagnetik yang biasanya digunakan untuk membersihkan meteorit di luar angkasa; alat itu juga efektif untuk melumpuhkan kapal.
Tepat saat Meng Fan selesai membidik dan hendak melepaskan tembakan, tiba-tiba sebuah kilatan merah muncul dari kapal target. Dua rudal meluncur ke arahnya. Beruntung, reaksi Meng Fan sangat cepat. Ia melakukan manuver menghindar yang ekstrem dan segera meluncurkan rudal balasan untuk meledakkan rudal musuh.
Meng Fan menatap ledakan di belakangnya. Jika ia tidak menghindar tadi, akibatnya akan sangat fatal. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu dekat tanpa mengetahui kondisi lawan.
Meng Fan mulai merasa geram. Ia segera mengganti senjatanya ke rudal dan membidik target. Wakil kapten ingin mencegahnya lagi, namun sebuah lirikan tajam dari Meng Fan membuatnya terdiam.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Aku hanya akan membuatnya berhenti," ucap Meng Fan lalu menekan tombol peluncur.
Kapal Meng Fan berbeda dengan kapal patroli biasa; kapalnya adalah kapal tempur dengan daya tembak yang jauh lebih kuat. Beberapa laras meriam pada kapal Meng Fan mulai bersinar, dan belasan rudal melesat keluar. Target segera mengaktifkan sistem pertahanan rudal, namun meski banyak yang berhasil digagalkan, satu rudal tetap menghantam mesin sebelah kiri.
Target yang terkena serangan itu mulai terbakar di bagian sayap kiri. Mau tidak mau, target terpaksa melambat untuk menghindari risiko ledakan diri. Meng Fan mengira target tidak akan sebodoh itu untuk terus melaju. Wakil kapten melihat kejadian itu dengan jantung yang berdebar, *'Apakah akurasinya setepat itu?'*
Namun, bukannya melambat, kapal target justru menambah kecepatan.
"Apakah orang itu sudah gila?" seru Meng Fan.
Mesin target sudah terbakar; jika dipaksa terus melaju, kapal itu bisa meledak kapan saja. Jika ia masih bisa menambah kecepatan, jelas itu bukan kapal patroli biasa, melainkan kapal yang sudah dimodifikasi. Jika memang sudah dimodifikasi, mungkin kerusakan pada mesin kiri tidak terlalu berpengaruh bagi mereka.
Meng Fan kembali membidik, bersiap menekan tombol tembak lagi untuk menghentikan mereka sebelum terlambat. Tiba-tiba, target meluncurkan dua jaring elektromagnetik yang menangkap meteorit dan melemparkannya ke arah Meng Fan. Meng Fan segera menekan tombol peluncur, menghancurkan meteorit tersebut menjadi serpihan kecil, lalu meluncurkan belasan rudal lagi ke arah target.
Sistem pertahanan lawan kembali aktif, namun beberapa rudal tetap mengenai sasaran meski bukan pada bagian vital. Kendati demikian, kecepatan target mulai menurun. Kapal itu tampak tidak stabil dan berguncang hebat di layar pemantau, namun mereka tetap tidak berhenti. Mereka justru kembali menambah kecepatan, seolah-olah orang di dalamnya tidak lagi peduli dengan nyawanya.
Meng Fan mengerutkan kening. Apakah tidak ada cara lain selain menghancurkannya? Suara peringatan sistem tiba-tiba menyadarkannya.
"Telah meninggalkan zona publik, memasuki wilayah Keron. Harap berhati-hati," suara sistem terdengar.
"Jadi kau benar-benar tidak takut mati? Baiklah, jangan salahkan aku," ujar Meng Fan. "Wakil kapten, sekarang jangan salahkan aku lagi."
Wakil kapten menatap Meng Fan tanpa berani melontarkan sepatah kata pun. Kapal Meng Fan tidak terdeteksi, sama seperti pos terdepan Malaikat. Selama hanya satu kapal yang menyusup, mereka tidak akan mudah terlacak; hanya pergerakan pasukan besar yang akan memicu energi gelap yang mudah dideteksi.
Setelah melihat mereka sudah berada di wilayah Keron, Meng Fan melihat kapal target yang langsung meluncur menuju sebuah planet.
*'Sepertinya tidak ada pilihan lain, mereka pasti akan melakukan pendaratan darurat. Baiklah, kita ikuti,'* pikirnya. Meng Fan pun mengarahkan kapalnya untuk turut turun ke planet tersebut.