Bab 20 Semua Petunjuk Mengarah Kepadanya
Halaman (1/3)
Pelayan yang bertugas memeriksa tali kekang kereta segera kembali melapor.
“Melapor kepada Tuan Muda dan Nyonya, kami telah memeriksanya dengan saksama. Benar ada keausan pada sambungan tali kekang. Kemungkinan besar tali itu telah lapuk karena termakan waktu, bukan sengaja dipotong.”
Pelayan itu menundukkan kepala sangat rendah. Tubuhnya menegang kaku seperti sebatang kayu.
Xiao Jingxing duduk tegak di atas dipan. Wajahnya masih pucat, sementara jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh mengencang nyaris tanpa disadari.
“Keausan yang tidak disengaja?”
Ia mengulangi perkataan itu. Suaranya tidak keras, tetapi mengandung hawa dingin.
Pelayan itu semakin menundukkan kepala dan tidak berani menjawab.
Shen Qingci berdiri diam di samping. Pandangannya menyapu bahu dan punggung pelayan yang menegang, lalu berhenti pada ujung jarinya yang bergetar samar.
Alasan itu jelas hanya dalih untuk mengelak. Xiao Jingxing tidak bertanya lagi dan melambaikan tangan, menyuruh pelayan itu pergi.
Ruangan kembali sunyi. Hanya sesekali terdengar suara batuk Xiao Jingxing yang tertahan.
Ia tahu betul bahwa semua itu bukan kecelakaan. Namun, tanpa bukti, apa yang bisa dilakukannya?
Tidak lama kemudian, Nyonya Lu datang bersama Pengasuh Hua, pelayan pribadinya, serta beberapa dayang. Ia bahkan membawa sendiri sebuah kotak makanan.
Nyonya Lu melangkah cepat ke sisi dipan, lalu menekan dadanya dengan sebelah tangan seolah baru saja mengalami keterkejutan besar.
“Xing’er, apakah tubuhmu sudah lebih baik?” Keningnya berkerut rapat, matanya dipenuhi kecemasan.
“Barusan Ibu mendengar hasil pemeriksaan dan diberi tahu bahwa itu hanya kecelakaan. Syukurlah kepada Langit.” Nada suaranya tergesa-gesa, seolah benar-benar baru saja mengembuskan napas lega.
“Ibu sengaja meminta dapur membuatkan sarang burung dan bubur biji teratai untukmu. Hidangan itu lembut, menyehatkan, dan sangat baik bagi tubuh. Cepat, minumlah selagi hangat.”
Sambil berkata demikian, Nyonya Lu membuka kotak makanan itu sendiri, lalu menyerahkan semangkuk bubur manis yang masih mengepul kepada Xiao Jingxing.
Bubur itu berwarna putih sebening giok, dengan aroma manis yang lembut. Penampilannya memang sangat menggugah selera.
Xiao Jingxing tidak segera menerimanya. Ia menatap Nyonya Lu dengan sorot mata yang rumit.
Shen Qingci maju selangkah dan secara alami mengambil mangkuk itu.
“Terima kasih atas perhatian Ibu. Tuan Muda baru saja minum obat. Beliau dapat menyantapnya nanti.”
Gerakan Nyonya Lu terhenti sesaat, tetapi segera kembali menampilkan kelembutan seorang ibu.
“Qingci memang teliti. Kalau begitu, simpan saja dahulu. Biarkan tetap hangat.”
Ia beralih kepada Shen Qingci, menggenggam tangannya, lalu menepuknya perlahan.
“Kali ini kau benar-benar sudah bekerja keras, dan pasti sangat terkejut. Tubuh Xing’er memang tidak sehat. Kelak Ibu masih harus merepotkanmu untuk merawatnya dengan lebih baik.”
Kata-katanya hangat dan tangannya tampak akrab, tetapi rasa dingin yang merambat dari ujung jemarinya, ditambah tatapannya yang terlalu tenang, membuat hati Shen Qingci terasa berat.
Shen Qingci menurunkan pandangan.
“Merawat Tuan Muda adalah kewajiban seorang istri. Saya tidak berani menyebutnya sebagai beban.”
Nyonya Lu kembali menyampaikan beberapa nasihat dengan suara lembut. Semua perkataannya berpusat pada kesehatan Xiao Jingxing. Tiap kalimatnya dipenuhi perhatian, tetapi entah mengapa tidak terasa sedikit pun hangat.
