Bab 29: Emas
Halaman (1/3)
25 September, Festival Pertengahan Musim Gugur.
Di bawah naungan pepohonan, di halaman rumah tua keluarga Li.
Wang Xiuying duduk di bangku pendek sambil mendekap cucu perempuannya yang baru berusia dua tahun. Pipi si kecil belepotan remah ubi panggang, sementara matanya terus mengikuti burung-burung gereja yang melompat-lompat di halaman.
Bocah itu baru belajar berjalan dan sedang berada pada usia yang gemar bergerak serta membuat keributan. Begitu melihat burung gereja, ia langsung hendak mengejarnya. Langkahnya masih sempoyongan, sehingga Wang Xiuying tak berani membiarkannya pergi sendirian.
Sambil menggenggam tangan mungil cucunya, Wang Xiuying menggerutu, “Toko koperasi itu cuma beberapa ratus meter dari sini, tapi ibumu sudah setengah jam belum juga pulang. Pasti lagi mengobrol ngalor-ngidul dengan gerombolan perempuan tua itu. Sama saja seperti paman keduamu, sama-sama bikin orang tak bisa tenang.”
“Anak ketiga, sudah selesai mengerjakan tugas? Keluar dan temani Kakak Besar bermain sebentar.” Wang Xiuying memang tak sabaran. Ia lebih suka memasak daripada mengasuh anak.
“Masih ada dua soal lagi,” jawab Li Na asal. Anak itu masih terlalu kecil, mana mungkin mereka bisa bermain bersama?
“Dasar anak perempuan tak tahu diuntung, tak pernah mau membuat orang tenang.” Wang Xiuying mengomel, lalu terpaksa membiarkan si kecil menyeretnya berkeliling halaman.
Kriiit...
Pintu halaman terbuka. Ma Laixiao masuk sambil membawa tas jaring.
“Ibu... gendong.” Si kecil berlari menghampiri dengan air liur masih menetes dari bibirnya.
Ma Laixiao tak bisa mengulurkan tangan. “Anak manis, Ibu sedang membawa barang. Nanti Ibu gendong.”
Wang Xiuying membuka tas jaring itu dan melongok ke dalam. “Beli apa saja? Kenapa lama sekali?”
“Dua kati daging babi, satu kati tahu, dua kati arak curah, dan seekor ikan mas besar. Ikannya segar sekali, tadi masih melompat-lompat.” Ma Laixiao meletakkan barang-barang itu di atas meja, lalu menerima putrinya dan menciumnya. Setelah itu, ia merendahkan suara. “Ibu, dengar-dengar, Huzi, anak Zhang Yuzhen, akan masuk pabrik.”
“Masuk pabrik? Atas dasar apa anaknya bisa masuk pabrik?” Wang Xiuying mengerutkan kening. “Apa putri sulungnya yang mencarikan jalan?”
Putri sulung Zhang Yuzhen menikah dengan seorang pria dari ibu kota, sesuatu yang dianggap sangat membanggakan di desa mereka.
“Bukan. Si Perempuan Bermulut Cerocos yang mencarikan koneksi. Katanya pabrik di kota kita sendiri. Semua urusan administrasinya sudah beres.”
Wang Xiuying tertegun sejenak, lalu terkekeh. “Pabrik kipas angin?”
“Ibu, kok tahu? Kabar Ibu bahkan lebih cepat daripada kabarku.”
“Zhang Yuzhen, Zhang Yuzhen... Kapan kebiasaanmu berebut makanan itu bisa berubah?” Wang Xiuying mengertakkan geraham, marah sekaligus ingin tertawa.
Ma Laixiao tahu hubungan ibu mertuanya dengan Zhang Yuzhen tidak baik. Ia pun tak berani bertanya lebih jauh dan membawa putrinya masuk ke rumah.
Wang Xiuying mengeluarkan talenan dan pisau dapur, lalu mulai menyiapkan makan malam. Ia mencuci sayuran, memotong daging, dan membumbui ikan dengan gerakan cekatan.
Tak lama kemudian, Li Tua juga masuk sambil memanggul cangkul.
“Masak apa?”
Wang Xiuying meliriknya. “Pergi bekerja mencari upah di tempat anak kesayanganmu lagi?”
