Bab Seratus Lima Puluh Lima: Tidak Terbayangkan
Kami turun dari kendaraan di sebuah kompleks peristirahatan yang terletak di kaki gunung. Pantas saja disebut sebagai keluarga Sun, kompleks ini dibangun dengan sangat megah dan berwibawa. Setelah Xiao Qi dan Sun Liancheng melangkah masuk, aku dan Si Gemuk tanpa sadar berjalan di barisan belakang. Si Gemuk berbisik kepadaku, "Yezi, apakah kamu tidak merasa sikap keluarga Sun terhadap kakak tertuamu ini sangat penuh teka-teki?"
"Aku bisa merasakannya. Mereka sepertinya sama sekali tidak menyukai kakakku. Terlebih lagi ucapan Sun Liancheng bahwa kakak tertuaku tidak mungkin bisa kembali lagi ke Jinan—aku merasa itu sama sekali tidak seperti apa yang dia jelaskan tadi," jawabku.
Si Gemuk mengangguk setuju dan berkata, "Itulah sebabnya sikap keluarga Li terhadapmu jauh lebih ramah. Sebaliknya, keluarga Sun yang seharusnya menjadi golongan kita sendiri ini justru terasa sangat aneh."
"Pernahkah kamu mendengar tentang Empat Sekte Jalan Hantu?" tanyaku kepada Si Gemuk.
"Pernah dengar. Setelah kematian Guo Zhongyong, Jalan Hantu tercerai-berai. Keluarga Guo yang merupakan faksi terkuat menghilang seluruhnya tanpa jejak, sementara sisanya memilih menyembunyikan diri dan tidak lagi berani menggunakan nama Jalan Hantu untuk berjalan di muka bumi. Karena itulah, aku tidak pernah menyangka bahwa Nyonya Tua Li dan keluarga Sun ternyata juga merupakan bagian dari pengikut Jalan Hantu," jelas Si Gemuk.
Di tengah percakapan kami, Sun Liancheng telah memandu kami memasuki sebuah halaman terpisah. Tata letak di dalam halaman ini sangat indah; dipenuhi paviliun, koridor berukir, batu hias buatan, aliran anak sungai, serta suara burung berkicau yang terdengar di mana-mana. Begitu memasuki pekarangan ini, Sun Liancheng menyingkirkan ekspresi sinis dan santainya, berubah menjadi sosok yang amat serius. Dia berjalan menuju pintu utama sebuah bangunan megah, lalu berkata dengan suara pelan, "Kakek, mereka sudah datang."
"Silakan masuk," terdengar sebuah suara dari dalam ruangan.
Usia Sun Liancheng sebaya dengan kami, yang berarti kakeknya seharusnya seusia dengan kakekku. Namun, suara kakeknya terdengar sangat muda. Sun Liancheng menoleh kepada kami dan berkata, "Ayo, mari masuk."
Saat pintu perlahan terbuka, sesosok wajah wanita menyembul keluar. Wanita itu memiliki wajah berbentuk biji melon yang sangat rupawan dengan rambut disanggul rapi, memancarkan pesona klasik yang kental. Ketika wanita itu membukakan pintu, Si Gemuk tiba-tiba mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut, dan aku pun ikut terkaget-kaget. Baru setelah pintu terbuka lebar, aku menyadari bahwa wanita tersebut hanya mengenakan sehelai kain penutup dada berwarna merah di tubuhnya, sementara bagian tubuh lainnya sama sekali tidak berbusana. Sepasang kaki jenjangnya memancarkan rona kemerahan, dan kain penutup dada yang begitu pendek itu membuat area segitiga rahasia di bawah sana tampak samar-samar tersembunyi, memancarkan daya pikat yang teramat kuat.
"Benda apa ini?" Xiao Qi mengerutkan kening sambil melirik sekilas ke arah Sun Liancheng.
Wajah Sun Liancheng tampak sedikit canggung saat berkata, "Sst, jangan banyak bicara. Tempramen kakekku kurang begitu baik."
Jujur saja, melihat pemandangan seperti ini membuatku tidak berani melangkah masuk. Mungkinkah wanita ini adalah istri dari kakek Sun Liancheng? Orang tua itu sudah sangat lanjut usia, tetapi mengapa seleranya masih seperti ini?
Xiao Qi mengerutkan kening semakin dalam. Dia mundur ke belakang dan berdiri di dekatku serta Si Gemuk, lalu berkata, "Kalian berdua berjalanlah di depan."