Halaman (1/3)
Setelah Nyonya Lu pergi, Shen Qingci mengangkat mangkuk bubur sarang burung itu dan mengaduknya perlahan dengan sendok perak.
Buburnya kental, dengan bahan-bahan yang melimpah.
Ia menyendok sedikit dan mendekatkannya ke hidung untuk mencium aromanya.
Sarang burung, biji teratai, gula batu... semuanya merupakan bahan penunjang kesehatan yang lazim digunakan.
Namun, di balik semangkuk bubur manis yang tampak biasa itu, Shen Qingci mendapati niat jahat melalui pengetahuan pengobatannya. Makanan tersebut berlawanan dengan penawar racun yang tengah dikonsumsi Xiao Jingxing. Jika disantap terus-menerus, perlahan-lahan tubuhnya akan terkuras hingga kosong, seperti pasir yang terus mengalir dari sebuah jam pasir.
Sungguh, rencana itu dibuat dengan “niat baik” yang amat mendalam.
Shen Qingci meletakkan bubur tersebut ke samping dan tidak membiarkan Xiao Jingxing memakannya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Kediaman Adipati Jingyuan tampak tenang di permukaan, tetapi diam-diam sebuah desas-desus mulai beredar.
Awalnya hanya beberapa pelayan yang berbisik-bisik, tetapi kemudian suara mereka semakin keras.
“Dengar-dengar, pada hari Tuan Muda mengalami bahaya, Nyonya baru juga berada di dalam kereta.”
“Benar. Mengapa harus sebelum atau sesudahnya? Begitu Nyonya baru masuk ke kediaman, langsung terjadi musibah.”
“Katanya dia pembawa sial, bintang kesialan yang ditakdirkan untuk mencelakakan suami...”
“Pelankan suara! Jangan sembarangan mengucapkan hal seperti itu!”
Yingxin, dayang Shen Qingci, sampai memerah karena marah. Berkali-kali ia hendak keluar untuk membantah, tetapi selalu dicegah oleh Shen Qingci.
“Mulut berada di wajah orang lain. Biarkan saja mereka berkata sesuka hati.”
Nada suara Shen Qingci tenang, seolah-olah semua caci maki itu tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Namun, tatapan para pelayan kepadanya sudah dipenuhi sikap menghindar dan rasa takut yang kentara.
Desas-desus masih bisa diabaikan, tetapi kondisi tubuh Xiao Jingxing semakin mengkhawatirkan.
Batuknya bertambah parah. Terutama pada malam hari, ia sering kali batuk hingga sulit tidur. Keringat dinginnya juga semakin hebat, sampai-sampai pakaian tidurnya hampir setiap malam basah kuyup.
Shen Qingci kembali memeriksa nadinya. Di bawah ujung jarinya, denyut nadi itu dalam, tipis, lemah, dan sedikit kacau.
Racun lama menunjukkan tanda-tanda kambuh. Yang lebih parah, dasar kesehatan tubuhnya telah terkuras terlalu hebat, seperti tanggul di tepi pantai yang sewaktu-waktu dapat runtuh hanya karena sedikit gelombang.
Ia menyusun kembali resep obatnya, menambah beberapa bahan yang berkhasiat menguatkan akar tubuh dan memulihkan tenaga. Ia juga berpesan agar obat itu segera direbus dengan bahan-bahan terbaik.
Namun, ketika pelayan kediaman mengantarkan bahan-bahan obat yang telah dibeli ke Paviliun Qinghui, wajah Shen Qingci benar-benar menggelap.
Beberapa bungkus obat dibuka. Alih-alih aroma obat yang kuat, yang tercium justru bau apek samar.
Beberapa bahan obat penting tampak kusam dan mengering. Bahkan terlihat lubang-lubang kecil bekas gigitan serangga.
“Apa artinya ini?”
Suara Shen Qingci tidak keras, tetapi mengandung hawa dingin.
Pengurus yang bertanggung jawab atas pembelian segera dipanggil. Ia membungkuk dengan tubuh gemetar, wajahnya penuh ketakutan, tetapi juga menyiratkan ketidakberdayaan.
