Bab 33: Ketetapan Hati
Halaman (1/3)
Rumah Zhu Yimin.
Lantai ruang utama berantakan. Meja terbalik, mangkuk dan sumpit berserakan di mana-mana. Lemari di kamar dalam juga diobrak-abrik hingga kacau balau; pakaian dan barang-barang lain terlempar ke segala penjuru.
Zhu Yimin menatap kaca cermin yang retak, memandangi tiga gurat darah di wajahnya, lalu meludah. “Perempuan pemboros! Bagaimana aku bisa keluar menemui orang-orang?”
Semalam, Zhu Yimin kembali membicarakan rencananya untuk membangun rumah kaca sayuran.
Zhou Yufeng bersikeras tidak mau membangunnya tahun ini. Ia ingin menunggu sampai tahun depan. Menurutnya, kalau Li Zhe berhasil mendapatkan uang, tahun depan mereka juga akan membangun rumah kaca. Kalau Li Zhe rugi, mereka cukup menonton kegagalannya sebagai hiburan.
Zhu Yimin sangat paham. Bukan hanya istrinya yang berpikiran seperti itu, banyak orang di desa juga diam-diam menunggu hasil usaha Li Zhe.
Namun Zhu Yimin berbeda. Keluarga Zhu sudah menanam sayuran selama tiga generasi. Ia bisa langsung melihat bahwa rumah kaca sayuran itu pasti akan menghasilkan uang.
Seperti kata pepatah, orang luar hanya melihat keramaian, sedangkan orang yang paham melihat seluk-beluknya.
Orang-orang desa hanya memperhatikan mentimun di rumah kaca milik Li Zhe, bahkan bertaruh apakah tanaman itu akan mati kedinginan saat musim dingin tiba.
Banyak pula yang menanyakan hal tersebut kepadanya. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu apakah mentimun di dalam rumah kaca mampu bertahan melewati musim dingin yang menggigit.
Namun, apakah pertanyaan itu penting?
Penting, tetapi juga tidak terlalu penting.
Orang-orang itu hanya menonton keramaian dan sama sekali tidak memikirkannya dengan saksama. Yang bisa menghasilkan uang bukan hanya mentimun yang dipanen menjelang akhir tahun. Mentimun yang dipanen sekarang juga menguntungkan.
Biasanya, pada masa seperti ini, sebagian besar tanaman mentimun di wilayah utara sudah dicabut. Suhu yang rendah membuat mentimun berhenti tumbuh.
Suhu di rumah kaca keluarga Li lebih tinggi belasan derajat daripada di luar. Sulur mentimunnya bahkan lebih subur daripada rumput liar di musim panas. Kalaupun mentimun di dalam rumah kaca tidak mampu melewati musim dingin, waktu panennya tetap bisa ditunda satu atau dua bulan tanpa masalah.
Pepatah lama itu benar: sayuran menjadi mahal karena langka. Keuntungan dari mentimun selama dua bulan tersebut bahkan bisa melampaui penghasilan sepanjang tahun.
Belum lagi panen sayuran pertama pada awal musim semi. Semua orang tahu bahwa sayuran baru bisa ditanam setelah cuaca menghangat. Di sekitar Langfang, mentimun baru dapat ditanam pada April dan dipanen pada Juni. Saat itu, semua mentimun mulai beredar di pasaran sehingga harganya tidak mungkin tinggi.
Suhu di rumah kaca sayuran lebih hangat. Penanaman bisa dimulai sejak Maret dan panen dilakukan pada Mei. Jika hasil panen dijual sebulan lebih awal dan hanya dia satu-satunya penjual sayuran, kalau bukan dia yang kaya, lalu siapa?
Mentimun membutuhkan suhu yang cukup tinggi. Jika yang ditanam adalah sayuran tahan dingin seperti seledri, bayam, kucai, atau selada, waktu panennya bisa ditunda lebih lama lagi.
Untuk apa menunggu sampai tahun depan? Tahun depan, semua desa di sekitarnya pasti sudah tahu bahwa rumah kaca sayuran bisa menghasilkan uang. Saat semakin banyak orang menanam, sayuran akan melimpah dan harganya kembali jatuh.
Bagi Zhu Yimin, rumah kaca sayuran itu ibarat harta karun. Semakin cepat dibangun, semakin cepat pula menghasilkan uang.
Ia sudah menjelaskan semua alasan itu kepada istrinya, tetapi Zhou Yufeng tetap tidak mau mengalah. Keras kepala setengah mati, sepeser pun tidak mau mengeluarkan uang. Setelah mereka berdebat beberapa kali, Zhou Yufeng naik pitam dan langsung main tangan.
