Bab 23: Sosok Bangsawan Tanpa Tanding
Setelah selesai makan siang bersama Li Erniu dan Zhang Jinbao, Lin Taiping membuat janji dengan keduanya untuk bertemu di kantor daerah pada petang hari.
Setelah itu, Lin Taiping berjalan-jalan dengan santai mengelilingi Kota Yanggu. Sepanjang jalan, ia melihat beberapa kedai teh dan restoran, dengan panji-panji anggur yang tergantung di sudut atap, berkibar dengan bebas tertiup angin. Deretan toko berjejer rapi, mulai dari pegadaian, toko penjahit, apotek, hingga toko perhiasan. Berbagai macam pedagang kaki lima pun banyak ditemui, mulai dari penjual bedak dan kosmetik, penjual kue kukus, alat pertanian, hingga kerajinan bambu. Ada pula atraksi hiburan seperti pertunjukan monyet, pemain piring putar, dan lempar bola sutra.
Saat melewati seseorang yang sedang mempertunjukkan atraksi menelan pedang, Lin Taiping sengaja berhenti untuk memperhatikan dengan saksama. Untungnya, tidak seperti yang sering digambarkan dalam film, pedang yang ditelan itu tidak muncul dari bagian belakang tubuhnya. Selain itu, masih banyak kegiatan lainnya, bahkan ada pula adu jangkrik. Apa yang dilihat dan didengar Lin Taiping, yang berasal dari dunia modern, terasa sangat baru dan menarik. Ketika benar-benar sampai di dunia kuno yang asing ini, adat istiadat dan budaya yang unik ini tidak bisa dirasakan hanya dengan menonton drama televisi; harus dialami sendiri.
Di sebuah kios barang kelontong, Lin Taiping melihat sebuah syal merah panjang yang tampak bagus, lalu membelinya seharga sepuluh wen. Setelah mengikatkan syal merah itu di kepalanya, ia seketika tampak seperti seorang koki muda profesional.
Sambil terus berjalan, Lin Taiping sampai di pasar sayur terbesar di Kabupaten Yanggu. Karena sudah sore, meskipun masih ada cukup banyak pelanggan, pasar tidak lagi sepadat pagi tadi. Banyak pedagang berhenti menawarkan dagangannya dan duduk beristirahat di bangku kecil mereka; mereka hanya bangkit menyambut dengan ramah jika ada pelanggan yang datang. Lin Taiping berkeliling sejenak untuk memahami harga sayur setempat. Beberapa sayuran musiman jauh lebih murah dibandingkan dengan dunia nyata, namun harga daging relatif sedikit lebih mahal. Selain itu, Lin Taiping menemukan beberapa jenis sayuran dan rempah-rempah yang tidak ada di dunia nyata, yang kemungkinan besar merupakan hasil bumi khas dunia ini.
Setelah berkeliling, di kedua tangan Lin Taiping sudah ada lima ekor ayam betina tua, beberapa bumbu, dan beberapa jenis sayuran. Karena uang hasil berjualan di kios tidak perlu disetorkan lagi, ia memutuskan untuk membeli bahan-bahan mentah sendiri. Kebetulan, ia bisa memilih bahan makanan yang sesuai dengan standarnya untuk meningkatkan kualitas masakannya. Semua barang itu menghabiskan tujuh keping perak.
Saat melewati area penjual ikan, Lin Taiping tiba-tiba melihat banyak orang berkerumun membentuk lingkaran. Dari tengah kerumunan itu, terdengar suara pertengkaran. Ada keributan? Menarik sekali. Mungkin ia bisa mendapatkan pahala lagi.
Lin Taiping menerobos masuk ke dalam kerumunan sambil menjinjing ayam-ayamnya. "Petok, petok, petok!" Ayam-ayam itu ketakutan melihat begitu banyak orang, mereka terus mengepakkan sayap dan bersuara. Banyak orang yang melihat ayam-ayam itu segera menyingkir karena takut pakaian mereka kotor. Dengan mudah, Lin Taiping sampai di barisan paling depan.
Di tengah kerumunan, seorang pedagang ikan dan seorang warga biasa dengan kulit gelap dan kasar sedang memperebutkan sebuah kantong kulit kambing sambil terus bertengkar.
"Kau penjual ikan busuk, untuk apa kau merebut kantongku!" teriak warga itu. Dari penampilannya, ia tampak seperti seorang kuli kasar, suaranya terdengar sangat berat.
"Dasar kau orang terkutuk, kantong ini jelas milikku! Milikku!" balas pedagang ikan itu dengan marah.
"Anggap saja kantong ini kuberikan padamu, tapi kembalikan lima keping uang tembaga yang ada di dalamnya!"
"Kau bilang ini milikmu? Coba panggil kantong ini, lihat apakah ia akan menyahutimu?"
"Berani ikut aku menghadap pejabat?"