“Bicaramu itu, jangan-jangan nanti ditertawakan orang. Aku pergi melihat jagung di ladang keluarga. Beberapa hari lagi sudah bisa dipanen.” Li Tua meletakkan cangkul, lalu membantu menyiangi sayuran. “Kenapa? Siapa lagi yang membuatmu kesal?”
Wang Xiuying mengangguk ke arah rumah. “Menantu sulung pergi ke toko koperasi membeli barang. Katanya Huzi, anak Zhang Yuzhen, akan masuk pabrik kipas angin.”
Li Tua bertanya balik, “Istri Si Bermulut Cerocos yang mencarikan koneksi?”
“Memangnya siapa lagi?”
“Istri Si Bermulut Cerocos itu benar-benar tak tahu malu. Yang dia incar selalu orang-orang dari desa kita.”
“Orang dari desa lain belum tentu percaya kepadanya. Lagi pula, dia menikah kemari dari kota. Matanya tinggi, mungkin sejak awal dia tak pernah menganggap dirinya bagian dari desa ini.”
Li Tua mendengus. “Kali ini bakal ada keributan yang menarik.”
Wang Xiuying menghentikan pekerjaannya. “Siapa bilang tidak? Anjing saling menggigit, kedua-duanya sama-sama penuh bulu. Zhang Yuzhen sudah bersaing denganku selama separuh hidup. Dulu ketika aku ingin mengelola toko koperasi, dia merebutnya dariku. Kalau tidak, keluarga kita pasti sudah lama menghasilkan uang. Sekarang dia masih mau berebut jatah masuk pabrik dengan kita. Nah, sekarang dia sendiri yang jatuh ke dalam lubang. Rasakan!”
“Jangan ikut campur. Biarkan saja mereka ribut sendiri.”
“Aku justru tak mau ikut campur. Aku akan duduk menunggu pertunjukannya. Oh iya, kenapa anak kedua belum pulang?”
“Waktu aku pulang, dia dan anak sulung sedang membuat para-para untuk bibit mentimun. Sebentar lagi selesai.”
“Tadi Zhuzi datang mengantar dua bungkus kue bulan lima isian. Aku menyuruh anak itu tinggal makan, tapi dia tidak mau.”
Li Tua menghela napas. “Kasihan juga anak itu, melewatkan Festival Pertengahan Musim Gugur sendirian.”
“Siapa bilang tidak? Ibunya juga kejam. Baru dua tahun sejak suaminya meninggal, dia sudah membawa anak bungsunya menikah lagi... Bagaimanapun, aku tak akan sanggup melakukan hal seperti itu.”
“Katanya ibunya menikah ke Tongzhou. Kehidupannya cukup baik. Sekarang dia juga bisa dibilang orang ibu kota.”
Wang Xiuying mencibir. “Tongzhou juga pedesaan. Tetap saja harus mengais rezeki dari ladang.”
“Ibu, kalian sedang membicarakan apa? Siapa orang ibu kota?” Li Weidong masuk ke halaman sambil memanggul sekop, diikuti Li Zhe.
“Cuma mengobrol sembarangan.” Wang Xiuying menjawab sekenanya, lalu berkata kepada Li Zhe yang berada di belakang, “Anak kedua, hari ini Festival Pertengahan Musim Gugur. Zhuzi sendirian, kasihan juga. Panggil dia kemari untuk makan.”
“Zhuzi bilang kemarin anak-anak anjing di rumahnya sudah membuka mata. Aku memang hendak pergi memilih seekor.” Li Zhe menepuk-nepuk lumpur di celananya.
Li Weidong meletakkan sekop, lalu bertanya, “Adik kedua, kau bisa memilih anjing? Kalau begitu, biar aku ikut.”
“Kakak kedua, aku juga mau melihat anak anjing.” Li Na menyingkap tirai pintu dan berlari keluar.
Wang Xiuying langsung memberi perintah, “Anak sulung, pergi nyalakan tungku. Anak kedua, bawa anak ketiga. Melihat wajah kalian saja sudah membuatku kesal.”
Li Weidong terdiam.
Kedua kakak beradik itu pun keluar. Li Na melompat-lompat kecil, dua kepang rambutnya bergoyang ke kiri dan kanan. Tubuhnya tampak jauh lebih berisi dibanding sebulan lalu, sampai-sampai kemeja kotak-kotak jingga yang dikenakannya terlihat kekecilan.