“Melapor kepada Nyonya Tuan Muda, hamba sudah berusaha sebaik mungkin. Akhir-akhir ini toko obat di ibu kota diawasi dengan ketat. Bahan-bahan terbaik sudah dipesan oleh beberapa keluarga besar. Yang beredar di pasaran... hanya tinggal ini.”
Ia terus-menerus membungkuk memberi hormat.
Halaman (2/3)
“Hamba sudah mendatangi beberapa toko. Ini benar-benar yang terbaik yang bisa hamba temukan.”
“Benarkah?”
Shen Qingci mengambil sepotong akar angelika yang jelas-jelas telah berjamur, lalu mengulurkannya di depan pengurus itu.
“Ini juga yang terbaik yang bisa kau temukan?”
Keringat dingin mulai muncul di dahi pengurus itu. Matanya bergerak gelisah.
“Ini... mungkin terkena lembap di perjalanan. Hamba akan segera menukarnya!”
Shen Qingci tidak lagi memandangnya. Ia hanya melemparkan bungkusan bahan obat bermutu rendah itu ke atas meja.
“Tidak perlu.”
Pengurus itu jelas bermasalah. Apakah ia menerima suap lalu mengurangi mutu bahan obat? Ataukah ia menjalankan perintah seseorang?
Menatap bahan obat yang berjamur dan dimakan serangga itu, hawa dingin menjalar dari punggung Shen Qingci. Ini bukan kelalaian. Seseorang jelas tidak ingin Tuan Muda pulih!
Ada orang yang diam-diam mengendalikan pasokan bahan obat, berniat menghabiskan sedikit demi sedikit tenaga hidup Xiao Jingxing dengan cara merebus katak dalam air hangat.
Setelah pengurus itu pergi, Xiao Jingxing menatap bahan-bahan obat bermutu rendah tersebut dalam diam cukup lama.
Ia mengangkat kepala dan memandang Shen Qingci.
“Urusan pembelian bahan obat di kediaman selama ini ditangani oleh seorang pengurus yang merupakan pendamping bawaan Ibu.”
Suara Xiao Jingxing serak. Secercah kesadaran melintas di matanya.
Ketika teringat bahwa orang yang bertanggung jawab membeli obat adalah pengurus pendamping ibunya, cahaya hangat terakhir di mata Xiao Jingxing pun meredup. Banyak hal tidak perlu dijelaskan karena semuanya telah menjadi jelas di dalam hatinya.
Shen Qingci teringat tatapan Nyonya Lu yang tampak penuh perhatian, tetapi sesungguhnya dingin. Ia teringat semangkuk bubur sarang burung yang berlawanan dengan khasiat obat penawar. Ia juga teringat bekas “keausan” yang terlalu rapi pada tali kekang kereta hari itu.
Semua petunjuk mengarah kepada orang yang sama—perempuan yang selama ini dianggap Xiao Jingxing sebagai ibunya.
Malam pekat seperti tinta, awan tebal menutupi bulan.
Shen Qingci berdiri di depan jendela, menatap malam yang kelam di luar.
Keadaan tidak boleh terus dibiarkan seperti ini. Ia harus mengambil langkah lebih dahulu.
Tiba-tiba ia teringat perkataan Gu Qingzhou sebelum pergi.
“Jika terjadi sesuatu, datanglah ke Lundu dan cari aku.”
Lundu... restoran itu? Seharusnya itulah markas kakak seperguruannya.
Shen Qingci menarik napas dalam-dalam. Dari laci rahasia meja rias, ia mengeluarkan sebuah peluit kayu hitam yang tampak biasa saja. Benda itu merupakan tanda penghubung khusus milik perguruannya.
Ia berjalan ke sudut halaman yang paling terpencil. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitarnya, ia menempelkan peluit kayu hitam itu ke bibir dan meniupkan rangkaian nada singkat yang tertahan.
Suaranya tidak keras, tetapi memiliki frekuensi yang khas. Nada itu menyatu dengan angin malam dan mengalir menuju kejauhan.
Setelah semua selesai, suasana di sekelilingnya tetap sunyi.
Shen Qingci menyimpan kembali peluit itu lalu berbalik memasuki kamar. Cahaya lilin bergoyang-goyang, menerangi wajahnya yang tenang, tetapi luar biasa teguh.
Dalam permainan ini, kini tiba waktunya ia sendiri yang menggerakkan bidaknya.
Halaman (3/3)