Bab 34: Memanen Hasil
"Hui..."
Sebuah kereta kuda berhenti di depan rumah keluarga Li. Kuda berwarna merah kecokelatan itu mendengus. Li Zhe melompat turun dari kereta, lalu menghentak-hentakkan kakinya. "Begitu bicara soal angin, angin langsung datang. Benar-benar membuat kepala pusing."
"Cih..." Zhao Tie-zhu meludah ke tanah yang bercampur debu, sambil menggosok matanya yang memerah. "Kalau cuma angin sih tidak apa-apa, pakai topi saja beres. Yang menyebalkan itu debunya."
"Nanti kau carilah pelindung kaki dan sepatu yang lebih tebal. Kalau tidak, saat mengendarai kereta di musim dingin, seluruh tubuhmu akan kaku kedinginan."
"Di rumah ada sarung tangan pelindung kerja dan pelindung kaki dari kulit anjing peninggalan ayahku. Besok akan kucari dan kujemur." Keduanya mulai menurunkan barang-barang dari kereta dan memindahkannya ke dalam pekarangan.
"Kalian akhirnya pulang juga." Wang Xiu-ying menyambut mereka. Saat melihat Zhao Tie-zhu memanggul sekarung beras dan Li Zhe menenteng minyak kedelai dalam jeriken seberat sepuluh kilogram, ia bertanya dengan heran, "Ya ampun, beras, tepung, minyak lagi. Mengapa beli sebanyak ini?"
Li Zhe menjawab, "Cuaca sudah mulai dingin, jadi barang-barang ini bisa disimpan lama. Besok saya berencana mempekerjakan orang, jadi saya membelinya lebih awal di koperasi kota."
"Anak kedua, mengapa harus mempekerjakan orang lagi?"
"Mari pindahkan barang-barangnya dulu, nanti kita bicarakan lagi."
Li Zhe membawa barang-barang itu ke ruang tamu, menatanya dengan rapi, lalu mengumpulkan kedua orang tuanya untuk menceritakan rencananya menambah plafon pinjaman di koperasi kredit.
Wang Xiu-ying terpaku, kegembiraannya lenyap seketika. "Anak kedua, untuk apa kau berhutang lagi?"
"Saya ingin memanfaatkan cuaca yang belum terlalu dingin untuk memperluas rumah kaca sayuran. Kita punya total lima mu tanah, yang bisa dibangun tiga rumah kaca. Saya ingin membangun rumah kaca nomor dua, lalu sisanya digunakan untuk menggali fondasi rumah kaca nomor tiga. Saat bulan November nanti sayuran dari rumah kaca nomor satu terjual, kita akan membangun rumah kaca nomor tiga."
"Anak kedua, bukankah lebih aman menunggu sayuran terjual di bulan November baru membangun rumah kaca kedua?"
"Bu, saat bulan November cuaca sudah dingin, angin di ladang sangat kencang, orang berdiri saja bisa gemetar, tanah pun akan membeku. Bagaimana bisa bekerja?"
Wang Xiu-ying mulai cemas. "Lalu bagaimana jika kita rugi?"
"Kalau memang harus rugi, entah itu enam ribu atau dua belas ribu, kita tetap tidak akan mampu membayarnya. Apa bedanya?" Li Zhe merentangkan tangan, lalu melanjutkan, "Negara memberikan kita tambahan plafon pinjaman, itu artinya mereka mendukung teknologi rumah kaca ini. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Tadi di koperasi saya sudah bertanya, harga beli mentimun itu satu yuan per kati. Itu sudah cukup untuk membeli setengah kati daging babi."
Melihat Wang Xiu-ying hendak bicara lagi, Li Zhe berkata dengan nada tegas, "Bu, jangan membujuk saya lagi, sudah diputuskan." Ia menoleh ke arah Pak Li di sampingnya. "Ayah, besok kita mulai merekrut pekerja. Mari kita bicarakan detail pengerjaannya."
Melihat istrinya yang tampak kesal, Pak Li merasa jengkel sekaligus geli. Baiklah, si buah hati kesayangan kembali membuat ulah. Kali ini ia sudah belajar, lebih baik pura-pura tuli dan bisu agar tidak terjepit di antara keduanya.