"Ayo, siapa takut? Yang tidak mau pergi berarti pengecut!"
Pedagang ikan dan kuli itu sama-sama mengklaim kantong kulit kambing itu milik mereka. Pertengkaran mereka semakin sengit dan nyaris berujung pada perkelahian. Setelah memperhatikan sejenak, Lin Taiping akhirnya memahami penyebab perselisihan mereka. Ternyata, mereka memperebutkan kantong itu demi lima keping uang tembaga di dalamnya. Satu keping uang tembaga setara dengan seribu wen, dan lima keping uang tembaga sama dengan lima tael perak! Pantas saja. Salah satu dari mereka pasti berbohong. Namun, ini mudah diatasi.
Lin Taiping segera mengaktifkan Mata Pendeteksi Iblis. Berdiri di sisi paling dalam lingkaran, jaraknya dengan kedua orang itu kurang dari dua meter, cukup untuk mendeteksi sifat baik dan buruk mereka. Tak lama kemudian, Lin Taiping melihat tanda kebaikan dan kejahatan pada pedagang ikan dan kuli itu.
"Tuan-tuan, jangan bertengkar dulu. Bagaimana kalau saya yang membantu membedakannya?" Tepat sebelum Lin Taiping melangkah lebih jauh, sebuah suara jernih tiba-tiba terdengar dari kerumunan.
Lin Taiping menoleh ke arah sumber suara. Seorang pemuda berparas rupawan dan sangat bersih tampak keluar dari kerumunan sambil mengayunkan kipas lipat. Orang itu tampak sangat mempesona dan anggun, kecantikannya begitu luar biasa hingga sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lin Taiping teringat sebuah bait puisi: "Sosoknya di jalan bagaikan giok, pemuda yang tak tertandingi di dunia."
Saat tatapan mereka beradu tanpa sengaja, Lin Taiping bahkan merasa sedikit rendah diri. Jika bukan karena pakaian yang dikenakannya, ia hampir mengira orang ini adalah seorang wanita. Namun, ada kesan superioritas dari dirinya yang seolah meremehkan segalanya, ditambah pandangan dingin dan acuh tak acuh saat menatap Lin Taiping, membuat Lin Taiping merasa tidak nyaman.
"Dasar banci," gumam Lin Taiping sambil mengerucutkan bibir.
Pemuda itu seolah mendengarnya dan menatap tajam ke arah Lin Taiping dengan matanya yang bening. Lin Taiping tidak takut sedikit pun dan membalas tatapan dingin pemuda itu dengan tatapan lurus. Pemuda itu segera mengalihkan pandangannya tanpa menunjukkan kemarahan sedikit pun.
Sejak kemunculan pemuda itu, banyak wanita yang meliriknya dengan penuh kekaguman. Bahkan pedagang ikan dan kuli yang tadi bertengkar hebat tiba-tiba terdiam. Suasana seketika hening. Semua orang menunggu untuk melihat bagaimana pemuda itu akan menyelesaikan perselisihan tersebut.
Pemuda itu mengambil kantong kulit kambing dari tangan mereka, memeriksanya sejenak, lalu menatap kuli itu dengan tenang. Kuli itu seketika merasa seperti baru saja dijatuhi vonis, ia segera melambaikan tangan. "Bukan saya! Bukan saya!"
Pemuda itu berkata, "Lihat bahumu yang tebal dan punggungmu yang sedikit bungkuk, kau pasti seorang kuli pengangkut barang. Kantung matamu dalam, telapak tanganmu pecah-pecah, dan sendi jarimu bengkak, kau pasti pernah menjadi pedagang garam, kan!"
Kilatan kepanikan melintas di mata kuli itu, ia terbata-bata menjawab, "Sa-saya memang pernah berdagang garam dengan kelompok garam, tapi itu sudah disetujui oleh pemerintah, semua itu perdagangan yang sah—"
"Begitu rupanya," pemuda itu mengangguk. "Memang ada kesepakatan tidak tertulis antara pemerintah dan kelompok garam di dinasti kita, kau tidak perlu takut."
Setelah berkata demikian, ia menimbang-nimbang kantong itu, lalu tiba-tiba menggunakan tenaga dalam untuk merobek kantong tersebut menjadi dua. Kantong kulit itu seketika terbelah, dan lima keping uang tembaga jatuh ke tanah. Pemuda itu memberikan separuh kantong kepada pedagang ikan dan separuh lagi kepada kuli.
Melihat keahlian yang ditunjukkan pemuda itu, semua orang terkejut, namun tidak tahu apa maksudnya. Lin Taiping hanya mengusap hidungnya. Mendengar penjelasanmu yang begitu profesional, kau pasti seorang petugas keamanan atau detektif. Tapi kenapa belum selesai menangani kasusnya, kau malah sudah merusak properti orang?
"Coba cicipi kantong ini, rasanya seperti apa?"
"Asin," jawab kuli itu dengan mata yang berbinar.