Bab Seratus Empat Puluh Enam: Rencana Penyelamatan

Malaikat Penghakiman Akademi Dewa Putra keempat keluarga Meng 2654kata 2026-03-30 03:41:31

Lima tahun kemudian.

Selama lima tahun ini, Hua Ye banyak belajar dan mengasah kemampuannya. Tiba-tiba, suatu hari ia teringat bahwa dirinya sudah cukup lama tidak menerima kabar dari Meng Fan.

Hua Ye lalu mencoba menghubungi Meng Fan, tetapi sambungannya tidak tersambung. Ia mengira Meng Fan sedang menjalankan misi, jadi ia memutuskan untuk menunggu sebentar sebelum bertanya lagi. Pada saat itu, Hua Ye juga telah berhasil mengaktifkan sayapnya sendiri.

Setelah beberapa waktu berlalu, masih belum ada kemajuan. Hua Ye tetap tidak bisa menghubungi Meng Fan, dan saat itulah firasat buruk mulai muncul di hatinya.

Ia lantas memeriksa situasi pasukan tempat Meng Fan bertugas, dan mendapati bahwa status pasukan tersebut telah ditandai sebagai hilang. Lebih parahnya lagi, mereka telah hilang selama lima tahun lamanya.

Pada pandangan pertama, Hua Ye tidak percaya. Namun, ia berpikir sejenak, mungkinkah Meng Fan tidak memberitahu nomor pasukan itu kepadanya, melainkan kepada beberapa orang lainnya?

Hua Ye kemudian mencari Keisha dan yang lainnya untuk menanyakan keadaan Meng Fan. Namun, Keisha dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka juga sudah sangat lama tidak menerima kabar dari Meng Fan.

Setelah itu, Hua Ye pergi. Keisha dan yang lainnya merasa sangat binggung, tetapi mereka juga merasakan kejanggalan. Mereka pun mencoba menghubungi Meng Fan, dan hasilnya sama persis seperti yang dialami oleh Hua Ye.

Mereka kemudian ikut memeriksa nomor pasukan Meng Fan dan melihat bahwa seluruh pasukan tempat Meng Fan bertugas telah diberi label hilang.

Seketika itu juga, Keisha dan kawan-kawannya kehilangan fokus. Liang Bing adalah orang yang paling terpukul di antara mereka. Meskipun yang lain tidak menunjukkan kesedihan secara berlebihan, suasana hati mereka terasa amat sangat tidak keruan di dalam dada.

Kendati demikian, regu tempat Meng Fan bertugas berada dalam status hilang. Selama tidak ditemukan jenazah yang jelas, status mereka akan tetap hilang, meskipun ada batas waktunya.

Meng Fan dan rekan-rekannya masih hidup.

Hua Ye meyakini hal tersebut. Meng Fan sama sekali tidak mungkin mati. Mereka sudah berjanji bersama, mungkin suatu hari nanti Meng Fan akan kembali dan berkata sambil tersenyum kepadanya, "Apakah kau merindukanku?"

Mengenai hilangnya regu Meng Fan, dalam kurun waktu seratus tahun, akan ada beberapa regu yang datang ke lokasi hilangnya mereka untuk melakukan pencarian dan penantian. Namun, karena Meng Fan dan rekan-rekannya menerobos area publik, regu pencari sangat sulit untuk mendekat. Terlebih lagi, sinyal dari regu Meng Fan tiba-tiba terputus, dan energi gelap di sekitar sana telah dibersihkan oleh seseorang, sehingga situasinya menjadi jauh lebih sulit. Oleh karena itu, regu pencari hanya bisa mencoba melakukan pencarian di area publik.

Dulu, saat Pheroz menangani Meng Fan, ia sengaja mencoba peralatan baru yang mereka kembangkan, yang dapat meredam energi gelap. Akan tetapi, efeknya tidak begitu baik dan konsumsi dayanya terlalu besar, sehingga sama sekali tidak berguna dalam pertempuran skala besar.

Jika sudah lebih dari dua ratus tahun, jumlah regu pencari akan dikurangi. Setelah seribu tahun, nomor pasukan yang hilang itu akan dimasukkan ke dalam daftar prajurit yang gugur.