"Ayah, besok saya akan merekrut empat puluh orang pekerja untuk menggali dua fondasi rumah kaca sekaligus. Yang di sebelah barat adalah rumah kaca nomor dua, Ayah yang mengawasi pembangunannya, dibantu oleh Tie-zhu dan Zhi-qiang. Yang di sebelah timur adalah rumah kaca nomor tiga, minta tolong Paman untuk mengawasinya, dibantu oleh Kakak dan Jian-jun. Bagaimana menurut Ayah?"
Pak Li berpikir sejenak, lalu berkata dengan ragu, "Apakah tidak terlalu terburu-buru mengerjakan dua tempat sekaligus? Bagaimana kalau digali satu per satu saja?"
"Tidak sempat lagi. Semakin ditunda, cuaca akan semakin dingin, kesulitan konstruksi bertambah, dan upah pekerja pun akan semakin mahal."
Pak Li mengangguk. "Ada benarnya juga. Kalau begitu, upahnya sama seperti yang lalu, makan siang tidak ditanggung."
"Pekerja biasa tidak ditanggung makannya, karena jumlahnya terlalu banyak bagi kita. Namun, orang-orang yang saya sebutkan tadi termasuk jajaran pengelola, jadi makan siang mereka ditanggung dan upahnya tetap diberikan."
Mendengar dirinya juga akan menerima upah, Pak Li merasa sedikit aneh. "Jiu-gang orangnya asyik, ajak dia bergabung juga. Dia orang yang sangat antusias, kalau diberi tanggung jawab, dia akan bekerja lebih rajin daripada pemiliknya sendiri."
"Baiklah, biarkan mereka berdua membantu Ayah. Tie-zhu biar ikut saya merawat mentimun." Dengan pekerjaan yang semakin banyak dan skala yang semakin besar, Li Zhe tidak bisa melakukan semuanya sendiri, ia harus memegang kendali secara keseluruhan.
...
Di sisi utara Desa Daying, di ladang milik Zhu Yi-min.
Zhu Yi-min telah merekrut dua puluh pekerja. Kemarin mereka meratakan tanah dan menentukan titik lokasi, dan hari ini pekerjaan penggalian resmi dimulai.
Zhu Yi-min bertubuh kecil, namun auranya sangat kuat. Ia berdiri di atas gundukan tanah sambil berteriak, "Bapak-bapak sekalian, hari ini kita resmi mulai bekerja. Upahnya empat puluh sen per jam, tidak ada makan siang, dibayar harian. Di ujung timur ladang ada air, silakan minum jika haus, istirahatlah sebentar jika lelah. Namun, siapa pun yang bermalas-malasan, akan langsung dibayar dan disuruh pulang. Itu saja, sekarang jam sembilan tepat, silakan mulai bekerja!"
Dua orang ahli yang pernah bekerja di keluarga Li ditarik olehnya ke tempat yang terlindung dari angin. Setelah memberikan tiga batang rokok, ia berhasil mendapatkan bocoran: tanah subur harus ditaruh di sudut tenggara agar mudah diuruk kembali nanti. Dinding tanah yang dipadatkan harus menyisakan jalur, kalau tidak, kereta bagal pengangkut tanah tidak bisa berputar...
Setelah Zhu Yi-min mengatur semuanya dengan rapi, ia berkeliling di sekitar fondasi rumah kaca dan merasa lega melihat semangat para pekerja yang cukup tinggi.
Tidak ada yang tahu betapa besar tekanan yang ia tanggung demi membangun rumah kaca ini.
Zhu Yi-min selalu tidak sadar menoleh ke arah timur. Tidak jauh dari sana adalah ladang keluarga Li. Pagi ini keluarga Li juga merekrut orang. Ia menebak mereka sedang membangun rumah kaca kedua. Ia sangat ingin pergi melihatnya, namun hatinya merasa tidak enak.
Setelah ragu-ragu cukup lama, Zhu Yi-min akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia berjalan santai ke arah timur. Saat jaraknya puluhan meter dari rumah kaca keluarga Li, ia berhenti dan berjinjit untuk melihat ke depan.