Ia menghajar Zhu Yimin, lalu mengemasi barang-barangnya dan membawa anak mereka pulang ke rumah orang tuanya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Zhu Yimin begitu marah sampai tidak bisa tidur hampir sepanjang malam. Menjelang pagi, barulah ia menyadari bahwa marah-marah tidak ada gunanya. Yang penting sekarang adalah segera membangun rumah kaca.
Zhou Yufeng tidak mau mengeluarkan uang? Ia masih bisa meminjam dari bank untuk membangun rumah kaca. Setelah memutuskan, ia langsung bertindak. Ia mengenakan pakaian, melilitkan syal hingga menutupi wajah, lalu keluar rumah.
Zhu Yimin berjalan menyusuri jalan utama menuju kantor desa. Kebetulan ia melewati toko penjualan barang kebutuhan milik Zhang Yuzhen. Beberapa perempuan tua sedang duduk di dekat tungku di depan toko sambil berjemur.
“Ya ampun, ketupat dari rumah siapa yang menjelma jadi manusia? Syalnya dililit sampai yang kelihatan cuma dua biji matanya.”
Istri Si Mulut-Cepat meludahkan kulit kuaci ke tanah. Sejak membantu Lin Xiaohu mendapatkan pekerjaan di pabrik, ia menjadi pelanggan istimewa toko itu dan tidak pernah kekurangan camilan.
“Suamimu, Zhu Yimin,” balas Zhu Yimin dengan leher ditegakkan. Ia sudah kesal kepada perempuan itu sejak lama.
“Cih! Dasar labu pendek, berani juga mengambil keuntungan dari perempuan tua sepertiku. Apa kau tidak takut suamiku, Si Mulut-Cepat, mencabik-cabikmu?”
Istri Si Mulut-Cepat melemparkan segenggam kulit kuaci ke arah Zhu Yimin.
“Suamimu paling cuma pandai mengumbar omong kosong. Kalau benar-benar berkelahi, dia belum tentu bisa mengalahkanku.”
Zhu Yimin sudah sering menjadi bahan gunjingan perempuan itu, jadi ia tidak pernah bersikap baik kepadanya. Tanpa menghentikan langkah, ia memasuki halaman kantor desa.
Istri Si Mulut-Cepat melotot ke arah punggungnya dan berteriak, “Bual saja terus! Katanya mau mengalahkan suamiku, padahal kau sendiri tidak mampu mengalahkan istrimu. Kalau memang laki-laki, buka syalmu dan biarkan semua orang melihat wajahmu!”
Bibi Gemuk yang sedang merajut sweter menjulurkan leher. “Memangnya kenapa wajahnya?”
“Kenapa? Dicakar istrinya, tentu saja.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Begitu mendengar ada gosip, para perempuan di sekitar mereka segera merapat.
“Keluarga kami bertetangga. Semalam dia dan istrinya mula-mula bertengkar, lalu saling memukul. Suaranya keras sekali sampai anak-anak di rumahku terbangun. Aku melihat istrinya pergi sambil membawa buntelan. Sepertinya dia pulang ke rumah orang tuanya.”
“Ya ampun, sampai sehebat itu. Mereka bertengkar soal apa?”
Istri Si Mulut-Cepat dikerumuni para perempuan. Mereka mencondongkan tubuh dengan penuh harap, menantikan ceritanya. Perempuan itu sedikit mengangkat dagunya, sangat menikmati perhatian tersebut.
“Dari yang kudengar, mereka bertengkar karena masalah uang. Si Labu Pendek ingin membangun rumah kaca, tetapi istrinya tidak mau memberinya uang. Akhirnya mereka saling tarik dan pukul.”
“Rumah kaca apa? Yang dibangun anak kedua keluarga Li itu? Bukankah itu cuma buang-buang uang? Kalau aku jadi istrinya, aku juga tidak akan setuju.”
“Benar. Kudengar keluarga Li menghabiskan beberapa ribu yuan untuk membangun rumah kaca itu. Uang sebanyak itu bahkan cukup untuk membangun dua kamar rumah baru. Orang yang masih waras tidak akan mengutak-atik benda semacam itu.”
“Zhu Yimin juga sudah gila. Hidupnya baik-baik saja, tetapi malah membangun benda pemboros seperti itu.”
Sekelompok perempuan itu berceloteh dengan suara beragam, membuat toko tersebut seketika menjadi ramai.
“Bzzzt...”