Aku sendiri tidak berani menggerakkan kaki. Jangankan membahas watak kakek Sun tersebut, keberanian wanita itu membukakan pintu dengan penampilan setelanjang itu di hadapan kami sungguh di luar batas nalar yang bisa aku percaya. Si Gemuk menatap kami berdua dan berkata, "Tenanglah! Ada Si Gemuk di sini, jangan takut."
"Si Gemuk, ini bukan masalah takut atau tidak, tapi ini..." kataku.
"Apa yang aneh di zaman sekarang ini?" tukas Si Gemuk.
Tanpa buang waktu, dia melangkah mengikuti Sun Liancheng masuk ke dalam ruangan itu. Aku dan Xiao Qi terpaksa mengeraskan hati dan ikut melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu, Han Xue menjerit kecil sambil menutup matanya, sementara kepalaku terasa berdengung hebat seolah hampir meledak dalam sekejap.
Dari luar, bangunan ini tampak seperti loteng biasa pada umumnya. Namun, begitu melangkah masuk, pemandangan di dalamnya ternyata sangat luar biasa luas. Ruangan yang seharusnya dirancang setingkat tiga lantai itu ternyata dibiarkan tanpa sekat dan hanya berupa satu ruangan besar dengan langit-langit yang jauh lebih tinggi daripada aula Buddha mana pun yang pernah kulihat.
Di tengah-tengah ruangan tersebut, berdiri sebuah patung raksasa yang seketika mampu membuat siapa pun merasa salah tingkah dan bersemu merah. Patung itu menggambarkan seorang pria bertopeng yang berdiri berdampingan dan menyatu dengan patung seorang wanita. Patung tersebut dipahat dengan sangat mendetail dan mirip aslinya. Sang pria digambarkan tanpa sebusana apa pun, mengenakan topeng yang persis seperti yang dikenakan oleh kakekku, sementara patung wanita berwajah klasik itu dipahat dengan segala keindahan ragawi yang begitu sempurna.
Di bawah patung tersebut, tampak seorang pria paruh baya tengah dikelilingi oleh beberapa wanita muda berpakaian serupa dengan wanita yang membukakan pintu tadi.
Han Xue mencengkeram lenganku erat-erat, membenamkan wajahnya di bahuku. Sementara aku, menyaksikan pemandangan yang tersaji di depan mata, merasakan napasku memburu dan wajahku merona panas. Bagaimana pun juga, aku ini masih seorang pemuda suci yang berpengalaman bersih. Setelah beberapa saat melihatnya, tubuhku terasa membara karena risih hingga aku tidak berani menatapnya lagi dan berusaha mengalihkan pandangan ke tempat lain. Namun, saat melihat ke sudut lain, seluruh pandangan atasku terhadap dunia seakan runtuh seketika.
Di dalam loteng ini, lukisan erotis tersebar di mana-mana.
Lukisan dinding di sisi ruangan menggambarkan hal serupa.
Gulungan karya seni yang tergantung pun bertemakan sama.
Setiap lukisan menampilkan adegan yang berbeda-beda.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan aroma harum yang merangsang hasrat. Aku bahkan tidak tahu tempat apa ini sebenarnya—ini benar-benar sebuah sarang kenikmatan! Pria paruh baya itu menyadari kehadiran kami di dekat pintu, namun dia dan para wanita di sekitarnya sama sekali tidak mempedulikan kami dan terus melanjutkan aktivitas mereka dengan santai. Aku melirik ke arah Sun Liancheng dan mendapati bahwa meskipun ekspresinya tampak canggung, keadaannya jauh lebih baik daripada kami. Aku benar-benar hampir tidak percaya apakah semua ini adalah bagian dari halusinasi.
Sudah sepuluh menit sejak kami masuk, dan wanita yang membukakan pintu tadi kini telah ikut bergabung dalam pusaran kenikmatan itu. Harus diakui, ketahanan fisik pria paruh baya tersebut sangat luar biasa; sudah ada dua wanita yang terkulai lemas di lantai dengan tatapan sayu. Tepat pada saat itu, Han Xue yang tadinya membenamkan diri di tubuhku tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatapku. Kedua pipinya dihiasi rona merah yang memikat. Semula kukira dia hanya merasa malu, tetapi ketika kulihat matanya, aku merasa ada kejanggalan; tatapannya dipenuhi dengan gelora birahi dan rasa haus yang mendebarkan, sangat kontras dengan dirinya yang biasanya.