"Ya ampun, formasi apa ini..." Zhu Yi-min terkejut. Sekilas ia melihat ladang keluarga Li penuh dengan orang, setidaknya ada empat puluh atau lima puluh pekerja.
"Ini... mereka mau membangun dua mu rumah kaca lagi! Apakah mereka sanggup mengurus sebanyak itu?" Zhu Yi-min terperangah dengan langkah besar keluarga Li. Ia secara naluriah berjalan lebih dekat dan melihat dengan lebih jelas bahwa beberapa kerabat keluarga Li sedang memegang kendali.
Zhu Yi-min merasa semakin iri. Keluarganya sendiri hanya anak tunggal, kedua kakaknya sudah menikah ke desa lain. Awalnya ia masih dibantu keluarga istrinya dari desa sebelah, namun sekarang ia sedang bertengkar dengan istrinya. Untung saja saudara iparnya tidak datang menyerbu, tapi ia masih bisa mengandalkan siapa lagi?
Eh, ke mana perginya Li Zhe? Mengapa tidak terlihat?
...
Di dalam rumah kaca keluarga Li.
Setelah mengorganisir pekerja dan membagi tugas, Li Zhe masuk ke dalam rumah kaca untuk merawat mentimun dan brokoli. Urusan di luar ia serahkan sepenuhnya kepada ayah dan beberapa kerabatnya.
Ini bukan karena Li Zhe malas. Ayah dan pamannya berusia empat puluhan, usia yang tepat untuk bekerja keras. Membiarkan mereka yang mengelola jauh lebih tepat daripada dirinya yang masih 'anak ingusan'.
Menggali fondasi rumah kaca bukanlah pekerjaan teknis, ayah dan pamannya pun bisa melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mentimun di dalam rumah kaca sedang berada di masa pertumbuhan yang kritis, sehingga justru tidak bisa ditinggalkan oleh Li Zhe.
Di tepi rumah kaca ditanami brokoli yang sudah tumbuh dua sampai tiga helai daun sejati, tingginya sekitar sepuluh sentimeter, berwarna hijau segar.
Mentimun angkatan kedua sedikit lebih pendek, namun juga sudah tumbuh dua sampai tiga helai daun sejati.
Mentimun yang pertama kali ditanam tumbuh paling baik. Sulur-sulur mentimun sudah merambat memenuhi tiang penyangga berbentuk huruf 'V', dan sudah muncul mentimun kecil seukuran jari dengan kuncup bunga berwarna kuning di ujungnya. Ia memetik sehelai daun dan menerawangnya ke arah cahaya, urat-urat daunnya tampak hijau segar dan sehat.
Ia tersenyum lebar melihatnya. Bagus sekali.
Mentimun-mentimun kecil ini akan menjadi modal baginya untuk berdiri tegak di era ini, dan juga akan memulai babak baru budidaya sayuran di luar musim.
Zhao Tie-zhu masuk sambil memanggul karung bertuliskan "Amonium Bikarbonat". "Kak Zhe, dari sisi mana kita mulai memupuk?"
"Dari sisi timur. Hari ini hanya memupuk mentimun, pagi ini selesaikan separuhnya, sisanya kerjakan sore nanti."
Zhao Tie-zhu menunjuk brokoli di sebelahnya, ia lupa lagi apa nama sayuran ini. "Apakah sayuran ini perlu dipupuk?"
"Tidak usah terburu-buru, besok saja." Li Zhe berjalan ke ujung timur dan membuka tirai pintu rumah kaca untuk ventilasi.
Zhao Tie-zhu meletakkan karung pupuk di tanah. "Hei, hanya satu mu tanah ini, beberapa jam saja sudah selesai, kenapa harus menunggu besok?"
Li Zhe berkata dengan serius, "Zhu-zi, menanam di rumah kaca tidak sama dengan di ladang terbuka. Rumah kaca adalah ruang tertutup. Jika konsentrasi gas dari penguapan pupuk terlalu tinggi, itu bisa membahayakan. Pemupukan harus dilakukan sedikit demi sedikit namun sering, dan jangan lupa ventilasi."
"Baik." Zhao Tie-zhu mengangguk. Ia tidak tahu apa bahayanya, namun memang bau pupuk itu sangat menyengat.