Selama lima tahun ini, organisasi pembunuh bayaran sangat mempercayai Meng Fan. Meng Fan telah menjalankan berbagai misi besar maupun kecil, sementara di waktu luangnya ia belajar bersama Guru Gang.

Karena kekuatan Meng Fan yang sangat tangguh, terutama ilmu pedang pengendali angin miliknya yang sangat mematikan, ia sering kali ditugaskan untuk membereskan sisa-sisa musuh dan menahan mereka. Melalui tugas-tugas itu, Meng Fan turut menyebarkan reputasi ilmu pedang pengendali angin ke luar.

Energi gelap Meng Fan juga telah pulih hingga mencapai tingkat yang cukup besar. Karena sering bertugas membereskan sisa musuh, potret wajah Meng Fan menjadi buronan yang sangat dicari dengan nilai hadiah tertinggi.

Meng Fan juga telah mendapatkan satu set pakaian lengkapnya. Berbeda dari yang lain, Meng Fan mengenakan tambahan sebuah topeng karena dirinya terlalu diincar dalam daftar buronan.

Pasalnya, potret wajah Meng Fan di awal sempat terekspos. Beruntung, gambar buronan itu memperlihatkan Meng Fan saat sebagian rambutnya belum tumbuh sepenuhnya, sementara kini Meng Fan memiliki rambut yang lebat.

Selama orang-orang tidak membandingkannya langsung dengan poster buronan, wajahnya tidak mudah dikenali. Sekalipun ketahuan, mereka tetap tidak akan mampu menangkap Meng Fan.

Hari itu, ketika Meng Fan dan Ezio sedang berjalan-jalan di jalanan kota, seekor burung merpati putih terbang dan hinggap di bahu Ezio.

Ezio melirik burung merpati di bahunya, lalu mengambil surat yang diikatkan di kaki burung tersebut.

Setelah membaca isinya, Ezio berkata kepada Meng Fan, "Gawat, terjadi masalah. Kita harus kembali ke markas."

Meng Fan dan Ezio lantas kembali ke markas. Saat itu, sudah ada banyak orang di dalam markas; mereka adalah para pembunuh bayaran yang berada di wilayah ini.

"Apa yang terjadi?" tanya Meng Fan sambil menggigit sepotong roti.

"Ada lima pembunuh bayaran lagi yang tertangkap. Besok mereka akan dihukum gantung, karena itulah organisasi langsung mengadakan rapat mendadak untuk membahas tindakan balasan."

Ezio melirik roti di tangan Meng Fan dengan sedikit keheranan, tetapi ia sudah mulai terbiasa.

Ezio menyadari bahwa beberapa hari terakhir ini, entah bagaimana caranya, Meng Fan selalu bisa mengeluarkan makanan dari suatu tempat entah berantah dan terus saja makan. Ezio sudah bertanya berkali-kali, namun Meng Fan selalu menjawab bahwa rahasia surgawi tidak boleh bocor. Ezio lantas berusaha keras mencari tahu, tetapi hasilnya nihil.

Energi gelap Meng Fan memang sudah bisa digunakan untuk menyimpan beberapa benda, dan Meng Fan menggunakan seluruh kapasitas itu untuk membawa makanan. Tentu saja, makanan-makanan itu diambil secara diam-diam dari para Kesatria Kenisah saat ia sedang menjalankan misi.

Setelah melalui diskusi beberapa waktu lamanya, strategi terbaik akhirnya berhasil disusun. Organisasi pembunuh bayaran tidak akan pernah meninggalkan rekan sesama pembunuh.

Meskipun mereka tahu para Kesatria Kenisah pasti mengerahkan kekuatan besar, dalam aksi pengerahan pembunuh bayaran sebesar ini, belum tentu siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Keesokan harinya.

Rencana pun berjalan sesuai jadwal. Lebih dari dua puluh pembunuh bayaran di wilayah ini keluar secara serentak. Berdasarkan pengintaian, Kesatria Kenisah memang mengerahkan pasukan yang sangat besar.

Di atas atap setiap beberapa jarak tertentu terdapat seorang pemanah, di menara pengawas ada beberapa orang pemanah, dan di atas panggung eksekusi, kelima pembunuh bayaran itu telah tergantung. Begitu ada perintah turun, kelima pembunuh itu akan langsung dieksekusi mati dengan cara digantung.

