Bab Lima Puluh Lima: Mendapat Anak di Usia Senja
Liu Jianbai, sebagai salah satu pejabat paling awal dalam dinasti, sejak masa leluhur kaisar telah menjabat sebagai Mahaguru Kabinet, membantu Sang Kaisar Agung yang saat itu masih belum kokoh fondasinya dalam mengelola pemerintahan. Setelah kaisar baru naik takhta, ia pun beralih mendampingi penguasa baru itu. Jasa dan pengabdiannya sungguh besar; kini, di usianya yang hampir enam puluh tahun, ia hanya memiliki seorang putra bernama Liu Luming.
Tuan Liu memasuki dunia birokrasi pada usia dua puluh tahun, dan hanya dalam lima tahun sudah diangkat menjadi Pengawas Komunikasi berpangkat tiga utama. Ia baru menikah di usia dua puluh lima, sementara istrinya tujuh tahun lebih muda darinya. Secara logika, pasangan dengan perbedaan usia demikian tentu seharusnya lebih sering bersama, namun negara baru saja berganti penguasa dan butuh penataan. Liu Jianbai kala itu sangat disukai oleh Kaisar Wang Mu, sehingga ia dipindahkan ke Jiangnan untuk memangku jabatan Gubernur berpangkat dua.
Jiangnan sedari dulu adalah pusat perdagangan penting, rakyatnya rajin dan cerdas, tak hanya hasil panennya melimpah namun juga menanam banyak tanaman komoditas. Pajak tahunan dari daerah itu saja menyumbang seperempat pendapatan negara. Sang Kaisar mengirimnya ke sana, menandakan kepercayaan dan penghargaan tinggi kepadanya.
Sejak muda, Liu Jianbai memang memiliki jiwa setia kepada negara, sehingga ia sangat berterima kasih atas kepercayaan sang kaisar. Ia rela meninggalkan istri yang baru dinikahi, pergi ribuan li jauhnya ke Jiangnan dan bertugas di sana selama lima tahun.
Selama lima tahun itu, berkat kecerdasan dan kerja kerasnya, ia berhasil menggandakan pendapatan pajak Jiangnan dan membuat rakyatnya lebih makmur daripada warga ibukota. Prestasinya jauh melampaui pejabat lain.
Kaisar lama sangat menghargai bakatnya, tidak tega memisahkan pasangan suami istri itu, dan merasa pejabat secerdas ini lebih bermanfaat di ibukota ketimbang di daerah. Maka ia kembali dipanggil pulang ke ibukota, pangkatnya melonjak langsung menjadi Mahaguru Kabinet berpangkat satu utama. Kenaikan pangkat secepat dan setinggi ini sangat langka dalam sejarah Tiongkok Tengah.
Sekembalinya ke ibukota, bukannya memanfaatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan istri, apalagi berusaha punya anak, Liu Jianbai justru seperti lupa bahwa dirinya punya istri. Sepanjang hari ia sibuk di istana membantu kaisar menulis dekret dan mengurus pemerintahan.
Tiga tahun kemudian, terjadi perebutan takhta di antara para pangeran yang penuh pertumpahan darah. Liu Jianbai, yang setia namun agak kolot, tak menerima bujukan dari pihak manapun, hanya menjalankan tugasnya dengan jujur hingga akhirnya pangeran kedua berhasil merebut takhta dan posisi putra mahkota pun akhirnya ditetapkan.
Saat itu, Liu Jianbai baru saja melewati usia tiga puluh, sudah diangkat menjadi guru bagi putra mahkota, bertanggung jawab mendidiknya dalam urusan pemerintahan.
Dua tahun kemudian, putra mahkota naik takhta. Sebagai guru sang kaisar, posisi dan status Liu Jianbai pun ikut naik. Kaisar lama hanya memerintah sepuluh tahun, wafat dengan tergesa-gesa, meninggalkan negara yang belum stabil, perbatasan sering diganggu musuh, dan kaisar muda pun kewalahan. Liu Jianbai, sebagai Guru Kaisar, mengambil peran besar membantu menopang negara ini selama lima tahun lagi.
Hingga suatu hari, tubuhnya benar-benar tak kuat menahan beban, jatuh sakit parah, dan kaisar pun memerintahkan agar ia wajib beristirahat di rumah. Barulah saat itu ia tersadar, setelah puluhan tahun bekerja keras, ia masih belum punya anak, bahkan sudah hampir berusia empat puluh.
Nyonya Liu memang menyimpan sedikit kekecewaan atas sikap dingin suaminya, tapi sebagai putri keluarga terpandang, ia tidak banyak bicara. Ia sudah lama ingin punya anak, namun ladang seluas apapun jika tak ada yang menggarap tetap sia-sia. Maka saat suaminya beristirahat di rumah, ia pun membicarakan hal ini secara serius.
Liu Jianbai juga sadar tidak boleh menunda lagi, jadi ia berencana setelah sembuh akan serius bersama istrinya. Namun bertahun-tahun sudah ia habiskan seluruh energi dan semangat, penyembuhannya pun tidak mudah, sakitnya berlangsung setengah tahun. Begitu sembuh, mereka berdua bekerja keras selama setengah tahun lagi, namun entah karena bekas sakit atau usia yang sudah lanjut, kandungan sang istri tetap tak kunjung berisi. Mulailah mereka panik, segala ramuan dan resep dicoba, tetap saja tak ada hasil.