Pengeras suara kantor desa mulai berbunyi.
“Perhatian kepada seluruh warga desa. Sekarang akan disiarkan informasi lowongan kerja. Keluarga Zhu Yimin membutuhkan pekerja, berusia delapan belas hingga lima puluh tahun, berbadan sehat. Lokasi pekerjaan berada di lahan sebelah utara desa.
Bagi yang ingin bekerja, silakan langsung melapor ke rumahnya. Jumlah pekerja terbatas. Siapa cepat, dia diterima...”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Rumah lama keluarga Li.
Pak Li sedang menyapu daun-daun pohon pagoda yang berserakan di tanah. Begitu mendengar pengumuman itu, ia langsung tertegun. Dahinya berkerut membentuk garis-garis dalam.
Wang Xiuying berdiri di dekat tungku dapur. Sambil menyiapkan makan malam, ia berbicara kepada suaminya, “Cuaca sudah dingin. Kita seharusnya mulai memasak di dapur. Nanti kau rapikan tungku dapur.”
Melihat suaminya tidak menjawab, ia berseru, “Hei, Pak Li, aku sedang bicara!”
“Jangan berisik. Dengarkan dulu apa yang mereka katakan.”
Wang Xiuying menjawab sambil mengerjakan dua hal sekaligus, “Apa yang menarik? Pekerjaan di rumah kaca anakmu sendiri saja belum selesai, mengapa kau peduli apakah orang lain merekrut pekerja atau tidak?”
Pak Li membantah, “Apa yang kau tahu?”
Wang Xiuying melotot. “Wah, Pak Li, sejak rumah kaca itu dibangun, emosimu ikut membesar, ya. Jangan-jangan karena di dalam rumah kaca hangat, kau juga ingin ikut bekerja dan menemani anakmu?”
“Aku bukan sedang menyuruhmu diam. Zhu Yimin itu agak aneh. Kurasa anak itu mungkin juga ingin membangun rumah kaca.”
“Bagaimana kau bisa tahu? Dia bukan orang yang sudah kehilangan akal sampai mau membangun benda pemboros uang itu.”
“Anak kedua yang bilang. Sejak rumah kaca sayuran itu dibangun, Zhu Yimin hampir setiap beberapa hari datang ke sana. Ia bertanya macam-macam dan mengamati semuanya dengan sangat teliti. Bahkan sambungan lembaran plastik pun ia tanyakan sampai sedetail-detailnya...”
Wang Xiuying ikut bersikap serius. “Masa iya? Membangun rumah kaca tidak mungkin kurang dari lima ribu yuan. Sekalipun keluarga Zhu cukup berada, apakah Zhou Yufeng, si pelit itu, mau mengeluarkan uang?”
Pak Li melemparkan sapunya ke samping. “Kalau soal itu aku tidak tahu. Tunggu anak kedua pulang, nanti kita dengar apa katanya.”
Walaupun sering mengeluh, urusan anak keduanya adalah hal yang paling diperhatikan Wang Xiuying.
“Pak Li, katakan sejujurnya kepadaku. Rumah kaca ini... benar-benar bisa berhasil?”
Pak Li menjawab, “Awalnya kukira hasilnya masih meragukan. Tapi sekarang, kalaupun rumah kaca itu tidak menghasilkan uang, setidaknya tidak akan rugi.”
Wang Xiuying berseri-seri. “Bagaimana bisa begitu?”
“Sebentar lagi embun dingin tiba. Suhu malam juga sudah turun, tetapi di dalam rumah kaca tidak pernah kurang dari dua puluh derajat. Saat siang dan matahari bersinar terik, suhunya selalu di atas dua puluh lima derajat. Mentimun sudah bisa dijual pada November, dan harga sayuran tidak mungkin murah. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan rugi...”
Hati Wang Xiuying pun terasa lega. Wajahnya mengembang penuh senyum.
“Anak kedua kita memang hebat. Tahun ini pinjamannya lunas, tahun depan semua hasilnya menjadi keuntungan murni. Dalam dua atau tiga tahun, dia sudah bisa membangun rumah baru. Jauh lebih hebat daripada kakaknya dan istrinya.”
Pak Li mencibir. Anak kedua lagi, pikirnya. Bukan begitu katanya saat kalian berdua bertengkar tempo hari?
Sudahlah. Mulai sekarang aku tidak akan ikut campur dalam urusan kalian berdua. Hari ini kalian bertengkar, besok sudah berdamai, sementara aku terus dijepit di tengah-tengah dan dianggap seperti orang bodoh.