"Ada apa denganmu?" tanyaku dengan suara berbisik rendah.
Pada saat yang sama, Xiao Qi merangkul leherku dan mendekatkan bibirnya yang kemerahan ke arahku. Aku terkejut bukan kepalang dan langsung mendorongnya menjauh. Begitu terdorong, aku merasakan tubuhnya begitu lemas tak bertulang. Selepas kadorong, dia sepertinya melihat beberapa orang di bawah patung tadi, lalu bangkit merangkak dan berjalan tertatih-tatih ke arah mereka dengan pakaian yang perlahan lucut dari tubuhnya.
"Si Gemuk! Dupa ini bermasalah! Cepat cegah Xiao Qi!" seruku sambil bergerak cepat menyongsong Xiao Qi dan langsung mengangkat tubuhnya dalam gendongan.
Begitu berada dalam dekapanku, dia menatapku dengan mata sayu dan napas terengah-engah seraya berujar, "Bukankah tadi kamu ingin mendorongku pergi?"
"Kamu keracunan!" bentakku.
Selesai berkata demikian, aku menoleh ke arah Sun Liancheng dan memaki, "Bukankah kamu berniat mengejarnya? Sialan! Kamu sudah gila, ya?!"
Biasanya aku bukanlah tipe orang yang mudah melontarkan kata-kata kasar. Sekalipun melihat seseorang melakukan hal-hal senonoh dengan para wanita tadi, aku masih bisa menganggapnya sebagai urusan orang lain dan memilih untuk tidak ikut campur. Namun, Xiao Qi hampir saja celaka karena pengaruh dupa tersebut. Selama beberapa hari terakhir bersama, aku sudah sangat menyayangi sepupuku ini. Ditambah lagi, jika para wanita di ruangan ini memang direkrut secara sukarela, itu satu hal; tetapi jika mereka juga dijebak menggunakan dupa pembius semacam ini, maka kakek Sun Liancheng itu benar-benar bajingan yang lebih rendah daripada hewan.
Aku menggendong Xiao Qi keluar dari ruangan tersebut. Si Gemuk menyusul keluar tidak lama kemudian. Dia meraih pergelangan tangan Xiao Qi, mengerutkan kening, dan berkata, "Ini adalah dupa Huanyi yang hanya berefek pada wanita."
"Cepat bantu dia menawarkan racunnya!" seruku panik.
Si Gemuk melirik ke arah aliran air buatan di dekat batu hias, lalu mengambil alih Xiao Qi dari gendonganku. Dia berjalan menuju tepi air dan langsung membenamkan kepala Xiao Qi ke dalam air, menahannya selama setengah menit sebelum mengangkatnya kembali. Setelah mengulangi proses itu beberapa kali, aku tiba-tiba mendengar Xiao Qi berteriak murka, "Si Gemuk sialan, apa yang kamu lakukan?!"
Si Gemuk melepaskan pegangannya dan menjawab santai, "Kenapa kamu berteriak? Si Gemuk ini sedang menyelamatkanmu. Dupa di dalam ruangan tadi adalah dupa Huanyi, kalau bukan karena sepupumu ini, kamu sudah celaka!"
Xiao Qi menunduk untuk memeriksa pakaiannya yang kini hanya menyisakan pakaian dalam, membuat ekspresi wajahnya berubah drastis. Dia bangkit berdiri, menendang pintu kamar hingga terbuka, dan melangkah masuk kembali.
Karena khawatir akan keselamatan Xiao Qi, aku dan Si Gemuk buru-buru menyusul masuk ke dalam. Di dalam sana, adegan sesat itu akhirnya telah mencapai penghujungnya. Pria paruh baya tersebut tampak acuh tak acuh terhadap kehadiran kami. Dia melemparkan begitu saja seorang gadis yang terkulai lemas ke lantai, lalu dengan tubuh telanjang bulat berbalik dan berkata kepada Sun Liancheng, "Liancheng, bawa mereka keluar, dan berikan masing-masing seratus ribu yuan."
Sun Liancheng mengangguk, melangkah keluar, dan kembali tidak lama kemudian bersama beberapa orang pengikut. Orang-orang itu tampaknya sudah terbiasa dengan situasi semacam ini; masing-masing dari mereka menggendong seorang gadis dan berjalan keluar ruangan.
Barulah pada saat itu pria paruh baya tersebut menatap kearah kami dan berkata, "Tunggu sebentar, aku akan pergi mandi terlebih dahulu."