Liu Jianbai sampai mengambil cuti selama satu tahun penuh, hal yang belum pernah terjadi sejak berdirinya dinasti. Tapi terus-menerus bersembunyi di rumah demi punya anak pun terasa tidak pantas, apalagi jika sampai terdengar ke luar, reputasinya akan rusak. Akhirnya ia pun pasrah, merasa mungkin belum waktunya, lalu kembali menjalankan tugas sebagai Mahaguru Kabinet, walau tiap malam tetap berusaha bersama istri, menanti waktu yang tepat, yang akhirnya memakan waktu dua tahun.
Akhirnya, pada suatu hari dua tahun kemudian, Nyonya Liu muntah-muntah hebat. Awalnya mengira keracunan makanan, tapi setelah didatangkan tabib, nadi yang diperiksa ternyata tanda kehamilan. Kepala rumah tangga keluarga Liu segera berlari ke istana mengabarkan kabar bahagia ini.
Saat itu Liu Jianbai sedang sibuk dengan dokumen di ruang kerja, dan kepala rumahnya berlari terburu-buru ke Paviliun Wu Ying. Belum masuk pintu sudah berteriak, "Tuan, Nyonya hamil!"
Teriakan itu terdengar jelas oleh para Mahaguru lain di dalam ruangan, semuanya segera memberi ucapan selamat, wajah Liu Jianbai pun memerah, ia buru-buru membalas salam dan pergi.
Begitu ia pergi, ruangan pun dipenuhi tawa riang. Para koleganya saat itu berpikiran sama seperti Wang Bingquan: Mahaguru Liu tua-tua keladi, makin tua makin hebat.
Sebagai Mahaguru Kabinet sekaligus pengajar para pangeran, Liu Jianbai terkenal sangat keras kepada anak-anak kaisar. Sedikit saja tidak sesuai harapan, ia tak segan memberi hukuman dengan penggaris. Para putri kerajaan begitu bertemu dengannya langsung jadi penurut, para pangeran bahkan lebih takut lagi. Kenapa? Karena putri hanya kena pukul tangan, pangeran bisa-bisa langsung kena pukul pantat.
Baru menjadi ayah di usia lebih dari empat puluh tahun, Liu Jianbai sangat menyayangi putranya, benar-benar memanjakan anak yang diperolehnya dengan susah payah itu. Bahkan sikapnya kepada para pangeran dan putri istana pun jadi jauh lebih longgar.
Kaisar pun melihat para pangeran yang tadinya rajin belajar mulai menurun prestasinya. Tak ada cara lain, akhirnya ia dengan halus memberhentikan mantan gurunya itu. Liu Jianbai yang sudah tua, negara pun sudah stabil dan makmur, ia pun senang menikmati ketenangan, setiap hari setelah menyelesaikan urusan kabinet, ia pulang ke rumah untuk mengajari putranya.
Liu Luming benar-benar menjadi tumpuan harapan Liu Jianbai. Ia ingin putranya mengikuti jejaknya, giat belajar, kelak lulus ujian negara dan menjadi pejabat, menggantikan dirinya.
Namun kenyataan memang selalu pahit. Dalam hal belajar, putranya benar-benar tidak punya bakat. Puisi yang anak-anak lain bisa hafal dalam satu jam, Liu Luming butuh tiga hari dan itu pun masih belum hafal seluruhnya.
Bisa saja burung bodoh lebih dulu terbang, tapi Liu Luming bukan hanya lahir terlambat, apa pun yang dikerjakannya selalu lamban, rasa ingin tahunya sangat besar. Setiap kali disuruh menghafal, ia selalu tergoda suara dari luar, lalu diam-diam kabur sampai malam baru pulang, dan selalu pulang dalam keadaan kotor berdebu.
Setiap ditanya ke mana saja, jawabannya selalu membuat Liu Jianbai hampir pingsan karena marah. Hari ini ke bengkel pandai besi, besok ke bengkel tukang kayu, lain waktu ke pabrik keramik. Yang paling keterlaluan, pernah ikut rombongan penguburan orang, sepanjang siang menangis bersama iring-iringan, bahkan diberi upah beberapa koin karena begitu bersemangat...
Liu Jianbai yang hampir tak pernah memukul anaknya langsung menampar pantatnya beberapa kali, dan dengan tegas melarangnya kabur lagi.
Namun Liu Luming tak pernah kapok, kemarin baru menangis mengaku bersalah, keesokan harinya sudah kabur lagi. Liu Jianbai pun benar-benar kehabisan akal. Anak satu-satunya, mau dipukul pun tak tega, akhirnya ia biarkan saja, tak lagi mengharapkan putranya jadi pejabat, asalkan hidup damai dan tak menimbulkan masalah saja sudah cukup. Ia hanya berharap, kelak setelah menikah, putranya akan lebih tenang.
Namun Liu Luming memang anak yang tak bisa diam. Saat tak lagi sering keluar rumah, ia mulai "mengacak-acak" isi rumah sendiri. Ia sengaja mengosongkan sebuah kamar untuk dijadikan ruang kerjanya, setiap hari di dalam sana bunyi berisik tak henti-henti, bahkan beberapa kali hampir membakar rumah. Dan kali inilah, ia tertangkap basah oleh Wang Bingquan.