Li Zhe berjalan di belakangnya dengan wajah penuh kelegaan.
Di kehidupan sebelumnya, kondisi keluarga mereka serba kekurangan. Tubuh Li Na kurus dan lemah karena kekurangan gizi. Kesehatannya buruk, dan setelah menikah ia tak kunjung bisa memiliki anak. Kehidupannya di keluarga suaminya pun tidak berjalan baik.
Untungnya, sekarang ia masih kecil. Selama asupan gizinya tercukupi, tubuhnya masih bisa dipulihkan.
“Zhuzi.”
Li Zhe berseru sambil mendorong pintu halaman.
Halaman (2/3)
Da Huang berbaring di dalam kandangnya. Ia mengangkat kepala sekilas, lalu menunduk kembali dan menjilati anak-anak anjing di sisinya.
“Kak Zhe, Xiao Na juga datang.” Zhao Tiezhu keluar dari rumah.
“Aku datang memanggilmu untuk makan. Xiao Na mendengar aku hendak memilih anak anjing, lalu bersikeras ikut melihat.”
“Hei, aku sudah memilihkannya untuk kalian. Coba lihat, bagaimana menurutmu yang ini?” Zhao Tiezhu berjalan ke sisi kandang, berjongkok, lalu mengangkat seekor anak anjing berbulu lebat.
“Bagaimana menurutmu anak ini? Dia yang pertama membuka mata dan paling galak berebut susu.”
Li Zhe mengangkat anak anjing itu dengan memegang kulit longgar di belakang lehernya. Kepala dan punggungnya berwarna kuning, sedangkan wajah, dada, dan perutnya putih. Kaki serta ekornya belang kuning-putih. Kedua kaki depannya menggapai-gapai udara dengan enggan, disertai rengekan.
“Anak anjingnya lucu sekali. Bolehkah aku menggendongnya?” Li Na menggosok-gosok kedua tangannya dengan penuh semangat, tetapi tak berani langsung menyentuhnya.
“Hati-hati, jangan sampai dicakar. Anak anjing yang masih menyusu biasanya cukup galak.” Li Zhe tidak langsung menyerahkannya kepada Li Na. Ia menurunkannya ke tanah agar adiknya bisa bermain bersama si anak anjing.
“Kak Zhe, bagaimana menurutmu yang ini? Kalau tidak suka, pilih sendiri saja.”
Li Zhe menatap anak-anak anjing lainnya. Ia merasa tak ada yang sebanding dengan anak anjing berkepala kuning dan berwajah putih itu.
“Yang ini saja. Pilihanmu pasti bagus.”
Li Na membelai bulu lembut di punggung anak anjing itu. “Bulu anak anjing ini lembut sekali. Sudah diberi nama belum?”
“Belum.”
Li Na mengernyitkan dahi dan berpikir sungguh-sungguh. “Bagaimana kalau namanya Huangtao?”
Li Zhe menjawab, “Namanya memang lucu. Tapi dia anjing jantan. Saat masih kecil, nama Huangtao boleh saja, tetapi ketika sudah besar, rasanya kurang cocok.”
“Kak, menurutmu namanya apa?”
“Namai saja Jinzi. Artinya bagus, dan saat dewasa dia bisa menjaga rumah.”
Li Na memonyongkan bibir. Ia lebih menyukai nama pilihannya sendiri. “Kak Zhuzi, menurutmu mana yang lebih enak didengar?”
Zhao Tiezhu tersenyum polos. “Menurutku Jinzi juga lebih bagus. Kedengarannya lebih gagah.”
Li Zhe menjentikkan jarinya. “Dua lawan satu. Namanya Jinzi.”
Li Zhe mengusap kepala anak anjing itu, lalu mengangkatnya dan mengembalikannya ke sisi Da Huang.
“Jaga anak-anakmu baik-baik. Malam nanti aku bawakan tulang.”
“Guk...”
Da Huang seolah-olah mengerti, lalu mengangkat kepala dan menggonggong sekali.
Li Na mulai gelisah. “Kak, bukankah Jinzi akan kita bawa pulang?”
“Memangnya kau pikir bagaimana? Dia masih menyusu.” Li Zhe menarik adiknya untuk pergi. “Zhuzi, kunci pintunya baik-baik, lalu datang ke rumah kami untuk makan.”
Halaman (3/3)