Di sekitar panggung eksekusi, pasukan patroli berkeliaran di mana-mana. Berdasarkan pengamatan kasat mata, jumlah prajuritnya ada hampir dua ratus orang.

Namun, tujuan Meng Fan dan rekan-rekannya bukanlah untuk membantai semuanya, melainkan hanya untuk menyelamatkan sandera lalu melarikan diri.

Saat itu, Meng Fan dan beberapa rekan lainnya sedang mengamati panggung eksekusi dari tengah kerumunan, sambil menunggu aba-aba.

Perbincangan di bawah sana terdengar sangat riuh. Jarang sekali orang-orang bisa melihat begitu banyak pembunuh bayaran sekaligus, terlebih lagi mereka akan segera dihukum gantung. Sebagian orang merasa senang dan gembira, sementara yang lain merasa sangat khawatir.

Sementara itu, di sebuah anjungan tinggi yang letaknya cukup jauh dari sana, seorang pembunuh bayaran sedang mengawasi pemandangan di bawah. Ia melirik busur panjang di tangannya, menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk punggung seekor merpati di bahunya. Burung merpati putih itu pun terbang pergi.

Tidak lama kemudian, burung-burung merpati putih lainnya juga terbang dari berbagai tempat yang berbeda.

Pembunuh di anjungan tinggi itu melihat sinyal tersebut, lalu memasang anak panah ke atas busurnya, mengerahkan tenaga untuk menarik tali busur, dan membidik salah satu dari tiga orang di menara pengawas. Di bawah menara pengawas itu, dua orang pembunuh bayaran telah bersiap memanjat ke atas.

Dengan suara *shes*, sebuah anak panah melesat cepat dan langsung menembus dada salah satu pemanah di menara pengawas hingga tembus ke belakang.

Kedua rekan di sampingnya buru-buru berbalik untuk memeriksa. Baru saja mereka hendak berteriak, dua pembunuh bayaran melompat naik, bilah pedang tersembunyi di lengan baju mereka melesat keluar dan langsung menggorok leher musuh dalam satu serangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka kemudian menukar pakaian dengan prajurit yang tewas itu.

Sementara itu, Ezio bergerak seorang diri. Di sebuah tempat yang tersembunyi, ia membunuh seorang prajurit yang sedang buang air kecil. Baru saja pembunuhan itu selesai, seorang prajurit lain memergokinya. Sebelum prajurit itu sempat berteriak, sebuah pisau lempar melesat dan langsung merenggut nyawanya seketika. Ezio membereskan mayat tersebut dan perlahan mendekat untuk mengurangi jumlah penjaga di pos-pos penting.

Seorang prajurit berlari menghampiri seorang perwira yang berdiri di atas panggung eksekusi, lalu berbisik di dekat telinganya.

"Baik, aku mengerti. Mangsa sudah memasuki arena," ucap perwira tersebut.

Sementara itu, di banyak tempat di bagian bawah, aksi pembunuhan senyap sedang berlangsung. Namun, bagi para Kesatria Kenisah, semua itu hanyalah riak kecil belaka, dan justru sudah banyak pembunuh bayaran yang tepergok.

Saat itu, sang kapten di panggung eksekusi melontarkan kecaman bernada emosional kepada para pembunuh bayaran tersebut. Massa di bawah panggung ada yang berteriak-teriak, ada pula yang memilih bungkam tanpa suara.

Setelah berpidato selama beberapa saat, kapten itu melangkah perlahan mendekati tuas pemicu. Cukup dengan mendorong tuas itu secara perlahan, pijakan di bawah kaki kelima pembunuh bayaran tersebut akan lenyap, dan tidak lama kemudian mereka akan menjadi mayat.

"Demi kemuliaan Paus! Demi perdamaian!" teriak sang kapten, lalu dengan penuh tenaga ia menekan tuas tersebut ke bawah.

Pijakan di bawah kaki kelima pembunuh bayaran itu seketika bergeser. Mereka memejamkan mata, seolah-olah telah pasrah menerima nasib.

Terdengar suara *shes* menderu, beberapa anak panah melesat menembus tali yang menggantung kelima pembunuh bayaran tersebut.